
Kevin dan Ayesha hanya tinggal di kediaman Kenan selama beberapa hari saja. Setelah renovasi dapur selesai, mereka pun kembali ke apartemen.
Dua minggu berlalu, belum ada perkembangan yang berarti dari hubungan Ayesha dan Kevin. Di tambah saat ini, Kevin semakin sibuk dengan pekerjaannya. Begitu pun dengan Ayesha. Detik-detik kepensiunan Pak Edward, memaksa Ayesha untuk bekerja lebih ekstra agar ketika tongkat estafet itu diserahkan, program yang mereka usung pun rampung.
Selama dua minggu ini, Kevin lebih sering berangkat pagi dan pulang dalam keadaaan larut. Interaksi sepasang suami istri yang baru berusia satu bulan lebih dua minggu itu semakin sempit karena kepadatan aktivitas masing-masing.
Kebiasaan Ayesha dalam satu bulan lebih ini pun menghasilkan banyak perubahan. Ia semakin terlihat lebih ramping. Jalan kaki pagi dan sore, lalu naik turun tangga menggunakan jembatan penyeberangan menuju kantor, memaksanya untuk berolahraga setiap hari. Ayesha juga sudah terbiasa untuk makan nasi di siang hari saja. Perutnya semakin tidak menerima untuk sarapan dan hanya ingin memakan buah ketika malam. Alhasil dalam satu bulan lebih dua minggu ini atau lebihdari empat puluh hari, bobot Ayesha berkurang dua puluh kilogram, yang semula delapan puluh empat kilo menjadi enam puluh empat kilogram.
“Hoek … Hoek …”
Perut Ayesha terasa mual. Beberapa hari terakhir, ia sering mengalami ini ketika pagi, tepatnya ketika perutnya belum terisi.
“Kamu kenapa, Ay?” tanya Kevin yang kebetulan belum berangkat. Biasanya pria itu selalu jalan lebih dulu dari Ayesha.
“Ngga tau, Mas. Perut aku kalau pagi mual.”
Kevin mengernyitkan dahi. Pasalnya hingga saat ini, mereka belum melakukan hubungan suami istri.
“Kamu sakit? Badanmu juga makin kurus,” kata Kevin.
Ayesha mengangguk. Ia juga merasakan bahwa semua pakaiannya terasa sangat longgar.
“Perut aku sering perih, Mas,” keluh Ayesha.
“Kamu terlalu keras untuk diet. Jadinya seperti ini.”
Ya, Ayesha memang sengaja diet, ketika teman-temannya mengatakan ia tambah cantik dengan penampilannya saat ini. Hal itu yang membuatnya bersemangat untuk melanjutkan pola yang ia jalani.
“Ya sudah, nanti berangkat kerja bareng aku. Jangan jalan kaki lagi!” kata Kevin. “Terus hari ini harus sarapan. Nanti aku minta Bi Lastri ke sini dan memasak makanan buat kita.”
“Ga usah, Mas.”
Kevin menuntun Ayesha menuju tempat tidur, setelah ia memuntahkan isi perut yang tidak ada isi apa pun.
“Aku panggil dokter ya?” tanya Kevin.
Ayesha menggeleng. “Aku ga apa-apa.”
“Jangan keras kepala!” Kevin mentoyor kening istrinya.
Sepertinya, sangat tidak mungkin jika apa yang dialami Ayesha saat ini karena sang istri sedang mengandung. Setiap kali, Kevin ingin meminta haknya, ia serasa enggan. Ia malu karena perjanjian konyol yang ia buat sendiri waktu itu, sehingga ia pun gengsi untuk meminta haknya kepada sang istri.
“Aku ga apa-apa, Mas.”
“Kalau ga apa-apa, ga akan seperti ini. Wajahmu pucat sekali. Aku khawatir kamu mengalami gangguan lambung,” ucap Kevin yang meminta istrinya untuk istirahat. “Sekarang istirahat saja, tidak usah berangkat ke kantor.”
“Tapi, masih banyak yang ingin aku kerjakan, Mas.”
“Ya sudah, kerjakan di sini.”
Ayesha menggeleng. “Harus koordinasi dengan Nindi.”
Kevin menatap tajam istrinya, membuat Ayesha takut. Ayesha menengadahkan kepalanya, lalu menunduk lagi. Ia takut menatap ke kedua bola mata suaminya yang terkesan mengintimidasi.
“Baiklah, aku tidak ke kantor,” ujar Ayesha.
“Nah, seperti itu. Sesekali jadilah wanita penurut,” jawab Kevin sembari mengacak-Acak rambut Ayesha.
“Mas,” panggil Ayesha ketika Kevin berdiri dan hendak keluar kamar untuk memberikan istrinya madu dan air hangat.
“Kapan Mama dan Papa pulang?” tanyanya.
“Papa berangkat hari ini, tapi Mama tidak. Mama masih menemani Oma di sana, karena Oma belum kuat untuk pulang dan melakukan perjalanan jauh.”
Kevin kembali duduk di tempat tidur itu. “Papa pulang untuk rapat direksi dan penyerahan peralihan. Setelah itu aku sama Papa akan melakukan perjalanan bisnis. Papa akan mengenalkanku pada relasi-relasinya yang ada di beberapa negara.”
“Lama kah?” tanya Ayesha.
Kevin mengangguk ragu. Ia pun enggan meninggalkan sang istri.
“Berapa lama?” tanya Ayesha lagi.
“Dua minggu.”
“Lama sekali.” Tiba-tiba Ayasha bercelatuk.
“Kenapa? takut rindu?” tanya kevin menggoda.
Ayesha tersenyum. “Aku lebih takut berada sendirian di apartemen ini di banding takut rindu.”
“Ck. Nyebelin.” Kevin kembali mengacak-acak rambut istrinya.
“Mas,” rengek Ayesha yang tidak suka rambutnya menjadi bulan-bulanan sang suami sambil merapikan kembali rambut itu.
“Lagian jadi orang kok nyebelin banget,” kata Kevin.
“Yang nyebelin itu kamu,” jawab Ayesha.
“Kamu,” jawab Kevin tidak mau kalah.
“Kamu.” Ayesha juga tak mau kalah.
“Kamu, Ndut.” Kevin menekankan panggilan kesayangannya itu.
“Hmm … aku udah ngga gendut ya,” ucap Ayesha yang kemudian bangun dari berbaringnya dan bertolak pinggang.
Kevin meneliti tubuh istrinya. Ya akhir-akhir ini, ia memang jarang berinteraksi dengan sang istri, hingga ia pun tidak terlalu memperhatikan perubahan itu. Tetapi memang istrinya saat ini sangat jauh berbeda.
Tangan kanan Kevin memainkan jenggot tipisnya sembari mengangkat satu alisnya dengan pandangan yang tak lepas dari Ayesha.
“Iya kan?” tanya Ayesha lagi. “Aku udah langsing, kan?”
“Kasih tahu ngga ya?” ledek kevin yang ingin mengiyakan bahwa istrinya kini sudah memiliki tubuh ideal, tapi ia tak ingin Ayesha besar kepala.
Walau, jika menurut para model berat badan Ayesha masih belum dikatakan ideal, tapi menurut Kevin seperti ini justru Ayesha terlihat sedang, tidak gemuk dan tidak kurus.
“Ya sudah, aku siapkan makanan dulu sambil menunggu Om Jo datang,” ucap Kevin yang sudah menelepon dokter keluarga mereka untuk memeriksa istrinya.
“Udah deh nurut aja kenapa? Supaya dapet obat dan besok bisa kerja lagi. Supaya ga nyusahin aku dan ngga gabut, makan gaji buta.”
Ayesha mengerucutkan bibir. Sudah beberapa hari ini ia tidak mendengar perkataan pedas suaminya, karena interaksi mereka yang memang sedikit. Tetapi, sekalinya mereka berinteraksi, lagi-lagi Ayesha harus mendengar perkataan tak mengenakan dari si mulut pedas itu.
Di dapur, Kevin membuatkan Ayesha air lemon hangat yang dicampur madu untuk meredakan asam lambung itu sementara. Ia juga membuatkan oatmeal untuk sang istri.
Setelah selesai membuat makanan untuk sang istri yang sedang sakit. Kevin kembali ke kamar dan meletakkan makanan juga minuman itu di meja kecil yang berada dekat dengan Ayesha berbaring.
“Ngga usah repot-repot, Mas,” kata Ayesha berbasa-basi ketika melihat sang suami kerepotan membawa nampan yang cukup besar.
“Makanya cepet sembuh, supaya ga ngerepotin,” jawab Kevin. “Harusnya kamu yang layani aku.”
Ayesaha mengerucutkan bibirnya lagi. “Iya, Maaf.”
Kevin menoleh ke arah istrinya yang memasang wajah sedih. Ya, Ayesha sedih dengan perkataan Kevin.
“Aku becanda, Ay. Jangan nangis dong! Ya udah, ayo minum!” Kevin menyerahkan gelas itu dan membantu Ayesha untuk minum. “Ini bisa meredakan asam lambung yang sedang naik.”
Ayesha mengangguk patuh dan melakukan apa yang suaminya perintahkan.
“Sekarang makan ya.”
Ayesha menggeleng. “Masih kembung.”
“Ya, tapi sedikit-sedikit harus ke isi.”
Ting …. Tong …
Interaksi Ayesha dan Kevin pun terputus setelah di luar sana ada orang yang menekan bel apartemen mereka.
“Aku buka pintu dulu ya. Itu pasti Om Jo.”
Ayesha mengangguk. Sedangkan, Kevin beranjak dan keluar kamar untuk membuka pintu. Ia berjalan mendekati pintu dan membukanya.
Ceklek
“Hai, Kev. Apa kabar?” tanya Pria paruh baya di seberangnya.
“Hai, Om. Kabar Kevin baik. Om bagaimana?”
Keduanya berpelukan. "Om juga baik."
Kevin mengajak Jo yang masih kerabat dekatnya itu untuk masuk.
“Istrimu kenapa?” tanya Om Jo di sela langkah mereka menuju kamar.
“Akhir-akhir ini, dia sering muntah-muntah,” jawab Kevin membuat Jo tersenyum. “Wah, jangan-jangan!”
“Jangan-jangan apa. Om?” tanya Kevin dengan menyipitkan matnya.
“Ya, jangan-jangan sudah ada Kevin junior di sana.” Jo tertawa, sedangkan Kevin hanya tersenyum kecut.
Lalu, keduanya masuk ke dalam kamar. Jo melihat Ayesha yang lemah, berbaring di atas tempat tidur king size itu. Jo pun melihat makanan dan minuman yang ada di samping Ayesha.
“Wah … Wah … ini Kevin yang menyiapkan?” tanya Jo pada Ayesha dengan menunjuk makanan itu.
Ayesha mengangguk.
Jo melihat perubahan yang besar dari seorang Kevin. Pria paruh baya itu tersenyum, karena ternyata Kevin bisa peduli pada istrinya, mengingat ia tahu Ayesha dan Kevin menikah karena dijodohkan.
Kemudian, Jo mulai memeriksa Ayesha.
“Bagaimana, Om? Apa Ayesha kena tukak lambung?” tanya Kevin.
Johan mengangguk. “Ya, sepertinya begitu.”
“Dia terlalu keras untuk menurunkan berat badan hingga hanya makan sekali sehari,” keluh Kevin.
“Ya ampun. Pantas saja, Om pangling melihatmu, Ay,” jawab Johan yang memang datang ke pernikahan Ayesha dan Kevin waktu itu. “Tapi, kamu terlihat semakin cantik.”
Wajah Ayesha langsung bersemu merah. “Ah, Om bisa aja.”
“Wah, Kev. Kamu harus ekstra hati-hati nih menjaga Ayesha.”
Kevin terdiam dan memandang intens istrinya. Ya, Ayesha memang semakin cantik.
****
Kevin tiba di kantor dengan sangat siang. Ia berjalan menuju ruangannya dan langsung bertemu dengan Sean.
“Hai Bos, gimana keadaan istri?” tanyanya.
“Sudah lebih baik.”
“Ayesha hamil?” tanya Sean berbisik.
Namun, tiba-tiba Sean menjerit. “Aww …”
Kevin mencubit perut sahabat sekaligus asistennya itu. “Kalo ngomong yang bener.”
Keduanya memasuki ruangan Kevin.
“Jadi, lu sama ayesha belum ….” Sean menautkan kedua jari telunjuknya.
Kevin menghampiri kursi kebesarannya dan duduk di sana. Sean kembali menegaskan pertanyaannya.
“Iya … belum. Puas lu," jawab Kevin ketus.
Sean tertawa. “Lagian sih, mempersulit diri sendiri. Pakai acara perjanjian pra nikah segala. Sekarang gengsi kan mau minta jatah.” Sean kembali tertawa, hingga memegang perutnya. “Ah, padahal itu surga dunia banget, Bos. Rasa tuh … Hmm … bikin nyenyak tidur dah.”
“Bisa diem ga?” tanya Kevin ketus karena kesal mendengar tawa sahabatnya.
“Hahaha … sorry Bos, sorry …” Sean masih terkikik geli sambil meluyur menuju pintu untuk keluar dari ruangan Kevin.
“Si*l lu, masuk sini cuma bikin orang badmood aja.” Kevin melempar sesuatu ke arah Sean yang langsung menghindar dan tetap tertawa.