
Kenan telah dipastikan menjadi hubernur kota. Ia hanya tinggal menunggu surat putusan resmi dari mahkamah agung, lalu pelantikan dan sumpah jabatan.
Kini kediaman Kenan ang mewah itu tampak sepi. Kevin dan Ayesha memilih tinggal di apartemen mereka paska kepulangan Ayesha dari rumah sakit. Rasti pun sedang berada di rumah Kayla, sementara Keanu langsung bertandang ke Bali paska sang ayah selesai dari kegiatan besar itu.
Keanu bertemu rekan pembalapnya dari Itali yang sedang liburan musim di kota itu, kota yang mereka bilang adalah surga dunia.
Kenan memandang foto keluarga yang menempel di dinding kamar. Foto saat Kevin masih berusia enam tahun dan keanu hampir empat tahun. Di sana terlihat Hanin yang sedang duduk dengan Kevin berdiri di sebalah kirinya dan Kenan di sebelah kanannya sembari menggendong Keanu.
Semula foto ini berada di ruang tamu. Namun seiring waktu, anak-anak pun tumbuh dewasa dan matang seperti sekarang. Mereka pun berfoto keluarga tepat di saat Kenan dan Hanin merayakan aniversari mereka yang ke 25 tahun, tepatnya di saat Kevin berusia dua puluh empat tahun dan Keanu dua puluh dua tahun. Dan, foto itu kini menghiasi ruang tamu rumah Kenan yang mewah.
“Mas belum tidur?” tanya Hanin saat baru masuk ke kamar dan membawakan madu dan air hangat untuk suaminya.
Kenan menoleh ke arah sang istri dan tersenyum, lalu kembali memandang foto itu. Hanin pun ikut mengahmpiri sang suami yang berdiri di sana.
“Kenapa, hmm?” tanya Hanin sambil melingkarkan kedua tangannya di perut Kenan dan menyandarkan kepalanya di punggung belakang yang masih terlihat lebar.
Kenan tersenyum merasakan pelukan hangat istrinya. Lalu, tangannya pun memeluk tangan Hanin yang melingkar di perutnya. “Waktu berjalan sangat cepat, rasanya baru kemarin kita membesarkan mereka. Sekarang Kevin sudah menjadi ayah.”
Hanin melepaskan pelukan itu dan beralih ke samping tubuh Kenan. Ia ikut melihat apa yang sedang suaminya lihat. Kenan pun langsung memeluk tubuh istrinya dari samping. Ia memeluk bahu hanin hingga kepala Hanin pun bersandar pada bahunya.
“Ya, rasanya baru kemarin aku melahirkan Kevin, Keanu, dan mengandung Kisya,’ ucap Hanin sembari mengingat ketika mengandung calon bayi perempuan seumur Ayesha yang belum sempat lahir ke dunia, tapi sudah mereka beri nama saat dimakamkan.
Kenan mengusap lembut rambut sang istri, menyelipkan bagian yang menutupi wajah itu ke belakang telinganya. “Tapi kamu masih sangat cantik di usiamu sekarang, Sayang.”
Kenan mengusap lebut pipi yang masih terlihat kencang itu.
Hanin melirik suaminya. “Ini karena uangmu.” Ia tertawa.
Kenan pun ikut tertawa. “Ya, karena aku bekerja memang untukmu. Jadi gunakanlah.”
“Senangnya punya suami tajir melintir,” ledek Hanin sembari mengusap dada Kenan dan menatap wajahnya hingga ia sedikit menenggak. “Ternyata tidak sia-aia aku menggodamu.”
Kenan mengulum senyum. Ia sedikit menunduk untuk menatap lebih dekat istrinya yang masih dalam pelukan.
“Ya, kamu memang wanita penggoda. Aku tahu, sebenarnya kamu berpacaran dengan Gunawan waktu itu karena ingin dekat denganku.”
“Ih, fitnah.” Hanin langsung mendorong suaminya membuat Kenan tertawa geli.
“Jujurlah, Sayang. Sebenarnya targetmu adalah aku.”
Hanin mendelik. “Ish … Kepedean sekali anda.” Ia pun hendak menjauh dari suaminya yang menyebalkan itu.
Kenan masih tertawa. Lalu, ia mencekal lengan istrinya. “Mau ke mana?”
“Tidurlah, capek!”
Kenan langsung menarik lengan itu hingga tubuh Hanin menubruknya. Mereka pun bertatapan tanpa jarak.
“Terima kasih telah menemaniku hingga kini. Terima kasih telah sabar menghadapi aku,” ucap Kenan.
Hanin tersenyum. “Mungkin aku satu-satunya wanita yang bersyukur karena telah dijebak.”
Kenan tertawa. Hanin pun demikian. Lalu, mereka saling berpelukan.
Hanin mengusap wajah suaminya. “Terima kasih karena kamu selalu menjaga cinta kita.”
Ciuman Kenan tetap sama. Tidak pernah berubah. Rasanya sama seperti saat pria itu mencium bibir Hanin untuk pertama kali, semula lembut dan kemudian menuntut.
“Mmpphh …” Kenan melepas ciuman itu setelah puas mengeksplore semuanya.
“Rasanya selalu manis,” ujar Kenan.
“Tentu saja manis, karena aku saru saja minum madu itu.” Hanin menunjuk pada obat herbal alami yang ia letakkan dimeja kecil di samping tempat tidur khusus untuk suaminya.
“Ah, pantas saja lebih manis.”
“Gombal.” Hanin mencibir suaminya yang sering menghujani kata-kata manis.
Lalu, ia mengambil madu itu dan menuangkannya di sendok. Kenan pun ikut menghampiri. Ia memasang mulutnya untuk disuapkan madu itu. Dan, Hanin pun menyuapinya dua kali.
Kenan yang sudah berusia paruh baya terlihat seperti anak kecil yang sedang minum obat.
“Nanti, kegiatanmu akan semakin padat. Jangan lupa jaga kesehatan!” ujar Hanin setelah ritual itu selesai.
“Kan ada kamu yang merawatku. Jadi aku tidak perlu khawatir karena aku punya perawat pribadi yang cantik dan bisa diapa-apain.” Kenan mencubit pipi Hanin gemas.
“Maas,” teriak Hanin yang tidak suka Kenan melakukan itu pada pipinya.
Lalu, Kenan tertawa dan melepaskan pipi Hanin. “Mau dicubit lagi, apa digigit?”
“Ish.” Hanin menahan wajah Kenan. “Malu sama umur.”
Kenan tertawa dan melihat sang istri menjauh, lalu bersiap naik ke tempat tidur. “Sepertinya kamu minta digigit.”
“Kenan ...” teriak Hanin dengan sauara khas melengkingnya saat sang suami benar-benar menyebalkan.
****
Di tempat berbeda, Kevin pun tengah menemani sang istri yang sedang menyusui. Beruntungnya, dalam waktu tiga hari air susu itu sudah banyak dan semakin deras pada hari ketujuh. Padahl semula ia khawatir jika air susunya tidak banyak dan tidak bisa memenuhi kebutuhan bayi kembarnya. Saat ini, Ayesha tengah menyusi Kaisar, karena bayi itu yang bisa menyusu hingga lebih dari satu jam, sedangkan Kalila tidak lebih dari setengah jam.
“Hei, kamu masih nyusu aja dari tadi. Belum ngantuk?” tanya Kevin pada putranya sembari menoel pipi bulat itu.
Kepala Kevin tepat berada di dada Ayesha yang menganggur, sambil mendekatkan kepalanya pada putra mungilnya itu.
“Hmm … Daddy modus deh!” ucap Ayesha karena kini tangan Kevin tepat berada di atas dada Ayesha yang menganggur itu.
“Sisain buat Daddy dong, Sayang,” rengek Kevin pada putranya yang masih setia menyusu pada ibunya.
Dug
Kepala Kevin ditendang oleh kaki Kaisar secara tidak sengaja.
“Aww …” Kevin meringis membuat Ayesha tertawa dan mengusap dahi itu.
Kevin pun mengambil tangan Ayesha dan menciumnya. Lalu, wajahnya sedikit menunduk untuk mencium bibir ranum itu.
Ayesha mengikuti permainan Kevin. Ia membalas ciuman itu. Ayesha sempat kuwalahan menerima dua serangan dari ayah dan anak yang tidak mau mengalah itu.