
"Ya percaya lah," jawab Devina
"Calon anak kedokteran tapi kok otaknya kayak gitu ya," cibir Wildan
"Kan dulu Kak Rey pernah bilang kalau Kak Rey selalu benar," ujar Devina
"Dan kamu nurut?" tanya Adit
"Ya nurut, aku kan adik yang baik," jawab Devina
"Kayaknya b*go itu menular deh," ujar Wildan
"Jauh-jauh, aku nggak mau jadi orang b*go," cibir Reyhan
"Ya udah Dev, kita b*go nya barengan aja yuk. Susah senang bersama hehe," ucap Adit sambil merangkul Devina
"Yang nggak setia kawan mah buang!" gurau Devina
"Siapa yang nggak setia kawan boss? Kamu yang tinggalin aku Dev, kamu enak-enak pacaran padahal tau aku masih jomblo," ucap Wildan
"Hehe maap keun. Sebagai rasa bersalah ku, aku mau kenalin kamu deh kalo punya temen cewek cantik," ucap Devina
"Nggak mau, aku suka yang alami-alami kok, termasuk kenalnya juga," ujar Wildan
"Cari aja lewat biro jodoh," saran Devina
"Emang aku se nggak laku itu kah? Atau se tua itu? Atau memang para gadis itu takut mendekatiku karena aku terlalu tampan?" tanya Wildan
"Aku mau muntah..." gurau Devina
"Mari ku antar sayang," ajak Adit
"Jangan pegang-pegang!" kesal Reyhan
"Gak boleh pegang? Berarti boleh peluk kan?" tanya Adit sambil memeluk Devina
"Belum pernah di santet online ya?" kesal Reyhan
"Emang bisa nembus?" tanya Adit
"Pake VPN," ujar Reyhan
"Tagihannya nambah dong," ucap Adit
"Gue nggak takut miskin," jawab Reyhan
"Yah, sultan pamer..." cibir Adit
Mereka mengobrol tak jelas sampai hampir 1½ jam terlewati tanpa terasa. Mereka baru sadar saat dokter tadi keluar dari kamar perawatan Sarah.
"Bagaimana dok?" tanya Reyhan
"Masih ada rasa trauma yang mendalam pada dirinya, dan itu juga mempengaruhi kesehatan mentalnya. Asal Keluarga selalu mendukung dan menemani dia, pasti akan segera sembuh. Nanti saya kasih obat agar kesehatan mentalnya tidak memburuk," jelas dokter
"Baik dok," ujar Reyhan
"Kalau lebih lanjut nanti Mas Rey datang ke ruangan saya saja ya, soalnya ini masalah privacy," pinta dokter
"Baik dok terima kasih," jawab Reyhan
"Sama-sama, saya pergi dulu ya..." ucap dokter
"Baik dok," jawab Reyhan
Dokternya tadi pergi meninggalkan para makhluk Tuhan yang ada di luar ruang perawatan Sarah. Sedangkan Wildan, Devina dan Adit masih tak paham dengan keadaannya.
"Dokter apaan itu kak?" tanya Wildan
"Bukannya obat Kak Sarah itu udah banyak?" tanya Devina
"Banyak banget dokternya?" tanya Adit
"Apa kakakmu sering mengalami keringat dingin saat tidur atau malam hari Dan?" tanya Reyhan
"Ya kadang sesekali saat Kak Sarah kelelahan atau stress. Kadang aku bingung apa yang harus aku lakukan, tapi setiap aku ajak dia ke dokter, dia selalu menolak dan berkata kalau dia baik-baik saja," jelas Wildan
"Lalu apa semakin membaik?" tanya Reyhan
"Tidak, bahkan kadang sampai Kak Sarah pingsan," ucap Wildan
"Sejak kapan?" tanya Reyhan
"Kalau yang aku tau, semenjak kematian ayah," jawab Wildan
"Oh pantas," gumam Reyhan
"Apa Kak Sarah sakit juga karena itu?" tanya Wildan
"Ya bisa jadi," jawab Reyhan
Ting....
Seseorang mengirim pesan pada Wildan.
Evelyn
Dan... Di mana?
Wildan
Di rumah sakit kota Lyn
Evelyn
Hah? Kamu kenapa?
Kamu sakit?
Sekarang kamu di ruang nomor berapa?
Lantai berapa?
Dan...
Dan...
Woy bales woy!
Evelyn sampai men-spam Wildan karena pesannya tidak di balas oleh Wildan.
"Ya ampuunnn... Ada apa lagi ini? Rumah sakit kota kan tempat kerja tante Prima, tanya dia aja lah!" gumam Evelyn
Evelyn pun mengirim pesan pada Prima untuk bertanya tentang Wildan.
Evelyn
Tante...
Tan...
Tante...
Prima
Apa sih Evelyn sayang? Kok spam-spam segala?
Evelyn
Wildan di kamar nomor berapa? Lantai berapa?
Prima
Siang-siang spam, ganggu tante kerja cuma buat tanya itu?
Evelyn
Tanteee... Penting loh ini!
Prima
Iya-iya, kamu datang ke rumah sakit. Nanti biar di jemput di bawah
Evelyn
Ok Tante, makacih... :)
Prima
Sama-sama
Evelyn langsung bergegas menuju rumah sakit karena takut jika Wildan kenapa-napa. Sedangkan Prima hanya mengirim pesan singkat pada Reyhan.
Prima
Kamu tunggu di bawah, Velyn mau datang!
Reyhan
Evelyn kita mom?
Prima
Y
Reyhan
Ok mom!
Prima hanya mengirim pesan yang singkat, namun Reyhan sudah senang. Setidaknya Prima masih mau mengirim pesan padanya.
///***///
Lantai Bawah
Rumah Sakit
Reyhan sudah menunggu sejak tadi di bawah, sedangkan Evelyn yang datang bersama seorang pria pun menghampiri Reyhan.
"Kak Rey... Wildan mana? Dia sakit apa? Dia nggak kenapa-napa kan? Kok nggak kasih tau sih? Masih anggep aku nggak sih? Tega ya kalian!" tanya Evelyn beruntun
"Bentar-bentar, kamu ngapain ke sini dengan panik dan bawa ini apaan?" tanya Reyhan sambil menunjuk pria di samping Evelyn
Evelyn hanya datang dengan jalan cantik, baju modis dan tas branded di tangannya. Sementara di sampingnya ada seorang pria yang membawa beberapa paper bag, parcel buah dan juga barang-barang tertentu.
"Ini? Ini buat Wildan, kalo dia kenapa-napa gimana?" tanya Evelyn
"Yang sakit bukan Wildan," jawab Reyhan
"Hah?" kaget Evelyn
"Kenapa kaget?" tanya Reyhan
"Yang sakit bukan Wildan?" tanya Evelyn
"Bukan, yang sakit Sarah," jawab Reyhan
"Huh... Untung... Kamu balik aja sana, ini semua bawa pulang!" suruh Evelyn pada pria di sampingnya
"Dari pada bolak-balik, mending di bawa aja ke atas. Banyak yang di atas kok," jawab Reyhan
"Ya udah ayo ikut," ajak Evelyn
"Baik nona,"
Evelyn berjalan bersama Reyhan menuju ruang perawatan Sarah. Sesampainya di sana, Evelyn langsung mencari Wildan untuk memastikan.
"Wildan mana?" tanya Evelyn
"Aku di sini!" ucap Wildan sambil mengangkat tangan
"Loh kamu ke sini Lyn?" tanya Devina
"Kayak setan aja, tiba-tiba muncul," gurau Adit
"Ah cot lo!" ketus Evelyn
"Siapa yang datang?" tanya Sarah
"Hai Kak... Yah Kakak beneran sakit yah? Nggak ada temen ghibah dong," ucap Evelyn
"Hei... Orang sakit itu merontokkan dosa. Belum selesai rontoknya kok udah mau di tambah," cibir Adit
"Iri bilang boss!" ketus Evelyn
"Udah-udah, kamu turunin sini aja barang-barangnya," pinta Reyhan
"Baik mas,"
Semua barang bawaan Evelyn pun di turunkan, sedangkan Adit punya ide.
"Keknya aku punya mainan deh di tas, ada yang mau main bareng?" tanya Adit
"Aku ikut!" ucap Devina
"Aku boleh," jawab Wildan
"Bawa apa emang?" tanya Evelyn
"Nih..." ucap Adit
Adit mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang, saat di buka isinya adalah permainan monopoli.
"Yang bener aja, udah gede mainnya monopoli?" tanya Evelyn
"Nggak papa asik kok," bela Devina
"Emm...." bingung Wildan
"Heran deh sama ni anak satu, kemarin di kampus bawa rubrik, sebelumnya bawa poker, sebelumnya lagi malah panco di kelas. Ni anak otaknya emang isinya mainan mulu ya?" heran Reyhan
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏