XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Bonchap duapuluh empat



Hari ini, acara syukuran atas kelahiran cucu dari putra pertama keluarga Adhitama pun digelar. Para kerabat dan saudara hadir. Petinggi-petinggi pemerintahan juga hadir, mengingat Kenan kini sudah menjabat menjadi bagian yang penting dalam pemerintahan.


Acara meriah ini pun tak luput dari awak media yang meliput dan merekam moment kebahagiaan keluarga ini.


“Sayang, ayo! Nanti kita terlambat,” ujar Sean pada istrinya yang masih berada di dalam kamar dan menata riasan serta rambutnya.


“Sebentar, Mas.”


Sean melihat lagi jam di tangan kanannya. Ia tak ingin datang ketika acara sudah di mulai. Dengan tak sabaran, akhirnya Sean melangkahkan kakinya ke kamar, padahal ia sudah menunggu di ruang tamu.


“Sa …” suara Sean tercekat ketika melihat penampilan baru Nindi.


“Cantik ga?” tanya wanita itu yang sudah berpakaian rapi dengan busana tertutup dan balutan kepala oleh kain pashmina, menambah keanggunan wanita itu.


Sean terpana. Ia tersenyum melihat penampilan baru Nindi yang membuatnya kembali jatuh cinta.


“Kalau kamu ga setuju, aku ganti lagi,” ucap Nindi sembari tangannya meraih kain phasmina yang hendak ia buka.


Sean langsung menahan pergelangan tangan Nindi. “Ini cantik.”


“Pasti kamu ga suka, karena aku ga tampil sexy.”


“Siapa bilang?” Sean memajukan wajahnya tepat di depan Nindi tanpa jarak. Ia juga meraih pinggang itu. “Aku malah lebih suka karena tubuhmu yang sexy hanya bisa dinikmati oleh aku seorang.”


“Mesum.” Nindi tertawa sembari tangannya mentoyor wajah Sean.


Sean ikut tertawa. Lalu ia melonggarkan lengannya. “Ayo berangkat!”


Nindi memasukkan lengannya pada lengan lengan Sean dan memeluk lengan kekar itu. Mereka keluar dari apartemen dengan berjalan beriringan.


“Mas,” panggil Nindi di sela langkah mereka.


“Hm …” Sean menoleh.


“Kamu ga malu kan kalau aku berpenampilan seperti ini?” tanya Nindi dengan menatap suaminya.


Langkah mereka pun terhenti di depan lift dan Sean menekan tombol itu.


“Kenapa malu?” Sean menjepit dagu lancip Nindi. “Mas justru bangga padamu dan semakin cinta. Bukankah setiap wanita senang jika dipuji sexy, tapi kamu menutupinya.”


Nindi tersenyum. “Ya, karena ke-sexy-an aku hanya buat kamu.”


“Eum … Sweet. Jadi pengen gigit.” Sean memajukan wajahnya dan hendak melakukan apa yang ia ucapkan tadi.


Tring


Namun, pintu lift sudah lebih dulu terbuka. Pria bule yang super mesum itu pun mengurungkan niatnya. Ia memegang pinggang Nindi dan mengajak sang istri untuk lebih dulu masuk ke dalam lift.


Di dalam lift Sean kembali dengan aksinya. Ia mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Nindi.


“Mas, nanti ada orang yang masuk loh.” Nindi menangkup wajah Sean dan berussaha untuk menghindar.


Namun, Si mesum itu tidak peduli. Ia menempel di belakang Nindi dan memeluk istrinya sambil mengecup wajah itu dari samping.


Untuk Kaisar dan Kalila, Nindi memberi gelang kaki yang terbuat dari emas putih. Ia bingung membelikan kado apa untuk anak sultan itu.


Di kediaman Kenan, Ayesha dan Kevin sudah lengkap menggunakan pakaian couple berwarna putih. Kaisar dan Kalila un menggunakan pakaian dengan warna senada seperti kedua orang tuanya. Bahkan keluarga inti juga menggunakan pakaian dengan warna sama.


Keluarga Gunawan beserta istri, anak, dan menantu sudah hadir. Keluarga Vicky juga sudah ada di sana. Vinza dan Kinara menjadi bagian dari panitia yang membantu para orang tua melancarkan acara tersebut. Walau acara ini nantinya akan menjadi acara mereka juga, karena Vinza merencanakan untuk melamar Kinara setelah acara selesai.


Tuk … Vinza iseng menempelkan krim putih yang ada di atas kue itu ke ujung hidung Kinara. Mereka tengah berada di dapur dan membantu menata makanan yang akan di bawa pelayan ke meja desert.


“Vinza,” teriak Kinara saat hidungnya kini terdapat noda putih.


Kinara cemberut dan mendorong pria itu agar menjauh.


“Tapi badut cantik.” Vinza kembali mendekatkan tubuhnya pada Kinara.


“Sana ah. Kamu rese.” Kinara kmbali mendorong Vinza agar menjauh. Ia berpindah posisi untuk mengambil tisudan mengelap noda putih yang ada di ujung hidungnya.


Tuk … Vinza mendekat lagi dan menambah noda putih itu pada bagian bibir Kinara.


“Vinza, diem ga? Ga lucu tau.”


Pria cool itu malah tertawa. Ia senang melihat Kinara marah. Bibirnya yang merengut membuatnya ingin mencium bibir itu. Bibir yang pernah ia sentuh untuk pertama kali saat mereka masih sekolah.


“Jangan marah, nanti makin cantik.”


“Sejak kapan kamu suka gombal? Belajar di Keanu? Atau dari Kak Sean?” Kinara bertolak pinggang di depan Vinza.


Vinza mendekat dan memeluk pinggang Kinara. “Karena semakin dewasa kamu semakin cantik, bikn aku ga bisa tahan.”


Kinara mengernyitkan dahi. Baru kali ini ia melihat Vinza yang dingin menjadi mesum.


Vinza mamajukan wajahnya dan memakan krim putih yang ada di ujung hidung dan bibir Kinara. Wanita itu pun mematung, merasakan sentuhan itu. Sejak bertemu lagi dan mengikrarkan untuk pacaran, baru kali ini Vinza menciumnya. Padahal di setiap momen berdua, Kinara selalu memberi sinyal untuk minta dicium, tapi pria itu tidak beraksi dan hanya diam, membuat Kinara kesal seolah dirinya wanita gatal.


“Ekhem …” Hanin berdehem melihat Vinza dan Kinara di sana.


“Eh, Tante.” Tubuh Kinara langsung menjauh dari Vinza. Dan, Vinza pun demikian. Mereka seperti orang yang tengah kepergok berbuat mesum di tempat umum.


“Maaf ya, tante ganggu. Tante mau ambil ini.” Hanin mengambil makanan yang tersusun rapi di sana.


“Eh, maaf tante, tadi Kinara juga mau bawa ini keluar,” sahut Kinara dengan meraih piring yang sudah berada di tangan Hanin.


“Udah ga apa-apa. Biar sama Tante aja.” Hanin tersenyum dan menarik piring itu.


“Cepat halalin Kinara ya, Za,’ ledek Hanin saat melintas melewati Vinza dengan berbisik.


Vinza pun malu dan mengangguk.


“Ish, ini karena kamu.” Kinara memukul dada Vinza.


“Tapi kamu juga ga nolak.”


“Vinza …” teriak manja Kinara.


“Apa? Mau di cium lagi?”


Bugh


Kinara memukul perut pria itu dengan lengan sikunya, membuat Vinza meringis. “Aww … Ssshh.”


Kinara melenggang pergi dan menoleh ke belakang dengan ekspresi senyum yang genit. Vinza pun ikut tersenyum sambil memegang perutnya.


Acara sebentar lagi di mulai. Sean dan Nindi pun hadir. Ayesha senang melihat penampilan baru sahabatnya. Kini, penampilan mereka sama.


Kenan dan Hanin mengundang ibu-ibu pengajian di kompleknya. Hanin juga mengundang komunitas kajian bulanan di rumahnya bersama ustadz kondang yang sering wara wiri di televisi. Komunitas pengajian itu juga beraggotakan beberapa artis-artis yang sudah hijrah.


Saat acara berlangsung, semua dudk di dalam rumah Kenan yang megah dan mendengarkan sambutan serta siraman rohani dari ustadz kondang itu.


Di tengah kerumunan orang-orang di sana, Keanu menangkap sosok wanita yang sejak kemarin berseliwer di kepalanya. Arah mata Keanu terus tertuju pada wanita yang sedang menunduk dan mengenakan kerudung putih untuk menghormati acara ini.


Wanita itu terlihat berada di pojokan di tengah para pelayan keluarga Adhitama yang lain.


“Jihan,” gumam Keanu dalam hati dengan arah mata yang terus menatap ke arah itu untuk memastikan bahwa ia tidak salah orang.