My Sexy Wife

My Sexy Wife
Perasaan



///***///


Di Rumah


"Huh kenapa aku belum yakin kalau itu dia ya," ujar Reyhan


"Lalu kenapa kau memacarinya?" tanya Adit


"Aku hanya bertanggung jawab," ucap Reyhan


"Ya kalo salah orang gimana?" tanya Adit


Reyhan terdiam, memang benar. Reyhan belum menyelidiki apapun tentang gadis itu, hanya langsung menganggapnya sebagai korban.


"Ayo pergi," ajak Reyhan


"Ke mana?" tanya Reyhan


"Ruang kerja dad," ucap Reyhan


"Ngapain?" tanya Adit


"Daddyku mendapatkan data pengeluaran dari ATM ku yang hilang," jawab Reyhan


"Ya gue nggak berani lah, gue tunggu di kamar ini aja," ucap Adit


"Ya udah ntar ya," ucap Reyhan


Reyhan pergi ke ruang kerja untuk mengambil dokumennya, lalu kembali untuk menemui Reyhan.


"Sini liat," ucap Adit


"Nih," ujar Reyhan sambil memberikan dokumennya


"Wow... Fantastis, 2 milyar?" kaget Adit


"Ya gitu," ucap Reyhan


"Gila, ni duit dipake apaan ya?" tanya Adit


"Telfon dia, kita tanya," ucap Reyhan


"Ya lo lah pacarnya," ledek Adit


"Sialan lo, gue nggak punya nomornya kok," ujar Reyhan


"La terus lo kemaren ngapain?" tanya Adit


"Gue kasih di kartu nama gue, tapi dia gak telfon," ucap Reyhan


"Aelah, b*go lo kok gak ilang-ilang sih Rey.. Rey...," ujar Adit


"Ayo cari Dio," ajak Reyhan


"Berangkat...," ujar Adit


///***///


Di Cafe


"Gimana dia percaya?" tanya Dio


"Pasti lah, siapa dulu? Laras," ucap Laras


"Kalo kamu bisa bertahan apalagi nikahin dia, hidup kamu 7 turunan aja gak habis kekayaannya," ucap Dio


"Hahahahaha, lagian salah siapa sendiri nggak cari tau dulu. Main percaya-percaya aja," ujar Laras


"Pokoknya kalo ada apa-apa kabarin aku, ini dokumen kamu. Semua cerita hidup kamu ada di sini," ucap Dio


"Hahaha, pakai naskah seperti main film saja," tawa Laras


"Jangan pernah beritahukan kehidupan kamu yang sebenarnya apalagi hubungan antara kita berdua," jelas Dio


"Pastilah," jawab Laras


Flashback On...


"Mmmpphhh... Kamu kenal dia?" tanya Laras


"Hmmm.... Dia temanku," jawab Dio


"Ahh... Pelan-pelan sayang," ucap Laras


"Kau benar-benar memuaskan," ucap Dio


"Aku bisa menemuinya?" tanya Laras


"Hmm.... Tentu," jawab Dio


Kesempatan bagus untuk mendapatkan hidup yang bagus - Batin Laras


Flashback Off...


"Malam ini ada acara?" tanya Dio


"Nggak," jawab Laras


Dio berdiri dan duduk disebelah Laras lalu memegang kepala Laras.


"Apa?" tanya Laras menggoda


Dio mencium bibir Laras, ia mulai ******* bibir Laras dan kemudian pindah ke telinga Laras.


"Mau bermain?" bisik Dio


"Hmmm.... Jangan disini sayang," ucap Laras


Dio langsung menarik Laras, pergi keluar dan menuju mobilnya. Mobilnya melaju ke sebuah hotel. Dio menarik Laras masuk ke dalam kamar, baru saja duduk di ranjang Reyhan menghubungi Dio.


"Ck sialan," Dio berdecak


"Ada apa sayang?" tanya Laras sambil mencium pipi Dio


"Biarlah," jawab Dio


Dio mereject panggilan dari Reyhan dan mengirim pesan.


Dio


Ada apa? Aku sibuk


Reyhan


Aku ingin nomor Laras


Dio


Untuk apa? Bukannya kau sudah menemuinya kemarin?


Reyhan


Cepat!


Dio


Ok-ok!


@Laras


Reyhan


Ok


"Apa sih sayang?" tanya Laras dengan nada menggoda


"Lebih baik kau mematikan ponselmu, karena mungkin sebentar lagi Rey menelfon," ujar Dio


"Baiklah," jawab Laras sambil mengambil ponselnya


Baru diambil, Dio langsung menyahut ponsel Laras dan mematikannya.


"Biarkan saja, mari melanjutkan yang belum selesai," bisik Dio


"Mhhmmm..." ucap Laras


///***///


Di Rumah Reyhan


"Ck sialan, hpnya mati," ujar Reyhan


"Seperti buronan saja tidak bisa dihubungi hahahaha..." gurau Adit


"Ayo pergi," ajak Reyhan


"Kemana lagi?" tanya Adit


"Cari informasi tentang Laras," ucap Reyhan


"Informasi apaan?" tanya Adit


"Ya kehidupannya lah, cari tau buat apa uangnya!" ucap Reyhan


"Ck males gue, mau temenin Dev aja," ujar Adit


"Jangan cari kesempatan," tegas Reyhan


"Dev pulang," teriak Devina


"Hai Dev," sapa Adit


"Hai kak," sapa Dev


"Dari mana aja? Jangan keluar lama-lama kalo nggak ada kakak, bahaya tau nggak!" kesal Reyhan


"Yah kak, masa tiap hari kemana-mana harus tunggu kakak. Kalo ada kakak aku gak punya temen, pasti kakak dikerumuni cewek-cewek gak jelas itu," kesal Devina


"Ya udah, kalo gitu keluar sama kak Adit ya," jawab Adit


"Gak mau," tolak Devina


"Kak Adit kan ganteng, kurang apa lagi?" tanya Adit


"Dev masuk kamar dulu," ucap Devina mengabaikan Adit


"Dev... Dev... Dev, kok kak Adit ditinggalin sih Dev!" panggil Adit


"Udah ayo pergi, jangan godain adik gue aja!" kesal Reyhan


"Ck gak asik lo," kesal Adit


///***///


Di Rumah Sakit


"Dan..." panggil Sarah


"Ya kak," jawab Wildan


"Sekolah gimana? Butuh bayaran atau yang lain?" tanya Sarah


"Nggak kak, tinggal persiapan buat ujian," jawab Wildan


"Ya udah, kalo ada apa-apa bilang ke kakak!" ucap Sarah


"Ok cantik," ucap Wildan


Sarah menggandeng pundak Wildan dan masuk ke kamar perawatan ibunya.


"Sarah... Cucuku sayang, sini nak. Nenek punya makanan buat kamu," ujar nenek


"Nggak usah nek. Kasih aja ke Wildan tadi dia belum makan," ucap Sarah


"Gak bisa, ini buat kamu. Bukan buat pembawa sial itu," ucap nenek


"Nek jangan gitu," ucap Sarah


"Kapan sih ibu bisa nerima Wildan?" tanya Ibu Sarah


"Gak bisa sampai kapanpun!" ucap nenek


"Wildan kakak minta tolong, kamu beliin kakak coklat sama jus alpukat di bawah ya!" ucap Sarah sambil memberikan uang


"Iya kak," ucap Wildan


Wildan pergi sementara nenek dan ibu Sarah masih berdebat.


"Kapan sih si pembawa sial itu pergi?" tanya nenek


"Ibu tidak punya hak menyuruhnya pergi! Aku yang mengurusnya sampai sekarang!" ucap Ibu Sarah


"Kapan? Dulu yang mengurusnya itu putraku, saat putraku pergi, Sarah yang mengurusnya. Bukan kau," ucap nenek


"Nek... Ibu, cukup! Udah," ucap Sarah


"Nggak Sarah, nenek pengen dia tau semuanya. Betapa menyesalnya nenek punya menantu seperti dia," ucap nenek


"Nek!" bentak Sarah


"Sudah biarkan nak," ucap Ibu Sarah


"Tapi bu," ucap Sarah


"Apa ? Dia memang tidak berguna, makanya tidak bisa menjawab. Entah apa yang dulu dia gunakan sampai putraku yang sempurna itu terpikat padanya," ketus nenek


"Nek cukup ya! Selama ini nenek selalu berkata seenaknya. Tapi jika nenek selalu menjelek-jelekkan ibuku, aku tidak bisa diam!" tegas Sarah


"Nak cukup," ucap Ibu Sarah


"Lihat, gara-gara kamu cucuku mulai berani kepadaku," ketus nenek


"Nek! Asal nenek tau, selama ini ibu diam bukan berarti dia salah. Tapi dia menutupi segala luka dihatinya," tegas Sarah


"Nak cukup. Biarkan saja," ucap Ibu Sarah sambil menggenggam tangan Sarah


"Tidak bu! Aku tidak bisa biarkan ini selamanya. Asal nenek tau, ayah memang tampan, sukses, kaya dan selalu terlihat sempurna dalam situasi apapun. Tapi apa nenek tau, ayah punya kesalahan yang sangat besar!" ucap Sarah sambil meneteskan air matanya


"Maksud kamu?" tanya nenek


"Apa nenek tau Wildan?" tanya Sarah


"Nak jangan!" pinta Ibu Sarah sambil meneteskan air mata


"Apa nenek tau kalau Wildan itu putra kandung ayah?" tanya Sarah


"Maksudnya?" tanya nenek


"Ayah punya hubungan dengan wanita lain di luar, dan Wildan adalah putra ayah dengan wanita itu! Wanita itu datang padaku dan ibu, meminta agar ibu merawat Wildan karena ibu kandung Wildan terkena kanker stadium 4!" jelas Sarah sambil meneteskan air mata


"Apa?" kaget nenek


"Nenek bayangkan bagaimana perasaan ibu merawat seorang anak yang memiliki wajah ayah dengan wanita lain?" tanya Sarah


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏