
Ayesha bangun, sebelum Kevin terbangun. Ia tidak bisa tidur, karena kepalanya selalu ingat pada persentasi yang akan ia pimpin hari ini. Ayesha kembali membuka laptopnya, sepertinya ada sesuatu yang kurang yang belum ia selipkan di sana.
Tak berapa lama kemudian, Kevin pun ikut terbangun. Ia terbangun karena ketika hendak memiringkan tubuhnya, ternyata tangannya terasa kosong. Selama dua bulan terakhir, ia sudah terbiasa dengan pinggang seseorang yang selalu ia peluk saat tidur. Lalu, mata Kevin terbuka. Ia pun bangun dan melihat istrinya duduk di posisi yang sama seperti semalam.
“Sayang,” panggil Kevin.
Ayesha pun langsung menoleh dan tersenyum. “Hai, Mas. Sudah bangun?”
“Kamu tidur jam berapa semalam?” tanya Kevin yang bangkit dari tempat tidur itu dan menghampiri Ayesha.
“Lima belas menit setelah kamu tidur.”
Kevin duduk di pinggir sofa dengan merangkul bahu istrinya. “Memang belum selesai?”
“Sudah, Mas. Tapi tadi ada yang lupa.”
“Oh, mau berangkat jam berapa?” tanya Kevin lagi.
“Pagi, soalnya kami mau breafing dulu,” jawab Ayesha dengan menatap wajah suaminya.
“Ya udah kalau begitu kita berangkat pagi. Aku mandi duluan,” kata Kevin, lalu berdiri.
“Mas,” panggil Ayesha, ketika melihat Kevin hendak melaju ke kamar mandi.
“Hmm ...”
“Mas kan hari ini ga ada agenda pagi, jadi tidak apa aku berangkat duluan sendiri.”
“No, bareng aja.”
“Tapi, nanti kamu datengnya kepagian.”
“It’s oke,” jawab Kevin tersenyum dari kejauhan.
Senyum itu, membuat Kevin semakin tampan. Ayesha pun tak bisa untuk tak membalas senyum itu. Di tambah rambut yang berantakan dan dada bidang yang terbuka, membuat air liur Ayesha ingin menetes. Ayesha terus menatap suaminya.
“Kenapa? Ada yang salah?” tanya Kevin dengan melihat dirinya sendiri. Ia heran dengan tatapn sang istri.
Ayesha menggeleng sembari tersenyum dan menggigit jarinya.
“Ayo kenapa? Kenapa menatap Mas seperti itu?” tanya Kevin lagi yang penasaran dengan tatapan istrinya.
“Ngga apa-apa,” jawab Ayesha menggeleng sembari tertawa imut, membuat Kevin gemas.
Apalagi pria itu pun baru saja bangun dan seperti biasa layaknya seorang pria yang sudah dewasa, pasti ketika bangun maka semuanya ikut bangun. Dan, begitu melihat istrinya yang menggoda membuat bagian tubuhnya yang lain ikut terbangun.
“Mas, lepas.” Ayesha merengek karena tiba-tiba Kevin menubrukkan tubuhnya dan memeluk erat.
“Ayo katakan! Mengapa melihat Mas seperti itu?” tanya Kevin lagi
Entah mengapa saat ini, Kevin lebih suka memanggil dirinya dengan sebutan Mas kepada Ayesha dibanding dengan sebutan aku. Panggilan Mas untuk dirinya sendiri membuat ia merasa bahwa Ayesha bukan hanya wanita yang ia cintai, tapi juga seperti adik yang selalu akan ia jaga, ia sayangi dan ia bimbing.
Ayesha masih tertawa, karena selain dipeluk, Kevin pun menggelitiki pinggangnya.
“Mas, stop! Geli.”
“Mas, akan stop kalau kamu katakan kenapa kamu suka natap Mas seperti itu.”
Ayesha masih menggeleng. Ia tak mungkin mengatakan kalau dirinya mengagumi dada bidang itu. Ia tak mungkin mengatakan kalau air liurnya selalu ingin menetes jika melihat tubuh atletis itu. Bisa dibayangkan bagaimana jumawanya Kevin, jika Ayesha mengatakan hal itu.
“Mas, udah. Geli!” Ayesha terus meronta meminta dilepaskan sembari tertawa.
Kevin ikut tertawa. “Baiklah, Mas lepaskan tapi cium dulu.”
“Ih, ngga.”
“Cium.” Kevin sudah menyodorkan bibirnya dan Ayesha pun tertawa.
“Pilih mana? Mengatakan alasan yang tadi atau mencium Mas?”
Kevin sudah menghentikan aksinya. Namun, dada Ayesha masih tersengal karena candaan tadi.
“Baiklah, mending cium Mas aja,” jawab Ayesha yang membuat Kevin tersenyum lebar.
Ayesha memajukan wajahnya dan mengecup bibir itu sekilas.
“Gitu doang? Itu namanya bukan cium tapi cuma nempel.”
“Itu udah cium, Mas.” Ayesha merengek. “Udah sana, mandi.” Ia pun mendorong dada bidang itu, karena jika dibiarkan seperti ini, tidak menutup kemungkinan ia pun akan khilaf.
Kevin langsung melahap bibir ranum istrinya. Dan, seperti biasa, ciuman Kevin tidak akan sebentar. Ia mengeskplore bagian itu hingga puas dan hingga Ayesha mulai kehabisan nafas.
Ayesha membalas ciuman itu. Jujur, ia pun menyukai ketika Kevin mengeksplore bibir dan lidahnya. Semakin lama, ciuman Kevin semakin menuntut dan tangannya pun mulai bergerilya ke bagian-bagian sensitif istrinya.
“Eum ...” Ayesha melenguh saat tangan Kevin meremas dadanya. Lalu, ia kembali melenguh saat jari itu mulai menelusup ke bawah.
“Mmpphh ...”
Kevin pun melepas ciuman itu.
“Sebenarnya aku ingin,” katanya dengan suara berat yang bergairah.
“Tapi aku mau berangkat pagi, Mas.”
Kevin pun tersenyum dan mengusap wajah Ayesha. Lalu, ia mencium kening itu dan menempelkan keningnya pada kening Ayesha.
“Ya, aku mengerti. Kita lanjutkan nanti malam saja.”
Kedua nafas itu saling beradu. Sebenarnya keduanya pun sudah sangat bergairah. Namun, mereka menunda aktivitas ranjang pagi mereka karena pekerjaan Ayesha. Dan, Kevin pun sangat mengerti itu.
****
Ayesha dan tim di divisinya briefing tiga puluh menit. Setelah membicarakan banyak hal, mereka pun kembali ke ruangan masing-masing, kecuali Henry dan Ayesha.
“Ay, kita persentasi jam berapa?” tanya Henry, ketika mereka sedang briefing dengan timnya.
“Setelah makan siang, Pak. Sekitar pukul satu.”
Henry mengangguk.
“Semua sudah siapkan?” tanya Henry lagi.
Ayesha mengangguk. “Sudah.”
“Maaf, nanti aku tidak bisa bantu kamu banyak, karena aku hanya tahu program ini sekilas dari Om Edward. Kata Om Edward, program ini juga yang usul terbanyak itu dari kamu, jadi kamu yang tahu persisnya.”
Ayesha mengangguk. “Ya, aku cuma mengimplementasikan sistem dari yang pernah kita dapet di perusahaan xxx waktu di Ausy. Kebetulan aku cukup lama magang di sana.”
Henry pun mengangguk dan menatap Ayesha dengan menopang dagunya. Ia melihat temannya itu memang banyak sekali perubahan. Awal melhat Ayesha sejujurnya ia takut salah, karena Ayesha memang jauh berubah dari terakhir kali mereka berinteraksi.
“Ay, boleh aku tanya sesuatu?” tanya Henry lagi.
“Boleh, apa?”
“Kamu jauh berbeda. Kamu kurusan. Jangan bilang perubahan ini terjadi karena patah hati?”
Ayesha tertawa. “Maksudmu, aku seperti ini karena dikhianati Tian?”
Henry mengangguk dan tersenyum. “Sorry, bukan maksud aku membuka kenangan buruk itu.”
Ayesha masih tertawa. tawa yang membuat Henry pun ikut tertawa. Pria itu mengakui bahwa Ayesha sangat cantik sekarang. Walau sebelumnya, ia tahu bahwa Ayesha memang cantik hanya saja tertutupi dengan postur tubuhnya yang XL.
“Ck, Tian pasti menyesal karena telah mencampakkanmu,” ujar Henry lagi.
“Eit, bukan dia yang campakin aku. Aku yang campakin dia. Secara, yang minta putus dan ninggalin dia itu aku,” protes Ayesha yang tak terima seolah dirinya adalah wanita nelangsa.
“Ya ... Ya ... Ya ...” jawab Henry tertawa.
“Lagian, sekarang aku sama sekali ga ingat dia lagi, Hen. Sumpah!” kata Ayesha dengan mengangkat kedua jarinya ke atas.
“Karena udah ada yang baru?” tanya Henry menyelidik.
Sungguh, ia senang jika temannya ini pun akhirnya bahagia. Sewaktu di kampus, Henry benar-benar prihatin melihat Ayesha yang selalu mendapat bully-an. Ditambah Tian yang tidak pernah membelanya saat ia di bully.
Ayesha mengangguk.
Sontak, Henry pun menganga. “Serius? Kamu udah punya pacar baru?”
“Lebih dari itu,” jawab Ayesha dengan menaikturunkan alisnya.
Sontak, Hnery kembali tertawa dan menggelengkan kepala. “Kamu memang sudah jauh berubah, Ay. Tidak seperti Ayesha di kampus dulu.”
“Aku lelah menjadi orang yang tertindas, Hen.”
Entah saat ini, ia masih menjadi orang yang tertindas atau tidak, karena sepetinya menjadi istri Kevin tidak merubah predikat itu.
Henry pun menatap Ayesha dengan kagum, tapi hanya sebatas itu.