
Kevin dan Ayesha tiba di rumah sakit. Mereka melangkahkn kaki menuju ruangan yang diberitahu Sean.
“Sayang, kamu sebentar aja di sini ya. Mas udah minta supir Papa untuk jemput kamu dan kamu pulang ke rumah Mama supaya ga sendirian,” kata Kevin di sela-sela langkah mereka.
Ayesha tersenyum dan menganggu. Memang beberapa hari terakhir ini, Ayesha tampak manja dan tak ingin ditinggalkan Kevin walau hanya sebentar.
“Sean,” panggil Kevin saat mendapati sahabatnya berdiri di depan pintu ruang rumah sakit. Sedangkan di kursi tunggu ada Kayla yang sedang menangis dipelukan ibunya.
“Kev.” Sean ikut memanggil Kevin saat mendapati sosok itu dari kejauhan.
Kevin dan Ayesha pun menghampiri. Ayesha memeluk Kayla dan mencium punggung tangan Kiara. Sementara Kevin langsung berbincang serius dengan sahabatnya. Sean menceritakan kronologis kejadian itu dan ia pun sudah melaporkan kejadian ini ke polisi.
“Sekarang Om Gun mana?” tanya Kevin.
“Di dalam,” jawab Sean yang kemudian berkata lagi, “Aldy kehabisan darah. Untungnya golongan darah Om Gun dan Aldy sama-sama A dan resusnya sama, jadi Om Gun bisa mentransfusi darahnya buat Aldy.”
“Oh, syukurlah.” Kevin dapat bernafas lega. Sejak tadi pikirannya kacau, takut sahabatnya tidak tertolong.
Ia menghampiri Kayla yang tak berhenti menangis. Sebelumnya Kevin pun bersalama pada tantenya dan mencium punggung tangan Kiara.
“Kay, sabar ya!” ujar Kevin sembari mengelus punggung sepupunya itu.
“Selama ini Papa meragukan Aldy dan sekarang justru dia yang nyelametin Papa, Kev.” Kini Kayla berada di pelukan Kevin.
“Mungkin ini jalan Aldy buat dapet restu Om Gun,” jawab kevin menenangkan.
“Tapi ga harus mengorbankan diri kan?”
“Terkadang demi cinta, kita memang harus berkorban, Kay.”
Kayla semakin menangis kencang mendengar perkataan sepupunya.
“Gue tau dia cinta banget sama lu. Dan, ini yang akan menjadi pondasi buat rumah tangga kalian nanti,” kata Kevin lagi.
Kayla semakin mengeratkan pelukan sepupunya. “Tapi Aldy ga akan kenapa-napa kan?”
“Enggak Kay. Aldy tuh kuat,” celetuk Sean.
Kevin menganguk. “Ya, dia akan baik-baik saja.”
Ceklek
Pintu ruang gawat darurat itu pun terbuka. Kevin langsung melonggarakan pelukannya dan menghampiri pria berjas putih itu bersamaan dengan Sean.
“Bagaimana, Dok?”
“Semua berjalan lancar. Pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Masa kritisnya pun terlewati karena langsung ada transfusi darah yang cocok.”
“Alhamdulillah,” seru Kevin, Sean, Ayesha, Kayla, dan Kiara.
“Untung saja benda tajam itu tidak melukai organ vital di dalamnya. Jadi, semua aman,” kata pria berjas putih itu lagi menjelaskan.
Kevin mengangguk. “Terima kasih, Dok.”
Pria berjas putih itu pun mengangguk. “Pendonor juga berada di ruang perawatan sebelah pasien.”
Setelah mendengar penjelasan dari dokter. Kevin, Sean, Kayla, Ayesha, dan Kiara segera menuju ruang perawatan. Kiara langsung menemui suaminya di sana yang juga sedang terbaring lemah, setelah mengeluarkan darah yang cukup banyak untuk Aldy.
“Mas,” panggil Kiara berlari menghampiri suaminya yang duduk di atas temapt tidurrumah sakit sembari menyandarkan tubuhnya di dinding tempat tidur itu.
“Sayang,” panggil Gun saat melihat istrinya.
“Masih lemas?” tanya Kiara sembari mengelus rambut sang suami.
Tangan Gun pun melingakr di pinggang sang istri dan menggeleng. “Tidak. Papa tidak apa. Justru Papa mengkhawatirkan Kayla. Bagaimana dia? Anak itu pasti marah denganku.”
“Kamu ayah yang baik, Mas. Kayla pasti mengerti.” Kiara masih mengusap kepala suaminya lembut.
Ya, Gunawan memang memenuhi janjinya untuk menjadi suami dan ayah yang baik untuk Kiara dan kedua putri mereka. Dia yang dulunya cassanova dan cukup buruk memperlakukan sang istri, berubah seratus delapan puluh derajat saat mempunyai putri. Dan, hingga putri mereka tumbuh dewasa, Gun tidak pernah melanggar janji ikatan suci itu.
Di ruangan Aldy, Kevin dan Sean menunggu hingga sahabatnya sadar. Sementara Ayesha, sudah djemput oleh supir Kenan dan membawa ke rumah mertuanya.
“Haus,” ujar Aldy yang terbangun.
Sean dan Kevin pun ikut terbangun mendengar suara itu.
“Lu udah sadar, Bro.” Sean menghampiri Aldy. Begitu pun dengan Kevin.
Sean langsung mengambil minum untuk sahabatnya.
“Aksi lu, heroik banget Al. sampe masuk televisi,” ledek Kevin yang duduk di samping tempat Aldy berbaring.
Sean membantu Aldy untuk minum dan ALdy pun mengangkat kepalanya agar lebih tinggi, lalu Kevin menunpukkan banyak bantal di sana.
“Sepertinya, setelah ini akan ada yang nyebar undangan.” Sean pun meledek sahabatnya yang tengah menyeruput air putih.
Aldy tersenyum. “Padahal tadinya gue pengen bikin skenario seperti ini untuk mengambil hati Om Gun. Eh ternyata, malah kejadian beneran.”
“Sumpah lu?” tanya Kevin tak percaya dengan otak licik sahabatnya demi mendapatkan Kayla.
“Dasar orang gila,” kata Sean mentoyor kepala Aldy.
Kevin menggelengkan kepala sembari tertawa. Begitu pun Sean. Sedangkan Aldy hanya tersenyum lebar karena jahitan diperutnya yang cukup dalam, membuat ia tak bisa tertawa seperti kedua sahabatnya.
“Sepertinya, gue orang terakhir yang menjadi penutup masa lajang kita,” ujar Sean pada Kevin dan Aldy yang mungkin tinggal menghitung hari untuk berganti status menjadi suami.
“Tenang, Sean. Bulan depan Kinara balik,” sahut Aldy.
Sontak Sean pun terdiam. Pasalnya ia baru saja meminta Nindi untuk menjadi kekasihnya di depan orang tua dan nenek kakeknya nanti. Walau pun hanya kekasih palsu, tapi tak menutup kemungkinan bahwa dirinya melakukan itu karena memang menyukai Nindi dan terpesona pada kepribadian wanita itu yang cuek, mandiri, dan ternyata cantik juga memiliki body aduhai.
Namun, mendengar nama Kinara, Sean pun tak bisa melupakan wanita itu begitu saja. Bertahun-tahun Sean mengejar Kinara. Walau sering ditolak, tapi kesahajaan dan sikap dermawan yang Kinara miliki, membuat Sean mengagumi adik dari Kayla itu, anak bungsu Gunawan dan Kiara.