My Sexy Wife

My Sexy Wife
Berangkat



"Punya lah! Kalo deket doang mah terserah, paling juga nggak berani lamar," jawab Prima sambil memakan jagung bakar


"Tipikal menantu idaman mommy emang yang kayak gimana?" tanya Adit


"Kamu tanya pendapat mommy sebagai ibu atau calon mertua?" tanya Prima


"Beda ya emangnya?" tanya Adit


"Ya jelas beda lah!" jawab Prima dengan sedikit keras


"Biasa aja mom, jangan nge-gas!" ujar Adit


"Ya iya..."


"Kalo sebagai ibu... Gimana?" tanya Adit


"Sebagai ibu dari Devina, pasti mommy selalu berharap yang terbaik. Mommy ingin menantu yang bisa melindungi dan mengayomi Devina. Bertanggung jawab baik secara lahir ataupun batin, mampu menafkahi Devina secara lahir maupun batin, juga bisa membimbing Devina ke arah yang lebih baik. Dan... Mommy ingin dia pasti orang yang baik," jelas Prima


"Kalau sebagai calon mertua?" tanya Adit


"Kalau sebagai calon mertua mah... Dia harus baik, kaya, ganteng, sopan, nggak pecicilan, bisa menyanyi kami sekeluarga, tidak pernah main tangan, harus setia, agamanya bagus, ekonominya mencukupi, punya banyak waktu untuk Devina, mudah berbaur, dan kalo bisa yang mirip-mirip lah sama Lee Min Ho," jelas Prima panjang lebar


"Bilang aja mom kalo pengen punya menantu Lee Min Ho," ujar Adit datar


"Yah kok tau? Andai aja ya... Ada Lee Min Ho, atau yang seperti Cha Eun Woo juga nggak papa," jawab Prima


"Errr...."


"Oh... Yang imut-imut kayak Hwang Renjun ya nggak papa," jawab Prima


"Ini mommy lagi absen penduduk Korea ya?" tanya Adit datar


"Hah... Andaikan aku punya menantu atau cucu yang setampan mereka," Prima berandai-andai


"Mom bangun mom! Masih ada Adit di sini," cibir Adit


"Apa... Devina sekolah di Korea saja ya, siapa tau ketemu Lucas atau Felix? Wah... Ide bagus!" ujar Prima


Apa calon ibu mertuaku seorang K-Popers? Wah... Daddy ganteng benar-benar sabar sepertinya - Batin Adit


"Mom...." panggil Adit datar


"Oh iya, bahas apa tadi?" tanya Prima yang baru sadar dan kembali ke kenyataan


"Mommy mau ijinin Devina nikah di umur berapa?" tanya Adit


"Kalau ada yang lamar, Devina nya mau, daddy merestui... Dan juga masuk kategori Mommy tadi, ya tinggal atur tanggal lah, apa sih yang nggak buat menantu ganteng? Walaupun sebenarnya Reyhan dan Daddy sudah terlalu tampan," ujar Prima


"Kalo udah ada yang lamar... Dan semua di setujui, mommy bolehin Devina nikah umur berapa?" tanya Adit


"Kamu mau tau?" tanya Prima sambil memandang serius pada Adit


"Iya mom," jawab Adit


"Sini mendekat... Mommy kasih tau," pinta Prima


Adit pun mendekatkan wajahnya pada Prima, tetapi belum sempat di beri tau...


Bruukk....


"Aduhh..." keluh Adit yang jatuh dari bangku taman


Devan baru saja kembali dari kamar mandi, justru dia melihat jarak Prima dan Adit yang terlalu dekat baginya. Ia langsung bergegas dan duduk di sebelah Prima sambil menggeser Adit keras sampai Adit terjatuh ke bawah.


"Daddy... Sakit... Daddy kenapa sih?" tanya Adit


"Loh mas kamu kenapa itu Adit jatuh..." ujar Prima


Prima hendak melihat keadaan Adit, namun Devan langsung memegang pipi Prima sambil menahannya.


"Udah... Pasrahin aja dia sama yang di atas! Lain kali jangan deket-deket lagi sama cowok dong!" pinta Devan


"Aduh mas... Inget umur kenapa sih," ujar Prima


"Loh kamu ngapain di bawah?" tanya Devina


"Bantuinn berdiri!" pinta Adit


"Iya, yuk bangun!" ucap Devina sambil menarik Adit agar bangun


"Aduhh..." keluh Adit


"Lain kali jangan dekat-dekat! Nggak baik!" ujar Devan


"Haih... Daddy daddy... Aku kira kenapa, yuk makan aja ke sana!" ajak Devina


"Yuk," jawab Adit


Yang lain tertawa karena tingkah Devan dan Adit, sementara Adit merasa mati langkah. Kalau tidak protes, dia sudah jatuh. Tapi mau protes nggak bisa, karena takut merusak citranya sebagai menantu yang baik.


Aku tampan, baik, kaya, sopan, dan juga tampan seperti Cha Eun Woo, cool seperti Lee Min Ho, tubuhku bagus seperti Kai dan imut seperti Renjun. Okelah, pasti di terima! - Batin Adit


"Kenapa senyam-senyum?" tanya Devina


"Hehe... Nggak papa," jawab Adit sambil senyam-senyum


"Aneh,"


///***///


Besok Pagi


"Berangkat nanti siang Lyn?" tanya Zalfa


"Iya ma, mau lebih awal aja. Soalnya takut ketinggalan pesawat," ujar Evelyn


"Oh... Ya udah nanti kita anter ya sampe bandara," ujar Joo


"Mama papa nggak sibuk?" tanya Evelyn


"Nggak, lagi longgar hari ini," jawab Joo


"Oh ya udah deh ok," jawab Evelyn


Apa aku hubungi Wildan aja ya! Mau ngomong langsung juga nggak rela! - Batin Evelyn


Evelyn


Dan... Aku pamit ya, mau otw Paris nanti siang. See you later🤗


Evelyn mempersiapkan semua barang-barangnya yang akan ia bawa ke Paris.


.


.


.


.


Di Kampus


Wildan sedang ada kelas pagi hari ini, jadi ia mematikan ponselnya agar lebih fokus. Namun saat hendak menyalakan ponselnya...


"Tugas ini dikerjakan berkelompok! 1 kelompok 10 anak,"


"Baik pak,"


"Haih... Nanti saja main ponselnya," gumam Wildan


///***///


Siang Hari


Kelas telah selesai, Wildan keluar untuk mencari makan siang. Perutnya mulai keroncongan, ia berniat searching tempat makan yang enak, namun sebuah pesan masuk lebih dulu.


Ting...


"Siapa yang kirim pesan?" gumam Wildan


Evelyn


Dan... Aku pamit ya, mau otw Paris nanti siang. See you later🤗


Wildan terkejut mendapati pesan seperti itu dari Evelyn. Ia bergegas mencari ojol dan pergi ke rumah Evelyn.


Wildan


Udah berangkat belum? Ada yang mau aku omongin!


Lyn...


Lyn...


Velyn...


Evelyn!


Wildan mencoba menelfon nomor Evelyn, namun tetap saja tidak aktif. Ia pun buru-buru pergi ke rumah Evelyn.


"Tuhan... Baru saja aku memastikan perasaanku, justru kini dia malah pergi! Aku bodoh sekali selama ini! Tau dia menyukaiku, tapi aku berlagak buta dan tidak tau!" gumam Wildan sambil menyalahkan dirinya sendiri


Wildan pun tiba di rumah Evelyn, namun sudah tertutup rapat. Untungnya masih ada Adit dan Devina yang di luar rumahnya.


"Dev... Huh... Huh..." Wildan ngos-ngosan


"Kamu kenapa Dan?" tanya Adit


"Iya, kok ngos-ngosan?" tanya Devina


"Evelyn... Di mana?" tanya Wildan sambil mengatur nafasnya


"Baru aja berangkat ke bandara, ini kita mau nyusul. Katanya dia hampir telat naik pesawat," jelas Devina


"Apa? Boleh aku ikut?" tanya Wildan


"Boleh, ayo!" ajak Adit


///***///


Di Mobil


"Kamu tadi kenapa ngos-ngosan?" tanya Adit


"Aku cepet-cepet kak! Soalnya aku baru tau kalau Evelyn mau pergi," jawab Wildan


"Hah? Baru tau? Velyn nggak kasih tau kamu sebelumnya?" tanya Devina


"Nggak," jawab Wildan


"Kenapa gitu?" tanya Adit


"Aku juga nggak tau," jawab Wildan


///***///


Di Bandara


Turun dari mobil, ia dan Devina langsung berlari ke dalam bandara mencari Evelyn.


"Kamu tau di mana Evelyn nggak Dev?" tanya Wildan


"Kita lihat ke sana coba, tadi kata Om Joo di tunggu di sana," jawab Devina


"Yuk ke sana!" ajak Wildan


"Yuk!"


Mereka berdua di susul Adit pergi ke tempat yang sebelumnya di maksud oleh Joo. Di sana sudah berdiri Joo dan Zalfa.


"Om.. Tante... Evelyn mana?" tanya Wildan


"Evelyn?" tanya Joo


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏


Ada yang nolak mas Wildan? Nolak ya udah, buat author aja! :v