XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Keanehan sikap Kevin



Kevin duduk gelisah di kursi kebesarannya. Ia masih memikirkan kejadian di ruangan istrinya tadi. Ayesha mengatakan tak tahu siapa pengirim mawar putih itu. Namun, ia merasa tidak puas atas jawaban sang istri. Kepalanya mengingat kejadian di toko bunga pagi tadi, ketika ia bertemu Tian yang membeli bunga sama persis dengan bunga yang ada di meja istrinya.


Kevin ingat betul bentuk sepuket mawar itu dan balutan kain yang membungkus mawar itu persis dengan yang dipilih Tian. Ditambah pada bagian pengikatnya tertera merk toko bunga yang sama dengan toko bunga yang mereka kunjungi pagi tadi.


Kevin terdiam sembari menghentakkan ketiga jarinya di atas meja. Sejak kejadian itu, ia benar-benar tidak fokus bekerja. Belum ada berkas yang selesai ia kerjakan sedari tadi.


Lalu, Kevin mengambil ponselnya dan mendial nomor Sean.


"Halo," jawab Sean setelah nada sambung berdering tiga kali.


"Halo," kata Sean lagi, karena Kevin tak kunjung mengerluarkan suaranya.


"Sean."


"Yap. Ada laporan gue yang salah?" tanya Sean pada bosnya.


"No, bukan. Bukan itu," ucap Kevin ragu untuk menanyakan tentang Tian pada Sean.


"Ini bukan soal pekerjaan. Gue pengen tanya tentang Tian," kata Kevin lagi.


"Tian? Ada apa dengan Tian? Dia bikin kesalahan?" tanya Sean bertubi-tubi.


"Ngga, bukan."


"Are you okey?" tanya Sean pada bosnya lagi. Pasalnya Kevin seperti sedang tidak.baik-baik saja.


"Gue ke ruangan lu aja," kata Sean lagi dan menutup sambungan telepon itu.


Di ruangan yang lain. Ayesha membuang mawar putih pemberian Tian ke tong sampah besar yang berada di dekat toilet. Ia sengaja keluar dari ruangan itu dikala sepi disaat semua orang tengah sibuk di dalam ruangannya masing-masing. Ia tidak ingin Tian menjadi bumerang dalam rumah tangganya yang masih seumur jagung. Ia juga tak ingin menanggapi Tian, selain dari pekerjaan. Hubungan mereka saat ini hanya partner kerja.


Ayesha hanya ingin membuktikan pada Kevin bahwa dia bisa dibanggakan. Oleh karena itu, ia membantu Tian untuk merampungkan program keuangan menjadi sebuah aplikasi yang mereka namakan 'buku besar'. Aplikasi ini akan memudahkan administrasi keuangan dan memudahkan pimpinan atau siapa saja untuk membaca laporan keuangan, termasuk para investor.


Ayesha merasa ketika di divisi IT ia gagal dan di sini ia tidak ingin gagal lagi. Ia tidak tahu bahwa namanya memang sudah dibanggakan di rapat kemarin.


Ceklek


Sean masuk ke ruangan Kevin. Ia langsung duduk di hadapannya.


"Ada apa, Kev?" tanyanya.


"Tian itu lulusan university xxx, kan?"


"Yap."


"Di Australi, kan?" tanya Kevin.


Sean mengangguk.


"Lulus tahun?" tanya Kevin lagi.


"Ada apa sih?" Sean balik bertanya.


Kevin terdiam dan berkata lagi, "Tian dan Ayesha pernah satu angakatan?"


"Hmm ... setahu gue ngga deh. Tian sama Ayesha kan beda tiga tahun. Mereka pasti ngga satu angkatan. Tapi berhubung Tian lemot dan ga lulus-lulus. Mungkin, bisa jadi satu angkatan sama Ayesha," jawab Sean.


Sean menatap wajah serius bos sekaligus sahabatnya itu. "Kenapa sih?"


Kevin menggeleng. "Ngga, ngga apa-apa. Oke, informasi sementara cukup."


"Ada apa, Kev? Gue tahu lu lagi nyimpen sesuatu. Katakan!" ucap Sean.


Lagi-lagi Kevin menggeleng. "Ngga apa-apa, Bro. Nanti kalau gue perlu, gue bakal ngomong. Tapi untuk saat ini biar gue cari sendiri dulu.


"Wah, kayanya masalah serius nih?" tanya Sean yang tahu betul karakter sahabatnya.


"Ya udah, lu balik lagi ke ruangan lu sana!" usir Kevin.


"Dasar! Dibantuin bukan terima kasih malah ngusir."


Kevin diam dengan wajah datar.


"Udah sana!" Lalu, ia mengibaskan tangannya untuk mengusir Sean. "Kerjain lagi kerjaan lu."


"Okelah kalau begitu." Sean bangkit dari kursi itu dan pergi dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Sean tahu bahwa Kevin sedang tidak baik-baik saja. Keadaan Kevin saat ini pasti ada hubungannya dengan Ayesha dan Tian. Tapi biarlah, Kevin bisa menyelesaikan urusannya sendiri dan pastinya ketika dibutuhkan, ia akan siap membantu, apa pun itu.


Tak lama kemudian, Kevin meminta bagian keamanan yang bertugas di cctv untuk datang ke ruangannya.


Dengab segera, bagian itu pun mendatangi ruang CEO.


"Bapak panggil saya?" tanya petugas cctv itu.


Petugas cctv yang berusia sekitar tiga puluhan itu pun langsung duduk di hadapan pria tampan dan tegap itu.


"Man, saya ingin kamu memasang cctv kecil di divisi keuangan!" pinta Kevin kepada pria yang bernama Maman


"Untuk di ruangan manajer dan administrasi," tambahnya lagi.


Arman mengangguk. "Baik, Pak."


Ingin sekali ia bertanya mengapa harus ada cctv di dalam ruangan itu? Namun, ia tidak lunya cukuo kuasa untuk bertanya seperti itu.


"Sekarang, Pak?" tanya Arman.


"Ya hari ini. Kamu kerjakan setelah jam pulang karyawan," jawab Kevin.


Arman kembali mengangguk.


"Tenang, saya langsung acc ke HRD untuk lembur kamu hari ini."


Bibir Arman langsung menyungging senyum lebar. "Siao, Pak. Beres."


"Oke," jawab Kevin menandakan bahwa urusannya dengan Arman pun selesai.


"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi," ucap Arman yang diangguki Kevin.


Setelah itu Arman pun keluar dari ruangan itu.


Kevin mulai mencari tahu tentang mawar putih yang ada di meja istrinya dengan cctv. Ia meyakini seratus persen bahwa sepuket mawar putih itu adalah bunga yang Tian beli pagi tadi di toko bunga itu.


Hatinya mencelos. Ada sedikit nyeri dihatinya ketika melihat bunga itu di atas meja Ayesha. Ia baru sadar bahwa istrinya istimewa. Ayesha pintar dan baik. Parasnya pun menarik. Apalagi saat ini parasnya semakin menarik karena ditunjang oleh tubuhnya yang kian ideal.


Kevin semakin khawatir. Ayesha adalah miliknya dan ia pun sangat mencintai wanita itu. Bahkan melebihi dari yang Ayesha rasakan.


Kevin akan mempertahankan apa pun yang ia miliki. Dimulai dari sikapnya terhadap sang istri dan dimulai dari saat ini. Ia akan membuat Ayesha nyaman bersamanya. Ia akan mengurangi sikapnya yang buruk dan kata-kata pedas yang sering keluar dari mulutnya.


Kevin baru menyadari bahwa ia bukanlah pria romantis. Dan seperti kata Tian ketika di toko bunga itu, bahwa wanita menyukai pria romantis. Ia pun akan menjadi seperti itu demi Ayesha, walau sepertinya sulit tapi akan ia lakukan demi mempertahankan Ayesha untuk tetap selalu disisinya.


****


Kevin menunggu Ayesha di basement untuk pulang bersama. Sudah tiga puluh menit, Kevin menunggu di dalam mobil dengan mesin menyala. Ia pun menyalakan musik untuk menghilangkan kejenuhan, karena sang istri belum terlihat batang hidungnya.


Ayesha berlari menuju tempat mobil Kevin terparkir. Ia berjalan tergesa-gesa dari lantai dua hingga sampai di basement. Ia takut Kevin akan marah, karena kali ini ia sangat terlambat. Biasanya ia hanya telat sepuluh sampai lima belas menit, tapi kali ini bahkan lebih dari tiga puluh menit.


Ayesha menguatkan hati, jika nanti Kevin akan mengeluarkan kata-kata pedasnya.


Di dalam mobil, Kevin tersenyum saat melihat istrinya tengah berlari menghampiri mobilnya


Kevin membuka kunci mobilnya dan Ayesha langsung membuka pintu itu, lalu masuk ke dalam dengan nafas terengah-engah.


Ini seperti dejavu. Sebelumnya Ayesha pernah merasakan kejadian ini dan Kevin marah besar karena menunggunya lama.


"Kenapa lari?" tanya Kevin yang dengan sigap pengusap peluh di dahi Ayesha.


"Aku takut kamu marah karena telah menunggu lama," jawab Ayesha. "Maaf, Mas. Tadi aku tanggung banget nyelesaiin laporan."


Kevin mengangguk. "Iya, tidak apa." Ia juga menekan tombol AC dan menjadikan ruangan itu lebih sejuk.


Ayesha mengenyitkan dahi dan menatap heran suaminya. Ia tak menyangka beruang kutub ini tidak bermulut pedas.


"Sudah lebih sejuk?" tanya Kevin lagi sembari mengusap dahi Ayesha.


Ayesha tersenyum, tapi sebenarnya ia ingin tertawa. Rasanya aneh melihat sikap Kevin yang seperti ini.


"Mas," panggil Ayesha ketika Kevin hendak menjalankan mobilnya.


"Kamu tadi makan apa?" tanya Ayesha.


"Makan seperti yang Mas kasih ke kamu tadi. Kenapa?" tanya Kevin yang melirik Ayesha sekilas, lalu kembali fokus menyetir.


"Oh, ga apa-apa." Ayesha menggelengkan kepala sembari tersenyum.


Lalu, ia menggeser posisi duduknya menjadi sedikit menghadap kursi Kevin yang sedang menyetir. Tangannya pun terangkat untuk ditempelkan pada kening Kevin.


"Kamu ga lagi demam kan, Mas?" tanyanya.


Ayesha kembali menempelkan telapak tangannya pada leher Kevin. Suhu di tubuh itu pun baik-baik saja, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Semua normal.


Kevin menoleh ke arah Ayesha dan menggeleng. "Ngga."


"Oh." Ayesha membulatkan bibir dan membenarkan posisi duduknya.


Ia masih mengulas senyum di tengah Kevin yang serius menyetir dengan pandangan lurus ke depan. Ayesha merasa suaminya sedikit aneh.