My Sexy Wife

My Sexy Wife
Bocah



Memang awalnya nenek Devan sedikit tenang melihat mereka berdua tidur, tapi salah tetap salah.


"Devan!" bentak nenek Devan


Bruuakk...


Devan yang kaget langsung jatuh dari sofa.


"aduhh... nenek, nenek ada apa kesini?" tanya Devan setengah sadar


"kenapa kamu biarin Prima lari semalam!" bentak nenek


"gi gimana nenek bisa tau" gugup Devan


"kamu pikir kamu nggak bilang nenek nggak tau hah!" kesal nenek


Devan dan nenek terus berdebat, karena keras Prima terbangun.


"nenek..." ucap Prima


"maaf ya kamu kebangun" ucap nenek lembut


"nenek ngapain disini?" tanya Prima


"kamu tenang aja, nenek bakal kasih pelajaran sama suami kamu!" ucap nenek


"maksud nenek?" bingung Prima


"sini kamu bocah sialan, udah besar malah kaya bocah. Dasar cucu gak berguna" ucap nenek yang kesal sambil memukuli Devan


"aduhh ampun nek, ampun gak bakal diulangi lagi deh ampun" ucap Devan


"emang nggak boleh diulangi lagi" kesal nenek


Nenek memukuli Devan sampai puas, setelah selesai semua duduk di sofa.


"kamu ini udah punya istri, bukannya dimanjain malah dibuat sakit" kesal nenek


"iya iya nek, nggak di ulangin lagi" ucap Devan


"awas kalo kamu ketahuan di ulangin lagi, kamu nenek pindah ke afrika sana" ucap nenek


"jangan dong nek, masa Devan tinggal di Afrika" ucap Devan


"terserah nenek dong, itu semua tergantung kelakuan kamu" ancam nenek


"kalian kayaknya udah makin dekat aja, 3 hari lagi siap-siap ya" ucap nenek


"kemana nek?" tanya Prima


"nenek nanti pesenin tiket honey moon buat kalian" ucap nenek


"jangan nek!" tolak Devan dan Prima bersamaan


"kenapa? Sejak menikah kalian belum berlibur sama sekali, apa kalian mau membuat nenekmu ini tidak bisa melihat buyutku sebelum meninggal" ucap nenek


"bukannya gitu nek tapii..... Ah Prima masih ada kuliah, bentar lagi ujian. Habis ujian baru libur" ucap Prima


"Devan juga baru mulai kerja sama buat perusahaan. Nggak bisa dong Devan tinggal begitu aja" ucap Devan


"yaudah, kalo udah longgar bilang aja kapan nanti nenek atur honey moon buat kalian" ucap nenek


"nek nggak usah repot-repot" tolak Prima halus


"nek gini ya, gak usah musingin masalah kita. Tanpa bulan madu pun nanti pasti nenek juga punya cucu, mau cucu berapa? Hal seperti ini biar aku dan istriku yang mengaturnya" tanya Devan yang merangkul pundak Prima


Prima melihat tangan Devan aneh dipundaknya.


"hahahaha, kamu sangat bersemangat. Baiklah, berapapun nenek syukuri" ucap nenek


"sekarang nenek udah puas marah, mukulin Devan dan ceramahin kita berdua kan? Nenek bisa pulang, aku juga butuh waktu dengan istriku nek" ucap Devan manja


"hahahaha baiklah-baiklah, nenek pulang dulu ya. Sering-sering berkunjung kerumah, jangan hanya karena kamu punya rumah sendiri trus lupa sama nenek" ucap nenek


"iya nek sana pulang, Devan nggak anter ya" ucap Devan


"iya, nenek pergi dulu" ucap nenek


Setelah nenek pergi, Prima menghempas tangan Devan dari pundaknya.


"apaan sih" kesal Prima


"gimana? Nenek minta cucu tuh" goda Devan


"aa apaan sih kamu, u udah aku mau pulang" ucap Prima


"gak mau itu dulu?" goda Devan


"hah? itu?" bingung Prima


"iya, mempercepat proses. Lebih cepat lebih baik, nanti supaya nenek nggak marahin aku lagi" ucap Devan


Mata Prima terbelalak mendengar perkataan Devan.


"dalam mimpi kamu aja" kesal Prima


Prima berdiri, karena kakinya masih terluka ia tidak seimbang dan terjatuh. Devan menariknya hingga Prima jatuh dipelukan Devan. Mereka berdua tergeletak diatas sofa dengan posisi Prima diatas.


"agresif banget, katanya tadi nggak mau. Disuruh dimimpi aja, kayaknya harus jadi kenyataan ya" goda Devan


"a apaan sih, kan salah kamu. Kamu narik aku" kesal Prima


"mau lanjut?" tanya Devan


"tunggu dulu" ucap Devan sambil duduk


"apa lagi?" tanya Prima


"makasih buat dokumennya" ucap Devan


"oh sama-sama, oh iya nggak ada yang gratis di dunia ini. Kapan-kapan ajak aku keluar jalan-jalan ok" ucap Prima


"pasti" jawab Devan


"aku pulang" ucap Prima


"tunggu..." panggil Devan


"apa sih?" tanya Prima


"kenapa kamu anter sendiri, padahal kaki kamu luka" ucap Devan


"kalo nggak aku anter, emang dokumennya bisa jalan sendiri?" tanya Prima


"ya kan kamu bisa telfon Tio untuk ambil, tapi kenapa malah kamu anter sendiri?" tanya Devan sambil berharap


"oh iya juga ya, **** juga aku kadang-kadang. Buang-buang waktu aja, malah kakiku tambah sakit" ucap Prima


Oke aku bodoh berharap balasan indah dari gadis ini - Batin Devan


"yaudah kamu emang ****, sana pulang" ucap Devan kesal


"biasa aja nggak usah ngegas" jawab Prima


"tunggu dulu..." ucap Devan


"apa lagi suamiku" ucap Prima jengkel


Devan berdiri menghampiri Prima. Devan memegang kepala Prima dan mencium kening Prima.


Degg... Deg.. Degg...


Kenapa aku berdebar-debar saat dicium olehnya - Batin Prima


Oke, di google tadi gini kan caranya manjain istri - Batin Devan


"ayo ikut aku" ajak Devan


"kemana?" tanya Prima


"udah ikut aja, aku nggak bakal bunuh kamu kok" ucap Devan


Devan mengajak Prima keluar dengan bergandeng tangan, banyak orang yang memandangnya iri sekaligus kagum. Seorang gadis cantik seperti Prima bisa memenangkan hati seorang Devan, pikir orang-orang. Devan mengendarai mobilnya bersama Prima dengan kecepatan sedang.


///***///


Di Rumah Sakit


"gimana Dre?" tanya Devan


"ini tidak serius, cuma luka luar. Istirahat yang cukup, sering oleskan salepnya dan jangan banyak berjalan dulu ya" ucap Andre


*Andre adalah teman Devan yang seorang dokter dirumah sakit terkenal dikota.


"kok nggak dibawa ke IGD Dre ?" tanya Devan


"ya kali Van luka kayak gini dibawa ke IGD" bingung Andre


"tapi kalo lukanya parah gimana? Kalo komplikasi atau infeksi?" tanya Devan


"kalo parah mana mungkin aku ijinin langsung pulang Van" ucap Andre


"kalo gitu kita pesan 1 kamar VVIP" ucap Devan


"hah? Buat apa Van?" bingung Prima


"luka kamu harus dirawat, nanti kalo kenapa-napa gimana?" tanya Devan


Astaga sweet sekali, sangat perhatian - Batin Prima


"gak usah, dirumah aja cukup. Nanti biar mbak Rina yang bantu aku" ucap Prima


"nggak bisa, Dre urusin kamarnya" ucap Devan


"bai.." ucap Andre


"jangan dok!" ucap Prima


"urus" ucap Devan


"jangan" tolak Prima


"urus" ucap Devan


"jangan! Aku bilang jangan" ucap Prima


Akhirnya Prima di rawat inap karena paksaan Devan.


Oke aku salah, dia cuma bocah berbadan besar. Mana ada cuma luka lecet sampe dirawat dirumah sakit? - Batin Prima


Hehe, harusnya dia terkesan dengan perhatianku - Batin Devan


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏