
Note: Dengarkan lagu
'Another Day - Punch ft. Monday Kiz'
Author memaksa! 😂 Gak punya download lah... Gak ada kuota, minta hotspot atau wifi😂
***
Adit mulai melangkahkan kakinya untuk pergi, ia berbalik badan lalu menghela nafas panjang. Berharap kalau ini yang terbaik.
"Adit..." panggil Papa Adit
"Ya pa?" tanya Adit sambil berbalik
"Baik-baik di sana... Segera pulang," ujar Papa Adit
"Iya pa..."
Harapan Adit hancur seketika, ia berharap kalau papanya membatalkan keputusannya. Memang terkadang kenyataan itu menyakitkan.
Selamat tinggal Indonesia... Aku akan segera kembali. See you in another day, Devina - Batin Adit
Adit melangkahkan kakinya dan membawa kopernya. Ia berjalan dengan langkah yang pendek agar lebih lama berjalan. Hatinya berat, pikirannya kacau dan kakinya menolak berjalan.
Setelah cukup jauh Adit berjalan, Devina duduk di kursi tunggu. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Air matanya mengalir.
"Hiks... Hiks...."
Silvy duduk di samping Devina untuk menenangkannya. Devina tetap saja menangis. Galang pun ikut duduk untuk menemani Devina.
"Sudahlah Dev... Jangan menangis lagi, lanjutkan saja semua seperti biasanya. Pasti tidak akan terasa lama," ujar Silvy
"Yang kuat ya Dev... Mama berdoa semoga kalian secepatnya bisa bersama lagi," ujar Mama Adit yang datang menghampiri Devina
"Hiks... Iya ma, hiks..." jawab Devina
"Ayo pulang saja! Kami antar," ujar Galang
"Hiks... Nggak usah," sela Devina dalam tangisnya
"Nggak papa.. Nggak baik kalo kamu nyetir dalam kondisi seperti ini, bisa bahaya," jawab Silvy
"Iya nak... Biar di antar Galang sama Silvy aja," ujar Mama Adit
"Yuk.. Aku antar, biar aku yang nyetir mobilnya," ujar Galang
Devina menurut, ia berjalan keluar dengan digandeng pundaknya oleh Silvy. Air matanya tetap saja mengalir, hatinya sedang rapuh saat ini.
///***///
Di Dalam Mobil
"Mau dengerin musik Dev?" tanya Galang
"Iya..."
Terdengar musik 'Another Day' yang dinyanyikan oleh Punch dan Monday Kiz. Hati Devina semakin miris mendengar lagu itu.
Hah....
Devina menghela nafas panjang, ia menyandarkan tubuhnya di kursi belakang. Terlalu lama berkendara karena macet, Devina memejamkan matanya dan mengistirahatkan hatinya sejenak. Tak terasa, Devina tertidur saat di dalam mobil.
Silvy dan Galang saling bertukar pandangan, mereka sama-sama tidak tega melihat kondisi Devina. Gadis lembut, manja dan lugu itu harus merasakan sulitnya LDR beda negara, bahkan beda benua.
"Aku kasian liat Devina..." ujar Silvy
"Aku sendiri juga nggak tega lihatnya. Tapi kita bisa apa? Semua keputusan itu ditangan Papa sama Adit," jelas Galang
"Haih... Aku merasa bersalah karena tidak bisa membantu mereka," ujar Silvy
"Kita berdoa saja semoga mereka bisa bersama lagi," ujar Galang
"Hmm... Semoga saja," jawab Silvy
///***///
30 Menit Kemudian
Setelah cukup lama berkendara, terjebak macet, beradu argumen dengan pengendara lain, akhirnya mereka bisa sampai di kediaman Kalandra. Galang masih saja tidak tega membangunkan Devina.
"Kamu aja deh yang bangunin... Nggak tega aku," ujar Galang
"Kok aku?"
"Kan sama-sama cewek, pasti lebih gampang! Sana bangunin," ujar Galang
"Ish... Iya-iya!"
Mata Galang dan Silvy mengikuti arah jalannya mobil hitam yang seperti mereka kenal.
.
.
.
"Dev... Devina... Bangun, udah sampe rumah loh,"
"Hm..."
"Ayo bangun, udah nyampe rumah loh,"
"Iya kak..."
Devina mengucek kedua matanya, ia keluar dengan nyawa yang belum terkumpul. Setelah keluar dari dalam mobil, ia meregangkan tubuhnya sebentar lalu mulai melihat dengan jelas.
"Suprize...."
"Ini.... Nggak bercanda kan? Aku pasti mimpi," gumam Devina
"Nggak mimpi! ini kenyataan!"
"Nggak mau peluk atau apa gitu?"
Devina langsung memeluk erat pria yang kini sedang berdiri di depannya itu. Air matanya kembali mengalir.
"Kamu jangan bercanda gini dong, hiks.. Nggak lucu tau! Hiks..." kesal Devina
"Maaf... Aku sendiri juga nggak nyangka bisa gini," jawab Adit
"Kamu kenapa masih di sini? Hiks... Kamu harus segera berangkat," jawab Devina
"Aku nggak bakal kemana-mana! Aku bakal tetep di sini sama kamu," jawab Adit
Devina mendongakkan kepalanya, ia menatap Adit dengan ekspresi penuh tanda tanya.
"Aku nggak jadi berangkat ke USA," jawab Adit
Devina terdiam. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Kok diem? Nggak seneng?" tanya Adit
"Bukannya gitu... Kamu serius kan?" tanya Devina
"Iya serius lah... Masa bercanda?" tanya Adit
"Jadi..."
"Aku bakal tetep di Indonesia dan melanjutkan S2 di Indonesia juga," jelas Adit
Semua orang yang mendengar kabar itu langsung senang dan bersyukur. Devina kembali memeluk erat Adit.
"Kamu jangan bercanda kayak gini kenapa sih? Hiks... Aku sedih banget waktu tau kamu bakal pergi, hiks..." tangis Devina
"Eh kok malah nangis? Aku juga nggak tau kalo bakal gini akhirnya. Aku aja juga nggak nyangka," jawab Adit
"Sebenarnya apa yang terjadi sih Dit?" tanya Galang
"Jadi..."
Flashback On
Adit berjalan semakin jauh dan segera Check In, Devina juga sudah diantarkan pulang oleh Galang dan Silvy.
"Huh... Semangat Adit! Jangan nangis! Lo itu cowok!" gumam Adit menyemangati dirinya
"Dit..." panggil Papa Adit
"Ya pa?" tanya Adit
Papa Adit menyusul dari belakang, ia menghentikan langkah Adit.
"Kamu nggak usah berangkat," ujar Papa Adit
"Hah?"
Sreekk...
Papa Adit merobek tiket pesawat yang ada di tangan Adit.
"Pa... Itu tiket..."
"Kamu nggak usah berangkat, kamu pulang dan susul Devina sekarang," ujar Papa Adit
"Pa.. Maksudnya papa apa sih?" bingung Adit
"Dit... Maafin papa, papa selama ini cuma pengen tau aja seberapa besar cinta kamu ke Devina. Dan juga seberapa besar pengorbanan kamu buat dia. Sikap kamu yang masih kekanak-kanakan membuat papa nggak yakin sama hubungan kalian. Devina itu gadis lembut dan manja, sedangkan kamu ini pria yang kekanak-kanakan," jelas Papa Adit
"Jadi?"
"Papa nggak percaya sama perasaan kamu sebelumnya. Makanya papa pengen lihat, seberapa dewasa kamu sampai kamu berani untuk mengajak Devina menikah," jelas Papa Adit
"...."
"Sekarang papa udah tau, kamu itu benar-benar udah dewasa dan bisa bertanggung jawab. Sekarang pergi dan kejar Devina, kasihan dia nangis sejak tadi," ujar Papa Adit
Adit langsung memeluk papanya erat dengan penuh kasih sayang.
"Makasih pa... Makasih mau percaya sama Adit," ujar Adit
"Sama-sama! Sana kejar," ucap Papa Adit
"Iya pa, Adit pergi dulu. Ini kunci mobil kakak kamu. Sekalian balikin mobilnya ke dia, dia antar Devina pulang," ujar Papa Adit
"Siap pa! Adit pergi dulu," ujar Adit
"Iya.. Hati-hati!"
Adit secepatnya berlari keluar untuk mencari mobil Galang. Ia mengendarai mobil Galang menuju rumah keluarga Kalandra.
Flashback Off
"Oh... Jadi gitu,"
"Jadi sekarang gimana?" tanya Adit
"Sekarang? Gimana apanya?" tanya Devina kebingungan
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏
Ketika mendekati akhir, author meminta sebuah permintaan kecil pada kalian.
1. Tulis kesan-kesan kalian saat baca Novel ini yah!
2. Jika kalian punya pertanyaan tentang apapun itu, mau tentang novel atau tentang author. Tulis di kolom komentar 😇
3. Apa hal-hal yang tidak terlupakan dari novel ini.
4. Follow dan baca karya lain author ya😇