
"Tunggu apa lagi? Ayo, sebelum hari semakin malam!" ajak Wildan
"Hmm... Baiklah," jawab Evelyn
Akhirnya Evelyn memilih untuk di gendong Wildan. Hatinya berkata kalau ia sangat senang, namun otaknya berkata jika kebanyakan jalan akan mempengaruhi kakinya dan hal itu bisa mempengaruhi karirnya.
Lantas sekarang yang mana yang harus di dengarkan oleh Evelyn? Hati dan otaknya benar-benar bertolak belakang saat ini.
"Apa kau tidak keberatan?" tanya Evelyn
"Tidak, badanmu sangat ringan. Mungkin karena kau terlalu banyak diet," gurau Wildan
"Begitukah?" tanya Evelyn
"Menyayangi diri sendiri itu baik, menjaga penampilan agar tetap ok juga baik. Tapi jangan siksa dirimu hanya untuk pujian orang Velyn, sebuah pujian tidak akan ada habisnya. Pikirkan dirimu sendiri saat akan melakukan apapun," jelas Wildan
Dia sedang menasihati aku karena aku terlalu kurus kah? - Batin Evelyn
"Terima kasih sarannya, aku akan mengingatnya!" ujar Evelyn
Mereka berdua masuk ke rumah sakit dengan tetap bergendongan. Para perawat yang melihat mereka hanya menatap iri.
"Oww... Sungguh pasangan yang romantis,"
"Iya, aku jadi iri,"
"Wah jadi ingat masa muda,"
"Mesranya..."
Evelyn sedikit risih mendengar kata-kata orang, sedangkan Wildan hanya berlalu tanpa menghiraukan kata-kata orang lain.
"Aku turun saja, toh kamarnya sudah dekat," pinta Evelyn
"Tidak apa, justru karena sudah dekat lebih baik sampai dalam saja," jawab Wildan
"Tapi..."
"Sudahlah, kamarnya sudah di depan itu kok," jawab Wildan
Cklek...
Wildan membuka pintunya, ia menurunkan Evelyn ke atas sofa. 4 pasang mata di dalam ruangan itu terus memperhatikan gerak-gerik Wildan dan Evelyn.
"Aww..." keluh Evelyn
"Pelan-pelan!"
"Makasih,"
4 pasang mata tersebut masih menatap tajam dan tak lepas dari tingkah Evelyn dan Wildan. Sampai Wildan serasa tertusuk sendiri oleh pandangan itu.
"Apa sih?" tanya Wildan
"Biasa aja kali liatinnya," sela Evelyn
"Kalian dari mana?" tanya Reyhan
"Abis beli boba, nih boba nya," jawab Evelyn sambil menunjukkan kantong berisi 2 cup boba
"Kalian kenapa?" tanya Sarah
"Nggak papa, tadi jatuh," jawab Wildan
"Kok bisa barengan?" tanya Adit
"Kita kan perginya emang barengan," jawab Evelyn
"Kaki kamu kenapa?" tanya Devina
"Tadi keseleo waktu hampir keserempet motor di jalan," jawab Evelyn
"Loh kok bisa?" tanya Sarah
"Ya masa nggak bisa?" tanya Wildan
"Udah deh biasa aja ngeliatin nya! Kayak kita habis ngapain aja!" kesal Evelyn
Setelah ucapan Evelyn tersebut, semua kembali memandang seperti biasa. Mereka hanya heran melihat mereka berdua tenyata sedekat itu. Apalagi ada sikap pendiam Wildan yang membuatnya sedikit sulit didekati wanita.
"Kalian ada hubungan apa?" tanya Reyhan
"Kenapa bisa sedekat ini?" tanya Adit
"Apakah kalian memiliki rahasia?" tanya Sarah
Mereka bertiga mengajukan pertanyaan seperti seorang polisi yang menginterogasi tersangka.
"Ayolah! Jangan interogasi kami!" kesal Evelyn
"Aku hanya membantunya berjalan saja," jawab Wildan
"Yakin tidak ada yang lain?" tanya Adit
"Tidak! Aku sedang terluka kalian malah bertanya seperti polisi bertanya kepada tersangka saja!" kesal Evelyn
"Kalian ini kenapa sih?" tanya Wildan
"Lebih baik carikan aku es batu untuk mengompres kakiku agar tidak bengkak," ucap Evelyn
"Kenapa tidak rendam saja pakai boba mu itu saja?" tanya Adit
"Eh anj*y sultan, rendem kaki pake boba," ledek Wildan
"Tu orang keknya belum pernah di sleding ya?" kesal Evelyn
"Heran deh, tiap kali kumpul... Pasti ni dua orang berantem mulu," ujar Sarah
"Nggak capek apa?" tanya Reyhan
///***///
Besoknya
Saat pagi hari, Reyhan di kabari oleh Devan kalau Prima sudah sadar. Prima sudah mulai membaik dan sudah seperti biasanya. Hanya kadang sesekali ia mengeluh karena lukanya yang sakit atau nyeri saat tersenggol.
Kini Devina pun juga mulai membaik, traumanya sedikit membaik dan tidak setakut kemarin.
"Mom..." panggil Reyhan
"?"
"Ini Yakiniku pesenannya mommy," ucap Reyhan
"Sini!" pinta Prima
Prima sengaja ingin nasi Yakiniku untuk sarapannya, aneh? Prima kan emang nggak kayak orang pada umumnya. Prima sedikit bersemangat walaupun ia masih sedikit dingin pada Reyhan.
"Mas... Suapin dong, luka aku nyeri kalo di pake gerak," ujar Prima
"Ya udah sini aku suapi," ucap Devan
Devan membuka kotak nasinya, Prima menahan air liurnya saat melihat sarapannya. Nasi yang masih panas dengan sedikit asap saat baru di buka, ayam dengan balutan tepung yang berwarna coklat keemasan dengan kerenyahan tiada tara dan jangan lupakan saus Lada hitam panas yang menggugah selera. Oh iya, dengan beberapa sayuran yang masih sangat segar yang dihidangkan di samping ayam.
"Ahh.. Cepatlah! Aku lapar!" kesal Prima
"Sabar sayang, ini masih panas! Biar sedikit dingin dulu agar lidahmu tidak kepanasan," ujar Devan
"Kalau terlalu dingin juga nggak enak! Sini cepetan, aku lapar!" pinta Prima
"Selamat pagi... Pemeriksaan pagi Dokter Prima. Eh sekarang sedang jadi pasien ya hehe,"
Tiba-tiba ada seorang perawat yang datang untuk mengecek perkembangan Prima.
"Biarkan saja, lanjut mas!" pinta Prima
"Aahh..." ucap Devan sambil hendak menyuapi Prima
"Eh tunggu!" cegah perawat itu
"Kenapa?" tanya Devan
"Ada apa sih? Kalau luka seperti ini kan tidak punya pantangan makanan! Sini mas!" kesal Prima
"Aahhh..."
"Dok... Dokter harus... Eh maksudnya, ibu harus puasa hari ini!"
......
Suasana hening seketika, Prima langsung membatu saat mendengar ia harus puasa.
"Kenapa harus puasa?" tanya Devan
"Kami perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk pencernaan Ibu Prima, takutnya kalau tusukan kemarin itu juga mengenai Usus Besar ibu Prima,"
"Jadi... Saya puasa?" tanya Prima
"Iya ibu,"
"Sampai kapan?" tanya Prima
"Kata dokter, sampai pukul 6 sore,"
Puasa... Puasa... Puasa...
Kata itu terus membayangi Prima, ia tidak tega membiarkan Nasi Yakiniku nya tidak termakan.
"Baru saja aku selamat dari maut, kini harus berhadapan dengan lapar?" tanya Prima lemas
"Sayang... Ini bagaimana?" tanya Devan yang masih memegangi Nasi Yakiniku di tangannya
"Ah sudahlah, kalian makan saja!" kesal Prima
"Tapi kami gimana?" tanya Devan
"Aku kan puasa, gampang kok. Cuma sampai nanti sore doang mah aku kuat," ucap Prima sok kuat
"Tapi..."
"Sudah kalian semua makan saja, jangan perdulikan aku!" jawab Prima
"Baiklah ayo sarapan," ajak Reyhan
Semua yang ada di ruangan itu pun makan sarapan, sedangkan Prima hanya memandang dengan berharap waktu berlalu dengan cepat.
Sungguh enak sarapan dengan Nasi Yakiniku yang masih panas dan baru matang! - Batin Prima sambil melihat yang lain sarapan
"Kuat-kuatne atiku... Nompo pacobaning Gusti... (Kuat-kuatkan hatiku... Menerima cobaan Tuhan)," Prima bersenandung
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏