
Devan langsung menepis tangan Aurel hingga sendoknya jatuh.
"Sayang, kamu ke sini? Nggak di rumah sakit?" tanya Devan
"Ngapain dia di sini?" tanya Prima
"Nggak tau, gak jelas ni cewek!" ketus Devan
"Aurel... Aurel... Heran deh, kamu bakat banget sih jadi pelakor. Sekolah kursus pelakor dimana?" tanya Prima
"Jaga ya mulut lo," ucap Aurel
"Jaga ya perilaku lo, jangan mentang-mentang gue diem selama ini gue nggak bisa kasar ya! Gue menghargai lo karena lo anak rektor gue, tapi toleransi gue ada batasnya!" tegas Prima
Sialan, kenapa dia terlihat jadi susah dihadapi seperti ini? Biasanya kan dia diam saja - Batin Aurel
"Mending lo sekarang keluar, dan jangan pernah ganggu gue sama suami gue lagi!" tegas Prima
"Hak apa lo ngelarang gue?" tanya Aurel menantang
"Masih tanya? Gue istri sahnya Devan, secara agama maupun hukum. Sekarang gue tanya, hak apa lo godain suami orang?" tanya Prima
Ni cewek pedes banget sih omongannya - Batin Aurel
"Udah-udah, Aurel kamu keluar sendiri atau aku suruh security seret kamu?" tanya Devan
"Kak.. Tapi.." ucap Aurel memohon
"Jaga perilaku kamu, kamu masih muda dan belum menikah. Jangan berperilaku seperti gadis m*rahan!" tegas Devan
"Mu.. M*rahan?" kaget Aurel
"Kamu itu dari keluarga terhormat, jadi jaga sikap kamu!" ucap Devan
"Kak... Apa sih bagusnya si j*lang ini!" kesal Aurel
Devan berdiri dari kursi kebesarannya. Ia mendekati Aurel, menyentuh lembut pipinya lalu...
Plak...
Devan menampar pipi kanan Aurel dengan sangat keras hingga Aurel jatuh tersungkur.
"Kamu tidak berhak untuk mengomentari istriku, dan juga jika aku memilihnya berarti dia 100% lebih baik darimu!" tegas Devan
"Kak.. Kamu menamparku?" tanya Aurel
Air mata mulai mengalir di pipi Aurel yang memerah, Prima hanya berdiri sambil menunjukkan senyum kemenangan diwajahnya. Prima berjongkok, mengangkat dagu Aurel dengan keras. Aurel menepis tangan Prima dan...
Plakkk.....
Prima menampar pipi kiri Aurel dengan keras.
"Jangan pernah sebut aku j*lang dengan mulut kotormu itu! Karena sebenarnya, kamu yang lebih cocok di panggil j*lang!" tegas Prima
Devan memanggil security untuk menyeret Aurel keluar, Devan juga memblack list nama Aurel di perusahaan dan kontak hpnya agar Aurel tak bisa masuk ke perusahaan ataupun menelfonnya lagi. Devan juga tak menyangka Prima bisa menjadi sekejam itu saat marah.
Prima bernafas lega, berharap Aurel tidak akan menggangu hidupnya lagi. Prima menyilangkan tangan dan memandang sinis Devan.
"Sayang kamu salah paham, beneran. Dia cuma berusaha suapin aku tapi aku nggak respon sama sekali, sumpah nggak ngapa-ngapain lagi!" ucap Devan yang takut Prima salah paham
"Ini toleransiku yang terakhir kalinya untuk masalah kalian berdua. Sekali lagi aku salah paham, kalian tanggung akibatnya!" ancam Prima
"Iya, gak bakal deh. Trus kenapa kesini?" tanya Devan
Devan duduk kembali di kursi kebesarannya, sedangkan Prima tiba-tiba memeluk manja dari belakang.
"Eh ada apa ini?" tanya Devan
"Mas aku mau tanya, seandainya aku suka ke orang lain gimana?" tanya Devan
"Apa maksud kamu?" tanya Devan yang mulai cemberut
"Ya andai aku menyukai dan menyayangi salah seorang makhluk Tuhan gimana? Yang jelas bukan kamu," ucap Prima
"Kalau dia berani mengambil mu dariku akan ku hancurkan dia, jika berani mengambil perhatianmu akan ku beri pelajaran dia! Kau ini hanya milikku!" tegas Devan
"Maaf mas.." ucap Prima sambil menunduk
"Ada apa? Apa maksud perkataan kamu?" tanya Devan
"Kamu beneran sayang kan ke aku?" tanya Prima
"Iya lah, apapun keadaanmu aku selalu mencintaimu. Kenapa?" ucap Devan
"Aku takut kau meninggalkanku," ucap Prima
"Husstt... Jangan ngomong gitu, bahkan dalam mimpi pun aku tidak akan meninggalkan mu sayang!" ucap Devan
"Apa nenekmu benar-benar menginginkan seorang cucu?" tanya Prima sambil menunduk
"Hei, jangan pikirkan kata mereka. Mereka hanya bicara, sedangkan yang menjalani semua itu kita!" ucap Devan
"Apa ini?" tanya Devan
"Ini testpack, alat tes kehamilan!" ucap Prima
Devan melihat dengan seksama testpack yang diberikan Prima.
"Sayang jangan cemas, jika sudah saatnya kita pasti memiliki bayi. Omongan kakek nenekku tidak usah kau masukkan hati ya," ucap Devan sambil berdiri dan memeluk Prima
Ini orang paham nggak sih? - Batin Prima
"Mas, kamu paham nggak sih yang aku maksud?" tanya Prima
"Sayang, aku nggak maksa kamu cepet hamil kok." ucap Devan
"Mas aku itu hamil!" kesal Prima
"Hah? Hamil?" kaget Devan sambil melepaskan pelukannya
"Iya, lihat garisnya dong!" kesal Prima
"Loh, ini kan garisnya cuma 2 gitu. Dan minus semua, bukannya minus itu negatif?" tanya Devan
"Astaga mas, pendidikan dasar kamu payah banget sih!" kesal Prima
"Ka kamu beneran hamil?" tanya Devan
"Iya mas, masa bercanda?" ucap Prima
"Aku akan jadi ayah?" ucap Devan senang
"Iya mas, kita akan segera jadi orang tua." ucap Prima
Saking senangnya, Devan mengangkat tubuh Prima dan mendudukkannya diatas meja kerjanya. Ia mencium Prima dengan senang sekali, saat masih berciuman Tio membuka pintu.
"Tuan ini... Oh maaf, saya tidak lihat sama sekali!" ucap Tio sambil berbalik
"Haih menganggu saja!" kesal Devan
"Udah mas, sana urusin dulu kerjaannya!" ucap Prima
"Tio! Umumkan pada semua karyawan, hari ini mereka pulang awal. Dan tambahkan 30% gaji ke setiap karyawan bulan ini!" ucap Devan
"Baik tuan," ucap Tio
"Ya sudah mas, aku mau balik ke rumah sakit dulu!" ucap Prima
"Ngapain kesana? Nanti saja, kamu jaga kandungan aja di rumah!" ucap Devan
"Nggak bisa, aku mau lihat perkembangan Joo. Ingat Zalfa juga masih drop, aku juga sekalian mau periksa kandungan. Mumpung siang masih ada dokternya," ucap Prima
"Baiklah aku ikut, aku antar!" ucap Devan
"Baiklah ayo," ajak Prima
Devan menyuruh Tio menghandle kerjaannya selama sehari ini, Devan ingin menghabiskan waktu dengan Prima hari ini.
///***///
Di Rumah Sakit
Devan dan Prima pergi ke dokter kandungan lebih dahulu.
"Jadi bagaimana?" tanya Prima
"Wah selamat ya Dokter Prima, anda positif hamil. Usia kandungan sudah memasuki 13 minggu," ucap dokter
"Loh, sudah lama? Kok saya nggak ngerasain ngidam atau mual gitu ya?" bingung Prima
Memang selama ini kan Prima seperti biasanya, tidak merasa mual ataupun ngidam.
"Beberapa orang bisa mengalami hal tersebut loh Dokter Prima, tiba-tiba periksa kandungan eh kandungan sudah berminggu-minggu." ucap dokter
"Iya juga, kamu dari kemarin-kemarin kan sepertinya biasa saja." heran Devan
"Di jaga ya kandungannya, saya akan berikan suplemen penguat kandungan dan beberapa vitamin agar gizi janin terpenuhi. Jaga kandungan, jaga pola makan, jaga pola istirahat dan jangan bekerja terlalu keras ya Dokter Prima! Untuk yang lain sepertinya dokter sudah paham kan?" ucap dokter
"Oh iya, terima kasih ya," ucap Devan
///***///
Di Luar Ruangan
"Mas mending jangan kasih tau keluarga dulu deh!" ucap Prima
"Loh kenapa? Ini kan berita membahagiakan sayang?" bingung Devan
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏