
"Emang yang di lamar udah siap?" tanya Reyhan pada Devina dengan sedikit mengode
"Ya nikahnya jangan bareng-bareng! Masa nanti aku jomblo sendiri!" kesal Evelyn
"Mending lo balikan sana sama mantan lo yang nyebelin itu," sahut Adit
"Ngajak mantan balikan? Stroberi mangga donat, sorry nggak minat," ujar Evelyn
"Cakep..." ujar Wildan
"Telat Dan... Telat..." sela Devina
"Oh telat..." ujar Wildan sambil cengengesan
"Trus itu Dio gimana kabarnya Rey?" tanya Adit
"Jasadnya dan Julia masih belum di temukan," jawab Adit
"Tapi bagaimana bisa Julia masih hidup? Bukannya..." bingung Adit
"Saat kecelakaan Julia tidak meninggal! Ia masih hidup dan di temukan oleh para penduduk desa, ia di rawat sampai benar-benar sembuh. Namun ia mengalami amnesia karena kecelakaan itu, ia mencari-cari informasi dan akhirnya tau kalau keluarganya ada di sini, ia pergi ke sini untuk mencari kebenaran. Ia bekerja di taman hiburan kemarin sebagai penjaga loket, namun sesaat setelah mengingat semuanya, ia malah melihat ibunya yang hampir menjadi pembunuh," jelas Reyhan
"Bagaimana kau tau semuanya?" tanya Adit
"Aku mendapatkan informasi dari orangku," jawab Reyhan
"Tunggu dulu... Siapa sebenarnya Julia itu?" sela Sarah
"Dia adalah teman kami dulunya, tidak terlalu dekat. Tapi selalu berusaha mendekati kami karena ia menyukai Reyhan. Lalu ia mengungkapkan perasaannya pada Reyhan, tapi Reyhan yang agung ini menolaknya," ledek Adit
"Dia di tolak, terus nangis, frustasi, naik mobil kecepatan kuda, trus kacau, trus kecelakaan, terus mati, terus kita party... Eh," cerocos Evelyn
"Itu kok segitunya banget sih cuma di tolak, nggak takut mati apa?" sela Devina
"Nyawanya double kali," sahut Wildan
"Pikirannya terlalu dangkal," jawab Reyhan
"Oh..." jawab Sarah yang hanya ber-oh ria
"Kenapa? Nggak cemburu kan?" tanya Reyhan
"Kenapa harus cemburu? Bentar lagi jadi suamiku kenapa harus cemburu sama orang yang nggak punya hak atas kamu?" tanya Sarah
"Ciee...."
"Cuit cuit..."
"Apaan sih.." malu Sarah
"Nggak usah malu, setelah menikah aku akan menjadi sepenuhnya hanya milik kamu," ujar Reyhan
Sarah malu sendiri ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, kemudian Reyhan memeluknya.
"Aww..." keluh Sarah
"Eh maaf, lupa kalo masih sakit," ucap Reyhan
"Nggak papa," jawab Sarah
"Terus Laras dan ibunya Julia gimana kabarnya? Udah mati belum?" tanya Adit
"Dari informasi yang aku dengar, mereka di selidiki oleh polisi dan mendapat tuntutan atas pencemaran nama baik, percobaan pembunuhan, penyalahgunaan IT, peneroran, penyuapan," jelas Reyhan
"Penyuapan?" kaget Adit
"Ku dengar pengacaranya berusaha untuk menyuap salah satu hakim," ujar Reyhan
"Hah.. Mereka seperti anj*ng yang mengejar ekornya sendiri," sela Sarah
"Bukan seperti, mereka memang anj*ng," jawab Evelyn
"Kejam..." ujar Adit
"Kenapa? Mereka memang berani sekali kan untuk melakukan semua ini," jawab Evelyn
"Dan kudengar adik Laras pun meninggal karena penyakitnya," sela Reyhan
"Ow, aku sedikit kasihan," ucap Sarah
"Kasihan? Untuk apa? Mereka terlalu jahat untuk kita kasihani," kesal Reyhan
"Aku kasihan adiknya, bukan kakaknya," jawab Sarah
"Nah kalo gitu boleh," ucap Reyhan
Mereka terus melanjutkan ghibahnya sampai sukses ghibah, dan tidak terasa jam sudah menunjukkan pukup 13.00 siang.
///***///
Di Kamar Perawatan Prima
Cklek...
"Kak... Kakak kenapa? Kok bisa kayak gini sih? Siapa yang melakukannya? Keterlaluan sekali! Mana pelakunya? Harus ku beri pelajaran!" kesal Zalfa
"Sudah-sudah, pelan-pelan Zalfa! Aku bingung jawabnya!" ujar Prima
"Kalem napa ma," ucap Joo
"Iya, begitu dengar kabar kalau kalian seperti ini... Kami langsung meminta cuti dan ijin untuk pulang," ucap Zalfa
"Sebenarnya cuma dia yang minta ijin, itu pun memaksakan kehendak," sela Joo
"Enggak usah di perjelas papa!" kesal Zalfa
"Kakak baik-baik aja kan? Siapa pelakunya? Belum pernah baku hantam sama aku kan?" kesal Zalfa
"Pelakunya sudah masuk penjara," jawab Prima
"Apa? Bagaimana mungkin? Kenapa tidak menunggu aku datang! Harusnya aku di beri kesempatan untuk men-jotosi dia!" kesal Zalfa
"Yah... Bar-barnya mode on," cibir Joo
"Sabar Tuhan..." ucap Devan
"Oh iya tadi aku bawa makanan, udah makan siang apa belum? Ayo makan siang bersama! Aku bawa buah, camilan, roti, nasi Padang, capcay, fuyunghai, bola-bola keju, dan oh iya ada milk shake, es krim, es cincau, es oyen, sepertinya juga ada yang lain deh..." jelas Zalfa panjang lebar
"Kamu ini bawa makanan apa mau buka bazar makanan?" tanya Devan
"Jangan tanyakan lagi waktu belanja, hampir setiap yang dia lihat langsung ia beli," cibir Joo
"Untung gaji lo tinggi, kalo nggak... Bisa jadi gembel kalian," ledek Devan
"Kuat deh aku," ucap Joo percaya diri
"Ya udah yuk makan, aku ambilin piringnya ya," ucap Zalfa
"Ok," jawab Prima
Zalfa menata semua di atas piring, entah piring dari mana asalnya. Semua telah tersedia. Mulai dari makanan pembuka, makanan inti, makanan penutup sampai minumannya.
Prima sengaja diam dari tadi berharap kalau Devan lupa bahwa ia berpuasa. Prima menerima nasi Padang yang di berikan Zalfa.
"Makasih Zalfa..." ucap Prima senang
"Sama-sama," jawab Zalfa
Indahnya pemandangan.... Betapa enaknya makanan ini... - Batin Prima
Prima mulai membuka mulutnya, makanan baru sampai didepan mulutnya, Devan sudah mencegahnya.
"Sayang... Bukankah kamu puasa?" tanya Devan
Krik... Krik...
Semua hening, Prima benar-benar merasa sial hari ini. Kenapa harus ada acara puasa segala.
"Mas... Aku tidak kuat puasa lagi," keluh Prima
"Tahan... Nanti sore sudah boleh makan," ucap Devan
"Aku tidak bisa, dari kemarin aku belum makan nasi. Dan sekarang perutku sangat sakit," keluh Prima
"Tapi anjuran dokter makannya nanti sore," ucap Devan
"Aku juga dokter, aku memperbolehkan nya," sela Prima
"Haaaa... Kau bukan tipe dokter seperti itu," sahut Devan
"Baiklah-baik!" Makanlah sana makan! Aku lebih baik diam, biar pingsan sekalian karena kelaparan!" kesal Prima
Prima bertingkah seolah sedang ngambek pada Devan saat ini, sedangkan Zalfa dan Joo masih memandangi mereka berusaha memahami situasi.
"Jangan gitu dong... Jangan pingsan!" ucap Devan
"Bodo!" kesal Prima
"Baiklah kau makan saja mumpung dokternya belum datang," ujar Devan
"Beneran nih?" tanya Prima
"Bener," jawab Devan
Dengan senang hati Prima mulai memakan makanannya, ia langsung girang seketika saat bisa makan. Setidaknya sekarang perutnya terisi.
"Hmmm... Enaknya nasi Padang ini...” ucap Prima
"Ya sudah, kalau enak dihabiskan mumpung dokternya belum datang," ujar Devan
"Pasien macam apa ini?" tanya Joo
"Ada niat, ada tekad semua pasti gampang," ujar Zalfa
"Termasuk melanggar peraturan?" tanya Joo
"Pastinya," jawab Zalfa
Cklek...
Baru saja Prima makan beberapa sendok, sudah ada seseorang yang membuka pintu.
"Selamat siang... Loh!!! Bukannya Dokter Prima sedang puasa?" tanya Dokter Mia
"Eh... Dokter Mia..." jawab Prima cengar-cengir
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏