
Di apartemen, Ayesha duduk sendiri di sofa kamar, sambil mengerjakan pekerjaannya. Berkali-kali ia dan Nindi saling berkomunikasi. Sopir yang Kevin suruh pun sudah datang untuk membawa berkas yang ada di meja kerjanya ke apartemen ini.
Dret ... Dret ... Dret ...
Ponsel Ayesha berdering dan menampilkan nama Nindi di sana. Kalli ini Nindi menggunakan panggilan video call.
“Hai,” sapa Ayesha sembari melambaikan tangannya ke layar itu.
“Ayesha ... kangen,” kata Nindi di sana dan berkata lagi, “kamu sakit apa, Ay?”
Ayesha tersenyum. Sebenarnya ia tidak sakit apa-apa, hanya Kevin saja yang terlalu berlebihan dan tidak mengizinkannya untuk beekrja, padahal bagian sensitifnya itu sudah tak lagi sakit.
“Cuma ga enak badan aja, Nin,” jawab Ayesha bohong.
“Oh, iya, berkas kamu udah di anter sama Pak Joko kan?” tanya Nindi lagi.
Ayesha mengangguk. “Ya udah. Nih!” ia memperlihatkan berkas yang ada di tangannya.
“Kok bisa Pak Joko langsung sih yang anter berkas ini ke kamu? Kalau aku ketinggalan berkas di kantor, ambil sendiri atau kirim pake g* send.”
Ayesha tersenyum. “Kebetulan aku kenal baik sama Pak Joko, makanya dia mau aku mintain tolong.”
“Oh gitu,” jawab Nindi yang langsung percaya oleh perkataan sahabatnya.
“Ay, kamar kamu enak banget,” ucap Nindi saat melihat latar belakang Ayesha. “Kapan-kapan aku main ya ke tempat kamu. Kita cerita-cerita. Udah lama ga ngobrol sama kamu. Kamu pulang on time terus sih.”
Ayesha tertawa. “Ini bukan rumah aku, Nin. Ga enak kalau ngajak kamu nginep di sini.”
“Iya sih.”
Setahu Nindi, Ayesha tinggal di rumah tantenya yang sederhana, tapi melihat latar kamar Ayesha tadi tampak tidak sederhana dan itu membuatnya semakin ingin tahu.
****
Di gedung Adhitama, Kevin menyambut kedatangan satu orang yang akan menjadi bagian dari keluarga besar Adhitama Grup.
“Ini, Pak. Pria yang akan menggantikan saya,” kata Edward memperkenalkan Kevin pada keponakannya.
“Ya, saya sudah melihat hasil tesnya kemarin. Semua oke. Saya setuju,” jawab Kevin yang mempersilahkan duduk.
Ketiga pria itu pun duduk. Edward dan keponakannya duduk berhadapan dengan Kevin.
“Anda lulus di universitas yang sama dengan Pak Edward, right?” tanya Kevin.
Pria itu pun mengangguk. “Ya benar.”
“Oh, ya kapan launching program yang bapak usulkan itu?” tanya Kevin pada Edward.
“Lusa, Pak. Kebetulan hari ini Ayesha masih sakit. Jadi kami belum berkoordinasi lagi.”
Kevin mengangguk. “Tapi besok kami akan selesaikan.”
“Oke, kebetulan lusa ada pertemuan dengan klien terbesar kita dari Amerika. Kita bisa sekalian mempresentasikan program tersebut kepada beliau,” kata Kevin.
“Bisa ... sangat bisa, Pak. Justru ini akan menjadi nilai plus karena kita semakin memiliki server besar dan tingkat pengamanan data yang tinggi.”
Kevin kembali menganggukkan kepala. “Oke, saya appreciate akan hal ini. Terima kasih Pak Edward atas dedikasi anda selama ini.”
“Sama-sama, Pak.” Jawab Edward senang.
“Dan, untuk Pak ...” Kevin menjeda perkataannya untuk menyebut nama keponakan Edward itu.
“Henry, Pak. Henry Barata," jawab pria itu.
“Oh, ya. Pak Henry. Selamat bergabung dengan kami,” ucap Kevin sembari mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Pria yang merupakan teman satu kampus Ayesha dan pernah menolongnya ketika di bully itu pun meraih uluran tangan Kevin. “Terima kasih, Pak.”
****
Waktu jam makan siang tiba. Kevin di temani Sean dan Kayla menuju kantin. Aldi pun sudah ada di tempat itu. Mereka sengaja makan siang bersama di sana.
“Sayang, aku kangen,” kata Aldi yang melihat Kayla menghampiri dan mereka pun berciuman pipi.
“Makanya cepet nikahin anak orang,” ledek Sean.
“On proses, Bro.”
“On proses mulu,” jawab Sean kesal.
“Eh tumben bos lu ambil makanan sendiri?” tanya Aldi pada Sean yang melihat Kevin tengah berdiri membeli makanan di sana.
“Lagi seneng dia,” sahut Kayla.
“Abis dapet jatah dari istrinya,” sambung Sean.
Sontak, Aldi tertawa. “Udah berhasil?”
Sean mengangguk.
“Keduluan apa?” tanya Sean bingung, pasalnya Aldi memang sudah merasakan surga dunia sebelumnya bukan?
“Keduluan ngerasain perawan,” jawab Aldi.
“Al,” rengek Kayla malu.
Sean menggelengkan kepala. “Dasar mesum.”
Aldi pun tertawa. “Sesama mesum ga boleh saling mendahului. Cukup Kevin yang ngeduluin gue.”
Sean tertawa. “Ya ... Ya ... Ya ... Gue belakangan.”
Aldi, Kayla, dan Sean pun kembali tertawa.
Beberapa menit kemudian, Kevin menghampiri sahabatnya dengan membawa nampan dan duduk bergabung di sana. Sean melihat makanan Kevin dengan porsi tak biasa.
“Kev, ga salah?” tanya Kayla yang juga melihat porsi makan sepupunya yang tak biasa.
“Kenapa?” Kevin balik bertanya.
“Makanan lu kurang banyak,” kata Aldi.
Kevin hanya tersenyum. “Gue laper.”
“Emang berapa kalori yang udah lu keluar semalam?” tanya Sean tersenyum.
Kevin pun ikut tersenyum. “Banyak dah pokoknya.”
"Gila, lu doyan apa ketagihan?" tanya Aldi meledek.
"Dua-duanya," jawab Kevin santai membuat Sean dan Aldi tertawa.
“Ngomongin apa sih? Aku ga ngerti,” kata Kayla yang pura-pura tidak mengerti obrolan ketiga pria dewasa itu.
Lalu, keempat orang yang duduk berhadapan ini pun kembali tertawa. Sepertinya beruang kutub ini sudah tidak tinggal di kutub, karena semakin hati sikap Kevin tidak setegang dulu.
Beberapa detik kemudian, seorang pria mendekati kursi mereka. “Hai. Pada ngumpul nih?” tanyanya.
“Hei, long time no see,” ujar Aldi yang merupakan sepupu dari pria ini.
"Hai." Pria itu membalas kepalan tangan sepupunya sebagai tanda salam mereka.
“Hai, Kay. Makin cantik aja,” ujar pria itu pada Kayla.
“Cantik aku udah dari lahir, Yan.” ucap Kayla jumawa di depan empat pria yang sudah ia kenal sejak SMA.
“Hai Bos,” sapa pria itu pada Kevin.
"Hai, Sean."
“Hai,” jawab Kevin sembari mengaduk makanannya, lalu pria itu duduk di samping Kevin.
"Hai," ucap Sean.
"Yan, gue suka banget sama aplikasi keuangan yang lu buat kemarin. Keren." kata Kevin pada pria yang baru bergabung di perusahaannya sebagai manajer keuangan yang berada di lantai dua.
"Ya, itu memudahkan banget jadinya," sambung Kayla.
"Syukurlah," ucap pria itu.
"By the way, gimana pencarian lu buat nemuin mantan terindah lu itu. Udah ketemu?” tanya Kevin pada pria itu lagi.
Pria itu adalah Christian, biasa yang dipanggil Tian atau mantan kekasih Ayesha. Pria itu merupakan sepupu Aldi dan ia sudah bergabung di perusahaan ini sejak satu bulan yang lalu dengan menduduki posisi manajer keuangan. Tian yang berpengalaman di bidang program keuangan selama bekerja di perusahaan star up terkenal di Australia, membuat Kevin setuju menempatkan Tian di posisinya sekarang. Terbukti pria itu banyak memberikan ide program keuangan yang memudahkan semua orang terutama divisinya.
“Belum, Kev. Sampe sekarang gue belum nemu cewek itu. Terakhir gue denger, kaabrnya dia di Bali, tapi gue denger lagi dia kerja di Jakarta,” jawab Tian.
Kevin menepuk bahu Tian yang sudah ia anggap seperti sahabatnya juga, karena sejak SMP Tian memang tinggal di rumah Aldi, sehingga pria itu pun menjadi ikut akrab dengan Sean dan Kevin yang memang sering kumpul bersama sepupunya. Dan, kebetulan selisih usia mereka pun hanya berbeda satu tahun, membuat mereka terlihat seumur.
“Oh iya, Kev. Mumpung gue ketemu sama lu. Gue mau izin satu minggu boleh?” tanya Tian.
“Lama banget,” jawab Kevin.
“Mau ngapain lu?” tanya Sean.
“Dia mau ke Kalimantan, Kev. Nyokapnya sakit,” jawab Aldi.
“Oh, gitu. Ya udah ga apa-apa yang penting lu delegasiin semua tugas ke Risa,” uajr Kevin menyebut nama asisten Tian di bagian itu.
“Beres Bos,” jawab Tian yang di angguki Kevin.
Selama ini, Kevin sering mendengar keluh kesah Tian yang merasa bersalah dengan kekasihnya yang telah ia khianati. Tian tidak pernah menyebut dengan detail mantan kekasihnya itu siapa, seperti apa, dan bagaimana orangnya? Sehingga yabg Kevin, Sean, dan Aldi tahu bahwa Tian berada di kota ini sekaligus mencari keberadaan mantan kekasihnya yang baik hati itu.
Kevin, Sean, dan Aldi turut prihatin, ketika Tian mengungkapkan rasa penyesalan yang begitu dalam terhadap mantannya itu.
Tak ada satu pun yang tahu, bahwa mantan yang sering Tian ceritakan adalah istri Kevin. Walau Tian sudah berada di gedung ini sejak satu bulan lalu, tapi lantai antara Tian dan Ayesha sangatlah jauh dan pekerjaan mereka pun tidak saling berkaitan, sehingga keduanya tidak pernah bertemu secara langsung.