
“Bagaimana keadaan bayi saya, Tante?” tanya Kevin pada wanita paruh baya yang selama ini menangani kehamilan Ayesha sejak pertama kali.
“Sehat. Bayi kembar kalian sangat aktif.” Amalia tersenyum ke arah pasangan suami istri yang sedang menanti buah hatinya ini.
Hari kelahiran bayi kembar yang masih berada di dalam perut Ayesha, tinggal menghitung hari. Hari perkiraan lahir baby twins terhitung satu minggu mulai dari hari ini.
Kevin duduk persis di depan kepala Ayesha yang sedang berbaring di tempat tidur pemeriksaan. Tangannya tak henti mengelus kepala itu. Ia pun melihat perut istrinya yang tampak semakin bulat dan besar.
“So, apa metode persalinan yang akan kalian putuskan? Normal atau Caesar?” tanya Amalia.
Ayesha bersikeras untuk melakukan persalinan dengan normal. Namun, Kevin tidak setuju mengingat bayi yang ada di dalam perut Ayesha dua orang. Jika hanya satu oang, mungkin Kevin menyetujui itu. Tetapi, ia tak ingin beresiko.
Kevin menatap istrinya sembari berkata, “saya tetap memilih caesar.”
Ayesha membalas tatapan suaminya dan kembali pada Amalia. “Tapi kata tante, saya bisa melahirkan normal."
"Bisa, karena kamu memenuhi syarat untuk itu. Pertama bayi kalian sehat. Kedua, ibunya pun sehat. Setelah melakukan medical check up, Ayesha tidak mengidap penyakit apapun. Ketiga, bayi kalian di dana tidak berbagi plasenta yang sama, keempat tidak sungsang. Kelima, plasenta juga tidak menghalangi jalan lahir. So, oke saja jika ingin normal.”
Ayesha langsung mengarahkan wajah pada suaminya. “Tuh, Mas. Kalau normal tidak apa.”
Kevin tetap menggeleng. “Ngga. Aku ga mau beresiko.”
“Tapi, Mas.”
“Ngga, sayang. Kamu akan melahirkan caesar. Mas akan jadwalkan dari sekarang.”
“Mas,” rengek Ayesha.
“Normal itu butuh tenaga, Sayang. Sedangkan kamu melahirkan dua bayi. Mas tidak ingin kamu kelelahan dan berdampak buruk pada kesehatanmu,” ujar Kevin.
“Aku bisa, Mas. Aku bisa. Percaya deh.”
“No.” Kevin kembali menggelengkan kepalanya.
Amalia hanya tersenyum melihat pasangan suami istri ini berdebat. Sikap Kevin mengingatkannya pada Kenan dulu. Saat itu, Kenan pun terlihat sangat proteck pada Hanin.
“Sudah, sudah. Apa pun proses persalinan nanti, yang penting bayi dan ibunya selamat,” ucap Amalia.
“Kalau begitu, saya akan menjadwalkan proses caesar untuk Ayesha dari sekarang, Tante,” kata Kevin.
“Oke,” jawab Amalia.
“Mas.” Ayesha masih berusaha bernegosiasi dengan suaminya.
“Fix, no debat,” jawab Kevin sembari mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. “Mengertilah, Sayang. Mas tidak ingin terjadi apa-apa padamu. Mas, sangat menyayangimu.”
Ayesha tersenyum haru melihat wajah Kevin yang membuat hatinya meleleh.
“Kok, Tante ikut melting ya,” ucap Amalia menggoda saat mendengar pernyataan Kevin. Pernyataab itu terdengar sangat romantis.
Sontak, Kevin pun menjauhkan wajahnya pada wajah Ayesha. Wajah Ayesha pun terlihat merah menahan malu.
“Kamu tuh, mirip banget Papa-mu.” Amalia tersenyum sembari menepuk bahu Kevin. Lalu, ia beranjak dari tempat duduk menuju wastafel untuk mencuci tangannya.
Pemeriksaan selesai. Suster yang sedari tadi mendampingi Amalia pun hanya tersenyum melihat interaksi pasangan suami istri yang romantis ini sembari membersihkan gel di atas perut Ayesha.
Kemudian, Kevin membantu Ayesha bangun. Kevin pun dengan sigap berjongkok saat Ayesha hendak menurunkan kakinya dari tempat tidur pasien tempat membaringkan tubuhnya untuk diperiksa tadi. Kevin berjongkok dan memakaikan sepatu sandal tanpa heels ke kaki Ayesha dengan telaten.
Pemandangan ini sudah terbiasa dilihat oleh Amalia dan asistennya. Romatis bukan? Seorang beruang kutub bermulut pedas menjadi seromantis ini.
“Terima kasih, Mas.” Senyum Ayesha, setelah sepasang sepatu sandal itu terpasang sempurna di kedua kakinya.
Kevin pun membalas senyum itu dan menggandeng istrinya untuk kembali duduk di hadapan Amalia. Setelah berbincang, akhirnya Kevin memilih tangga persalinan Ayesha tepat di hari pemilihan sang kakek.
Setelah memeriksa kehamilan di rumah sakit. Kevin membawa Ayesha menuju kediaman Kenan. Kebetulan hari ini di rumah itu sedang berkumpul. Orang tua Ayesha pun ada di sana. Menjelang pemilihan, Vicky dan Rea memang sering bertandang ke rumah Kenan. Rea menemani suaminya yang sibuk dengan urusan itu bersama Kenan dan tim.
Beberapa jam kemudian, Kevin sampai di rumah orang tuanya. Lalu, ia memarkirkan mobil itu sesuai dengan kendaraan yang sudah berjejer di sana.
“Waalaikumusalam.” Hanin tersenyum lebar melihat kedatangan putra dan menantunya. Begitu pun dengan Rea.
Kevin dan Ayesha menyalami kedua ibu mereka bergantian. Hanin dan Rea pun mencium anak dan menantu mereka bergantian.
“Bagaimana hasil pemeriksaannya tadi?” tanya Hanin.
“Alhamdulillah, semua sehat,” jawab Kevin yang membantu istrinya duduk. Mereka duduk berdampingan.
“Kapan hari perkiraan lahir, Ay?” tanya Rea.
“Minggu depan, Ma. Mas Kevin juga sudah menjadwalkan operasi caesarnya.”
“Jadi, kalian memilih metode itu?” tanya Hanin.
“Iya, Ma. Mas Kevin yang milih metode itu. Padahal Ayesha ingin normal. Lagi pula, sebenarnya Tante Amalia tidak membolehkan karena katanya Ayesha memenuhi syarat untuk melakukan persalinan normal.”
“Sayang,” panggil Kevin untuk mengingatkan sang istri agar tidak membicarakan lagi apa yang sudah diputuskan.
Ayesha mengerucutkan bibirnya di depan Kevin.
“Kevin hanya ingin yang terbaik buat Ayesha, Ma. Karena dia akan melahirkan dua orang. Sangat beresiko jika harus melahirkan normal. Kevin tidak ingin terjadi apa sama Ayesha.” Kevin menatap wajah istrinya dengan penuh cinta.
Hanin dan Rea pun dapat melihat tatapan itu. Kedua wanita paruh baya itu saling bertatapan. Mereka tersenyum lebar. Sungguh bahagia melihat putra putri mereka bersatu dan saling mencintai. Apalagi akan ada keturunan Adhitama sebagai penambah kebahagiaan itu.
“Papa-mu dulu juga seperti itu, Ay,” ucap Rea. “Mama tidak boleh melahirkan normal.”
“Ya, tapi sepertinya selain karena mereka tidak ingin kita lelah mengejan. Mereka memiliki maksud terselubung,” sambung Hanin dengan menutup mulutnya yang tertawa lebar.
Rea mengerti maksud ucapan Hanin.
“Maksud terselubung? Maksudnya apa, Ma?” tanya Ayesha tak mengerti percakapan kedua ibunya itu.
Hanin tertawa. Begitu pun Rea.
“Nanti juga kamu mengerti,” jawab Hanin sembari menatap putranya.
Kevin yang mengerti pembicaraan dua wanita paruh baya itu pun hanya tersenyum. Ya, ia memang menginginkan area favoritnya itu tidak berubah dan tidak boleh ada yang menyentuh bagian itu karena bagian itu adalah miliknya.
“Mas, maksud Mama apa sih?” tanya Ayesha pada suaminya.
“Udah ga usah dipikirin,” jawab Kevin. “Oh, ya. Tadi katanya kamu mau puding. Ke dapur yuk!” Kevin berdiri dan mengajak istrinya keluar dari obrolan itu. Ia tak ingin sang istri terkontaminasi oleh dua wanita apruh baya yang sudah berpengalaman menghadapi pria sepertinya. “Mas juga haus.”
Hanin dan Rea kembali tertawa.
“Ya udah sana, ke dapur. buat minuman sendiri ya,” ujar Hanin.
Ayesha tersenyum dan mengangguk. Kevin dan Ayesha pun pamit dari kedua ibunya dan berjalan menuju dapur.
Hanin dan Rea melihat Kevin yang berjalan beriringan dengan istrinya sembari menggenggam tangan itu erat. Mereka tersenyum.
“Re, Putrimu merasakan juga menjadi kita,” kata Hanin lagi.
Rea tertawa dan mengangguk. “Ya dan aku sangat bersyukur, Mba.”
“Jadi, kamu juga bersyukur memiliki suami seperti Vicky sang mantan cassanova itu?” tanya Hanin meledek.
Rea tersenyum. “Ya, awalnya sih ngga terima. Tapi aku ga bisa menolak kemesumannya itu loh, Mbak. Dia mahir banget bikin aku melayang.”
“Dasar ya kamu.” Hanin tertawa. “Kalau begitu, kita sama.”
Hanin mengingat bagaimana dulu ia membenci Kenan. Namun, sentuhan Kenan tak bisa dielakkan. Ia terlena dan semakin terlena saat Kenan menyatakan cinta. Pria yang dulunya terkesan kejam, berubah menjadi pria romantis yang melelehkan hatinya. Keromantisan itu pun tak hilang hingga mereka berada di usia senja.
Kedua wanita paruh baya itu pun kembali tertawa, mengingat masa muda mereka dulu.