
Kevin mengemudikan mobilnya ke kediaman sang orang tua. Sesampainya di pekarangan rumah itu, Kevin langsung keluar dan membuka pintu mobil untuk neneknya.
“Loh, kamu tidak ikut turun, Ay?” tanya Rasti ketika ia hendak turun tetapi Ayesha justru malah mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Rasti.
“Tidak, Oma.” Ayesha menggeleng. “Kata Mas Kevin, kami pulang ke apartemen.”
“Ya, Oma. Kami pulang ke apartemen saja,” sahut Kevin yang sudah membuka pintu mobil itu untuk neneknya.
“Loh, Oma kira kalian akan menginap di sini lagi.”
“Nanti, kami akan kembali berkunjung,” jawab Kevin dan membantu sang nenek untuk keluar dari mobil itu.
Rasti tersenyum. “Ya, Oma mengerti. Kalian pasti ingin berduaan kan?” ledeknya.
Kevin mengantar sang nenek hingga masuk ke teras.
Sementara Ayesha meminta maaf karena tidak bisa keluar dari mobil itu. Rasanya, bagian sensitif miliknya itu masih terasa nyeri untuk berjalan. Di bilik bercinta rumah sakit tadi, Kevin benar-benar beringas padahal sebelumnya ia sudah berjanji akan melakukannya dengan pelan, tapi ternyata ia tidak memenuhi janji itu.
“Maaf Kevin dan Ayesha tidak masuk ke dalam. Sampaikan salam Kevin pada Mama dan Papa.”
Rasti tersenyum dan mengangguk. “Ya.”
Lalu, Kevin kembali menghampiri mobilnya yang masih menyala.
“Dah, Oma.” Ayesah melambaikan tangan ke arah nenek suaminya.
Begitu pun dengan Kevin setelah ia kembali duduk di kursi kemudi.
“Daah ...” Rasti membalas lambaian tangan itu dengan senyum sumringah.
Tiba-tiba Hanin keluar dan melihat ibu mertuanya tengah berdiri di teras. “Loh, Kevin tidak masuk ke dalam, Ma?” tanyanya.
Rasti menggeleng. “Tidak. Sepertinya dia akan melanjutkan kegiatan di rumah sakit tadi.”
Hanin tertawa. “Jadi? Mama berhasil membuat mereka bercinta?”
Rasti mengangguk sambil tertawa. “Jelas dong. Mama gitu loh.”
Hanin memeluk ibu mertuanya dari samping. Ya, ini semua memang akal-akalan Kenan. Ia yang menyusun rencana ini. Semula, Kenan hanya memberitahukan kondisi rumah tangga putranya pada Hanin. Namun, saat bercerita, ternyata Rasti mendengar obrolan mereka. Akhirnya, para tetua itu pun menyusun strategi agar Kevin dan Ayesha bersatu.
Hanin kembali tertawa, ketika mendapat cerita dari ibu mertuanya tentang Kevin dan Ayesha di rumah sakit tadi. Mereka masuk kembali ke dalam rumah sembari tertawa dan bercengkerama membincangkan putra mahkota yang kaku dan dingin itu.
“Han, Han, putramu itu aneh semua. Yang satu kakunya minta ampun. Sedangkan satunya malah kebalikannya, pecicilannya minta ampun,” kata Rasti yang membuat Hanin lagi-lagi tertawa.
“Tapi mereka tetap bisa menjadi kebanggaan, Ma.”
Rasti mengangguk. “Ya, mereka memang membanggakan.”
Hanin beralih ke dapur untuk membuatkan ibu mertuanya minuman. “Pasti Oma capek, nungguin orang bercinta.”
“Hah. Jangan ditanya, Han!”
“Kenan ke mana?” tanya Rasti dengan mengedarkan pandangannya.
“Sudah berangkat sama Marcel, tidak lama setelah Oma dan Kevin berangkat,” jawab Hanin.
Masih ingat Marcel? Anak Misya, wanita yang pernah mengejar Kenan walau ia tahu pria itu sudah beristri. Malah istrinya sedang mengandung anak yang sekarang sedang dalam perbincangan Raati dan Hanin.
Ya, saat ini, Marcel adalah kaki tangan Kenan di kepartaian, sekaligus sebagai timses kemenangan Kenan dalam pemilihan.
Rasti mengangguk.
Kemudian, Hanin kembali tertawa saat ia menyerahkan minuman pada ibu mertuanya yang duduk di meja makan.
“Kenapa kamu ketawa, Han?” tanya Rasti.
“Ngga Ma, Hanin membayangkan ekspresi Kevin di rumah sakit tadi.”
Rasti ikut tertawa. “Kevin itu benar-benar menurunkan harga diri keluarga Adhitama demi gengsinya.”
“Maksud Mama?” tanya Hanin.
“Ada banyak kesempatan dan tempat yang enak untuk malam pertama, dia malah memilih bilik rumah sakit yang sempit dan tempat tidur yang tidak empuk.”
Hanin tertawa.
“Waktu kecil, kita sudah menyiapkan pesta khitan sangat mewah untuknya, dia malah kabur, sampai Oma malu dengan undangan yang sudah tersebar. Terus, tiba-tiba dia malah ikut khitanan masal di sekolahnya. Padahal donasi terbesar di acara itu adalah ayahnya,” kata Rasti lagi yang mengingat kelakuan Kevin.
Hanin kembali tertawa. “Ya, ya.. Hanin tidak akan lupa itu.”
“Ya pastinya, dia juga tidak lupa itu dan tidak akan lupa kejadian hari ini.”
Rasti dan Hanin tertawa sembari menggelengkan kepalanya.
Hanin tak menyangka memiliki dua putra yang unik. Mungkin karena memang bibitnya pun unik.
"Apa Kevin tahu bahwa kta yang merencanakan hal ini?" tanya Hanin lagi pasa Rasti.
Rasti menggeleng. "Sepertinya tidak."
Rasti menyesap minuman buatan Hanin dan Hanin pun demikian.
"Sepertinya tidak lama lagi, kamu akan menjadi nenek," kata Rasti.
"Dan, Mama menjadi buyut," sambung Hanin.
"Buyut? Hah, rasanya aku sudah tua sekali," sahut Rasti yang memang susah memasuki usia kepala tujuh.
Di rumah sakit tadi, Rasti sebenarnya tidak benar-benar menyerahkan sample hasil ledakan Kevin pada temannya. Temannya yang merupakan doktet spesialis terkenal di tempat itu hanya tertawa ketika mendapati toples yang hanya berisikan sedikit sekali air yang agak kental itu berada di dalam sana.