
Sean mengendarai mobil sport mewah berwarna hitam milik bosnya. Mereka bergerak cepat menuju bandara. Kebetulan siang ini jalan tampak lengang.
“Sean lebih cepat!” ujar Kevin yang tidak sabar dan ingin segera sampai ditujuan.
“Ini udah cepat, Kev.”
“Kurang cepat,” ujar Kevin lagi.
“Gue pengen kita sampe bandara ya, bukan rumah sakit,” sahut Sean.
“Ck.” Kevin berdecak kesal dan hanya bisa menuruti Sean sebagai pengemudi.
Di bandara, Ayesha melangkahkan kaki menuju ruang pemeriksaan barang. Sebelumnya ia membeli camilan donat dan milk shake strawbery untuk menemani saat menunggu di ruang tunggu maskapai pesawat yang akan ia tumpangi.
Setelah melewati boarding pass, Ayesha mengantri untuk pemeriksaan paspor.
“Sean, Ayesha udah ada di dalam,” kata Kevin panik saat melihat ponsel yang terhubung pada GPS istrinya.
Kevin baru menyadap GPS Ayesha ketika di dalam mobil menuju bandara.
“Tenang, Kev. Gue nego sama petugasnya,” jawab Sean menenangkan.
Kevin mendial nomor ponsel Ayesha yang tk kunjung diangkat.
“Sayang, angkat telepon Mas. Please, jangan seperti ini! Mas ga ingin kamu pergi.”
Kevin mengetik pesan itu dan mengirimkannya pada Ayesha.
Di dalam sana, Ayesha sedang berjalan mencari ruang yang tertera pada tiket yang ia pegang untuk menunggu pesawat yang akan membawanya ke tempat tinggal keluarganya.
“Kev, Ayesha ada di Gate 2 dengan penerbangan pukul 13.45. Sana ke dalam gue pesenin lu tiket di sebelah Ayesha.”
Kevin melihat arloji di tangan kanannya. Masih ada waktu satu jam untuk penerbangan yang dipilih istrinya. Ia juga tidak bisa menjalankan jet pribadinya secara langsung, mengingat untuk mengoperasikan jet pribadi butuh waktu dan perizinan beberapa hari.
Kevin diberikan izin khusus untuk memasuki wilayah yang sebenarnya tidak bisa dimasuki oleh orang yang belum memiliki tiket. Untungnya, kemana pun ia pergi ia selalu membawa dompet yang lengkap dengan paspor dan surat-surat penting. Sementara di sana, Sean mengurus tiket dadakan bosnya.
“Sean, untuk jadwal besok bagaimana?” tanya Kevin yang memang sudah ada beberapa pertemuan dengan klien yang sudah terjadwal.
“Tenang, ada gue sam Kayla. Kami bisa diandalkan.”
Kevin tersenyum. Ya, kedua orang kepercayaannya itu memang sangat bisa diandalkan.
Usai Sean membereskan tiket keberangkatan Kevin yang sama seperti tiket yang Ayesha pesan, Sean mengantarkan Kevin menuju ruang Ayesha menunggu.
“Sean, tadi gue ninggalin laptop dan surat-surat penting di ruangan. Tolong dibereskan.”
Sean mengangguk. “Oke.”
Mereka berjalan beriringan dengan langkah cepat, mengingat kedua kaki pria –pria itu tampak panjang dan tinggi.
“Ini gate dua.” Sean menunjuk ke arah ruang yang di dalamnya ada Ayesha tengah duduk menunggu pesawat yang akan ia tumpangi datang.
“Thank you, Sean.” Kevin memeluk sahabat sekaligus asisten yang sangat ia andalkan itu.
Sean menepuk bahu sahabat sekaligus bosnya itu. “Sama-sama, Kev. Gue bahagia melihat lu bahagia.”
Kevin melonggarkan pelukan itu dan tersenyum. “Gue juga bakal bantuin lu buat nemuin kebahagiaan lu, Sean.”
“Halah, bohong. Mana? Buktinya sampe sekarang lu ga pernah bantuin deketin gue sama Kinara,” ujar Sean tertawa.
Kevin pun menyungging senyum. “Itu beda, Sean. Lu tahu, Kinara itu sukanya sama Vinza. Gue ga bisa memaksakan kehendak.”
Sean kembali tertawa. Ia memang tahu bahwa Kinara dekat dengan Vinza sejak kecil, karena mereka memang angkatan yang lahir sembilan bulan setelah melakukan perjalanan gathering perusahaan Adhitama ke negara Asia menggunakan kapal pesiar. Sejak kecil, Kinara, Vinza, dan Keanu memang selalu bersama hingga remaja dan dewasa. Namun, Kinara terpisah oleh Vinza yang menetap di Australia.
“Tapi abangnya Ayesha ga pernah ngutarain cintanya ke Kinara,” ucap Sean yang merasa fine saja jika ia mengutarakan perasaannya lebih dulu.
“Karena Vinza itu mirip gue,” jawab Kevin tersenyum.
“Ya ... Ya .. Ya ...” Sean menyerah.
Tak lama kemudian, terdengar pengeras suara yang mengumumkan bahwa pesawat penerbangan menuju Melbourne sudah tiba. Semua penumpang yang memiliki tiket dengan rute peenrbangan itu pun diharapkan untuk bersiap.
“Udah sana! Pesawatnya udah dateng noh,” kata Sean lagi.
Kevin mengangguk dan segera berjalan ke dalam gate dua. Lalu, ia menoleh lagi ke belakang.
“Telepon gue kalo ada trouble,” ujarnya sembari membentuk jarinya seeprti telepon dan menempelkan di telinga.
Sean pun tersenyum dan mengangguk. “Siap Bos,” teriaknya.
Di dalam sana, penumpang yang akan menggunakan pesawat itu pun segera berdiri dan masuk menuju kabin dengan tertib, sesuai urutan nomor kursi yang tertera di tiket itu, termasuk Ayesha.
Ayesha ikut berdiri sembari menarik kopernya. Ia melangkahkan kakinya untuk maju perlahan mengikuti orang yang berdiri di depannya.
Tiba-tiba koper yang ia pegang pun terasa ringan. Ayesha menoleh ke gagang koper itu dan ternyata tangan seseorang ikut menarik dan menyentuh tangannya.
Sontak, Ayesha mengangkat kepalanya untuk melihat siapa pemilik tangan itu. “Kamu?”
Kevin tanpa ekspresi dan tanpa melihat ke arah Ayesha hanya berjalan mengikuti langkah kaki orang yang ada di depannya.
“Kamu ngapain?” tanya Ayesha yang menghentikan langkahnya.
“Jalan, Sayang! Langkah dibelakangmu akan terhenti gara-gara kita.”
Ayesha cemberut. “Kamu ngapain ke sini? Aku ga mau diantar!”
Ayesha kesal dan menghentikan langkahnya. Ia memiringkan tubunya ke tepi agar yang dibelakangnya tetap berjalan.
“Mas, udah deh. Aku capek. Bisa ga, Mas tinggalin aku sendiri. Aku mau sendirian,” kata Ayesha kesal, karena suaminya selalu bertindak semaunya.
Kevin menggeleng. “Ngga. Mas ga akan tinggalin kamu.”
“Mas kenapa sih? Mas tuh selalu aja seenaknya. Tiba-tiba sayang, tiba-tiba diam. Tiba-tiba perhatian, tiba-tiba mendiamkan,” teriak Ayesha hingga orang yang hilir mudik memasuki kabin pun menoleh ke arah mereka.
Ayesha dengan cepat merebut koper itu dan segera memasuki kabin.
Kevin menggaruk tengkuknya yang tak gatal saat para pramugari di depan pintu tertsenyum padanya. Mereka melihat pertengkaran itu. Ayesha memarahi Kevin di depan umum dan Kevin tak bisa menjawab. Ia justru memasang wajah bersalah apda istrinya itu, karena Kevin melihat genangan air dipelupuk mata istrinya.
Ayesha duduk di kursi yang tertera pada tiket. Kopernya, dibantu diletakkan di atas tempat duduk oleh pramugara yang ada di sana.
Tak lama kemudian, Kevin pun ikut duduk di samping Ayesha.
“Ngapain kamu duduk di sini?” tanya Ayesha ketus.
“Karena tiket mas nomornya sebelah dengan nomor kursimu.”
Ayesha meluruskan posisi duduknya dan berkata, “Memang apa pun bisa kamu lakukan. Jadi aku tidak boleh heran.”
“Hei, tatap mata Mas.” Kevin menarik dagu Ayesha untuk melihat ke wajahnya.
Namun, Ayesha menolak dan memalingkan wajahnya ke arah jendela.
“Sayang, lihat Mas!” Kevin tetap memutar kepala Ayesha untuk melihat wajahnya.
“Apa?” tanya Ayesha yang sudah berlinang air mata.
Kevin langsung memeluk kepala itu. “Maaf, Sayang. Maaf. Please jangan menangis, nanti Mas ikut nangis.”
“Bohong,” jawab Ayesha yang ingin tersenyum membayangkan Kevin menangis.
“Beneran. Kalau kamu menangis nanti Mas juga ikut menangis. Mas ga mau lihat air mata jatuh di pipimu.”
Ayesha melepaskan pelukan itu dan memukul dada Kevin. “Gombal.”
Pramugari yang lewat ikut tersenyum melihat interaksi Kevin dan Ayesha.
“Tuh, mbak nya tertawa gara-gara kamu nangis,” ucap Kevin pada Ayesha sembari melihat ke arah pramugari itu.
“Apaan sih, Mas? Ngga lucu.” Ayesha kembali memukul dada suaminya.
Kevin memeluk lagi kepala itu dan berbisik. “Mas cinta kamu Ayesha. Mas ga bisa jauh dari kamu.”
Ayesha melepaskan pelukan itu dengan paksa. “Bohong.”
“Ya ampun, Ndut. Menyatakan cinta itu sulit, terus kamu bilang Mas bohong? Sungguh terlalu.”
Tiba-tiba Kevin berdiri menghadap ke belakang karena Kevin dan Ayesha duduk di kursi paling depan.
“Attention Please! I love my wife, but she doesn't believe it.”
“Huuu ....” sorak para penumpang itu.
“Mas duduk!” pinta Ayesha sembari menarik jas ujung jas suaminya. “Mas jangan malu-maluin deh!” pinta Ayesha lagi.
Namun, Kevin tetap berdiri. “Mas harus melakukan ini supaya kamu percaya.”
Kevin hendak kembali berkata pada dihadapan para penumpang itu.
“Udah, Mas. Iya .. iya ... aku percaya.”
Kevin tersenyum dan kembali duduk. Ia kembali menatap Ayesah dan mengusap pipinya yang basah.
"Mas cinta banget sama kamu, Sayang. Mas cemburu karena kamu ga cerita kalau Tian mantan kekasihmu. Aku harus cari tahu sendiri tentang itu. Itu menyakitkan, Sayang." ucap Kevin lirih. Matanya pun ikut menggenang.
Kevin mengambil tangan Ayesha dan mengecupnya berkali-kali. "Lain kali cerita apa pun pada Mas."
"Sebelumnya, aku sudah pernah bilang ke Mas kalau aku pernah pacaran. Tapi Mas kan ga percaya," sanggah Ayesha.
Kevin menatap lekat mata istrinya dan tersenyum. "Maaf, tapi mulai saat ini kamu harus cerita sama Mas apa pun itu. Oke?"
Ayesha mengangguk.
Kevin menempelkan keningnya pada kening sang istri.
Beberapa menit kemudian, pesawat segera take off. Di depan para penumpang, pramugari memberikan aba-aba keselamatan. Dan, tak lama kemudian, pesawat itu pun bergerak.
Kevin duduk dan tetap memeluk istrinya di tengah pesawat yang semakin lama semakin naik ke atas hingga berada di atas dengan sempurna.
Suasana di dalam pesawat pun hening. Kevin dan Ayesha masih dengan posisinya semula.
"Kamu sudah mengambil hati Mas sejak dulu, Sayang. Cuma Mas takut kamu tidak merasakan apa yang Mas rasakan," lirih Kevin tepat di atas telinga Ayesha yang kepalanya sedang berada di dadanya.
Ayesha melingkarkan tangannya di pinggang Kevin dan memeluk pria bertubuh tegap itu.
"Tian hanya masa lalu, Mas. Dan, kamu masa lalu yang menjadi masa depanku," kata Ayesha lembut.
Bibir Kevin tersenyum lebar. Ia mengecup kepala Ayesha beberapa kali. Ia tak peduli akan kata cinta yang belum Ayesha ucapkan, karena ia tahu bahwa Ayesha pun mencintainya. Ia bisa merasakan itu.