XL (Extra Love)

XL (Extra Love)
Aku merasakan sesuatu. Apa kamu juga?



Kevin bersiap untuk berangkat menemui Sean dan Aldi. Ia sudah memakai jaket berwarna hitam.


“Mau kemana, Mas?” tanya Ayesha yang baru saja ke dalam kamar.


Ayesha baru saja mengisi mug nya yang kosong dan meletakkannya di meja kecil persis di samping tempat tidur besar itu.


“Aku ada janjian dengan Sean dan Aldi,” jawab Kevin sembari memakai arloji di tangan kanannya.


“Oh.” Ayesha mengangguk sembari membulatkan bibir.


Sebenarnya bukan hanya bersama siapa sang suami pergi, tapi kemana? Namun, Kevin tidak menjawab kemana ia akan pergi dan Ayesha pun tidak bertanya lebih lanjut.


“Oh iya, mungkin aku akan pulang larut malam,” ucap Kevin sebelum ia pergi.


Lagi-lagi, Ayesha hanya mengangguk. Padahal dalam hati Kevin, jika sang istri menahannya pergi, ia pun akan di sini menemani istrinya. Namun, Ayesha tak melakukan itu. Akhirnya, Kevin pergi.


Kevin tiba satu jam lebih malam dri jadwal janjian mereka sebelumnya, karena baik Sean dan Aldi pun memundurkan jadwal.


“Hai, Kev. Gue kira lu ga dateng,” sapa Aldi yang juga baru saja sampai.


“Gue paling duluan,” sahut Sean.


Kevin duduk di tengah-tengah Aldi dan Sean, kebetulan kursi itu kosong. “Udah pada pesan minum?” tanyanya.


“Gue udah,” jawab Sean sembari mengangkat minumannya.


“Gue baru pesen,” jawab Aldi yang tak lama kemudian bartender itu pun meletakkan gelas di depan pria itu.


“Seperti biasa, Sir?” tanya bartender itu pada Kevin dan Kevin pun mengangguk.


Bartender itu sudah hafal minuman yang akan di pesan Kevin. Biasanya, kevin memilih minuman buah yang dicampur sedikit soda, seperti mango soda atau strawbery atau minuman dengan ekstrak mawar, membuat sensasi di lidah terasa menyegarkan.


“Tumben bisa gabung. Kirain gue setelah nikah, lu ga akan ke sini bareng kita,” ucap Aldi.


“Hei .. seharusnya itu kata-kata gue. Secara lu juga kan mau ninggalin gue, mau nikah juga sama Kayla,” ucap Sean.


“Hah, masih belum tahu. Ini gue abis berantem sama Kay,” sahut Aldi.


“Kenapa?” tanya Sean dan kevin pun ikut mendengarkan.


Ketiganya duduk di atas meja bar dengan kursi yang cukup tinggi.


“Kay selalu minta gue buat deketin bokapnya. Gue udah berusaha, tapi Om Gun itu dingin banget kalo gue lagi dateng. Kemarin dia marah karena katanya gue udah lama ga ke rumahnya.”


“Ya, lu juga gimana sih, Al. Masa ngeluluhin hati Om Gun aja ga bisa,” kata Sean.


Sementara Kevin masih menyimak sembari menyesap minumannya. Pasalnya ia pun sedang bermasalah.


“Ngomong gampang. Prakteknya susah, Bro.” Jawab Aldi. “Nanti lu juga ngerasain kalau lagi deketin Ara.”


“Gimana gue mau deketin Ara, orang dia nya aja udah nolak gue berkali-kali.”


“Hahahaha ... ngenes banget nasib kita, Bro,” kata Aldi yang ribet memiliki calon mertua seperti Gunawan dan Sean yang cinta bertepuk sebelah tangan.


“Ya ... yang enak si Bos lah. Udah aman. Udah saling cinta juga. Iya kan, Bro?” Sean menyenggol siku Kevin.


“Apanya yang enak? Mau bercinta aja belum jadi-jadi,” jawab Kevin kesal.


Kedua sahabatnya pun tertawa.


“Sumpah demi apa lu, Kev? Lu udah dua bulan nikah tapi belum sentuh Ayesha? Dahsyat. Kuat juga," ledek Aldi.


“Ya, kuat ga kuat.”


“Bukannya kemaren udah gue komporin,” sahut Sean.


“Nah, iya. Kemarin itu hampir jadi, Sean. Tapi gagal karena doi palang merah.”


Sean dan Aldi kembali tertawa. kali ini mereka tertawa lebih kencang hingga terkikik sendiri.


“Kev, Kev. Ampun deh.” Sean menggelengkan kepalanya.


“Ya udah, trial dulu noh sama cewek itu.” Aldi menunjuk ke arah wanita penghibur yang berjoget di sana.


Kevin menggeleng. "Gue ngga kaya lu."


“Bilang aja, Aldi yang pengen sama cewek itu. Tuh, Kev dari tadi dia liat ke sono mulu,” kata Sean lagi sembari tertawa.


“Dasar lu, gimana Om Gun mau percaya anak perempuannya nikah sama lu, kalo lu nya masih kaya gini,” kata Kevin.


“Udah ngga, Kev. Sumpah!” Aldi mengangkat kedua jarinya ke atas. “Gue udah nahan ga begituan sejak pacaran sama Kay. Sama siapa pun," kata Aldi dengan yakin.


"Gue juga mau jadi orang bener yang punya keluarga. Bahagia sama anak dan istri,” ucap Aldi panjang lebar. “Gue juga capek berkelana, Kev. Ngga enak.”


“Yup, bener banget.” sambung Sean dan kembali berkata, “lu berdua sebenernya beruntung. Lu Al." Sean menunjuk ke arah Aldi. "Walau belum nikah sama Kayla, tapi paling ngga lu udah punya cewek baik-baik yang bisa dijadiin masa depan."


"Terus lu Kev." Sean menunjuk ke adah Kevin. "Lu, udah dapet cewek baik-baik seperti Ayesha. Walau dulu dia XL tapi sekarang kan dia udah langsing dan cantik banget. Sedangkan gue." Sean menunjuk dirinya sendiri. "Nothing. Ngga ada.”


“Eh iya? Ayesha sekarang cantik? Gue belum liat,” tanya Aldi tidak percaya.


“Lebih kecil dari sebelumnya. Makanya Kevin klepek-klepek sekarang" jawab Sean.


“Ngga gitu juga. Gue emang udah suka sama dia karena kebaikan dan kepolosannya. Bukan karena bodinya.”


“Tapi udah n*fs* juga liat bodi montoknya kan? Ngaku lu?” ledek Sean sembari merangkul leher Kevin seolah ingin mencekik leher itu, karena Sean ikut kesal dengan sikap Kevin yang terlalu mengedepankan gengsi di hadapan Ayesha.


Kevin memang tidak bisa berbohong di depan kedua sahabatnya. Mereka memang paling tahu dirinya.


Kevin mengangguk dan melepaskan tangan Sean dilehernya. “Gue emang udah suka pas cium bibirnya, saat gue nolongin dia di Bali.”


Sontak Sean berteriak. “Gue udah ngira seperti itu.”


“Terus, lu udah nyatain ke dia?” tanya Aldi serius.


“Menurut lu?” Sean menyela. “Pasti jawabannya belum. Iya kan, Kev?’ tanyanya dengan mengarahkan wajahnya pada Kevin.


Kedua sahabatnya itu pun menatap Kevin dan pria itu mengangguk.


“Hah ...” ucap lemas Sean dan Aldi.


****


Di kamar Kevin, Ayesha menunggu suaminya. Ia melihat ke jam dinding, sudah pukul satu malam. Namun, Kevin belum juga pulang. Ia semakin resah dan kembali menaiki tempat tidur. Mencoba memejamkan mata dan seolah tidak memikirkan pria itu.


Dua puluh menit kemudian, Kevin pun pulang. Baik Hanin, Kenan, dan Rasti tidak tahu bahwa Kevin pergi di malam hari dan pulang dengan sangat larut, karena saat Kevin pergi, semua penghuni rumah sudah berada di kamarnya masing-masing.


Kevin membuka pintu kamarnya dengan hati-hati. Ia melihat Ayesha sudah berbaring miring membelakanginya. Ayesha sudah terlelap di sana.


Kevin membuka pakaiannya dan mengganti dengan pakaian tidur. Lalu, ia merebahkan diri di samping Ayesha. Ia juga memiringkan tubuhnya menghadap ke tubuh istrinya sembari memeluk pinggang itu.


“Ndut, aku tuh udah merasakan sesuatu sama kamu. Kata Sean dan Aldi, itu cinta. Tapi aku ga tau kamu bagaimana? Aku takut kamu tidak merasakan hal yang sama sepertiku,” ucap Kevin yang pastinya tidak di dengar Ayesha karena wanita itu memang baru saja terlelap.


Kevin mengeratkan lagi pelukannya, hingga wajahnya tepat berada di belakang leher Ayesha. Aroma tubuh itu membuatnya tenang dan rindu. Kemudian, Kevin pun ikut terlelap.