
"Nin, kamu ga ke kantor?”
Ayesha mengirim pesan pada sahabatnya. Ia ingin memberi oleh-oleh khusus untuk Nindi. Pesan itu langsung terkirim dan menandakan ceklist dua garis. Namun, tanda ceklist dua garis itu tak kunjung berubah warna.
“Mas, Nindi hari ini izin ya?” tanya Ayesha.
Setelah aktivitas panas itu, mereka membersihkan diri di dalam kamar mandi yang terdapat di kamar pribadi Kevin yang berada di dalam ruangan itu.
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Setelah waktu makan siang ini selesai, Kevin akan hadir di rapat mendadak yang ia perintahkan pada Danu pagi tadi. Ia juga sudah berkoordinasi dengan Sean untuk ini. Ia ingin seantero gedung Adhitama tahu bahwa Ayesha adalah istrinya.
“Mas, ga tahu,” jawab Kevin dengan mengangkat bahunya. “Dia ga akan izin sama Mas, Sayang. Kamu bisa tanya ke Henry.”
Ayesha pun menganggukkan kepalanya. Ya, Nindi memang tidak akan mungkin izin tidak masuk kerja kepada Kevin.
Ayesha duduk di tepi tempat tidur sembari melihat suaminya berpakaian dengan pakaian yang telah ia siapkan tadi. Sementara Ayesha sudah lengkap dengan pakaian kerja yang ternyata Kevin sediakan di dalam lemarinya.
Ayesha berdiri ketika suaminya hendak memakai dasi. Ia langsung peka dan meraih benda itu. Kevin pun tersenyum. Matanya tak lepas memandangi istrinya.
“Apa?” tanya Ayesha tersenyum dengan melirik suaminya karena sadar bahwa tatapan itu tengah tertuju padanya sedari tadi.
“Kamu cantik,” jawab Kevin.
“Gombal. Bilang aja ingin aku service lagi kan?”
Kevin tertawa. “Kok tahu sih.”
Ayesha tersenyum lebar. “Tahu lah. Kata orang, laki-laki pendiam itu n*fs* nya besar.”
“Oh ya?” tanya Kevin sembari melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri.
“Semula aku ga percaya. Tapi sekarang aku percaya karena udah ngerasain sendiri.”
Kevin kembali tertawa. “Memang siapa yang bilang seperti itu?”
“Mama Hanin,” jawab Ayesha polos.
Kevin pun tertawa lagi. “Ya, karena Mas mirip Papa. Jadi Mama bilang seperti itu ke kamu.”
Ayesha pun tertawa dan mengangguk. “Ya … Ya …”
“Sudah.” Ayesha menepuk dada suaminya setelah menyelesaikan kegiatan itu.
Dasi itu tampak rapi. Lalu, ia mengambil jas hitam di atas tempat tidur itu dan membantu Kevin memakaikannya.
“Mas, aku ke lantai dua ya,” ucap Ayesha di sela kegiatannya.
“Ngapain?”
“Ngasih oleh-oleh untuk teman-teman seruanganku di sana,” jawab Ayesha.
Ia memang membeli syal dan cokelat untuk Melodi, Diah, dan Mbak Risa. Kevin juga sudah meminta supirnya untuk mengambil barang-barang itu di mobilnya dan meletakkannya di ruangan ini.
Kevin mengangguk. Lalu berkata lagi, “Kamu tidak takut ke lantai dua?”
Kevin mengajak istrinya untuk keluar dari kamar itu dan kembali menuju meja kerjanya.
“Kenapa?” tanya Ayesha sembari melangkahkan kaki mengikuti kaki sang suami.
“Mungkin video ciuman panas kita sudah tersebar,” jawab Kevin santai.
“What?” tanya Ayesha terkejut. “Jadi kegiatan kita di lift itu ada yang merekam?”
Kevin mengangguk. “Maybe.”
Kevin mendudukkan diri di kursi kerjanya setelah sampai di sana.
“Maybe? Atau memang sudah tersebar?” tanya Ayesha lagi.
Kevin mengangkat bahunya. “Sudah tersebar.”
“Maaas …” teriak Ayesha.
“Ini semua karena, Mas. Nama baik aku makin buruk,” kesal Ayesha sembari melipat kedua tangannya di dada dan menyandarakn tubuhnya pada meja kerja itu.
Ayesha berdiri di depan suaminya yang duduk di kursi itu. Kevin memutar kursi itu untuk menghadap sang istri dan memeluk pinggang Ayesha yang sedang berdiri.
“Setelah dua jam dari sekarang, nama baikmu akan pulih,” jawab Kevin dengan menatap mata istrinya. “Trust me.”
Ayesha mengerutkan bibir.
“Makanya jangan kemana-mana sebelum rapat dimulai. Oke!” ucap Kevin tersenyum dan masih menatap wajah cemberut istrinya. “Tetap di sini dan temani aku.”
“Baiklah,” jawab Ayesha pasrah.
Kemudian, ia hendak berjalan menujusofa. Namun, Kevin mencekal pergelangan tangannya.
“Mau kemana?” tanyanya.
“Itu.” Ayesha menunjuk sofa yang berada tepat di hadapan Kevin.
“Di sini saja dan suapi Mas. Sean sudah membawa makan siang untuk kita.” Arah mata Kevin mengajak Ayesha ke sebuah paper bag yang bertuliskan sebuah restoran seafood. “Semalam kamu ingin cumi saos padang kan?”
Mata Ayesha berbinar. “Benarkah?”
Ayesha sudah melangkahkan kakinya menuju bungkusan makanan yang ada di ujung meja kerja Kevin. Ia langsung membukanya dan kembali menghampiri suaminya.
“Ini untukmu.” Ayesha menyerahkan kotak makanan itu pada Kevin dan ia memegang satu lagi untuk dirinya.
Kevin menggeleng. “Mas ingin disuapi.”
Ayesha meletakkan kotak makanannya dan membuka kotak makanan Kevin.
“Isinya sama. Jadi kamu bisa makan punya Mas,” ucap Kevin yang mulai meletakkan tangannya pada ketbord laptop
“Sendoknya bekas aku tidak apa?” tanya Ayesha ragu.
Kevin tersenyum. “Kita sudah sering bertukar saliva, jadi kenapa ragu untuk bertukar sendok?”
Ayesha pun tersenyum malu, membuat wajahnya jadi merona dan Kevin mencubit ujung hidung itu karena gemas oleh ekspresi itu.
Satu jam kemudian, semua orang berkumpul di ruang rapat yang ruangannya cukup besar. Ruangan yang mampu menampung seratus orang lebih. Semua karyawan di sana dikumpulkan, dari mulai direktur, manajer hingga office boy dan satpam, kecuali pemilik saham, karena pemilik saham sebagian besar adalah rekan sang ayah yang diundang hadir di acara pernikahan Kevin dan Ayesha.
Tanpa basa basi, Kevin langsung berdiri di temani Sean dan Kayla. Ayesha berdiri di samping Kayla, sementara Kevin di samping Sean.
“Itu bukannya Ayesha ya?” tanya Melodi, rekan seruangan Ayesha saat di bagian keuangan.
“Iya, kok Ayesha berdiri di samping sekretaris Pak Kevin ya?” Risa heran dan balik bertanya.
“Apa ya yang ingin Pak Kevin umumkan?” tanya seseorang yang lain di sana.
Aryo dan rekan sesama penjaga keamanan pun ikut hadir.
“Yo, apa hubungannya Pak Kevin sama Mbak Ayesha?” tanya rekan Aryo.
Aryo mengangkat bahunya. Ia pun penasaran mengapa Ayesha berdiri di sana.
Ceklek
Baru saja Kevin akan bersuara di depan khalayak ramai itu, tiba-tiba pintu ruang rapt terbuka dan menampilkan ibu serta nenek Kevin.
Sontak semua karyawan yang Hanin dan Rasti lintasi pun membungkuk sebagian tubuhnya sebagai rasa hormat.
“Oma, Mama,” sapa Ayesha membuat pemandangan di sana pun semakin tegang karena semua mata tertuju padanya.
Riuh suara mereka di sana sebelum Kevin bicara, karena Kevin, Ayesha, Sean dan Kayla menyambut dahulu kedatangan Rasti dan Hanin.
“Jadi selama ini orang-orang tidak tahu bahwa Ayesha istrimu?” tanya Rasti pada cucunya.
“Ini Kevin baru akan memberi pengumuman,” jawab Kevin.
“Terlalu kamu, Kev.” Rasti menggelengkan kepala.
“Attention please!” ucap Sean karena ruangan itu masih sedikit riuh.
Sontak ruangan itu pun hening. Semua orang memperhatikan Sean dan semua yang erdiri di depan mereka.
“Pak Kevin akan mengumumkan sesuatu hari ini, mengingat semakin merebaknya isu perselingkuhan CEO dengan salah satu karyawan hingga beredarnya sebuah video delapan belas plus itu. Dan, siang ini Pak Kevin akan memberikan klarifikasi,” ucap Sean di depan microphone.
“Silahkan, Pak!” Sean meminta Kevin untuk bicara dan menyerahkan microphone itu.
Kevin menerima benda itu dan berdehem sebentar.
“Sebelumnya saya juga tidak tahu dari mana gosip itu datang dan siapa orang yang telah menyebarkan video itu,” ucap Kevin. “Sebelumnya saya minta maaf karena saat menikah, saya mengadakan pernikahan itu tertutup dan hanya dihadiri oleh keluarga serta kerabat dekat. Banyak diantara kalian yang tidak tahu siapa istri saya dan hari ini saya akan mengumumkan siapa istri saya.”
Lalu, Kevin mengajak Ayesha untuk berdiri di sampingnya. Dan, Ayesha yang semula berdiri sedikit jauhdari Kevin pun menghampiri. Sedangkan Rasti dan Hanin langsung diberikan kursi di depan sana.
Kevin tersenyum saat sang istri mendekat. Ia langsung memeluk pinggang itu dan berkata, “Dia Ayesha Putri Prayoga, anak bungsu dari Vicky Prayoga yang merupakan mantan asisten Papa saya dulu sekaligus sahabat beliau sejak sekolah.”
“Hah ….” Sontak semua yang hadir terkejut. Pasalnya mereka sangat mengenal Vicky yang merupakan dedengkot karyawan di perusahaan ini dan kaki tangan Kenan.
“Ayesha adalah istri saya. Wanita yang saya nikahi lima bulan lalu,” ucap Kevin lagi membuat mereka yang mendengar pengumuman itu pun semakin terkejut.
“Apa?” tanya salah satu audiens di sana.
“Ayesha, istri Pak Kevin?” tanya Melodi yang saling melirik ke arah Diah dan Risa sembari menutup mulut mereka masing-masing. Mereka sungguh tak percaya.
Aryo yang mendengar itu pun menganga. Kini, ia khawatir pekerjaanya kandas akibat ulah mulutnya yang memfitnah istri CEO nya itu.
“Yo, lu sih kasih info ga bener,” ucap salah satu orang yang duduk di dekat Aryo.
“Nah loh. Siapa yang udah gosipin Mbak Ayesha?” tanya salah satu mereka lagi. Dan, hal itu membuat Aryo semakin panas dingin.
“Untuk orang yang telah mengedarkan gosip tentang istri saya dan rekaman video itu. Setelah ini, harap menemui saya. Saya akan tunggu kalian hingga satu kali dua puluh empat jam. Jika tidak ada yang menghadap ke saya, maka saya yang akan memanggilnya sendiri dan mohon maaf jika saya yang memanggil berarti karir anda di sini berakhir. Terima kasih,” ucap Kevin tegas.
“Ada yang ingin kamu katakan, Sayang?” tanya Kevin pada istrinya.
Ayesha menggeleng.
Di antara para karyawan yang duduk di sana, ada Tian yang terus memandang Ayesha dan Kevin. Kevin pun merasakan itu. Ia merasakan bagaimana Tian memandangi istrinya. Jika tidak dalam keadaan seperti ini, mungkin Kevin akan meninju Tian karena berani memandangi istrinya dengan cara seperti itu.
Kevin menutup pengumuman itu dengan mencium kening Ayesha, setelah Hanin mengutarakan alasan Kevin menutupi status Ayesha selama ini yang tidak ingin diperlakukan istimewa bekerja diperusahaan milik suaminya.
Para biang gosip itu pun ketar ketir, terutama Aryo yang memang dalang dari awal gosip itu beredar hingga orang-orang mencibir Ayesha dan memandangnya rendah. Keringat Aryo bercucuran. Sepertinya langkah pertama yang akan Aryo lakukan setelah ini adalah meminta maaf langsung pada Ayesha sebelum akhirnya ia menghadap Kevin. Ia pasrah dengan apa yang akan Kevin lakukan padanya.