
“Halo jagoan. Apa kabar?”
Keanu menoel ujung hidung Kaisar. Sejak keponakannya lahir ke dunia, sang paman baru melihat dua malaikat lucu itu.
“Aku baik, Om,” jawab Ayesha yang meniru suara anak kecil.
Keanu menggoyangkan kursi goyang bayi yang ditempati Kaisar dan Kalila di ruang keluarga. Ayesha duduk menemani Keanu di sana, sementara Kevin masih berada di dalam kamar. Ia masih membersihkan diri.
“Kak, makan dulu gih! Bibi udah siapin sarapan.”
Ayesha memanggil Keanu dengan sebutan kakak karena Keanu seusia dengan Vinza. Dan, sejak satu bulan sebelum melahirkan, Hanin mengirim satu asisten rumah tangganya di rumah untuk ikut bersama Kevin dan Ayesha ke apartemen itu. Semula untuk menemani Ayesha yangs edang hamil besar, tapi kini si Bibi sangat diperlukan karena Ayesha harus mengurus tiga bayi sekaligus.
Oeee … Oeee … Oeee …
Kalila memangis.
Ayesha pun langsug menghampiri bayi perempuannya dan menggendong dipangkuan itu sembari memberikan Asi yang sudah ada di botol. Ayesha sengaja menyediakan beberapa stock ASI di lemari es, jika kedua anaknya sedang tidur dan tidak ingin meminum air itu.
Keanu tersenyum melihat Ayesha. “Ay, Ay, perasaan dulu kamu masih kecil banget. Eh sekarang udah bisa menghasilkan anak kecil.”
Ayesha melirik Keanu dan tertawa. “Apaan sih, Kak Kean.”
Keanu ikut tertawa. Lalu, Keanu berdiri dan memandangi beberapa foto yang terpajang di sana. “Abang aku bahagia sekali.”
Ayesha mengangguk. “Ya, aku aja sampai diciumin terus.”
Keanu kembali tertawa. “Tadinya, aku kira dia g*y.”
“Apa? Siapa yang g*y?” suara bariton Kevin sambil berjalan menghampiri Keanu dengan menggunakan celana training abu tua dan kaos oblong berwarna abu muda polos.
Kevin berjalan dengan memasukkan tangan kanannya ke saku celana training itu.
“Eits, orangnya denger.”
Ayesha tertawa.
“Enak aja, ngatain orang g*y. Walau gue ga pernah pacaran dan bercinta, tapi gue tahu bagaimana cara malam pertama,” kata Kevin pada adiknya.
“Oh ya? Di bilik rumah sakit?” tanya Keanu meledek.
“Eh, kok lu tahu?” tanya Kevin pada Keanu sembari melirik ke arah Ayesha.
“Ya tahu lah. Hal itu udah jadi rahasia umum keluarga Adhitama.”
“Oma …” teriak Kevin yang meyakini bahwa biang kebocoran ini adalah sang nenek.
Keanu tertawa, begitu juga Ayesha. Keanu tampa tertawa geli hingga memegng perutnya.
“Gue bisa bayangin gimana riwehnya di dalam bilik itu saat kalian bercinta. Atau ranjang rumah sakit patah karena keberingasan lu, Kak.”
“Ck. S*al lu, Kean,” umpat Kevin pada sang adik dan langsung memiting lehernya.
“Ahahahah … Sorry … Sorry …” Keanu berusaha menghindar, karena ia akui dalam hal semacam ini, sang kakak jagonya.
Kevin memang pernah berlatih boxing saat SMA. Ia juga pernah mematahkan kaki teman satu kelas yang suka membully-nya karena ia lebih pendiam.
Keanu cukup lama berada di rumah itu. Hingga makan siang tiba, ia masih berada di sana bersama dua keponakannya yang baru terlelap.
“Udah sana pulang. Udah seharian disini juga,” usir Kevin pada adiknya.
“Ck. Gue ga kesini dibilang adik ga tau diri, keponakannya lahir masih aja seneng-seneng di Bali. Sekarang gue disini malah lu usir.”
Kevin tertawa. Ia memang mengatakan hal itu saat Keanu hanya mengucapkan selamat lewat telepon tepat satu hari Ayesha melahirkan.
Kedua adik kakak itu duduk berdampingan di sofa dengan menyandarkan tubuhnya pada bahu sofa yang empuk itu. Sedangkan Ayesha berada di dalam kamar untuk memastikan kedua anaknya tidur terlelap setelah dibaringkan pada tempat tidurnya masing-masing.
“Kean, lu ga pengen nikah?” tanya Kevin di ruang televisi.
“Pengen lah, siapa sih yang ga pengen bahagia punya keluarga. Seperti lu contohnya.”
“Terus, kabarnya Chintiya gimana? Lu masih sama dia kan?”
Keanu mengangguk. Chintya adalah kekasih Keanu sejak kuliah di Inggris. Bahkan ia menyusul Keanu ke Itali saat pria itu menetap di sana untuk mengembangkan hobby membalap setelah lulus kuliah.
Chintya merupakan anak pengusaha asal indonesia yang menikah dengan warga Inggris.
“Ck. Kasian banget sih anak orang di php-in terus. Pasti lu sama dia udah begituan?” Kevin menoleh ke arah sang adik.
“Ngga lah.” Keanu menggeleng.
“Ngga salah lagi.”
Keanu tertawa. “Ya, cuma sepukul dua pukul," jawabnya santai.
Kevin menggeleng. “Edan.”
Keanu kembali tertawa. “Ngga, Kak. Gue juga masih waras lah. Mama bisa ngamuk kalau gue melakukan hal itu sebelum nikah.”
“Ah, ga percaya gue.”
Lalu, mereka terdiam sejenak. Keanu meminum minuman kaleng bersoda yang ia ambil dari lemari es di dapur.
“Tapi Mama ga setuju sama Chintya,” ujarnya.
“Ya, sejujurnya gue juga kurang setuju,” sahut Kevin.
Chintya saat ini menjadi model. Di Itali ia menggeluti bidang yang ia suaki itu, bidang yang berlainan dengan bidang study saat kuliah bersama Keanu. Dan, sekarang Chintya ikut ke jakarta tepat di saat Keanu kembali ke tanah air. Wanita itu pun ikut menjadi model di sini. Namun, pakaian yang dikenakan Chintya sangat vulgar. Ketika berpose di media pun seperti itu dan hal itu yang membuat Hanin tidak suka.
“Tapi kalau lu bisa ngebilangin dia buat berpakaian lebih sopan dan hanya mengambil job yang tidak terlalu vulgar sih, why not? Terusin aja,” kata Kevin lagi.
“Nah, itu dia. Doi ga bisa dibilangin. Akhir-akhir ini gue dan dia sering berantem gara-gara pekerjaannya. gue juga ga suka dia jadi model. tubuhnya diliat banyak orang."
Kevin mengangguk. "Ya, apalagi saat ini kita bukan lagi orang biasa, walau sejak dulu seperti itu. tapi Papa sekarang adalah public figur, pemimpin kota yang akan selalu ditelisik kehidupannya. Untung aja, gue udah bungkam para media yang bergosip tentang lu dan dia.”
Keanu tertawa. “Ya, gue faham. Thank you.”
Keduanya kembali terdiam, sambil menatap ke arah televisi.
“Kalau anak Bi Lastri, apa kabar?” tanya Keanu sambil melirik ke arah Kevin, membuat sang kakak terdiam.
Kevin pun ikut melirik ke arah Keanu dengan mulut membungkam.