
“Nindi ...”
“Ayesha ...”
Kedua wanita polos itu berpelukan di ruangan yang nantinya tidak lagi duduk bersama.
“Ay, aku minta maaf atas kejadian malam itu. Maaf karena aku yang mengajakmu ke tempat seperti itu,” ucap Nindi di sela pelukan itu.
Ayesha tersenyum dan melonggarkan pelukan. Ia menatap wajah teman baiknya yang tulus ini. Sifat Nindi sangat jauh berbeda dari Jessica, sahabat Ayesha dulu di Australia yang merebut kekasihnya. Ia banyak menemui kemiripan dengan Nindi dalam sifat. Hal itu juga yang membuat keduanya nyaman dan lebih dekat dari sekedar teman.
Ayesha menggelengkan kepala. “Tidak apa, Nin. Justru dengan begitu, kita kan jadi tahu.”
“Kamu di antar siapa malam itu?” tanya Ayesha.
“Hmm ...” Nindi berfikir sejenak. Akan kah ia menceritakan pada Ayesha bahwa malam itu ia dibawa ke apartemen Sean? Ah, ia tidak ingin Ayesha berpikiran buruk padanya.
“Aku diantar Pak Sean, katanya di melihatku di sana lagi sempoyongan,” jawab Nindi.
“Emang kurang ajar banget dua cowok itu,” sahut Ayesha kesal mengingat wajah Farel dan Nino.
“Ay, maaf.” Nindi semakin merasa bersalah, karena dirinya dengan polos meyakinkan Ayesha waktu itu, bahwa Nino dan Farel adalah orang baik. Ternyata, tidak sama sekali.
Mereka berbincang sambil merapikan barang-barang Ayesha di meja itu.
“Terus, Pak Sean antar kamu sampe kosan? Emang dia tahu kos kamu?” tanya Ayesha di sela aktivitas mereka.
Nindi terpaksa mengangguk.
“Oh, bagus kalau begitu,” jawab Ayesha. Sementara Nindi masih meringis jika mengingat bahwa tubuhnya sudah dilihat Sean, bahkan pria itu sudah menjamah tubuhnya dengan alasan membersihkan tubuh itu dari muntah.
“Arrgg ...” tiba-tiba Nindi berteriak dan Ayesha langsung menoleh.
“Kenapa, Nin?” tanya Ayesha bingung.
“Ah, ngga. Aku kesel aja. Coba malam itu kita ga kesana. Harusnya kita nge-mall dan belanja aja sepuasnya,” ucap Nindi yang sangat menyesal karena keingintahuan dirinya dengan club malam, membuat ia menjadi malu.
Mulai besok ia pasti akan menghindari Sean. Ia tidak ingin bertemu asisten bos besarnya itu. sungguh, Nindi tidak mempunyai muka dihadapan pria itu.
Ayesha mengangguk. “Ya, kamu benar Nin. Seharusnya kita tidak ke tempat itu.”
Mereka pun menghela nafasnya kasar.
“Tapi, nasi sudah menjadi bubur,” kata Ayesha lagi dan diangguki Nindi.
Mereka kembali melanjutkan aktivitas itu. Nindi membantu Ayesha merapikan barang-barangnya di sana dan membantu membawa kardus kotak yang cukup besar itu ke lantai dua.
“Ay, Manajer bagian keuangan ganteng loh,” kata Nindi ketika mereka sudah berada di lantai dua.
Ayesha dan Nindi memasuki sebuah ruangan yang nantinya akan menjadi tempat kerja Ayesha mulai Senin.
“Oh, ya? Aku ga tahu.”
“Aku juga baru liat beberapa kali di kantin,” jawab Nindi. “Emang ganteng sih.”
“Ganteng mana sama Pak Henry?” tanya Ayesha meledek sahabatnya.
“Hmm ... ganteng manajer divisi kamu yang sekarang, Ay.”
“Oh, ya?” tanya Ayesha tertawa.
“Eh, tapi ganteng Pak Sean deh,” kata Nindi dalam hati. Tapi tak lama kemudian, Nindi memukul kepalanya yang konslet.
“Siapa namanya?” tanya Ayesha lagi sambil meletakkan barang-barang yang ada di kotak kardus itu ke mejanya yang sekarang.
“Nama siapa?” Nindi balik bertanya.
“Pimpinan aku di divisi ini?”
Nindi mengangkat bahunya. “Aku juga kurang tahu, Ay. Soalnya dia juga belum lama gabung di sini kok. Sepertinya baru satui bulan deh.”
“Oh.” Ayesha membulatkan bibirnya.
Nindi cukup lama membantu dan menemani Ayesha hingga Ayesha selesai merapikan mejanya. Ia lega karena ketika hari kerja pertama dimulai, ia bisa langsung menempati meja ini tanpa memboyong lagi barang-barangnya dan menjadi pusat perhatian orang yang ia lewati.
“Nin, makasih ya.” Ayesha memeluk wanita yang memiliki tinggi badan yang sama dengannya. “Aku ga tahu nanti di divisi ini, apa aku menemukan teman kerja yang enak seperti kamu.”
“Mbak Risa baik kok. Aku kenal dia cukup lama. Dia juga sudah bekerja lebih dari enam tahun di sini dan sudah berkeluarga.”
“Mbak Risa siapa?” tanya Ayesha.
“Oh.” Ayesha kembali membulatkan bibir.
“Aku pernah beberapa kali ngobrol sama dia di kantin,” ucap Nindi. “Makanya kalau makan itu di kantin. Jangan pakai aplikasi mulu! Jadi ga kenal orang kan.”
Ayesha nyengir, memperlihatkan jejeran giginya yang rapi. Ia memang paling malas beranjak dari tempat duduk saat bekerja. Kalau pun ia keluar dari ruangan itu, hanya untuk mengambil minum di pantry.
“Oh, iya. Satu lagi yang enak di lantai dua,” celetuk Nindi.
“Apa?”
“Di pantry lantai ini tersedia gula,” jawab Nindi.
Ayesha pun tersenyum. “Ah, sekarang aku sudah terbiasa tidak menggunakan gula.”
“Wah sudah terkontaminasi Pak Kevin rupanya kamu, Ay.”
Nindi tertawa dan Ayesha pun tersenyum sambil membayangkan wajah suaminya. Ya, pola makan Ayesha kini memang mengikuti pola hidup sehat suaminya.
Lalu, Ayesha membayangkan lagi wajah suaminya yang mungkin saat ini tengah kesal karena menunggu cukup lama. Semula, Ayesha memberitahu pada Kevin bahwa aktivitasnya ini tidak akan memakan waktu lebih dari satu jam. Nyatanya ia sudah lebih dari dua jam membuat pria menyebalkan itu menunggu.
Bagainana tidak lama? Ayesha dan Nindi tidak hanya merapikan barang-barang saja tapi mereka mengobrol sambil membicarakan seputar info terhangat tentang para karyawan di gedung ini yang cinlok atau berselingkuh.
Ayesha bergidik ngeri mendengar kata perselingkuhan. Ia pernah mengalami itu dan sangat menyakitkan.
"Kalau Pak Kevin tahu tentang mereka. Pasti di pecat. Untungnya, gosip ini hanya beredar di lingkungan karyawan saja dan tidak sampai ke atasan apalagi CEO," kata Nindi yang masih membicarakan staf yang berselingkuh dengan staf lain yang sudah menikah.
Tiga puluh menit kemudian, Nindi pamit. Ayesha mengantarkan sahabatnya hingga lobby.
“Ay, kamu ga ikut pulang bareng aku?” tanya Nindi yang mengajak Ayesha berjalan keluar bersama.
Ayesha menggeleng. “Ngga, Nin. Aku baling ke lantai enam dulu. Ada yang ketinggalan,” jawabnya bohong. Padahal ia hendak menemui suaminya yang menunggu lama di ruangan itu.
“Mau aku temani lagi?” tanya Nindi.
Ayesha dengan cepat menggeleng. “Tidak usah. Kamu udah banyak bantu aku, Nin. Udah ga apa-apa kamu istirahat aja.”
“Tapi kamu ga apa-apa di lantai itu sendirian? Serem loh?” tanya Nindi lagi.
Ayesha tersenyum. “Sepertinya lebih serem Kevin dari pada hantu,” ucap Ayesha dalam hati sembari tertawa.
“Bener, aku ga apa-apa,” jawab Ayesha pada Nindi.
“Baiklah, kalau begitu aku pulang duluan. Hati-hati ya, Ay.”
“Kamu juga hati-hati.” Ayesha berdiri di depan pintu lobby sembari menatap Nindi yang kian menjauh.
“Mbak Ayesha ga sekalian pulang?” tanya Aryo yang melihat Ayesha berdiri di sana.
Ayesha menggeleng. “Ngga, Pak. Saya mau temuin Pak Kevin dulu di ruangannya.”
Sontak Aryo terdiam. Ia semakin membenarkan apa yang ada di pikirannya tentang Ayesha. Ke ruangan bos yang berada di lantai enam? Berduaan di ruang yang sangat sepi. Bisa Aryo bayangkan apa yang akan mereka lakukan di sana berdua. Aryo pun memukul kepalanya.
“Sudah, jangan urusi urusan orang lain,” gumam Aryo sembari melihat Ayesha yang hendak menaiki lift dari luar gedung itu.
Ayesha menaiki lift hingga lantai enam dan melangkahkan kakinya menuju ruangan Kevin.
“Mas,”: panggil Ayesha yang tidak langsung disahuti si empunya nama.
Ceklek
Ayesha membuka pintu itu. namun tak ia dapatkan sosok suaminya di sana.
“Mas, aku sudah selesai. Ayo pulang!” kata Ayesha.
Ia melihat sebuah pintu yang terbuka yang berada di dalam ruangan itu.
“Mas,” panggil Ayesha yang kemudian suara panggilan itu menjadi sedikit rendah karena ia melihat Kevin berada di dalam kamar mandi yang cukup terlihat dari luar.
Kamar mandi minimalis yang terbuat dari kaca yang diburamkan sebagian itu, memperlihatkan kaki Kevin yang tengah berdiri membelakangi pintu.
“Ayesha ... Arrrggg ...” teriak Kevin di dalam sana.
Ayesha mengernyitkan dahi. Entah apa yang Kevin lakukan di dalam sana. Pasal memang sejak kejadian malam panas yang sudah berlalu dua malam itu. Kevin tak kunjung meminta haknya lagi hingga saat ini. Terlebih Ayesha pun masih bersikap cuek pada suaminya dan hal itu membuat Kevin gengsi untuk meminta haknya lebih dulu.
Sontak, Ayesha pun tertawa sembari menutup mulutnya. “Kamu main sendiri, Mas?”