XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Posisi Kinara di hati Sean



Sean tertawa saat Kinara menyebutnya playboy.


“Udah punya pacar, masih aja gombalin aku,” kata Kinara lagi.


Sontak, Sean pun kembali menoleh ke arah Kinara sambil tersenyum. “Kamu tahu dari mana? PAsti dari Kayla ya?”


Kinara mengangguk. “Awas anak orang jangan dimainin! Kasihan.”


“Siapa yang mainin? Kali ini aku emang serius kok,” jawab Sean santai sambil kembali memfokuskan diri untuk menyetir.


“Oh ya?” tanya Kinara antusias sambil menggeserkan tubuhnya menghadap ke arah Sean. “Jadi sekarang udah ga berpetualang lagi?”


Sean menggeleng. “Ngga. Capek.”


Kinara pun tertawa.


“Kamu sendiri gimana perkembangannya sama Vinza? Udah ada kemajuan?” Sean balik bertanya.


Kinara meluruskan posisi duduknya dan memandang lurus ke depan. “Susah. Vinza terlalu dingin.”


Sean tertawa.”Kamu nyerah?”


Kinara menoleh ke arah Sean yang sedang menoleh ke arahnya. Kebetulan saat ini, Sean tengah memberhentikan mobilnya di lampu merah.


Kinara tersenyum dan menggeleng. “Ngga lah. Justru semakin tertantang.”


Keduanya pun tertawa.


Sean menghelakan nafasnya setelah puas tertawa bersama Kinara. “Kita tuh memang mirip.”


“Yap, makanya ga akan cocok kalau kita jadi sepasang kekasih apalagi teman hidup. Kita sama-sama suka tantangan. Dan, memang kita hanya cocok seperti ini, kakak dan adik,” sambung Kinara.


Sean mengangguk, membenarkan yang diucapkan Kinara. “That’s right.”


Setelah melewati beberapa jalan, akhirnya mereka sampai di sebuah toko buku yang cukup besar. Lalu, Sean menurunkan Kinara di lobby.


“Beneran ga mau temenin aku di sini?” tanya Kinara pada Sean yang hanya mengantarkannya saja ke tempat itu.


Sean menggeleng. “Aku mau langsung ke kost Nindi. Dia pasti menunggu kabar karena sejak tadi aku tidak mengabarinya.”


“Uh, so sweet,” ledek Kinara. “Baiklah, terima kasih tumpangannya.”


Kinara hendak membuka pintu mobil itu. Namun, ia kembali menoleh ke arah Sean. “Oh, sampaikan salamku pada Nindi. Salam kenal.”


Sean mengangguk. “Pasti.”


Kemudian, Kinara kembali menoleh tubuhnya ke arah Sean.


“Oh ya, kapan-kapan ajak aku bertemu dengannya. Aku ingin bertemu dengan wanita yang berhasil membuat pria sepertimu itu tobat,” ledek Kinara sambil tertawa.


Sean pun tertawa. “Sudah, jangan banyak bicara. Sana!” ia mengacak-acak rambut Kinara dan mendorong pelan bahunya untuk keluar.


“Dasar.” Kinara mencibir dan keluar dari mobil itu.


“Daah” Sean membuka kaca jendela dan melambaikan tangan pada Kinara.


Kinara pun melakukan hal yang sama sembari tersenyum dan mulai memasuki gedung itu. Sedangkan, Sean mengendarai mobilnya menuju tempat kost Nindi. Ia meraih ponsel dan menekan nomor Nindi sambil menyetir pelan.


Tut … Tut … Tut …


Sean menunggu Nindi mengangkat teleponnya. Namun, sepertinya si pemilik ponsel itu sedang tidak mendengar.


Tut … Tut … Tut …


Sean mendial kembali nomor itu, tapi hasilnya masih sama.


Beberapa jam sebelumnya. Nindi membuka media sosialnya. Di sana, ia melihat video Sean yang sedang diobati oleh Kinara dan Sean tampak manja pada wanita yang sedang mengobatinya itu. Di video itu pun terlihat teman-teman Sean yang meledeki dirinya dengan Kinara.


Nindi melihat video itu dari akun Ayesha yang muncul di beranda. Aldy memang mengunggah video yang menurutnya lucu itu dan men-tag ke semua nama yang ada di tempat kejadian tanpa terkecuali.


Semula, Nindi khawatir dengan keadaan Sean yang berada di apartemen sendirian, karena Sean tidak memberitahu bahwa pagi ini ia akan keluar dengan sahabat-sahabatnya. Ternyata, Nindi mengkhawatirkan orang yang sedang bersenang-senang.


Akhirnya, Nindi memilih ikut bersama teman-teman kost-nya untuk makan siang di luar dan meninggalkan ponselnya di kamar itu.


Sean bingung membawa makanan apa untuk menemui kekasihnya, karena jajanan makanan yang Nindi sukai, biasanya tersedia di malam hari. Sean pun memilih membeli Nindi sushi, karena sang kekasih juga menyukai makanan itu.


“Wah Mas, Nindinya lagi keluar sama teman-temannya tadi,” ucap ibu kost ketika Sean sudah berada di tempat itu.


“Oh, udah berapa lama?” tanya Sean.


“Baru sih, Mas. Sekitar setengah jam yang lalu.”


“Oh.” Sean membulatkan bibirnya sembari mengangguk. Di tangannya pun tak henti mendial nomor Nindi yang tak kunjung di angkat.


“Coba di telepon aja, Mas.” Ibu kost memberi saran yang sudah Sean lakukan sejak tadi.


“Udah, bu. Tapi ga diangkat-angkat.”


“Baiklah, saya tunggu saja di sini. Tidak apa kan, Bu?” tanya Sean sembari menunju ke sofa tamu yng tersedia.


“Oh tentu saja, tidak apa. Silahkan!” jawab ibu kost itu tersenyum.


Sean duduk dan menunggu di sana sambil memainkan ponselnya. Tenyata di ponsel itu muncul beberapa notifikasi dari media sosialnya. Notifikasi yang berisi komentar dari orang-orang yang melihat video yang diunggah Aldy dan di tag namanya.


“Ah, Si*l.”


Sean mulai mengerti, mengapa teleponnya tidak diangkat oleh Nindi. Ia memang salah, apalagi sedari pagi Nindi memberi pesan tapi karena ia asyik bersama teman-temannya, sehingga mengabaikan pesan dan telepon dari Nindi.


Dan, sekarang Nindi membalasnya.


Sean pun menunggu Nindi di sana hingga waktu terlewati tiga jam.


Nindi dan teman-teman kost-nya yang semua bergender perempuan itu memang makan siang di sebuah mall, sekalian jalan-jalan, sehingga mereka cukup lama untuk kembali pulang.


Di sana, Sean dengan sabar menunggu Nindi pulang. Ia tidak ingin masalahnya berlarut-larut.


Tak berapa lama, Sean mendengar suara beberapa orang wanita di luar sana. Mereka tertawa sambil keluar dari taksi online.


“Nin, cowok tadi tuh beneran ngeliatin kamu terus,” ledek teman Nindi sambil tertawa.


“Iya, Nin. Bener. Coba kita ladenin dia, pasti kita dapet tiket nonton gartis tadi,” kata salah satu teman Nindi lagi.


“Ish, apaan sih. Itu tuh om-om mupeng tahu,” sahut Nindi.


Kemudian Nindi dan teman-temannya tertawa membicarakan insiden seorang pria berkepala botak dan buncit yang mendekati Nindi di mall tadi, sambil melangkahkan kakinya menuju ke dalam kost.


Sontak tawa Nindi terhenti saat melihat Sean tengah duduk di sana. Teman-teman Nindi pun ikut terkejut, pasalnya mereka tadi meledeki Nindi dengan pria di mall dan ternyata di sana ada kekasih Nindi yang sepertinya mendengar gurauan itu.


“Dari mana?” tanya Sean.


“Bukan urusan kamu,” jawab Nindi ketus.


“Aku sudah menunggu di sini tiga jam,” kata Sean lagi.


“Siapa suruh? Aku ga minta kamu datang.” Nindi mengacuhkan keberadaan Sean dan hendak melaju menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


“Kamu mau kemana?” tanya Sean sembari menahan lengan Nindi.


“Ke kamar. Aku capek.”


“Aku sudah menunggumu di sini tiga jam dan kamu mau pergi?” tanya Sean tak percaya melihat Nindi yang tak menghargai usahanya.


“Kamu bisa senang-senang dengan teman-temanmu. Aku juga bisa,” kata Nindi.


“Terus kamu balas aku dengan menanggapi om-om di mall itu,” ucap Sean kesal.


“Kamu juga senang dekat dengan Kinara.”


“Nin, kamu itu terlalu kekanak-kanakan. Sudah berapa kali aku bilang, Kinara itu adik Kayla, sepupu Kevin. Aku dan keluarga Adhitama sudah seperti saudara. Aku juga menganggap Kinara seperti adikku sendiri. Tidak lebih.”


Sean kembali menjelaskan posisi Kinara. Sepulang dari rumah sang kakek, waktu itu, ia sudah menjelaskan siapa Kinara pada Nindi. Hanya saja dalam penjelasan itu, Sean tidak menceritakan semua. Ia tidak mengatakan pada Nindi bahwa dulu ia pernah menyukai Kinara, karena menurutnya itu tidak penting, yang penting saat ini ia menyukai Nindi.


Nindi melipat kedua tangannya di dada. Ia masih kesal dengan video yang diunggah Aldy. Sean mendekati Nindi dan menyerahkan makanan yang ia beli khusus untuknya.


“Ini, aku membawakan ini untukmu.”


Nindi melirik ke arah Sean.


“Aku minta maaf, jika video itu membuatmu kesal. Tapi percayalah, aku dan Kinara hanya sebatas kakak dan adik.”


Nindi terdiam mendengar penuturan Sean.


“Aku serius sama kamu, Nin. Hanya kamu wanita satu-satunya yang aku seriusi seperti ini,” kata Sean lembut sambil menyelipkan rambut panjang Nindi ke belakang daun telinganya.


Nindi masih diam, tapi hatinya sudah memaafkan. Ia menatap kedua bola mata Sean yang indah untuk mencari kejujuran di dalam sana. Dan, ya. Nindi mendapatkannya.


Sean pun menatap mata Nindi yang teduh. Arah matanya pun mulai tertuju pada bibir ranum Nindi. Namun, sepertinya tempat ini tidak memungkinkan untuk mencium bibir itu.


Sean menarik tubuh Nindi dan memeluknya. “Sudah tidak marah lagi denganku?”


Nindi tak menjawab dengan kata-kata, tapi kepalanya menggeleng, membuat Sean gemas dan mengeratkan pelukan itu.


“Tadi aku dengar ada Om-om yang menggodamu. Kamu menanggapinya?” tanya Sean.


Nindi langsung menengadahkan kepalanya dan menatap Sean. “Ngga lah. Ngapain?”


“Kirain. Kalau kamu menanggapi orang itu. Aku akan menghukummu,” jawab Sean sembari menyeringai ke arah Nindi.


“Aku tidak sepertimu,” sahut Nindi sembari memukul dada Sean.


Sejujurnya ia masih kesal jika mengingat kedekatan Sean dan Kinara di video itu. Namun, entah mengapa Nindi tidak bisa berlama-lama marah pada Sean. Apalagi pria itu sudah meminta maaf dan menjelaskan kronologis keadaan itu dengan detail.


Sean pun tertawa. Ia tahu, Nindi memang tidak seperti dirinya yang mudah dekat dengan lawan jenis.