XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Sean dan Nindi



Sean dan Nindi baru saja memasuki ruang pemeriksaan kandungan. Usia kandungan istri Sean itu sudah memasuki empat bulan. Sean semakin bahagia. Ia menjadi suami siaga yang siap antar jaga ke mana pun Nindi mau.


Sean juga berusaha menjaga mood istrinya itu, agar selalu membuat Nindi happy, walau ia terus ditanyakan oleh Oma Sean tentang jenis kelamin bayi yang sedang dikandung.


“Yah, Mas si dedenya telungkup lagi, jadi ga keliatannya cewek apa cowok,” ucap Nindi ketika berjalan bersama suami menuju bagian adminstrasi.


“Anak kita masih malu-malu. Sama kaya Papa. Soalnya, papanya orangnya pemalu.”


“Pret.” Nindi langsung mencibir omongan suaminya. “Bukan pemalu, yang ada kamu tuh malu-maluin.”


Sontak, Sean tertawa sembari tangan kanannya mengenggam tangan sang istri. Lalu, Sean menyuruh istrinya duduk di ruang tunggu.


“Kamu tunggu di sini, aku bayar administrasinya dulu,” kata Sean, membuat Nindi mengangguk.


Nindi menunggu suaminya sembari memainkan handphone. Ia sering membaca artikel-artikel tentang kehamilan. Rencananya, ia juga ingin ikut senam ketika usia kehamilannya sudah bisa untuk melakukan itu. Nindi ingin sekali lahir normal, walau Sean melarangnya dengan alasan keselamatan, mengingat ia dan Kevin memiliki kesamaan yang tidak ingin ada orang menyentuh bagian favorit istrinya kecuali mereka sendiri.


Nindi tak lagi melihat ponselnya saat Sean menghampiri. “Sudah selesai?”


“Belum.” Sean menggeleng. “Tinggal menunggu obatmu.”


Nindi mengangguk.


“Kamu lagi apa?” tanya Sean sembari menoleh ke ponsel Nindi.


“Aku mau senam hamil nanti, supaya persalinanku lancar.”


“Cesar saja. ga perlu normal,” ucap Sean.


“Ish, dimana-mana tuh, orang mau normal. Ini malah disuruh cesar sih,” kata Nindi kesal, karena hal kecil ini sering menjadi perdebatan.


Sean menggeser posisi dudukya dan menghadap dekat ke arah sang istri. “Dengar, Sayang. Aku tidak ingin kamu kelelahan mengejan.”


“Ngga, Sayang. Makanya aku ikut senam hamil, supaya melatih pernapasan.”


“Aku juga tidak ingin kamu merasakan mulas, kata orang itu menyakitkan.”


“Di situlah perjuangan seorang ibu, Sayang,” jawab Nindi lagi. “Dan, aku mau merasakan perjuangan itu.”


“Ck.” Sean berdecak. “Dasar ngeyel!”


“Dih, kok aku yang ngeyel. Ada juga kamu. Aneh!” sanggah Nindi.


Keduanya pun melengos, mengalihkan dengan pandangan yang lain.


“Pokoknya cesar. Titik,” ucap Sean lagi.


“Normal. Titik.” Nindi tak mau kalah.


“Ck. Lama-lama kamu Mas gigit juga nih,” kata Sean gemas.


“Biarin.” Nindi malah menantang dengan merengutkan bibirnya. Ia tahu bahwa Sean sangat menghhawatirkannya, tapi khawatir Sean terlalu berlebihan.


****


Setelah melakukan pemeriksaan di rumah sakit, Sean mengajak istrinya mengunjungi rumah James. Sesampainya di rumah itu, tampak sepi karena baik orang tua dan Oma Opa Sean, mereka pergi dengan urusan masing-masing.


Kebetulan Nindi tiba di rumah ini dalam keadaan hari yang masih siang. Ia datang pagi-pagi ke rumah sakit karena kebetulan jadwal dokter itu ada di pagi hari di rumah sakit itu.


“Huft.” Nindi merobohkan tubuhnya ke sofa empuk di kamar Sean.


Sean pun membuka pakaian hingga menyisakan celana boxernya saja. pria itu memang lebih suka bertelanjang dada jika berada di dalam kamar, atau di apartemen mereka.


Sean langsung terjun ke sofa dan memeluk perut buncit istrinya sembari menidurkan kepalanya di paha Nindi. Mau tidak mau, Nindi pun mengusap kepala itu dengan lembut.


“Mas, aku lapar.”


“Sama, mas juga lapar,” jawab Sean embari mengelus perut itu.


“Mas, tapi aku lapar beneran ya. Soalnya konteks lapar kamu tuh beda.”


Sean langsung terlentang dan menatap wajah istrinya dengan senyum. “Kamu bisa baca pikiran aku ya? Paranormal.”


“Ya, muka mesum kamu tuh gampang ke tebak,” ujar Nindi membuat Sean tertawa.


“Makan sambil menikmati suasana taman belakang yuk, Mas. Kayanya seru. Kaya piknik.” Nindi memberi ide. Pasalnya memang taman belakang milik James itu sangat luas, ditambah udara siang hari ini tidak terlalu panas.


Taman belakang itu di hiasi beberapa pohon kelapa yang tinggi-tinggi tapi cukup rindang, sehingga udara di sana tampak sejuk dan asri.


Sean pun tersenyum melihat istrinya yang sederhana itu. Walau penampilan Nindi sederhana, tetapi ia cukup fashoinable. Nindi juga terlihat anggun di berbagai kesempatan, jika keluar rumah.


“Kamu tahu, kamu itu istri yang paling ga pernah minta apa-apa,” ucap Sean. “Biasanya itri yang lagi hamil itu minta baby moon keliling eropa atau Asia. Kamu Cuma minta makan siang di taman belakang.”


Nindi nyengir. “Sama aja. Soalnya taman belakang rumah Opa itu luas banget, Mas. Gelar tiker di sana, sambil menikmati makan siang pake sambel dan lalapan. Wuh, mantap.”


Sean kembali tersenyum dan mencubit ujung hidung Nindi. “Ya, udah Mas bilang si Bibi dulu buat disiapin.”


“Yeay …” Nindi bertepuk tangan riang.


Sean bangkit dari paha itu dan mengacak-acak rambut Nindi sebelum kelaur kamar. Lalu, ia mencari si Bibi dan Mang Dudung untuk menyiapkan keperluan itu.


“Loh kok kamu ikut ke bawah?” tanya Sean melihat istrinya ikut ke dapur saat ia berbicara dengan Bibi.


“Aku mau bantu Bibi nyiapin makanannya,” jawab Nindi yang ingin sekali membuat sambal. “Aku pesan ayam bakar di tempat biasa. Kamu mau kan?”


Sean mengangguk. “Apa saja, yang penting sama kamu.”


Nindi menoleh dan tersenyum. “Gombal.”


Sean nyengir dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang itu. terkadang tangan Sean merabat naik ke atas untuk meremas dua benda kenyal di dada Nindi yang terlihat semakin mancung.


“Eum .. Mas, jangan di gituin!” lenguh Nindi saat tangan itu memilin p*ting Nindi yang mencuat.


“Kayanya punyamu udah nantangin nih.”


“Karena sama kamu di mainin. Udah Ah.” Nindi langsung menepis tangan suaminya, membuat Sean tertawa.


“Udah ga usah bikin sambel. Nanti juga dapet sambel kan! Ayo ke taman belakang!” Sean menarik tangan istrinya untuk ke taman itu.


“Mas, pakai dulu baju kamu.” Nindi memakaikan kaos singlet yang tadi ia bawa dari kamar dan ia taruh di kursi meja makan.


“Oh ya.” San pun memakai kaos singlet berwarna putih itu.


Sesampainya di taman belakang, Sean langsung merebahkan tubuhnya di karpet yang sudah di sediakan Dudung.


“Benar katamu, Sayang. Di sini enak,” ujarnya sembari melipat kedua tangannya di bawah kepala.


Nindi ikut merebahkan kepalanya di dada Sean dan Sean pun memeluk tubuh itu. “Iya.”


“Mas,” panggil Nindi pada Sean.


“Hm …” Sean menatap istrinya sembari megaitkan sisa rambut Nindi ke belakang telinganya.


“Aku cinta kamu, Mas,” ucap Nindi tersenyum.


“Ya, Mas juga cinta sama kamu,” jawab Sean dengan membalas senyum itu.


Keduanya saling tersenyum dan pendangan sejenak. Lalu, Sean mengelus perut buncit itu. “Sebentar lagi, buah cinta kita juga akan lahir dan menjadi pelengkap kebahagiaan kita.”


Nindi mengangguk.


“Berarti cesar ya!” kata Sean lagi, mengingatkan perdebatan mereka di rumah sakit tadi.


“Normal.”


“Cesar saja, Sayang.”


“Kenapa sih Mas kekeuh banget pengen aku cesar?” tanya Nindi bingung. Di saat orang ingin melahikan normal karena tidakada gangguan apa pun untuk operasi, Sean malah menginginkan istrinya melakukan operasi.


“Mas tidak ingin punyamu ini di sentuh orang lain.” Sean menyentuh bagian sensitif di bawah itu.


Nindi langsung membulatkan matanya. “Ya salam, Mas. Aku kira kamu kekeuh pengen aku cesar karena khawatir aku kesakitan.”


Nindi bangun dan memukul dada suaminya. “Kamu keterlaluan.”


Sean tertawa sembari menahan pukulan brutal itu. “itu juga alasan Mas, khawatir kamu kesakitan.”


“Bohong.” Nindi masih memukuli dada itu.


“Aww … ampun Sayang, ampun.”


Sean tertawa menghindari kemarahan sang istri. Kini, Nindi pun mengeluarkan taringnya.