
Di rumah sakit, Kayla setia menemani kekasihnya yang masih dalam perawatan sambil menunggu sore tiba. Sejak kemarin, Sean sudah mengurus semua administrasi dan ia akan datang kembali bersama Kevin sore nanti saat Aldy diperbolehkan pulang.
Saat ini, Sean masih berada di apartemen. Bibirnya menyungging senyum saat mendapati Nindi ada di dapurnya.
Ya, akhirnya Nindi yang polos menyetujui permintaan Sean untuk menjadi kekasih palsunya. Bukan hanya kekasih palsu, Nindi pun bertugas untuk datang ke apartemen Sean di hari sabtu untuk memasak dan membersihkan kamarnya.
Semula, Nindi menolak. Namun, Sean berhasil memalsukan tagihan bengkel yang jumlahnya fantastis, sehingga Nindi tak berkutik. Pikirnya, dibanding harus membayar dengan uang, ia lebih memilih menyetujui permintaan Sean, karena saat ini keluarganya di Subang memang sedang membutuhkan uang.
Sean sengaja bertelanjang dada dan hanya menggunakan boxer saja berjalan ke arah dapur. Ia membuka lemari es dan mengambil minuman dingin di sana dengan arah mata yang tak lepas dari Nindi yang tak menoleh ke arahnya sama sekali.
“Ekhem …” Sean berdehem membuat Nindi tersentak.
Jujur, kepala Nindi ingin sekali menoleh ke arah pria tampan dan tegap itu, karena sebelumnya ia sudah sedikit melirik saat pria itu berjalan menuju lemari es. Ia tahu bagaimana penampilan Sean sekarang. Ia pun canggung untuk berinteraksi lebih dengan Sean, mengingat hari ini adalah hari pertama Nindi berada di apartemen ini dan melakukan tugasnya.
“Selesai memasak, bersihkan kamar tidurku!” perintah Sean.
Nindi hanya menganggukkan kepala tanpa menoleh ke arah Sean.
Sean yang melihat itu pun langsung menghampiri Nindi dan berdiri di dekatnya. “Kalau diajak bicara, lihat lawan bicaramu.”
Nindi tetap fokus pada pekerjaannya dan diam.
“Nindi,” panggil Sean kesal. “Lihat aku!”
Telapak tangan Sean yang lebar menjepit dagu Nindi dan menggeser wajah itu untuk melihat ke arahnya. Kepala Nindi memang sudah berada di depan Sean tapi matanya sengaja terpejam.
“Buka matamu! Kamu seperti melihat hantu saja,” ucap Sean.
“Kamu pakai baju dulu. Aku tidak pernah melihat pria bertelanjang dada seperti itu.”
Sontak, Sean tertawa. Ternyata yang membuat sedari tadi Nindi tak menoleh ke arahnya hanya karena penampilannya yang seperti ini.
“Kalau begitu buka matamu dan lihat sekarang!”
Nindi menggelengkan kepalanya. “Ngga. Bapak pakai baju dulu sana.” Nindi masih memejamkan matanya.
“Aku mau berenang. Ngapain pakai baju,” jawab Sean yang menemukan ide licik.
“Atau kita berenang bersama. Bagaimana?” tanya Sean tepat ditelinga Nindi.
Nindi masih menggelengkan kepala sambil memejamkan matanya. Ia tak ingin kedua matanya ternodai oleh penampilan Sean yang sembarangan.
Sean menyeringai melihat gemas wajah Nindi dengan mata yang terpaksa dipejam. Lalu, arah mata Sean tertuju pada bibir ranum berwarna merah mudah yang saat ini dagunya tengah ia jepit dengan telapak tangannya yang lebar.
“Buka matamu! atau aku cium,” kata Sean lagi dengan suara serak menahan sesuatu yang setahun tak lagi disalurkan oleh wanita manapun. Karena saat ini ia belajar untuk menjadi laki-laki yang lebih baik.
Sontak Nindi membuka matanya dan mendorong dada itu. “Jangan macem-macem ya, Pak. Saya disini karena kesepakatan gila itu. Kalau saya tidak menabrak mobil belakang bapak, saya tidak akan mau ada di sini.”
Nindi memalingkan tubuhnya.
Sementara Sean tertawa. “Baiklah. Nantinya juga kamu menyukaiku.”
“Dih, ga akan,” sahut Nindi sembari memotong sayuran dan melenyapkan bayangan bahwa ia dan Sean akan benar-benar menjadi sepasang kekasih sesungguhnya.
Sean kembali menyeringai. Ia terus memandang Nindi. Ia memang menyukai wanita yang sulit diraih, karena baginya hal itu adalah tantangan tersendiri.
“Yakin tidak akan terpesona padaku? Melihat dadaku saja sebenarnya kamu sudah terpesona dan ingin melirik kan?” tanya Sean sembari merangkul bahu Nindi dari samping. “Ngaku, Sayang.”
“Ih, apa-apan sih, Pak.” Nindi melepas tangan Sean yang merangkul bahunya.
“Kamu kan pacarku. Jadi boleh dong seperti ini.” Sean kembali merangkul Nindi.
“No. Hari ini kamu temenin aku sampai malam.” Sean pun hendak pergi meninggalkan Nindi dan keluar menuju kolam renang yang berada tak jauh dari unitnya.
“Tapi perjanjiannya waktu saya disini hanya dari jam sembilan sampai jam tiga sore,” protes Nindi dengan suara sedikit keras karena Sean sudah menjauh.
“Nanti sore temani aku ke rumah sakit. No debat,” sahut Sean sembari mengambil jubahnya dan keluar dari apartemen. Ia ingin Nindi menemaninya saat menjemput Aldy pulang dari rumah sakit.
Beberapa hari lalu, Ayesha memang bercerita pada Nindi tentang insiden yang menimpa Aldy, sahabat Sean dan Kevin. Ia juga tahu pria itu adalah kekasih Kayla, sekretaris CEO yang merupakan keluarga Adhitama. Ia pun sering melihat Aldy makan bersama Sean dan Kevin di kursi khusus CEO. Walau tak kenal, tapi Nindi cukup tahu.
Sean kembali membuka pintu apartemennya setelah sebelumnya menutup pintu itu.
“Masak yang enak! Kalau tidak enak terpaksa kamu harus menginap,” teriak Sean membuat Nindi menganga.
“Ngga akan,” jawab Nindi.
“No debat.” Sean kembali menutup pintu itu.
Brak
Nindi melempar sendok ke pintu itu dan Sean mendengarnya. Pria itu hanya tersenyum menang sambil melenggang pergi.
“Huft … Dosa apa aku ya, Tuhan.” Nindi mengusap wajahnya kasar. Ia kesal karena terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan ini.
Walau Nindi akui, Sean adalah pria tampan, lebih tampan dari Henry. Bahkan lebih tajir dari atasan di divisinya itu, tapi sikap Sean sangat minus. Bukan rahasia lagi kalau asisten CEO itu sering ke klub, mennikmati dunia gemerlap dan tidur dengan wanita bayaran di sana. Ditambah insiden yang tak pernah Nindi lupakan saat Sean menggantikan pakaiannya yang terkena muntah. Niat ingin menghindari pria ini, justru Nindi malah terjebak di sini bersamanya dan semakin dekat walau dengan status palsu.
Selesai memasak makan siang untuk Sean, Nindi menyajikan makanan itu di meja makan. Lalu, ia bergegas ke kamar Sean untuk membersihkan kamar itu.
“Ya ampun, berantakan sekali,” gumam Nindi ketika membuka pintu kamar itu. Belum lagi aroma rokok yang menyengat, membuat Nindi harus menutup hidungnya.
Tanpa pikir panjang, Nindi mengambil parfum di dalam tasnya. Lalu, ia semprotkan ke beberapa sisi di ruangan kamar itu untuk menghilangkan aroma rokok yang menyengat, mengingat ia harus berada di ruangan ini dalam beberapa menit untuk merapikan kekacauan di dalamnya.
Terlihat di sana selimut yang tak pada tempatnya. Bantal berserakan, juga pakaian Sean yang tercecer di lantai. Sepertinya, itu adalah pakaian kerja Sean kemarin sore yang tidak dirapikan dan hanya teronggok saja di sana.
Perlahan, Nindi memungut pakaian itu satu persatu. Namun, ada satu benda yang enggan Nindi ambil. Benda itu adalah kain segitiga pengaman milik Sean untuk menutupi asetnya sebagai seorang pria.
“Ish, jorok banget. Ganteng-ganteng sih joroknya minta ampun,” gerutu Nindi lagi yang mau tidak mau harus mengambil benda itu. Ia menjepitnya dengan telunjuk dan ibu jarinya.
“Kamu mengakui, kalau aku ganteng,” suara bariton Sean dari belakang tubuh Nindi.
Nindi pun menoleh ke belakang. Ia melihat Sean yang hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Sean mengibaskan rambutnya yang basah dan air yang mengalir dari ujung rambut Sean hingga ke dada membuat pria itu semakin sexy.
Nindi langsung memejamkan matanya lagi. Ia tak kuasa melihat godaan di depannya itu.
“Jangan tergoda! Jangan tergoda!” gumam Nindi dalam hati. “Kuatkan imanmu, Nindi.”
Sean tersenyum dan menghampiri Nindi. Lalu, menjentikkan jarinya. “Hei, kamu senang sekali memejamkan mata. Ingin menggodaku? Hmm?”
Nindi menggeleng dengan mata yang masih terpejam.
“Saya ingin manaruh baju kotor ini,” katanya yang berjalan melewati Sean dengan mata tertutup.
“Awas,” teriak Sean ketika Nindi hampir terbentur dinding.
Tapi, Nindi langsung membuka mata dan berlari ke kamar mandi untuk menaruh baju kotor milik Sean yang berserakan di lantai tadi.
Sean tertawa sembari menggelengkan kepala. “Dasar wanita aneh.”
Sean akui, hari ini ia tidak merasa kesepian. Biasanya saat libur weekend, ia jenuh berada di apartemen ini sendiri dan hanya menonton tivi sebagai pengusir kebosanannya. Namun, hari ini terasa berbeda. Walau baru satu hari Nindi berada di tempat tinggalnya, tapi kehadiran Nindi sudah langsung memberi warna pada tempat ini. Dari mulai aroma harum masakan, hingga aroma kamarnya yang tiba-tiba berubah menjadi aroma bunga lily.
Sean pun menyungging senyum. “Seperti ini kah rasanya memiliki istri?”