
Prima semangat 45 berlari. Setelah beberapa menit, Devan sampai dirumah. Saat hendak turun ia melihat dompet Prima di jok mobil.
"lho, ini kan dompet Prima" bingung Devan
Devan kaget, ia menelfon Prima.
Triingg...
Sebuah ringtone terdengar didalam mobil.
"astaga, ponselnya pun disini. Lalu dia bagaimana?" bingung Devan
Devan menelfon Tio asistennya.
Devan : "halo, kamu dimana?"
Tio : "saya dirumah tuan"
Devan: "segera cari istriku, cari kira-kira ada 2 km dari rumahku!"
Tio : "baik tuan"
Devan memutar mobilnya dan kembali mencari Prima.
///***///
Di Jalan
Tampak beberapa pria mabuk disebuah pinggir jalan, Prima tak perduli dan tetap berlari. Saat berlari ada seorang pria yang menghadang Prima.
"cantiiikk.. Mau kemana sih?" goda seorang pria
"apaan sih, minggir!" kesal Prima
"galak banget sih" ucap pria itu sempoyongan
"aku kan udah bilang, minggir aku mau pulang" ucap Prima
Amarah Prima mulai meninggi. Ia semakin kesal.
"ayo aku antar pulang hahahaha" goda seorang pria
"minggir, aku bilang minggir kan!" bentak Prima sambil mendorong pria itu
Pria itu mental dan terjatuh, Prima hendak berlari ia benar-benar lelah dan tak mau menanggapi hal tersebut. Tapi pria tadi menarik tangannya.
"diajak baik-baik susah banget sih!" goda seorang pria
"apaan sih lepas nggak! Aku bilang lepas!" kesal Prima
Pria tersebut berusaha menggoda Prima. Prima benar-benar kesal. Ia masih kesal perkara Devan dan kini ada masalah lagi. Prima memandang sadis pria tersebut.
"aku bilang lepas! Jangan paksa aku buat jadi kasar!" tegas Prima
"apa sih? Sini main-main sama abang" goda seorang pria
"dasar manusia nggak berguna!" kesal Prima
Prima menaruh sepatunya, mencincingkn gaunnya dan menendang dada pria itu sampai terpental lalu memukul dahi pria tersebut. Tampak beberapa pria lain hendak menolongnya, tapi ada yang menahannya.
"ayo bantu dia!" ajak pria lain
"tunggu, jangan! Apa kalian nggak kenal cewek itu?" tanya pria lain
"siapa?" tanya pria lain
"dia Prima, orang yang pernah menghajarku dulu" ucap pria lain
"kalau begitu sekalian balas dendam!" ujar pria lain
"walau aku mabuk tapi aku masih sedikit takut padanya, jika aku saja boss kalian kalah apalagi kalian. Kalian hanya mainannya" ucap pria lain
"lalu teman kita?" ucap pria lain
Prima masih sibuk menghajar Pria tadi. Walaupun dia pria tapi dia sepertinya mabuk berat jadi sedikit lemah. Prima masih kesal dan seperti membayangkan kalau pria itu Devan. Prima menendang pundak pria itu sampai pria itu terjatuh. Prima langsung menduduki perutnya sambil memukul wajahnya.
"aku... sudah.. bilang.. jangan... ganggu... aku.. dasar... gak berguna...." kesal Prima sambil memukuli pria itu
"am ampuunn..." pinta pria itu
"dasar.. Pria.. tidak... berguna.. kau.. sama.. saja.. seperti.. suamiku.. dasar.. kampret.. sialan...." teriak prima sambil menampar ke kanan dan ke kiri
"kenapa aku sedikit ngeri melihatnya" ujar pria lain
"Rio pasti trauma dan tidak akan menikah" ujar pria lain
"kasihan si Rio" ujar pria lain
"dasar kampret gak gunaa......." teriak Prima
Saat masih sibuk menampar pria itu, Devan datang dan melihatnya. Ia langsung mengangkat tubuh Prima dan menariknya kebelakang Prima masih kesal dan menarik kerah pria itu.
"dasar pria s*alan, aku akan membunuhmuuuuu!!!!" teriak Prima
"sudah ayo pulang" ucap Devan
Devan berusaha keras untuk menarik Prima dan memasukkan nya kedalam mobil lalu menguncinya.
"maafkan istriku, ayo pulang!" ucap Devan
"dasar pria kampret, aku akan membalasnya!!!" teriak Prima
Devan membawa Prima pulang dan menggendongnya kedalam kamar.
///***///
Di Dalam Kamar
"kenapa kau menghentikan ku, aku hampir membunuhnya sebentar lagi!" kesal Prima
"kalau kau membunuhnya, kau akan masuk penjara. aku bagaimana?" tanya Devan
"hidup sama si ketek sana!" kesal Prima
"masih marah?" tanya Devan
"bodo, aku mau mandi!" kesal Prima
"aku mandiin ya" goda Devan
"gak usah macem-macem, aku masih marah!" kesal Prima
Prima berjalan dengan langkah kasar sambil mengumpat karena belum puas memukuli pria tadi.
Hehe, kayak singa betina ngamuk aja - Batin Devan
Devan kembali menelfon Tio dan mengabarinya, tapi malah mendapat kiriman email dokumen perusahaan. Devan mengambil laptop dan mengerjakan dokumen tadi di atas kasur. Prima masih mandi, karena kesal Prima bernyanyi didalam kamar mandi agar kemarahannya mereda.
"ku tak bisaaaa..... Jauhhhhhhh... Jauhhhh... Darimuuuu......" teriak Prima saat menyanyi
"cuman mandi doang berisik banget sih!" kesal Devan
Prima menyanyi dengan suara keras dan sangat fales. Tentu saja hal itu membuat Devan terganggu konsentrasinya saat mengerjakan dokumennya.
"ku tak bisaaaa...... Jauuhhhhhh... jaauhhhhh... daariiimmuuuuuu....." teriak Prima
Devan kesal dan berjalan menuju kamar mandi. Masih kesal, Devan membuka pintu kamar mandi.
"waaaaa.......!!!!!!" teriak Prima
"sorry!!!" kaget Devan
Terlihat Prima masih melilitkan handuk pada tubuhnya. Devan reflek menutup langsung pintu kamar mandi dan kembali menghadap laptopnya.
Astaga, apa yang kulihat barusan - Batin Devan