
"Mau ngapain? Ketahuan Kak Rey bisa di amuk 7 hari 7 malam kita," ujar Devina
"Cuma kenalan kok, nggak aneh-aneh!" jawab Evelyn
"Janji nggak aneh-aneh?" tanya Devina
"Janji!" jawab Evelyn
"Bentar aku mau tanya nomornya dulu," ujar Devina
"Ke siapa?" tanya Evelyn
"Tukang siomay," jawab Devina
"Loh bukannya dia itu karyawan perusahaan Kak Rey yah? Kenapa nggak tanya ke sekretaris Kak Rey aja?" tanya Evelyn
"Velyn... Udah gede kok nggak berubah sih?" tanya Devina
"Kenapa? Masih tetep cantik kan?" tanya Evelyn dengan percaya diri
"B*go nya sampe ke akar-akar," jawab Devina sambil tersenyum
"Sialan!" kesal Evelyn
Devina mengambil ponselnya dan menelfon seseorang.
"Halo sayangku, kenapa beb? Kangen yah?"
"Enak aja! Kak aku minta nomornya pacar Kak Rey dong,"
"Mau kamu apain? Jangan macem-macem, ntar Rey marah loh!"
"Kalo kamu kasih, aku ajak kakak jalan deh,"
"Oke, bentar aku kirim!"
Triingg...
Sebuah pesan masuk ke ponsel Devina.
"Oke makasih,"
"Kapan jalan?"
"Sekarang di Dream caffe, mall biasanya,"
"Oke tunggu bentar!"
"Gimana? Ada?" tanya Evelyn
"Ada dong," jawab Devina
Devina
Hai kak...
Sarah
Siapa?
Devina
Aku Dev, adiknya kak Rey
Sarah
Ok Dev, ada apa?
Devina
Bisa ketemu nggak?
Sarah
Kenapa? Ada yang penting ya?
Devina
Nggak sih, cuma pengen kenalan aja. Nunggu Kak Rey kenalin ke aku kelamaan
Sarah
Oh gitu
Devina
Jadi bisa nggak kak?
Sarah
Kapan?
Devina
Sekarang
Sarah
Di mana?
Devina
Dream caffe, meja nomor 7. Mall X
Sarah
Ok tunggu ya!
Devina
Siap kak
Awalnya Sarah sedikit enggan menemui keluarga Reyhan, namun kata-kata Reyhan dan kontrak antara dia dan Reyhan mengikatnya.
"Jangan sampai ada yang tau kalau kita sekedar pacar bohongan!"
Pesan Reyhan itu selalu terngiang di telinga Sarah. Dengan berat hati ia memaksakan diri untuk menemui Devina, dan berharap jika keluarga Reyhan tak akan ada yang menyulitkannya.
///***///
Dream Caffe
"Lama bener sih mereka!" kesal Evelyn
"Sabar napa," jawab Devina
"Di Prancis, semua orang yang menungguku bukan aku yang menunggu mereka. Untung ada pria manis ini yang ikut menemani, jadi aku tidak terlalu bosan," ucap Evelyn ceplas-ceplos
"Eh jangan suka godain cowok napa! Berubah lah sayang, sebelum azab menemuimu!" ledek Devina
"Enak aja! Azab kalo nyari aku mungkin salah alamat, aku aja sering pindah-pindah negara hahahaha," gurau Evelyn
"Hahahaha...." tawa Devina
Wildan sedikit gugup saat dikatai pria manis oleh Evelyn. Apalagi seorang Wildan adalah pria yang anti wanita, ia hanya mau dekat dengan wanita tertentu.
"Apaan sih datang-datang beba bebi," kesal Devina
"Ini tukang siomay yang kamu maksud tadi?" tanya Evelyn
"Hah?" kaget Adit
"Kok aku baru tau, kalo tukang siomay di Indonesia itu modis-modis gini," jawab Evelyn
"Enak aja main katain tukang siomay, gue Adit! Sahabat sekaligus calon adik ipar Reyhan," kesal Adit
"Ini pacar kamu kakak kecil?" tanya Evelyn
"Enak aja, aku nggak punya pacar tau!" kesal Devina
"Masih berusaha," jawab Adit
"Hai kak Adit," sapa Wildan
"Eh kamu di sini, ngapain? Jadi cowok jangan serakah, nggak baik makan bareng 2 cewek cantik gini. Nggak bagus buat kesehatan," gurau Adit sambil duduk di samping Wildan
"Hah? Apa hubungannya kak?" bingung Wildan
"Mata kamu nanti terlalu bersih setelah keseringan cuci mata hahahaha," gurau Adit
"Kak Adit bisa aja," jawab Wildan
"Oh iya ini siapa? Kok baru ketemu," bingung Adit
"Ini Velyn, dia ini putri pertama Om Joo sama Tante Zalfa," jelas Devina
"Kok aku baru ketemu? Selama ini kemana aja? Jelajah neraka ya? Hahahahaha," gurau Adit
"Enak aja, kakak kecil... Boleh aku gantung dia di pohon sirih?" tanya Evelyn kesal
"Emang bisa?" tanya Devina
"Kenapa nggak? Sirih kan pohonnya besar," jawab Evelyn percaya diri
"Loh, Sirih itu tanaman merambat Vel..." bingung Devina
"Bwahahahahahahaha.... Cantik-cantik b*go," tawa Adit
"Kau..." kesal Evelyn
"Devina?" tanya Sarah yang baru datang
"Iya kak, silahkan duduk," sapa Devina
"Adit?" kaget Sarah
"Kak Sarah?"
"Wildan?"
"NGAPAIN DI SINI?"
"Kalian saling kenal?" tanya Devina
"Dia kakakku," jawab Wildan
"Dia ini adikku," jawab Sarah
"Kok jadi muter-muter gini sih, bingung akunya!" bingung Evelyn
"IQ nya aja nggak nyampe hahahaha...." ledek Adit
"Ha ha... Kayaknya lucu banget ya, sini mulutnya aku lebarin biar bisa ketawa lebih leluasa," ancam Evelyn sambil memegang pisau roti di depannya
"Hehehe nggak usah makasih, aku ini hamba yang baik. Jadi selalu mensyukuri pemberian Tuhan kok, gak usah di rubah-rubah," jawab Adit
"Ini apa sih kok berantem sendiri! Kak duduk," sapa Devina
"Iya," jawab Sarah sambil duduk
"Cantik ya orangnya," ujar Evelyn
"Makasih, kamu juga cantik kok," ucap Sarah sambil tersenyum
"Iya, makanya aku jadi model populer," ucap Evelyn dengan mengibaskan rambutnya
"Mohon di jaga kepalanya, nanti rambutnya rontok semua!" jawab Devina
"Enak aja, shampoo aku aja mahal tau!" kesal Evelyn
"Udah, kakak... Ini aku Devina, panggil aja Dev. Ini Evelyn, ini Kak Adit, dan yang ini udah kenal kan," ucap Devina memperkenalkan satu persatu
"Iya, jadi ada apa Dev ajak aku ke sini?" tanya Sarah
"Nggak papa, cuma pengen ketemu aja biar lebih deket. Kakak udah sejak kapan pacaran sama Kak Rey?" tanya Devina
"Sejak 6 bulan yang lalu lah kurang lebih," jawab Sarah
"Langgeng ya, trus gimana? Kak Rey masih cuek nggak ke kakak? Dia mah sama keluarga itu asik sih, tapi kalo yang lain biasanya sedingin es," jawab Devina
"Dia baik, hanya saja sedikit menyebalkan!" jawab Sarah
"Ya aku setuju! Kak Rey emang nyebelin banget orangnya," kesal Evelyn
"Kak Rey emang gitu, tapi Kak Rey itu unik," jawab Devina
"Unik?" bingung Sarah
"Iya, dia memiliki cara yang berbeda dari yang lain untuk menyelesaikan kan masalahnya," jelas Devina
"Iya sih, tapi kadang-kadang juga sulit orangnya buat nerima keinginan orang lain," jawab Sarah
"Apa lagi kalo yang bertentangan dengan dia kan?" tanya Devina
"Iya, dia emang nyebelin, ngeselin, semaunya sendiri, untung ganteng. Kalo nggak udah ck ck ck ck..." ujar Evelyn
"Iya, aku paling nggak suka kalo Kak Rey udah jahil atau nggak mau di ajak ngobrol,"
"Kak Rey bisa jahil?"
"Iya, kalo udah kumat jahilnya... Duh bisa bikin sakit kepala,"
"Emang sih, bahkan kadang-kadang sikapnya juga kayak anak kecil,"
"Aku setuju!"
Adit dan Wildan hanya mendengarkan tanpa paham apa yang mereka bertiga bicarakan.
"Kenapa aku merasa terbuang ya Dan?" tanya Adit
"Iya kak, merasa jadi tembok mendadak," jawab Wildan
"Ini kah yang namanya Kru Ghibah?" tanya Adit
"Entahlah, aku masih mencoba memahami!" jawab Wildan
Wildan susah payah mencerna semuanya, tentang kakaknya yang punya pacar, sudah pacaran selama 6 bulan, Evelyn yang menganggapnya pria manis dan lainnya.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏