My Sexy Wife

My Sexy Wife
Lepas Kendali



"Kak... Maafkan aku.." ucap Aurel lemah


"Maaf? Kau bilang maaf? Apa jika kau minta maaf semua akan kembali seperti semula?" tanya Devan


"Tolong kak... Aku hanya ingin kau menjadi milikku!" ucap Aurel


"Milikmu? Meskipun semua orang yang ku sayangi membenciku, aku tidak akan pernah memandangmu! Bahkan nyawamu itu tidak terlalu berharga dimataku sekarang!" tegas Devan


"Kenapa aku merasa kalau aura ruangan ini menjadi suram dan dingin ya?" bisik bodyguard


"Iya, suasananya menjadi mencekam!" bisik bodyguard


Tak lama Tio masuk ke ruangan mencari Devan untuk memberi tau keadaanya Reyhan.


"Tuan... Dokter Tuan Muda mencari anda!" bisik Tio


"Baiklah, kau beruntung untuk sekarang! Berdoalah aku lebih memiliki membunuhmu daripada menyiksamu!" ucap Devan


Devan berlari keluar untuk mencari dokter khusus yang merawat Reyhan.


"Bagaimana dok?" tanya Devan


"Untuk sekarang, keadaan bayi semakin memburuk. Kita hanya bisa berdoa sekarang," ucap dokter


"Dokter... Bayi atas nama Reyhan semakin memburuk keadaannya," ucap suster panik


"Apa!" kaget dokter


"Detak jantungnya melemah!" ucap suster


"Panggil semua perawat bayi terbaik! Cepat tangani sekarang!" ucap dokter


Dokter berlari kedalam untuk mengatasi keadaan Reyhan. Hampir 1 jam mereka di dalam. Devan hanya terdiam kaku sejak tadi berdoa agar putranya selamat. Tak lama dokter keluar, Devan langsung mendatangi dokter.


"Bagaimana dok keadaan putra saya?" tanya Devan


"Dia..." gugup dokter


"Katakan dia baik-baik saja!" ucap Devan panik


"Maaf tuan, kami sudah berusaha sebaik mungkin." ucap dokter


"Apa tidak mungkin, kau salah lihat dok.. Cepat cek lagi, mungkin putraku masih bernafas! Cepat dok.. Lihat mungkin dia menangis mencari ibunya," panik Devan


"Tegarkan hatimu Tuan.." ucap Tio


Devan jatuh terduduk lemas, ia mengacak-acak rambutnya. Devan benar-benar kacau, ia seperti tidak bisa berpikir. Perlahan buliran bening keluar dari mata Devan.


"Biarkan aku bertemu putraku dok, kumohon!" ucap Devan


"Baiklah," ucap dokter


Devan masuk keruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Ia melihat putranya yang pucat, diam tak bergerak.


"Kau begitu tampan nak, bibirmu mirip ibumu, hidungmu seperti ku.. Kau tampan seperti ku!" ucap Devan untuk menghibur diri sendiri


"Tuan..." panggil Tio khawatir


"Ayo nak menangislah... Kau ditunggu oleh ibumu yang cantik di sana, kasihan ibumu!" ucap Devan


Devan mengangkat pelan, menggendongnya dan memeluk erat putranya yang tidak bergerak sejak tadi.


"Apa Nyonya perlu tau Tuan?" tanya Tio


"Ayo kesana," ucap Devan sambil menggendong bayinya


///***///


Di Ruangan Prima


"Aww.. Mas itu anak kita ya?" tanya Prima senang


"......"


"Sini aku lihat, sini mommy lihat. Rey mirip siapa?" tanya Prima sambil mengulurkan tangannya


"Maaf sayang..." ucap Devan melemas


"Maaf? Untuk apa?" tanya Prima


"Putra kitaa...." gugup Devan


"Ada apa? Kenapa dengan Rey? Dia baik-baik saja kan," ucap Prima


"Kita tidak bisa menyelamatkan nyawanya," ucap Devan


"Apa!" kaget Prima


Prima masih terdiam syok mendengar kabar tersebut, tanpa sadar buliran bening mengalir dari mata Prima. Devan juga ikut menangis sambil menggendong putranya.


"Mas... Jangan bercanda," ucap Prima


"Maaf..." ucap Devan


"Ini sayang..." ucap Devan sambil menyerahkan bayinya


Prima menggendong putra kecilnya itu. Prima menangis semakin keras, Mama Devan yang dari tadi mendengar hanya bisa terdiam tanpa suara. Saat hendak melihat cucu kecilnya ia jatuh pingsan.


"Ma... Mama... Ma... Tio bantu aku," ucap Devan panik


"Baik tuan," ucap Tio


Tio dan Devan menaruh mamanya di atas sofa. Tio menghubungi semua keluarga agar segera datang, sedangkan Prima masih menangis sejak tadi sambil memeluk putra kecilnya itu.


Sakitnya bekas operasi cesar tak lagi dirasakan oleh Prima, karena sakit dihatinya melihat putra kecilnya diam tak bergerak ataupun menangis itu lebih menyakitkan untuk Prima. Ia benar-benar terpukul, awalnya pihak keluarga Devan dan Prima ingin agar Reyhan segera dimakamkan karena kasihan pada jasad Reyhan, namun Devan dan Prima masih menolak. Devan masih menangis menyesal, sedangkan Prima masih menangis dan memeluk putranya tanpa lelah.


Devan berdiri, ia keluar dari ruangan Prima dan diikuti oleh Tio dan Andre. Devan menuju ruangan Aurel.


///***///


Di Ruangan Aurel


Bruaakk....


Devan menendang pintu itu sampai jebol dan terbuka. Bukan tak mungkin untuk Devan, karena dulu Devan pernah mengikuti bela diri tenaga dalam di Bandung. Tenaga dalam Devan sangat kuat, lebih kuat daripada Tio. Namun selama ini Devan tak pernah menunjukannya pada siapapun.


Devan berjalan perlahan dengan marah, tatapan membunuh dan mata yang amat merah.


"Buat dia berdiri!" bentak Devan


"Baik boss," jawab bodyguard


Dua bodyguard menaruh tangan Aurel dipundak mereka agar bisa berdiri. Aurel masih menangis menahan sakit sejak tadi, Devan tak perduli.


"Dasar kau wanita tidak tau diri!" bentak Devan


"...."


"Gara-gara kau aku kehilangan anakku!" bentak Devan


"Hahahaha... Syukurlah, itu pantas untukmu! Salah siapa berani membuat masalah dengan Aurel!" ucap Aurel


"Kau benar-benar memprovokasi diriku!" murka Devan


Devan menatap tajam Aurel, ia mengepalkan tangannya dan...


Buaaggg....


Ia memukul ulu hati Aurel sekuat tenaga sampai Aurel langsung menyemburkan darah segar dari mulutnya.


"Gawat! Tuan lepas kendali! Andre panggil semua anggota keluarga yang pria! Cepat!" ucap Tio


"Baik," jawab Andre


Andre berlari keluar mencari Ayah Devan dan Joo. Mereka langsung berlari mengetahui keadaan Devan. Sementara Tio berusaha menghentikan Devan, namun hasilnya nihil.


Buaaggg....


Devan memukul sekuat tenaga rahang Aurel, Tio berlari menarik tangan Devan agar berhenti.


"Tuan... Saya mohon berhenti, dia bukan lawan yang sebanding untuk anda!" ucap Tio sambil menarik tangan Devan


Bruakk...


Devan menghempaskan badan Tio, hingga Tio jatuh dan di tolong oleh para bodyguard. Bodyguard yang melihatnya menjadi sedikit ketakutan jika melihat Devan yang mengamuk.


Buaaggg....


Devan menendang Aurel sampai Aurel terpental dan menghantam dinding. Joo, Andre, Tio dan Ayah Devan langsung berlari menghentikan Devan.


"Devan.. Nak sudah nak... Hentikan!" ucap Ayah Devan


"Dasar b*j*ngan!" teriak Devan yang lepas kendali


Tio langsung memegang tangan kanan Devan, Joo memegang tangan kiri Devan, Andre memegang kaki kiri Devan, salah satu bodyguard memegang kaki kanan Devan dan Ayah Devan menahan badan Devan.


"Van.. Jangan emosi Van.. Ingat anak dan istri lo!" ucap Joo


"Nak ayah mohon berhenti!" ucap Ayah Devan


"Tuan hentikan!" ucap Tio


"Dasar tidak tau diri! Aku akan membunuhmu!" teriak Devan yang lepas kendali


Devan masih mengamuk sejak tadi, sampai semua orang kesulitan untuk menenangkannya.


"Kalian, bawa Aurel keluar! Jangan diam saja!" bentak Tio


"Baik boss," jawab bodyguard


"Dasar.. Jangan bawa dia pergi! Aku belum membunuhnya!" teriak Devan


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏