
Di sini?" tanya Nindi setelah Sean memberhentikan kendaraannya di parkiran.
Sean mengangguk. "Ini butik langgananan Mama."
Nindi tahu betul butik ini. Butik yang sering didatangi artis-artis terkenal. Tak menyangka, kini dirinya bisa menginjakkan kaki ke tempat ini.
"Ayo!"
Nindi yang sedang melamun dan melihat ke arah gedung butik itu pun disadarkan oleh suara Sean dengan tubuh yang sudah berdiri tegap di sampingnya sembari membuka pintu mobil tempat ia duduk.
Nindi tersenyum. Ia menerima uluran tangan Sean yang sudah terulur sejak tadi dan mengajak Nindi keluar dari mobil itu.
"Mas, ini terlalu mewah," ujar Nindi ketika Sean mengajaknya masuk ke gedung itu.
Sean langsung disambut oleh beberapa pegawai butik itu. Semua pegawai di sana cukup mengenal Sean.
"Pesta yang akan digelar Om Gun memang mewah. Kamu pun harus terlihat seperti itu," jawab Sean yang ingin memperkenalkan kekasihnya pada khalayak ramai. Sean juga ingin memperkenalkan Nindi pada Kinara.
"Tapi tetap saja, aku orang kampung, Mas." Nindi tersenyum dan menoleh ke arah Sean.
"Aku juga orang kampung. Papa ku berasal dari kampung kecil yang ada di Bandung," jawab Sean lagi.
Nindi langsung mengernyitkan dahinya. Ia justru baru mengetahui fakta ini. "Oh ya?"
Sean mengangguk. "Ya. So, jangan pernah menganggapmu rendah didepan mereka nanti!
Sean mengajarkan Nindi saat nanti bertemu dengan para pembesar dan berstrata tinggi yang akan hadir dipenikahan Kayla dan Aldy.
Nindi mengangguk.
"Hai, Se ..." panggil pria dengan wajah make up dan berjalan gemulai ke arah Sean.
"Hai, gimana gaun yang gue pesan udah siap?" tanya Sean pada asisten pemilik butik ini.
"Oh, iya dong Se. Semuanya beres," kata pria gemulai itu semangat, lalu melirik ke arah Nindi. "Ini pacar, yey?"
Seab mengangkat kedua alisnya. "Iya, dong. Cantik kan?"
"Ih, kok situ mau sih sama playboy cap kadal ini," ujar pria gemulai itu pada Nindi sembari menunjuk Sean.
Nindi hanya tersenyum.
"Dia itu ceweknya bertebaran dimana-mana," sambung pria gemulai itu.
"Jangan provokasi deh!" sahut Sean kesal.
"Ya, supaya pacar Yey ga kaget. Kalo dia tiba-tiba pingsan karena tau mantan Yey sejibun gimandang?"
Sean melirik ke arah Nindi sembari menggenggam jemarinya dengan kuat. "Dia ga akan kaget. Dia tahu kok masa lalu gue. Dan dia juga tahu kalo sekarang gue udah berubah."
"Halah, basi. Playboy mah tetep aja playboy. Yey harus hati-hati." Pria gemulai itu mencolek bahu Nindi dan berjalan menunjuk gaun sengaja terpajang untuk Sean.
Sean menoleh lagi ke arah Nindi. "Jangan didenger!" kata Sean dengan senyum mempesona.
Nindi ikut tersenyum dan mengangguk.
Sean dan Nindi berjalan menuju ruang pakaian ganti. Namun, Sean yang iseng dan selengeyan, justru mengikuti langkaj kekasihnya dan memasuki ruang yang sama.
"Mas, sana!" Nindi mendorong dada Sean untuk pindah ke ruang gantinya sendiri.
Namun, Sean menahan tubuhnya agar tak bergeser. "Mas ingin ganti juga di sini."
"Mas, jangan rese deh! sana!" Nindi berusaha mendorong pria bertubuh atletis itu.
"Tapi Mas mau di sini bareng kamu."
"Ngga boleh, belum halal."
"Kalau begitu, ayo aku halalin! Apa setelah ini kita ke KUA aja?" Sean menyeringai.
"Kantor KUA nya udah tutup jam segini."
"Ya udah, suruh buka lagi," jawab Sean.
Nindi pun tertawa dan menggelengkan kepala. Sean pun ikut tertawa. Ingin rasanya saat ini juga Sean menikahi Nindi.
"Udah sana!" Nindi kembali mendorong dada Sean dan kali ini Sean pun tak menahan tubuhnya.
Kaki Sean bergerak keluar dari ruangan itu. "Baiklah." Akhirnya, dengan berat hati ia mengalah.
Dan, sebelum ke ruang gantinya sendiri, Sean mengecup pucuk kepala Nindi yang berdiri di ambang pintu. Lalu, Sean kabur ke ruang ganinya sembari tersenyum ke arah Nindi.
Nindi pun kembali tersenyum dan menutup pintu itu.
Setelah beberapa menit, Sean selesai memakai jas itu. Jas yang membuatnya semakin terlihat tampan dan mempesona.
"Uh, perfect," ujar pria gemulai yang menghampiri Sean saat ia keluar dari ruang ganti itu.
"Pacarku belum keluar?" tanya Sean pada pria gemulai itu.
"Belum, masih ada di dalam." Pria gemulai itu menunjuk ruang ganti yang Nindi gunakan.
Sean pun langsung menyusul Nindi dan membuka pintu itu. Betapa terkejutnya Sean, saat melihat sang kekasih dari balik cermin. Nindi terlihat anggun dengan gaun yang ia pilihkan.
Sean mendekat dan memeluk pinggang Nindi dari belakang, lalu mengecup bahu yang terbuka itu.
"Pakaian yang kamu pilih terlalu terbuka."
Sean menggeleng. "Tidak. Ini sangat cantik.dan sangat pas dikenakan oleh mu."
Sean mengeratkan lagi pelukan itu dan menyembunyikan wajahnya pada cerug leher Nindi yang terbuka.
"Mas nyaman banget sama kamu," ujar Sean membuat bibir Nindi tersenyum dan mengelus kepala Sean yang berada di bahunya.
Seketika, kata-kata Sean yang membuatnya kecewa pun hilang. Bahkan, kekesalan Nindi ketika melihat wanita yang memeluk dan mencium pipi kekasihnya saat di kantor itu pun hilang. Sean benar-benar selalu bisa membuatnya luluh.
Gaun couple Sean dan Nindi