
"Cepetan dok jawab!" ucap Devan
"Sabar dong!" kesal dokter
"Jenis kelaminnya laki-laki," ucap dokter
"Yes!" ucap Prima
"Yakin dok nggak salah?" tanya Devan
"Tanya, dijawab, ngeyel. Cek sendiri sana!" kesal dokter
Dokter kandungan yang teman Prima ini sudah jenuh dengan kelakuan dua makhluk Tuhan ini. Setiap datang pasti akan bertengkar hanya karena masalah kecil.
"Oke makasih ya dok, saya balik dulu!" ucap Prima
"Hati-hati Dokter Prima.." ucap dokter
"Iya dok," ucap Prima
Prima dan Devan bergegas pulang karena selama ini Devan tidak mau Prima diluar lebih lama. Takut inilah takut itulah, intinya gak boleh lama-lama diluar.
///***///
Di Rumah
"Mas aku pengen martabak telor bebek!" ucap Prima
"Hah ada-ada? Kenapa nggak dari tadi sih sayang? Kita baru sampe rumah loh!" ucap Devan
"Kamu marah ya sama aku?" tanya Prima dengan mata berkaca-kaca
"Eh ng nggak gitu, ya udah sekarang kamu tunggu dirumah aja biar Tio yang beli!" ucap Devan
"Nggak mau, aku maunya kamu yang beli!" ucap Prima
"Harus banget ya?" tanya Devan
"Huum, harus kamu!" ucap Prima
"Ya udah, tunggu Tio dulu ya." ucap Devan
"Nggak mau, kamu harus beli sendiri pake motor. Jangan dianterin Tio, tapi Tio suruh kesini!" ucap Prima
"Buat apa?" bingung Devan
"Nggak papa, suruh aja dia kesini!" ucap Prima
"Haih ya udah, aku berangkat ya!" ucap Devan
"Iya mas, hati-hati." ucap Prima sambil mencium tangan Devan
Devan berangkat naik moto sport miliknya dan mencari penjual martabak. Tak lama Tio datang.
"Selamat sore Nyonya, ada apa mencari saya?" tanya Tio
"Nggak papa! Kamu sana samperin Mbak Rina," ucap Prima
"Hah?" bingung Tio
"Iya kamu samperin sana!" ucap Prima
"I iya nyonya," ucap Tio
Tio keheranan mendengar permintaan Nyonya Mudanya itu. Tak seperti biasanya, tapi biarlah itu justru baik buat Tio dan Rina.
///***///
Di Dapur
"Hai Rin..." sapa Tio
"Loh Mas Tio ngapain di sini? Nggak kerja?" tanya Rina
"Kerja, lah ini disini!" ucap Tio
"Ih aku nggak bercanda," ucap Rina
"Iya beneran, Nyonya Muda memintaku datang. Saat sampai disini malah disuruh temuin kamu," ucap Tio
"Bohong!" ucap Rina
"Beneran Rin, aku nggak bohong!" ucap Tio
"Cie udah baikan ni yee, kapan balikan?" tanya Prima
"Eh ada Nyonya..." kaget Tio
"Aku kan tanya, kapan balikan?" tanya Prima
"Baru kemarin kok," ucap Rina
"Cie, lanjutin gih mesra-mesraan nya!" ucap Prima
Prima meninggalkan Rina dan Tio berdua di dapur. Entah mengapa Prima sangat suka saat Tio dan Rina mesra-mesraan. Aneh juga ni bumil satu.
Prima mencari lift dan naik keatas untuk masuk ke kamar. Awalnya memang hanya tangga yang ada di rumah, tapi sejak kehamilan Prima, Devan super over protective terutama saat Prima mulai memasuki trimester ketiga. Sampai-sampai Devan membeli rumah khusus yang ada lift nya agar Prima lebih mudah berjalan.
Di kamar Prima sedang duduk bersandar sambil membaca majalah, sementara Devan sedang jadi keroyokan di luar sana.
///***///
Di Warung
"Pak ada martabak telur bebek?" tanya Devan
"Ada mas, mau yang apa?" tanya penjual
"Terserah deh pak, yang penting yang paling enak dan yang paling mahal!" ucap Devan
"Ok mas, ada lagi?" tanya penjual
"Di sini jualan apa lagi pak?" tanya Devan
"Martabak manis sama martabak telur bebek dan ayam," ucap penjual
"Ok deh, telur ayamnya 1, telur bebeknya 1 sama yang manis 1." ucap Devan
"Ok mas, yang martabak manis rasa apa?" tanya penjual
Haduh ini makanan aneh-aneh aja, banyak banget macemnya. Heran - Batin Devan
"Apa aja macemnya pak?" tanya Devan
"Itu menunya di depan," ucap penjual
Devan membaca secara seksama dari atas sampai bawah.
"Coklat keju aja deh pak!" ucap Devan
"Ok mas, tunggu bentar ya!" ucap penjual
Mending beli banyak daripada nanti bolak-balik - Batin Devan
Tanpa sadar, Devan sejak tadi selalu dilihat oleh para ibu-ibu dan gadis-gadis yang juga beli martabak, sampai akhirnya seorang ibu-ibu mendatangi Devan.
"Mas... Masnya artis ya? Kok ganteng banget sih?" tanya ibu
"Bukan bu," ucap Devan
"Ih masa sih, mukanya ganteng banget! Jadi gemes lihatnya!" ucap ibu
Tak lama para ibu-ibu dan gadis-gadis itu mengerumuni Devan hanya untuk mengajak kenalan, minta foto dan minta nomor hp. Yang parah sampe ada yang minta cium segala.
"Mas minta nomernya dong..."
"Mas ayo foto!"
"Mas kenalan yuk..."
"Mas cium dikit sini dong..."
"Pak martabaknya udah pa belum?" teriak Devan
"Sudah mas ini," ucap penjual yang bingung memberikan martabaknya karena para wanita yang menggerumbul
Devan akhirnya menyahut martabak di tangan penjual dan sedikit melemparkan uang 100 ribu.
"Pak itu uangnya, ambil aja kembaliannya!" ucap Devan
Devan berlari keluar, mengambil motor dan langsung mengebut pulang.
///***///
Di Rumah
Sesampainya di rumah, Devan masih ngos-ngosan karena para ibu-ibu tadi. Mengingat kejadian tadi membuat Devan sedikit bergidik ngeri dan merinding, jika bukan karena istrinya yang sedang mengandung, tidak akan mau Devan pergi keluar lagi!
Devan masuk ke dalam kamar dan menurunkan suhu AC agar lebih dingin.
"Sudah sampai mas?" tanya Prima
"Nih martabak kamu!" ucap Devan
"Loh kamu kenapa?" tanya Prima
"Kamu tau nggak, tadi aku jadi sasaran para ibu-ibu tau! Hampir hilang perjakaanku gara-gara itu ibu-ibu!" kesal Devan
"Mas aku yang menghilangkan keperjakaanmu!" jawab Prima datar
"Oh iya hehe, tapi aku kan pake baju biasa gini. Para ibu-ibu itu ada yang minta kenalan, minta foto, minta nomer bahkan ada yang minta cium tau!" kesal Devan
Prima terawa sampai lelah mendengar cerita Devan saat membeli martabak. Tidak bisa dibayangkan jika ada Prima di sana, bisa guling-guling ketawa Prima.
"Jadi balesannya apa ini? Aku hampir di cium ibu-ibu loh!" kesal Devan
"Sabar! Bentar lagi anak kamu lahir!" ucap Prima
"Sialan!" gumam Devan
"Sabar ya sayang!" ucap Prima
"Kapan perkiraan lahirannya terakhir di cek?" tanya Devan
"Kata dokter sekitar akhir bulan," ucap Prima
"Hmm... Ini masih awal bulan, sialan!" kesal Devan
"Apa sih mas, jangan gitu! Ini anak kamu loh!" ucap Prima
"Iya-iya, oh iya sayang. Tapi akhir bulan aku ada kunjungan kerja ke Singapura! Gimana?" tanya Devan
"Berapa lama?" tanya Prima
"1 minggu, tapi aku usahain bakal selesai lebih cepat agar aku bisa pulang lebih awal!" ucap Devan
"Nggak bisa diwakilkan?" tanya Prima
"Nggak bisa, selain kunjungan kerja di sana aku juga harus bertemu klien penting dari luar negeri!" ucap Devan
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏