
Kevin mengambil es dawet yang tersedia di salah satu stand makanan di sana. Ayesha menginginkan makanan itu, sehingga Kevin mewujudkannya dengan mengantri bersama beberapa ibu-ibu.
Dari jarak duduk yang tidak jauh dengan suaminya mengantri, Ayesha tersenyum melihat Kevin yang tengah di goda oleh ibu-ibu di sana.
Biasanya, Kevin yang cuek dan dingin, akan marah-marah atau memasang wajah ketus saat ia merasa tak nyaman. Tapi kini, ia hanya tersenyum saja.
Kevin terlihat didahulukan ketika mengambil makanan itu tanpa mengantri panjang. Lalu, ia kembali menuju ke kursi istrinya.
Ayesha tersenyum menerima gelas berisi minuman dingin khas banjarnegara itu. "Terima kasih, Mas."
"Sama-sama." Kevin duduk kembali di samping istrinya.
"Digodain ibu-ibu ya, Mas?" tanya Ayesha tersenyum.
"Ya, gitu deh." Kevin menggeser tubuhnya untuk berhadapan dengan sang istri. "Setelah ini mau makan apa lagi?"
Ayesha tertawa dan menggeleng. Memang sejak tadi, ia hanya duduk saja, sementara Kevin wara wiri mengambil makanan yang Ayesha inginkan.
"Sudah cukup, Mas. Nanti aku semakin Ndut," Jawab Ayesha.
Kevin tertawa mencubit ujung hidung sang istri yabg tengah makan es dawet. Justru, Kevin menyukai tubuh istrinya yang padat berisi.
Ayesha nyengir. "Tapi aku lihat malah kamu yang belum makan apa-apa loh."
"Aku mah gampang," kata Kevin santai.
"Kamu bener ga mau makan apa-apa?"
"Mau," jawab Kevin
"Ya udah. Gantian sekarang aku yang ambilin. Mau apa?"
"Mau kamu."
"Ish, apaan sih?" tanya Ayesha kesal karena jawaban suaminya melenceng dari topik pembicaraan.
"Ke hotel yuk!" ajak Kevin dengan wajah mesum.
Ayesha menutup mata Kevin yang menatapnya seperti seolah sedang menel*nj*nginya. Ayesha tahu betul tatapan itu. "Apaan sih, Mas?"
"Ngga tahu nih, Dek. Kok Mas tiba-tiba kepingin ya."
"Mas," rengek Ayesha yang kesal karena suaminya benar-benar tidak tahu situasi dan kondisi.
"Yuk!" ajak Kevin lagi sembari menaikturunkan alisnya.
Kevin benar-benar seperti om-om mesum.
Ayesha pun tertawa. Ia malah merasa malu sendiri mendengar kemesuman suaminya.
"Kak Aldy sama Kak Kayla juga menginap di hotel?" tanya Ayesha.
Kevin mengangguk. Kayla dan Aldy memang akan sekalian berlibur di daerah Jawa Barat ini.
"Mereka langsung ke Bandung dan menginap di sana. Sekalian honeymoon katanya."
"Oh." Ayesha membulatkan bibir dan masih menatap suaminya.
"Kita ke Bandung juga, yuks Mas!" ajak Ayesha.
Kevin menggeleng. "Perjalanan dari sini ke Bandung cukup lama, Sayang. Bisa lebih dari dua jam. Kita sekarang menginap di hotel terdekat saja ya."
Ayesha mengangguk setuju sembari melirik ke arah suaminya yang tak sabar untuk mengajaknya ke hotel. "Iya."
Kayla dan Aldy baru saja berpamitan terlebih dahulu. Persis di saat Ayesha menginginkan es dawet tadi. Semula, Kevin pun ingin pamit, tapi tiba-tiba sang istri masih ingin makan sesuatu di sana.
"Bro, sekali lagi selamat ya," ucap Kevin pada Sean yang masih menjadi raja dan ratu semalam.
"Thank you."
"Kev, Kamu langsung ke Jakarta?" tanya Vanesa yang berada di samping putranya.
"Tidak, Tante. Saya dan Ayesha menginap di hotel terdekat."
"Kalau begitu, Om dan Tante juga mau menginap di sana. Besok kami baru pulang bersama," ucap Vanesa.
Rencananya Riza dan Vanesa akan menjemput putra dan menantunya besok. Lalu, membawa mereka ke Jakarta.
"Tenang Sean, ga perlu buru-buru balik ke Jakarta. Nindi juga udah ambil cuti kok. So, gue juga kasih lu cuti spesial," ucap Kevin.
Sean tertawa. "Ga perlu, Kev. Gue emang mau langsung bawa Nindi ke Jakarta besok. Pengen berduaan di apartemen."
"Dasar! Kamu tuh." Vanesa memukul bahu putranya. "Ngga bisa gitu dong. Kamh harus menginap dulu di rumah Opa."
"Ngga Mama, Sayang. Sean ga mau ada yang ganggu," jawab Sean santai tanpa dosa. Padahal di sebelahnya, wajah Nindi sudah seperti kepiting rebus.
"Udah Tante, biarin aja. Biar dia seneng. Kasihan dia udah setahun lebih ngga dibelai," ujar Kevin.
"Maksudnya?" tanya Vanesa yang tidak begitu tahu kelakuan putranya.
"Ngga apa-apa, Mah," jawab Sean sembari memeluk Kevin dari samping.
Sedangkan Ayesha hanya tertawa. Dan, Nindi hanya bisa tertawa getir menahan malu, karena kelakuan Sean benar-benar memalukan, tapi membuatnya sulit untuk tidak dirindukan.
Hari sudah berubah menjadi gelap. Pesta pernikahan Sean dan Nindi pun segera berakhir. Keluarga Sean sudah pamit terlebih dahulu. Begitu pun sahabat-sahabatnya.
Di sana terlihat Anjas dan ibunya yang hendak pamit.
Sean langsung memeluk pria itu, saat Anjas mendekat.
"Terima kasih, A."
"Sama-sama, Sean. Selamat ya!" Anjas menepuk punggung suami Nindi.
Pelukan kedua pria itu pun terlerai dan Nindi hanya memandang haru keduanya.
Lalu, Anjas memeluk Nindi. Sebenarnya Sean tidak ingin miliknya dipeluk orang lain. Tapi untuk Anjas, hari ini pengecualian. Pria itu cukup berjasa ketika Ayah Sean bernegosiasi dengan ayah Nindi, sebelum proses ijab qobul tadi.
"Selamat ya, Neng," ucap Anjas pada Nindi di dalam pelukan itu
"Terima kasih, A."
Kemudian, Anjas melepaskan pelukan itu dan menoleh ke arah Sean. "Jagain, Adik Aa ya, Sean."
Sean mengangguk. "Tentu saja."
Lalu, Anjas pun hendak meninggalkan kedua mempelai tengah berbahagia ini. Namun, ia kembali menoleh ke arah Sean.
"Oh, ya. Jangan lupa, ganti biaya pernikahan ini."
Sean tertawa dan mengangkat ibu jarinya ke atas. "Siap, A. Jangan lupa nomor rekeningnya kirim ke saya."
Anjas pun ikut tertawa dan ikut menaikkan ibu jarinya ke atas. Ia hanya ingin pencairkan keadaan dengan sedikit guyonan garing.