
"Yah nangis..." ucap Prima
"Kenapa kasihan?" tanya Devan
"Nggak sih, cuma takut kalo dia bunuh diri." ucap Prima
"Nggak papa, penting dia kan tidak mati di rumah kita." ucap Devan
"Oke kamu benar, kalo mati tinggal aja..." ucap Prima
"Ide bagus," ucap Devan
"Aku merinding lihatnya," gumam kakek
"Apa otak mereka bermasalah karena nikah muda?" gumam nenek
Joo bolak-balik menyenggol Zalfa namun tak di gubris. Joo rela memohon pada Devan agar mau membujuk Zalfa. Dengan berat hati, Devan menyetujuinya.
"Faa...." panggil Devan pada Zalfa yang duduk di pinggir danau
"Apa kak?" tanya Zalfa
"Kamu ada masalah apa sih sama Joo sampe diemin dia gitu?" tanya Devan
"Udah lah kak, males bahas." ucap Zalfa
"Fa, mau sampai kapan hindari masalah? Semakin kamu lari maka semakin parah masalahnya," ucap Devan
"Trus aku harus bilang apa tentang ini?" kesal Zalfa
Zalfa menunjukkan foto Joo yang membelakangi kamera. Di depannya ada Prima, mereka tampak seperti berciuman di foto.
"Kamu dapat dari mana?" kaget Devan
"Aku yang foto, aku liat waktu mereka jalan!" marah Zalfa
"Kirim fotonya ke aku!" kesal Devan
Zalfa mengirim fotonya ke Devan. Devan pergi sambil kesal karena melihat Prima yang tampak mesra di foto.
///***///
Malam Hari
Devan yang kesal mendiamkan Prima. Sedangkan Prima masih bingung kenapa tiba-tiba Devan mendiamkannya sama seperti Zalfa mendiamkan Joo.
"Mas..." panggil Prima
"Hmm..." jawab Devan
"Mas.." panggil Prima
"Apa sih?" tanya Devan kesal
"Kamu kenapa sih? Ada masalah apa sama aku, kenapa tiba-tiba kamu diemin aku?" tanya Prima
"....."
"Mau sampai kapan?" tanya Prima
Devan tetap diam tak menjawab hingga Prima merasa kesal.
"Kalo ada masalah ngomong! Jangan diem aja, apa gunanya mulut kamu?" tanya Prima
Devan hanya menatap Prima sinis dan menahan agar tak bicara.
"Ya udah kalo nggak mau ngomong, aku mau pergi cari cowok lain yang bisa ngomong." ucap Prima sambil berjalan pergi
Devan menahan tangan Prima karena benar-benar kesal.
"Kamu ada hubungan apa sama Joo?" tanya Devan
"Hah? Temen lah," ucap Prima
"Kaya gini temen?" tanya Devan sambil menunjukkan foto tadi
"Kamu marah gara-gara ini?" tanya Prima
"Cuma suami gak normal yang nggak marah kalo lihat istrinya jalan sama cowok lain!" ucap Devan
"Hahahaha... Kamu ini mas-mas.." tawa Prima
"Jangan ketawa, aku serius." ucap Devan
"Heh, lihat... Itu foto dimana tempatnya?" tanya Prima
"Toko dasi.." jawab Devan
"Kemarin anniv aku kasih kamu apa?" tanya Prima
"Jam sama... Kamu pergi sama dia?" tanya Devan
"Ya iyalah, masa aku selingkuh sama dia? Sekarang duduk diam yang manis dan dengarkan penjelasan aku sampai selesai tanpa menyela ok!" ucap Prima
"Hm.." ucap Devan
Prima duduk di samping Devan sambil menjelaskan semuanya tanpa terlewat. Memang kenyataannya, saat itu Prima menunjukkan sebuah dasi pada Joo. Otomatis Joo sedikit membungkuk karena memiliki badan yang tinggi. Nah makanya mereka berdua salah paham.
"Jadi sekarang percaya?" tanya Prima
"Hmm... Aku kira kamu sama Joo.." ucap Devan
"Shhh.... Mana mungkin aku selingkuh kalau suamiku saja setampan ini" ucap Prima sambil menempelkan telunjuknya di bibir Devan
" Ya iyalah, kalo nggak ngapain aku masih disini?" tanya Prima
"Ya udah, maaf udah salah paham sama kamu." ucap Devan
"Iya, makanya kalo ada apa-apa tanya dulu bukan main tuduh. Btw kamu dapet foto itu dari siapa?" tanya Prima
"Zalfa, dia bilang dia lihat kamu sama Joo." ucap Devan
"Oh itu ya masalah mereka," ucap Devan
///***///
Di Sisi Lain
Zalfa sedang duduk di taman belakang rumah sambil melihat bintang. Tiba-tiba Joo menyusulnya dan duduk di sebelah Zalfa.
"Fa.. Aku ada salah apa sih sama kamu? Kamu marah masalah apa?" tanya Joo
"Gak apa-apa," jawab Zalfa singkat
"Fa.. Aku mohon kamu sedikit dewasa dong jangan kayak anak kecil," ucap Joo
"Emang aku masih kecil kok. Kuliah juga belum, salah kamu sendiri mau pacaran sama anak kecil." ucap Zalfa ketus
"Fa.. Kalo ada masalah diomongin dong, bilang aku salah apa? Jangan kayak gini," ucap Joo
Zalfa diam mendengarkan semua perkataan Joo.
"Kalo kamu sukanya ngindarin aku yaudah lebih baik kita jalan sendiri-sendiri aja. Aku pergi,". ucap Joo sambil berbalik untuk pergi
Zalfa menahan tangan Joo sesaat sebelum Joo masuk kedalam rumah. Merasa terhenti, Joo berbalik badan.
"Kamu ada hubungan apa sama kakak ipar?" tanya Zalfa
"Sama Prima? Ya temen lah," ucap Joo
"Trus ini apa?" tanya Zalfa sambil menunjukan fotonya
"Kamu dapet dari mana?" tanya Joo
"Kenapa? Kepergok?" tanya Zalfa
"Fa aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia, dia itu cuma temenku. Kemarin dia ajak aku keluar untuk membeli hadiah anniversary pernikahan mereka. Lihat aku bahkan membelikan kamu jam tangan, tapi saat aku mau kasih malah kamu ngindarin aku," jelas Joo sambil menunjukkan jam tangan
Zalfa terkejut mendengar penjelasan Joo. Ia mengira ada apa-apa antara dia dan Prima.
"Maaf udah salah paham," ucap Zalfa
"Nggak papa, yang penting kamu udah nggak salah paham lagi ke aku." ucap Joo sambil memeluk Zalfa yang duduk
"Aku kira kamu ada hubungan sama kakak ipar, apalagi kamu dulu pernah suka sama dia." ucap Zalfa
"Hei dengarkan aku, aku memang pernah menyukai Prima. Tapi itu hanya masa lalu, sedangkan masa kini dan masa depanku hanya kamu." ucap Joo sambil berjongkok di depan Zalfa
Mendengar perkataan Joo, Zalfa melemparkan senyumannya yang manis itu.
"Sekarang jangan marah lagi ya!" ucap Joo
"Hmm iyaa.." ucap Zalfa
"Ayo masuk, mulai dingin di sini," ucap Joo
"Hmm..." jawab Zalfa
Zalfa dan Joo masuk dengan bergandengan tangan mesra, tak sadar ada kakek dan nenek yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka. Saat masuk ruang tamu, mereka bertemu Devan dan Prima yang duduk di kursi tamu.
"Eh kak Devan sama kakak ipar.." sapa Zalfa
"Cie udah akur," goda Prima
"Baru juga," ucap Joo
"Kak foto tadi itu ternyata..." ucap Zalfa
"Kita salah paham," sahut Devan
"Loh? Kalian berdua sama-sama salah paham?" tanya Joo keheranan
"Iya, gara-gara calon istri kamu itu." ucap Devan
"Kok aku?" tanya Zalfa tak mau mengalah
"Devan yang salah paham, aku yang di interogasi tau nggak?" tanya Prima
"Hahahahaha... Bisa aja," ucap Zalfa
"Tapi kan aku gak bentak-bentak kamu sayang," ucap Devan
"Tapi muka kamu merah banget waktu marah tadi tau." ucap Prima
"Masa? Nggak, kamu salah lihat," ucap Devan
"Cie ngindar," goda Prima
"Tapi kenapa rasanya ada yang kurang ya?" bingung Zalfa
”Apa?" tanya Joo
"Aurel!!" ucap Prima dan Devan bersamaan