My Sexy Wife

My Sexy Wife
Sakit (2)



Prima sesegera mungkin pergi untuk mengecek keadaan Sarah.


Jangan sampai terjadi apapun pada dirimu nak, aku tidak rela! - Batin Prima


Cklek....


Prima membuka pintunya, di dalam sudah terdapat seorang dokter dan seorang perawat yang sedang menangani Sarah.


"Dok bagaimana keadaan Sarah?" tanya Reyhan


"Dia baik-baik saja, hanya sedikit demam dan asam lambungnya naik. Setelah ini obatnya harus rajin di minum agar asam lambungnya segera turun, dan jangan sampai telat makan ya!" pesan dokter


"Iya dok," jawab Reyhan lega


"Lalu kenapa dia bisa tidak sadarkan diri?" tanya Prima


"Demamnya terlalu tinggi dan ada kemungkinan dehidrasi. Untungnya pasien tidak mengalami steb," ujar Dokter


"Oh syukurlah..." ucap Prima lega


"Baiklah saya pergi dulu ya," ucap dokter


"Makasih dok," jawab Reyhan


Dokter yang memeriksa Sarah pun keluar, suasana menjadi dingin. Prima memecah keheningan dengan mengajak bicara Wildan.


"Dan... Nanti kalo ada apa-apa segera kasih tau mommy Prima ya!" pesan Prima


"Iya mom," jawab Wildan


Tanpa menghiraukan Reyhan, Prima hanya berlalu keluar. Reyhan merasa tidak nyaman, lantas ia mengejar Prima dan menarik tangan Prima.


"Mom tunggu!" panggil Reyhan


Prima langsung menepis tangan Reyhan, Reyhan benar-benar tidak suka saat di diamkan oleh Prima.


"Mom aku minta maaf mom. Mommy boleh marahi aku, boleh pukul aku atau terserah mommy mau apakan aku. Tapi tolong mom, jangan diamkan aku!" pinta Reyhan


"Mommy mau kerja, masih ada operasi setelah ini!" ketus Prima


"Mom... Biarin Rey jelasin semuanya mom, Rey mohon!" pinta Reyhan


"Mommy harus pergi!" ketus Prima sambil berlalu pergi


"Mom... Mom.... Mommy! Maafin Rey mom!" teriak Reyhan


Maaf Rey, mommy masih kecewa sama kamu. Mommy harap setelah ini kamu bisa lebih dewasa - Batin Prima


Dengan gontai Reyhan berjalan kembali menuju ruangan Sarah. Wildan yang melihatnya merasa aneh.


"Kak... Kak Rey lagi berantem sama mommy Prima ya?" tanya Wildan


"Ya gitu deh," ujar Reyhan


"Ada masalah apa Kak? Kok kayaknya mommy Prima marah banget?" tanya Wildan


"Hah.... Aku juga bingung Dan harus ngomong gimana," ucap Reyhan sambil menghempaskan dirinya ke sofa


"Kak Rey semangat ya! Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya," ujar Wildan


"Iya Dan, makasih udah semangatin," ujar Reyhan


"Sama-sama kak," jawab Wildan


Tingg....


Sebuah pesan masuk ke ponsel Wildan, Wildan pun melihat siapa yang mengirim pesan pada nya.


Devina


Dan dimana? Kamu nggak daftar hari ini?


Wildan


Sorry Dev, kayaknya besok deh.


Devina


Kenapa emang?


Wildan


Aku masih di rumah sakit


Devina


Loh kenapa? Ada apa? Kamu sakit kah?


Wildan


Kakakku yang sakit


Devina


Kakak? Kak Sarah?


Wildan


Iya Dev


Devina


Kamu di mana? Aku ke sana sekarang ya!


Wildan


Nggak usah, ngerepotin


Devina


Kapan ada kata 'ngerepotin' di antara kita? Udah sekarang kamu di mana?


Wildan


Rumah sakit kota


Devina


Tempat mommy ku kerja?


Wildan


Iya Dev


Devina


Mommy udah tau?


Wildan


Udah Dev


Devina


Ok tunggu bentar ya! Kamu pengen nitip sesuatu nggak?


Wildan


Nggak usah Dev


Devina


Ok aku otw!


Wildan


Ok Dev


"Siapa Dan? Kayaknya asik banget," tanya Reyhan


"Dev kak," jawab Wildan


"Oh, dia kenapa?" tanya Reyhan


"Mau ke sini katanya," ujar Wildan


"Sekarang?" tanya Reyhan


"Iya kak," jawab Wildan


Kesempatan yang bagus untuk minta maaf pada Dev - Batin Reyhan


"Kak anterin..." pinta Devina


"Ke mana?" tanya Adit


"Rumah sakit kota," jawab Devina


"Loh siapa yang sakit? Kamu sakit?" tanya Adit


"Ih bukan! Kak Sarah yang sakit," jawab Devina


"Lah kok bisa?" kaget Adit


"Ya namanya manusia pasti bisa sakit lah kak. Kalo nggak bisa sakit itu baru aneh," ujar Devina


"Oh iya juga yak," ucap Adit


"Orang sakit bagusnya di kasih apa Kak? Ada ide?" tanya Devina


"Kasih doa aja biar cepet sembuh," jawab Adit


"Kak, kasih saran bisa yang logis nggak?" tanya Devina datar


"Loh kenapa? Orang sakit kan butuh doa," jawab Adit


"Iya, tapi maksudnya yang berwujud! Misalnya buah tangan apa gitu," ucap Devina


"Kalo yang aku tau sih buah dada Dev," ucap Adit sambil tangan di dagu, sok mikir gitu.


Pakk....


Devina memukul keras pundak Adit dengan sling bag nya.


"Pikirannya kotor terus!" kesal Devina


"Aduh... Sakit Dev!" keluh Adit


"Yang serius dong!" kesal Devina


"Ya udah, kasih ada voucher diskon kamu atau tempelin jidatnya pake uang yang merah-merah itu loh," ujar Adit


"Emang emak-emak yang sakit gara-gara hutang!" kesal Adit


"La terus apa? Searching google coba," ujar Adit


"Ih malu-maluin deh, cuma gini aja searching di internet," ucap Devina


"Emang kamu tau?" tanya Adit


"Nggak," jawab Devina


"Ya udah searching aja," ujar Adit


"Nah aku inget!" ucap Devina


"Inget apa? Ingat mati?" tanya Adit


"Ya ampun, masa aku mati sekarang..." ucap Devina dengan wajah memelas


"Eh jangan dong, nanti jodohku sama siapa? Masa ibu-ibu yang jual siomay itu?" tanya Adit


"Nggak papa, enak dong tiap hari makan siomay," jawab Devina


"Nggak mau, maunya yang cantik dan bohay kaya Dev seorang," jawab Adit


"Eh jangan remehkan the power of emak-emak. Muka di poles, baju bermerek, badan wangi parfum... Wah nanti kamu naksir lagi," ujar Devina


"Setiaku hanya satu untuk dirimu," ucap Adit


"Gombal! Fokus! Beli buah aja," jawab Devina


"Buah tangan?" tanya Adit


"Iya buah," jawab Devina


"Beli apa?" tanya Adit


"Buah," jawab Devina


"Iya buah tangannya apa?" tanya Adit


"Buah, buah tangannya buah," jawab Devina


"Loh sayangku... Aku tanya, buah tangannya apa?" tanya Adit


"Iya baby honey ku, kita beli buah!" jawab Devina


"Iya, buah apa?" tanya Adit


"Hih! Buah tangannya itu buah. Buah apel, anggur, pear, jeruk!" jelas Devina


"Oh buah," jawab Adit yang baru ngeh


"Susah banget di ajak ngomong!" kesal Devina


"Sorry, tadi aku nggak ngeh," ujar Adit


"Sekarang udah?" tanya Devina


"Hehe udah," jawab Adit sambil garuk-garuk kepala


"Ayo berangkat, jangan lupa mampir toko buah buat beli parcel," pesan Devina


"Siap boss!" jawab Adit


///***///


Di Rumah Sakit


Setelah membeli parcel, Devina dan Adit langsung pergi menuju rumah sakit. Devina juga sudah bertanya di mana kamar Sarah, jadi bisa langsung ke sana.


"Sayang... Kenapa jadi aku yang bawa parcelnya?" tanya Adit


"Masa aku? Kamu kan cowok," jawab Devina


"Haduh... Untung sayang," gumam Adit


Selama ini kan Adit tidak pernah di suruh-suruh oleh orang lain, hanya keluarga terdekatnya yang berani menyuruh ini dan itu.


"Bener ini kamarnya?" tanya Adit saat berhenti di depan sebuah pintu


"Kayaknya iya deh," jawab Devina


"Masuk coba," ujar Adit


"Nanti kalo salah gimana?" tanya Devina


"Tinggal minta maaf lah," jawab Adit


"Kalo gitu kamu yang buka ya," pinta Devina sambil mengeluarkan senyum lebarnya


"Jangan senyam-senyum, nanti kalo beneran salah kamar gimana?" tanya Adit


"Kan kalo salah kamu yang malu hehe," ucap Devina cengengesan


"Kamu aja, ladies first," ucap Adit


"Nggak mau, cowok itu kelak jadi imam. Jadi harus kasih contoh," ujar Devina


"Tanganku penuh bawa parcel loh ini," ucap Adit


"Sini... Dah sana buka," ucap Devina sambil mengambil parcel dari tangan Adit


"Lah curang!" kesal Adit


Baru Adit hendak masuk, Reyhan lebih dahulu membuka pintu dari dalam.


"Loh Rey di sini," ucap Adit basa-basi


"Dev..." sapa Reyhan


Devina masih menatap Reyhan dengan tatapan marah, Devina masih marah karena Reyhan berani membentaknya semalam.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏