
“Kamu mau ke mana?” tanya Kevin pada Ayesha yang sudah berpakaian rapi.
Kevin menyesap kopi susu yang ia buat sendiri sembari melangkahkan kakinya menuju ruang televisi. Sedangkan Ayesha baru saja keluar dari kamar.
“Ke kantor,” jawab Ayesha santai sambil mengambil tas dan memakainya.
“Ini hari sabtu. Ngapain ke kantor?” tanya Kevin lagi dan mendudukkan diri di sofa.
“Mau beresin barang-barang aku buat dipindahin ke lantai dua. Aku udah janjian sama Nindi, dia mau bantuin aku beres-beres.”
Kevin pun tak banyak bicara. Ia hanya membulatkan bibirnya. “Oh.”
Seharusnya, Ayesha memindahkan barang-barang kerjanya kemarin. Tetapi karena aktivitas panas malam itu membuat Ayesha tak masuk kerja waktu itu. Namun, ia merasa ada baiknya seperti ini, karena ia tak perlu memindahkan barang-barang saat banyak orang dan menegaskan pada mereka bahwa rumor pemindahan yang terjadi karena kesalahannya yang membuat perusahaan rugi besar benar adanya. Walau itu memang terjadi, tapi paling tidak di saat ia memindahkan barang-barang itu di hari libur, ia tak perlu mendengar ocehan buruk dari mereka.
“Mengapa tidak hari senin saja?” tanya Kevin.
Ayesha menggeleng. “Justru aku menghindari saat hari kerja dan saat semua orang masuk kantor. Supaya aku tidak mendengar perkataan buruk mereka.”
Perkataan Ayesha sontak membuat Kevin terdiam dan merassa bersalah. Keputusannya memang terlalu ekstrim dan berlebihan.
“Kalau begitu, aku antar.”
“Tidak perlu. Aku sudah janjian dengan Nindi. Kalau kamu antar, nanti apa kata Nindi.”
Kevin tak lagi bisa berkata. Ia hanya pasrah melihat sang istri yang hendak pergi. Padahal semula, ia ingin menikmati hari libur di apartemen berdua dengan Ayesha.
“Aku pamit ya Mas,” kata Ayesha.
“Hmm ...” jawab Kevin yang hanya berdehem.
Lalu, tak lama kemudian Kevin kembali memanggail Ayesha. “Ay.”
Ayesha menoleh persis ketika ia hendak berjalan menuju pintu. “Ya.”
“Setelah kegiatanmu selesai, langsung pulang,” ucap Kevin.
“Iya,” jawab Ayesha santai.
“Jangan mampir ke tempat-tempat yang tidak jelas!” kata Kevin lagi.
“Tidak janji,” sahut Ayesha asal dan melenggang pergi.
Ayesha menginggalkan Kevin yang tengah ingin berduaan dengannya. Namun, keputusan Kevin yang memindahkan dirinya secepat itu, membuat ia masih kesal. Ayesha masih malas berinteraksi dengan pria itu sebelum ia membuktikan bahwa dirinya bisa diandalkan, tidak ceroboh, dan terutama membuat Kevin bangga sehingga ia tidak lagi direndahkan. Walau Kevin tidak bermaksud merendahkan Ayesha dan mengambil keputusan itu murni karena ingin menerapkan peraturan tanpa pandang bulu. Itu saja.
Ayesha berjalan santai menuju lift. Terkadang ia menunduk untuk merapikan kembali pakaiannya dan menengok ke samping untuk melihat penampilannya dari balik beberapa tembok yang terbuat dari kaca yang ia lewati.
Klek
Tangan seseorang lebih dulu menekan tombol lift yang hendak Ayesha tekan.
“Mas.”
Dahi Ayesha mengernyit ketika mendapati tubuh tegap suaminya berdiri persis di samping dan lebih dulu menekan tombol lift itu.
“Kamu mau ke mana?” tanya Ayesha.
“Ya, mengantarmu. Ke mana lagi?” Kevin balik bertanya dengan melihat sekilas istrinya.
Tring
Pintu lift itu pun terbuka. Ia menyuruh Ayesha untuk masuk lebih dulu.
“Tapi nanti ada Nindi. Apa kata Nindi kalau dia melihat aku diantar kamu,” kata Ayesha ketika mereka sudah berada di dalam lift berdua.
Ayesha menggeleng. “Aku janjian di halte depan kantor.”
“Kabari dia dan bilang kalau kamu menunggu di lantai enam,” jawab Kevin yang tidak bisa di bantah.
“Mas akan nunggu kamu sampai selesai di ruangan Mas,” kata Kevin lagi dengan tegas, lalu menoleh ke arah istrinya yang sedari tadi menatapnya sinis.
Kevin pun tersenyum. “Kenapa? Tidak suka aku antar? Apa kalian berencana ingin pergi ke tempat hiburan lagi?”
Ayesha memonyongkan bibirnya. “Kalau pun iya, ga mungkin juga kami ke club. Tidak ada club yang buka siang hari.”
“Jadi? Kalian ga kapok ke tempat seperti itu? Berencana ingin ke sana lagi?” tanya Kevin kesal.
“Iya lah, siapa takut,” jawab Ayesha menantang. Padahal dalam hati ia tak akan mungkin menginjak tempat menjijikkan itu. tempat yang membuatnya hilang kendali dan berakhir malu di depan Kevin. Cukup malam itu menjadi malam yang pertama dan terakhir dirinya menginjak tempat itu.
Kevin langsung menarik pinggang Ayesha dan menorongnya ke belakang. Kekesalan Kevin membuat bibirnya ingin sekali menggigit bibir Ayesha yang terus menantangnya.
Tring
Lift terbuka dan masuk seorang wanita tua yang sama dengan wanita yang mereka temui di lift malam itu.
“Hah, kalian lagi,” ucap nenek saat memasuki lift dan melihat Kevin dan Ayesha berciuman bibir.
Sontak, Kevin melepas bibir yang tengah memaut bibir Ayesha. Lalu, mereka menghilangkan kegugupan dengan merapikan pakaian. Ayesha juga merapikan rambut dan penampilannya.
“Mengapa kalian senang sekali berciuman di dalam lift? Apa sewaktu di dalam apartemen, kalian tidak melakukan itu?” tanya Nenek itu sembari menggelengkan kepala dan berdiri membelakangi Kevin juga Ayesha.
“Ini karena kamu,” ucap Ayesha sembari mendorong dada suaminya dengan suara hampir tak terdengar dan hanya terlihat mulutnya bergerak.
Kevin hanya diam. Lalu, Ayesha kembali hendak memukul dada itu, tapi dengan cepat Kevin menangkap tangan istrinya dan menggenggamnya erat.
Tring
Pintu lift kembali terbuka. Wanita tua itu pun keluar tepat di lobby. Kemudian, pintu itu kembali tertutup dan turun ke basement.
“Lepas!” kata Ayesha yang kini bisa bersuara lebih kencang sembari menggerakkan tangan yang digenggam suaminya.
Lagi-lagi, Kevin diam dan memasukkan satu tangannya yang menganggur ke saku celana.
Ayesha pun mengalah dan mengikuti langkah suaminya dengan telapak tangan kanan yang tergenggam erat oleh telapak tangan kiri Kevin. Pria itu menautkan jemarinya pada jemari lembut itu dan seolah tak ingin terlepaskan.
****
Ayesha sampai di gedung Adhitama. Kevin sengaja tidak memarkirkan mobilnya di basemen, tetapi di lobby karena pintu yang memasuki lift di basement terkunci mengingat ini adalah hari libur.
“Pak Kevin?” tanya Aryo terkejut ketika melihat mobil bosnya datang dan berhenti tepat di pintu tempat pria itu berdiri.
Kebetulan hari libur ini adalah jadwal Aryo menjaga gedung.
Kevin membuka jendela mobilnya. “Yo, parkirkan mobil saya!”
Aryo langsung mengangguk. Ia pun terkejut saat melihat Ayesha duduk di samping bosnya. Ayesha pun hanya diam. Entah mengapa Kevin berani melakukan hal ini?
“Mbak Ayesha,” sapa Aryo tersenyum ketika Ayesha turun dan berpapasan.
Ayesha hanya mengangguk. Lalu, Kevin kembali mengulurkan tangannya dan mengambil tangan Ayesha untuk di genggam.
“Pak Kevin dan Mbak Ayesha?” tanya Aryo pada dirinya sendiri melihat Kevin dan Ayesha melenggang masuk ke dalam gedung dengan bergandengan tangan.
“Bukannya Pak kevin sudah menikah ya? Apa Mbak Ayesha selingkuhan Pak Kevin?” tanya Aryo lagi pada dirinya sendiri. “Ternyata, cewek zaman sekarang. Dari luarnya aja keliatan lugu, tapi ternyata ... Hah!”
Aryo menggelengkan kepala. Apalagi ketika ia melihat dari kaca luar gedung saat Kevin mencium pucuk kepala Ayesha dan terlihat Ayesha yang cemberut dan Kevin merayunya. Petugas keamanan gedung Adhitama yang usianya belum tua itu pun salah menilai Ayesha. Namun, ia yang bukan apa-apa itu tidak akan menyebarluaskan apa yang ia lihat tadi. Ia tak akan berani mengumbar aib bos besarnya karena ia tahu diri dan sayang dengan pekerjaannya.