
"Salah paham gimana?" tanya Zalfa
"Ini Wildan, dia adiknya kak Sarah!" jelas Evelyn
"Hah, masa?" tanya Zalfa penuh selidik
"Iya ma beneran," ujar Evelyn
"Yahh.... Mama kira kamu pacarnya Evelyn, udah tinggi ngarep juga," ujar Zalfa
"Makanya ma, apa-apa itu di tanyain dulu!" ujar Joo
"Lah tadi kan juga tanya," jawab Zalfa
"Ya jangan tudep gitu lah," ujar Joo
"Ah serah lah, mama terus yang salah!" kesal Zalfa
"Ya kalo bukan mama siapa lagi?" tanya Joo
"Ya papa lah," jawab Zalfa
"Kok papa?" tanya Joo
"Papa sih nggak ngingetin mama," kesal Zalfa
"Udah ma, mama aja yang nggak respon!" ujar Joo
"Mana ada? Nggak tuh, udah deh pa. Kalo salah itu ngaku aja nggak apa, mama bakal terima dan maafin kok," ujar Zalfa
"Ehm yang salah siapa," gumam Joo
"Ya buruan minta maaf dong sama Wildan!" pinta Zalfa
"Aih... Iya deh ma iya, dari pada malaikat maut yang ngomong, mending papa aja yang ngomong. Wildan, maafin tante sama om ya," pinta Joo
"Loh, kok bawa-bawa mama sih? Kan yang salah cuma papa," ngeyel Zalfa
"Iya deh ma, iya! Wildan, om minta maaf ya kalo salah paham," ujar Joo
"Nah gitu," sela Zalfa
"Shhh berisik!" kesal Joo
"Nggak papa kok om, tante..." jawab Wildan sambil tersenyum
"Ya ampun Wildan, kamu itu ganteng banget. Kenapa sih nggak mau jadi menantu kita? Kita baik, sabar, penyayang, kaya dan nggak malu-maluin kok kalo jadi mertua," ujar Zalfa
"Nggak ada orang baik yang bilang kalo dirinya baik ma," sela Joo datar
"Ah apaan sih papa, sok puitis tau nggak!" ketus Zalfa
"Ah terserah mama deh," jawab Joo pasrah
"Saya kan masih kecil om... Tante, sekolah aja belum selesai," ujar Wildan
Dia tidak menolak? Apa maksudnya? - Batin Evelyn
"Emang kelas berapa?" tanya Zalfa
"Masih kelas 3 SMA tan," ujar Wildan
"Halah nggak papa, bentar lagi juga lulus. Kalo suka buruan ngomong, walaupun Velyn itu anaknya bandel, susah di bilangin, selalu menang sendiri, ngomong seenak jidatnya, ceplas-ceplos nggak aturan, nggak pinter masak, kalo nyanyi suaranya jelek, paling anti kotor, nggak mau bersih-bersih dan nyebelin. Tapi Velyn baik hati kok, jadi kalo nggak buruan ngomong duluan nanti bisa-bisa Velyn dibawa orang lain," jelas Zalfa panjang lebar
"Ma... Mama deskripsiin aku apa jelek-jelekin aku sih?" tanya Evelyn datar
"Ya deskripsiin lah, mana ada ibu yang menjelek-jelekkan anaknya," ujar Zalfa
"Kata-kata yang di anggap baik aja kayak gini, trus kalo jelek-jelekin aku pake kata-kata apa? Nggak kebayang," gumam Evelyn
"Saya mau fokus sekolah dan merintis karir dulu tante," ujar Wildan
"Wahh... Pikiran kamu dewasa banget ya, tante suka. Kapan-kapan kalo mau main ke rumah langsung datang aja ya, kami selalu menyambut kamu kok di rumah," ujar Zalfa
"I iya tante," jawab Wildan
"Semangat Wildan, kalo karir kamu bagus pasti buat cari jodoh juga gampang. Bayangin aja deh, kalo tampan plus mapan, udah deh... Usaha dikit aja, pasti banyak yang nyantol," ujar Joo
"Iya om," jawab Wildan
.
.
.
.
.
"Hai om... Hai tante.." sapa Devina
"Eh ada Dev, gimana sekolah kamu? Udah kelas 3 SMA ini kan?" tanya ayah Adit
"Adit gimana kelakuannya? Masih kekanak-kanakan nggak?" tanya ibu Adit
"Nggak kok tante, Kak Adit itu baik. Udah bisa lebih dewasa dari biasanya," ujar Devina
"Oh syukurlah, tante juga titip Adit sama kamu ya. Jewer aja kalo nakal," ujar Ibu Adit
"Siap tante," jawab Devina
"Doorr!" ucap Adit yang sengaja mengagetkan kedua orang tuanya
"Astaga! Adit! Masih aja kayak anak kecil," kesal Ayah Adit
"Bukannya kayak anak kecil yah, tapi selera humor," ujar Adit
"Kapan sih kamu seriusnya? Kamu itu udah dewasa, lihat anak-anak temen ibu! Udah pada bawa calon ke rumah buat di kenalin, lah kamu? Tiap hari main aja terus sama cowok. Emm... Kamu masih suka sama cewek kan Dit?" tanya Ibu Adit
"Ya ampun ibu, Adit masih normal. Ibu tenang aja, nanti kelulusan aku pasti udah bawa calon!" ucap Adit dengan penuh percaya diri
"Halah, ngomong doang," ledek Ayah Adit
"Eh beneran tau," elak Adit
Ayah.. Ibu... Calonnya udah ada di depan kalian - Batin Adit
.
.
.
.
.
Sarah dan Reyhan masing-masing memegang gelas minuman, mereka bersandar di balkon dari lantai 4 hingga bisa melihat pemandangan indah kota Jakarta dari atas saat malam hari.
"Huh... Sungguh indah," gumam Sarah
"Terima kasih," ujar Reyhan
"Hm? Buat apa?" tanya Sarah
"Udah kasih aku kesempatan," ujar Reyhan
"Aku percaya kamu nggak bakal khianatin aku. Tapi jaga kepercayaan ini, jika sampai sekali lagi hancur, aku tidak menjamin apakah masih bisa memberimu kesempatan lagi," jelas Sarah
"Baiklah, jangan tinggalkan aku apapun yang terjadi," pinta Reyhan
"Tidak akan," ucap Sarah
Reyhan berbalik dan memandang lekat wajah Sarah, lalu menyentuh pipi Sarah dengan lembut.
"Kamu wanita pertama yang membuat ku tenang selain nenek, ibu dan adikku. Dan malam ini... Kamu sangat cantik," ujar Reyhan
Sarah pun ikut memandang mata indah milik Reyhan, manik mata hitam yang biasanya tampak tajam dan buas kini menjadi tatapan mata yang penuh kasih sayang.
"Kamu pernah dengar pepatah ini? Manusia bisa berbohong dengan mulutnya, namun tidak matanya," ujar Sarah
"Hmmm... Kenapa?" tanya Reyhan
"Tatapan mata kamu yang bisanya dingin itu berubah menjadi hangat dan penuh kasih malam ini," ujar Sarah
"Benarkah?" tanya Reyhan
"Hmm... Aku lebih suka kau yang seperti ini," ujar Sarah
"Aku akan selalu seperti ini di hadapanmu," ujar Reyhan
"Tapi aku takut..." gumam Sarah yang di dengar Reyhan
"Takut kenapa?" tanya Reyhan
"Banyak orang yang mengatakan, kalau cinta pertama tidak akan pernah berhas...." ucap Sarah terpotong saat Reyhan menempelkan jari telunjuknya ke bibir Sarah
"Aku tidak percaya itu, kenyataannya... Cinta pertamaku sangat berhasil dan dia juga tidak pernah menyakitiku. Kami saling menjaga dan saling menyayangi, kami juga sering menghabiskan waktu bersama-sama selama bertahun-tahun tanpa rasa bosan," jelas Reyhan
Sarah melepaskan tangannya dari pundak Reyhan dan sedikit melangkah mundur.
"Apaa... Kau punya wanita lain?" tanya Sarah ragu
"Tentu, dia wanita tercantik, terkuat, paling mempesona dan selalu membuatku kagum tanpa henti, bahkan beberapa hari tidak bertemu dengannya sudah seperti bertahun-tahun kami terpisah," ujar Reyhan
Sarah langsung menundukkan wajahnya dan berpikir, apa benar tindakannya untuk menerima lamaran Reyhan?
"Itu bukan aku," gumam Sarah "Siapa dia?"
"Dia? Dia...."
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏