My Sexy Wife

My Sexy Wife
Berkorban



Laras kembali mengangkat salah satu kakinya untuk menginjak tangan Sarah. Dan hampir saja kakinya mengenai tangan Sarah, Wildan terlebih dulu datang dan mendorong Laras hingga ia terjatuh.


Buuagg...


"Jangan sakiti kakakku!" bentak Wildan


"Wildan?" kaget Laras


Wildan mengerahkan seluruh tenaganya dan menarik Sarah ke atas. Akhirnya mereka berhasil, Laras tak tinggal diam. Laras bangun dan hendak menikam Sarah ataupun Wildan.


Duaak...


Adit lebih dulu sampai dan menendang tangan Laras hingga pisau itu terjatuh di tanah. Sedangkan Laras masih menahan sakit di tangannya.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Adit


"Ya, kami baik-baik saja," jawab Wildan


.


.


.


.


Prima masih terduduk dengan badan yang sudah bersimbah darah. Sedangkan Devina dengan susah payah merangkak mendekati Prima. Katlyn yang semakin panik bersiap untuk melarikan diri.


.


.


.


.


Duel sengit masih terjadi antara Dio dan Reyhan. Meski Dio sudah terluka parah, tak ada kata menyerah yang keluar dari mulutnya hingga...


"BERHENTI!!!"


Semua mata tertuju pada seorang gadis muda yang baru saja datang dan berteriak.


"Julia?" kaget Katlyn


"Julia..." ujar Dio


"Mama... Dio... Hentikan ini semua! Aku masih hidup, maaf aku terlambat. Aku baru saja bisa mengingat semuanya!" teriak Julia


"Kau masih hidup?" tanya Dio dengan mata berkaca-kaca


Reyhan segera menarik Sarah ke tempat yang lebih aman, Adit sesegera mungkin menyelamatkan Prima dan Wildan menyelamatkan Devina.


"Aku mohon hentikan semua ini! Kenapa kalian menjadikan semua orang sebagai tersangka kecelakaan ku?" tanya Julia


"Ini bukan mimpi kan?" tanya Dio tak percaya


"Menyerah lah! Polisi sedang perjalanan kemari!" ancam Adit


"Apa?" kaget Laras


Laras dengan sigap menarik badan kecil Julia, ia menjadikan Julia sebagai sandera agar bisa bebas.


"Julia!" teriak Dio


"Julia!" teriak Katlyn


"Laras lepaskan dia! Dia bukan bagian dari rencana!" pinta Dio


"Apakah j*lang ini yang membuat mu tidak bisa menerima aku di hatimu? Maka hari ini aku harus membuatnya benar-benar mati dari hatimu juga!" ancam Laras


"Laras lepaskan Julia! Jangan khianati kami!" bentak Katlyn


"Jangan harap!" bentak Laras


"Laras lepaskan dia!" bentak Dio


Dio mendorong Laras, Laras terjatuh namun Julia kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh ke jurang.


"JULIA!"


Dio akhirnya memilih untuk menyusul Julia, ia ikut melompat dan menangkap Julia. Mereka jatuh dengan posisi berpelukan.


"Ketahuilah Julia.. Bahwa aku mencintaimu selamanya..." bisik Dio di telinga Julia


"JULIA! Jangan tinggalkan mama nak!" teriak Katlyn


"Angkat tangan, kalian sudah di kepung!"


Laras dan Katlyn sekarang tak bisa berkutik lagi. Polisi sudah mengepung dari berbagai penjuru. Devan langsung berlari melihat keadaan Prima.


Devan langsung berlari menuju Prima. Ia langsung melihat luka Prima yang masih mengeluarkan darah.


"Prima... Bertahanlah... Jangan sampai kau kehilangan kesadaran! Kita akan ke rumah sakit," ujar Devan


"Ohh... Aku mencintaimu mas.." ucap Prima


Prima pun menutup matanya dan kehilangan kesadaran sekarang. Devan semakin panik, ia membopong tubuh Prima dan berlari keluar mencari ambulans. Devan langsung membawa Prima menuju rumah sakit.


"Sarah... Kau baik-baik saja?" tanya Reyhan


"Hmm..." jawab Sarah


Katlyn dan Laras pun sudah di ringkus polisi, sedangkan petugas lain masih mencari keberadaan Julia dan Dio.


"Dev... Dev... Jangan pingsan Dev!" panggil Adit


"Sepertinya dia masih syok kak, ayo segera bawa ke rumah sakit!" ujar Wildan


Adit langsung membopong tubuh Devina dan memasukkannya ke dalam mobil. Dengan kecepatan tinggi bahkan beberapa kali menyerempet kaca spion mobil lain, Adit melaju kencang menuju rumah sakit.


Reyhan pun sama, ia langsung pergi ke rumah sakit. Reyhan langsung meminta perawatan terbaik.


///***///


Di Rumah Sakit


Devina dan Sarah sudah berhasil di tangani, kini Reyhan, Adit dan Wildan sedang berjalan menuju ruang operasi. Di luar terdapat Devan yang duduk di kursi tunggu sambil meringkuk memegangi wajahnya.


"Tuhan.... Selamatkan istriku!" gumam Devan


"Dad... Bagaimana keadaan mommy?" tanya Reyhan


Devan tak menjawab, ia tetap diam dan hanya air mata yang berbicara. Devan benar-benar merasa gagal menjadi suami. Devan sudah membuat Prima dalam bahaya berkali-kali, dan Devan selalu terlambat untuk menolong Prima.


"Mommy Prima tertusuk pisau, jika perkiraan ku benar... Lukanya tidak dalam, hanya saja ada kemungkinan untuk pendarahan di bagian Aorta Abdomen," ujar Wildan


*Aorta Abdomen adalah arteri terbesar di bagian cavitas abdominalis atau rongga perut.


"Apa itu? Tolong jelaskan!" pinta Devan


"Yah itu adalah pembuluh darah terbesar di rongga perut, awalnya mungkin akan baik-baik saja saat baru di tusuk. Namun setelah aku melihat luka Mommy Prima tadi, kemungkinan nya cukup besar untuk pendarahan karena pelaku langsung menarik pisau dari perut mommy. Bahkan ada kemungkinan akan infeksi atau bagian-bagian pisau tertentu yang tertinggal di perut mommy," jelas Wildan


"Ia akan baik-baik saja kan?" tanya Devan


"Untuk baik-baik saja memang masih ada kemungkinan, namun kecil. Karena pendarahannya tadi cukup hebat, di khawatirkan kalau mommy kehilangan banyak darah. Hal itu cukup bisa mengancam nyawa seseorang," jelas Wildan


Devan dan Reyhan pun terduduk di kursi tunggu. Devan meneteskan air matanya, Reyhan mengusap wajahnya frustasi. Ia tak menyangka semuanya akan menjadi serumit ini.


"Bagaimana kau bisa tau keadaan kami tadi Dan?" tanya Reyhan


"Kak Adit tadi menghubungiku," jawab Wildan


Mereka semua setia menunggu sampai selesainya proses operasi Prima. Devan yang sejak tadi diam masih saja terpuruk dengan keadaan ini. Ia tak menyangka bisa terlambat mengetahui semuanya.


.


.


.


4 Jam Berlalu...


Setelah menunggu hampir 4 jam, proses operasi Prima pun selesai. Prima di bawa ke ruang perawatan untuk proses pemulihan.


///***///


Di Ruang Pemulihan


"Dok... Bagaimana kondisi istri saya?" tanya Devan


"Syukurlah Dokter Prima sudah melewati masa kritisnya. Hanya saja mungkin masih belum bisa sadar untuk karena hari ini. Pendarahan yang terjadi cukup hebat, sungguh keajaiban jika ia masih tidak apa-apa. Nanti saya akan sering kembali untuk memantau perkembangan Dokter Prima kedepannya,"


"Baik dok terima kasih," jawab Devan


Devan duduk di samping Prima, ia memegangi tangan Prima dengan hangat. Terpancar rasa kekhawatiran dari diri Devan. Ia benar-benar cemas melihat istrinya yang terbaring lemas dan pucat tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit.


"Sayang... Aku mengijinkanmu di rumah sakit untuk bekerja sebagai dokter, bukan di rumah sakit sebagai pasien," gumam Devan


Reyhan masih tak percaya dengan apa yang terjadi pada Prima. Ia menyalahkan dirinya sendiri.


Andai saja aku tidak mengenal Dio ataupun Julia, pasti semua ini tak akan terjadi! Maafkan aku Mommy... Maafkan aku! - Batin Reyhan


Adit dan Wildan memandang Prima khawatir, mereka berdua berterima kasih karena Prima sudah berkorban untuk Sarah dan Devina hingga sampai di titik ini.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏