
Waktu terus berjalan. Hari pernikahan Aldy dan Kayla semakin dekat. Hanin membantu Kiara menyiapkan perhelatan megah yang diinginkan Gunawan. Di sisi lain, Hanin juga menyiapkan acara empat bulanan untuk menantunya bersama Rea, yang akan digelar dua hari lagi, satu minggu lebih dulu dari acara pernikahan Kayla. Sedangkan para suami mereka pun sibuk dengan kampanye Kenan.
Kenan dan Vicky sering tak berada di rumah. Kesibukan Kenan dalam mengikuti pemilihan membuatnya harus berkeliling kota. Untungnya, Kenan tak sendiri. Strategi yang ia buat, diperkuat oleh keberadaan Vicky. Bekerjasama dengan Vikcy seperti mengulang kembali momen antara bos dan asisten, karena memang dengan kekompakan itu, ia menghasilkan kejayaannya kembali di perusahaan Adhitama yang hampir saja bangkrut waktu itu. Dan, semoga ia pun mendapat hasil yang sama untuk keinginan kali ini.
Sean dan Nindi juga tampak semakin dekat. Mereka selalu mesra disetiap kesempatan. Bahkan, gosip mereka berpacaran pun sudah tak lagi menjadi rahasia. Hampir seluruh penghuni gedung Adhitama tahu bahwa asisten CEO berpacaran dengan staf IT.
“Eum …” lenguh Nindi ketika bibir Sean menelusuri leher belakang Nindi.
Sepulang dari kantor, Sean mengajak Nindi ke apartemennya. Esok mulai memasuki weekend. Biasanya di hari seperti ini, Nindi akan memasak di sini dan mereka menikmati makan malam bersama serta menikmati beberapa jam kebersamaan, mengingat selama hari kerja mereka selalu disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Walau mereka berada di kantor yang sama dan lantai yang sama. Mereka pun tak jarang bertemu, karena memiliki tugas dan pekerjaan yang berbeda.
“Menginaplah di sini malam ini.” Sean memohon sembari mengecup bahu Nindi dan menggigitnya.
Sesampainya di apartemen ini, Nindi melepas blazernya dan hanya menggunakan tang top saat memasak.
“Mas, Eum …” panggil Nindi dengan suara sensual. “Jangan digigit lagi! Nanti, aku diledek teman-teman kostku lagi.”
Sean tertawa. Tangan kanannya mengusap bahu Nindi yang berwarna keunguan hasil karyanya tadi. Sementara tangan kirinya melingkar di perut perut Nindi dari belakang.
“Biarin. Biar semua orang tahu kalau kamu sudah ada yang punya,” jawab Sean.
Nindi membalikkan tubuhnya dan menatap Sean. “Belum menikah, bibir, bahu dan leherku sudah habis kamu gigit. Apalagi nanti kalau sudah menikah?”
“Seluruh tubuhmu akan habis aku gigit,” jawab Sean tertawa.
“Sakit dong,” sahut Nindi yang juga tertawa.
“Biarin.” Sean kembali memeluk Nindi dari belakang ketika wanita itu kembali membalikkan tubuhnya menghadap ke tungku modern itu.
“Malam ini, menginap ya.” Sean kembali memelas.
Nindi menggelengkan kepalanya. “Ngga.”
“Kenapa?” tanya Sean.
“Aku takut sama kamu. Takut kamu ga bisa mengontrol diri.”
Sean tertawa. Memang benar yang dikatakan Nindi. Ia memang tidak bisa mengontrol dirinya jika sudah berdua dengan Nindi.
Akhirnya, Sean mengalah. Seperti biasa, mereka hanya makan malam dan bersantai di ruang televisi sebentar, lalu mengantar Nindi pulang ke kost sebelum pukul sepuluh malam, karena peraturan di kost itu tidak diperbolehkan pulang lebih dari pukul sepuluh, walau hanya lebih satu menit saja. Sang ibu kost akan menggembok pagar tepat waktu.
Di apartemen lain, Kevin sudah berada di atas tempat tidur. Ia duduk di atas sana sembari menyandarkan tubuhnya di dinding ranjang. Ia menunggu sang istri selesai membersihkan diri sambil bermain game online.
Semula, ia bermain bersama Aldy dan Keanu. Namun, beberapa menit kemudian Sean pun bergabung.
“Ah, ****.” umpat Kevin saat asyik bermain game dengan kedua tangan yang memegang benda itu.
Ayesha menoleh ke arah suaminya yang baru saja mengumpat. Ia pun baru selesai mengoleskan krim malam ke wajah dan lotion ke tubuhnya.
“Kamu ngapain sih, Mas?” tanya Ayesha pada Kevin yang sibuk dengan dunianya sendiri, hingga melupakan kehadiran sang istri yang sudah berada di sampingnya.
“Main game, Sayang. Lagi seru nih,” jawab Kevin.
“Aaa … Awas Sean, gue balas lu.” Kevin berbicara dengan ponselnya.
Dibalik ketegasan dan kewibawaan Kevin, ternyata ada sisi kekanak-kanakannya di sana. Dan, Ayesha semakin tahu hal itu. Semakin hari, ia semakin mengenal suaminya. Begitu pun dengan Kevin yang semakin tahu bagaimana cara membuat Ayesha bahagia.
Kevin menoleh ke arah istrinya. “Maaf ya, Sayang. Tanggung, dikit lagi aku menang.”
Ayesha menghela nafasnya kasar.
“Sini! Masuk ke pelukanku.” Kevin melepaskan kedua tangannya yang semula menyatu untuk memegang ponselnya itu. Lalu meminta Ayesha masuk ke dalam pelukan.
Ayesha pun tersenyum. Ia mendekati tubuh Kevin dan memeluk dada bidang itu. Dan, sesaat kemudian, Kevin kembali menyatukan kedua tangannya untuk memegang ponsel, lalu meneruskan permainan itu. Ia bermain game dengan membiarkan sang istri tetap berada di dalam pelukannya.
Tubuh Ayesha masuk kedalam lingkaran tangan Kevin yang masih aktif bermain game. Ia tidur di dada bidang yang sedang bermain game. Gerakan tangan dan tubuh Kevin yang mengikuti game itu membuat Ayesha tak bisa memejamkan mata.
“Belum selesai, Mas?” tanya Ayesha yang tidak pernah bisa marah, apalagi terhadap suaminya.
“Belum, Sayang. Sebentar lagi.”
“Aaah ….” Tak lama kemudian Kevin berteriak tepat ditelinga Ayesha, membuat Ayesha terperanjat dan menjauhkan diri dari dada itu.
Ayesha melepaskan diri dari pelukan Kevin dan memilih berbaring di sampingnya dengan membalakangi pria itu.
“Maaf, Sayang.” Kevin langsung mendekati Ayesha. “Aku kesal dikalahkan Keanu di game itu.”
Ayesha masih dengan posisinya. “Udalah, Mas main game aja lagi.”
Kevin langsung meletakkan ponselnya dan memeluk sang istri dari belakang. Namun, Ayesha mendorong tubuh Kevin yang hendak menempel padanya.
“Sana, terusin main game-nya! Anggap aja aku ga ada.”
“Ngga gitu, Sayang,” jawab Kevin yang masih mendekati sang istri dan hendak memeluknya lagi.
Ayesha tetap menggerakkan tubuhnya agar Kevin menjauh.
“Sayang,” panggil Kevin berusaha membujuk Ayesha yang sedang merajuk.
“Sana!” Ayesha masih menyingkirkan tubuh Kevin yang ingin memeluknya.
“Sayang, aku ingin peluk kamu,” kata Kevin lagi.
“Ngga. Kamu main game aja terus.”
“Ndut. Jangan gitu dong!” Kevin masih berusaha memeluk istrinya lagi.
“Biarin.”
“Bodo. Peluk aja guling, sana!”
“Ngga enak. Ngga kenyal seperti kamu. Ngga bisa digigit juga.”
Sontak, Ayesha membalikkan tubuhnya. Ia menatap Kevin yang memasang wajah imut. Bibir Ayesha merengut tapi ia ingin tertawa melihat wajah sok imut itu. Namun, Ayesha tetap mempertahankan eksoresinya.
“Boleh peluk ya?” tanya Kevin sembari tersenyum manis.
Ayesha pura-pura berpikir.
"Baby twins pasti juga ingin dipeluk ayahnya saat tidur," kata Kevin lagi, membuat Ayesha pun mengangguk.
Kevin tersenyum lebar dan langsung menyergap tubuh itu untuk masuk ke dalam dadanya. Ia memeluk tubuh itu erat. Tangannya pun mulai mengelus perut sang istri yang sudah terlihat buncit.
“Ngga terasa, mereka sudah empat bulan, dua hari lagi,” kata Kevin sambil mengelus perut Ayesha.
“Iya, sepertinya baru kemarin memberitahu Mama Papa.”
Kevin mengecup pucuk kepala Ayesha. “Sudah, Ayo tidur!”
Ayesha berusaha memejamkan matanya, tapi sepertinya masih sulit. Gerakan tangan Ayesha yang tidak bisa diam di dalam pelukan itu, membuat Kevin ikut meraskannya.
“Kenapa? Kok belum tidur?” tanya Kevin lembut.
Ayesha menggeleng. “Ngga tahu.”
“Ada yang kamu inginkan? Mau minum? Biar Mas ambil di dapur.”
Ayesha kembali menggeleng. “Bukan itu yang aku mau. Tapi …” Ayesha menggantungkan perkataannya.
“Tapi? Jangan bilang kamu minta bubur ayam tengah malam,” kata Kevin kesal karena sering direpotkan dengan permintaan Ayesha yang aneh satu bulan terakhir ini.
Ayesha kembali menggelengkan kepalanya. “Ngga. Bukan itu.”
“Lalu?” tanya Kevin dengan menatap intens wajah sang istri.
“Aku mau Mas Kevin,” jawab Ayesha manja, membuat kening Kevin mengernyit.
“Maksudnya?” tanya Kevin tersenyum, pura-pura tidak mengerti padahal ia sudah menangkap keinginan sang istri.
“Hmm … maksudnya itu!” Ayesha menyatukan kedua ujung jari telunjuknya.
“Apa? Mas ga ngerti?” tanya Kevin sembari menyeringai.
“Bohong.”
“Beneran,” kata Kevin lagi tersenyum. Ia ingin mendengar Ayesha meminta jatah, karena biasanya ia yang selalu merengek akan hal itu.
Ayesha melepas tali baju tidur tipis yang mengait di kedua bahunya, hingga kain itu turun dan menampilkan dada Ayesha yang padat. “Mereka ingin dijenguk.”
Kevin langsung menerkam tubuh yang siap dimangsa itu.
“Mereka atau ibunya?” tanya Kevin dengan menaikkan satu alisnya.
Ayesha tersenyum. “Ibunya deh.”
Kevin pun tertawa. “Kamu yang meminta. Jadi jangan salahkan kalau Mas ga bisa berhenti.”
Ayesha menggigit bibirnya dan mengangguk. Kevin pun semakin melebarkan bibirnya. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Kevin menindih tubub itu dan memegang lengan Ayesha. Di sana terlihat sebuah luka bakar yang tidak terlalu besar tapi cukup terlihat jelas.
Cup
Kevin mengecup luka itu.
"Gara-gara ketidaktahuan Mas tentang ini, membuat Mas salah faham denganmu dulu."
Ayesha tersenyum. Ya, ia ingat bagaimana Kevin memarahinya saat dapurnya hampir terbakar.
"Tidak sepantasnya aku dulu memarahimu seperti itu."
Ayesha masih tersenyum. "Tidak apa, aku maklum kok, karena waktu itu Mas ga tahu tentang trauma itu."
Kevin ikut tersenyum. Ia mengecup kedua mata Ayesha, kedua pipi dan ujung hidungnya. "Terima kasih, karena kamu selalu mengerti Mas."
Ayesha menganggukkan kepalanya. "Terima kasih juga karena sudah menolongku waktu aku mau tenggelam di Bali."
Kevin tertawa. Ia ingat saat itu, saat pertama kali menyentuh bibir wanita.
"Kamu tahu, setelah mencium bibir ini waktu itu, aku selalu terbayang dan ingin menciumnya lagi."
"Oh ya?" tanya Ayesha tak percaya. pasalnya saat itu, Kevin terlihat dingin padanya.
Kevin meangangguk. "Sungguh, tapi aku gengsi, hingga akhirnya ada kesempatan lagi."
Sontak, Ayesha pun memukul dada Kevin pelan sembari tertawa. "Jadi sebelum Mama minta perjodohan itu, Mas sudah menyukaiku?"
Kevin mengangguk. "Lebih tepatnya menyukai bibirmu."
"Mas," rengek Ayesha, membuat Kevin tertawa.