
My Dear💖
Eh tau nggak, aku dengar... 2 hari lagi Kak Rey pulang!
Me
Beneran? Wah bagus dong
My Dear💖
Iya. Kamu kenapa? Ada masalah ya?
Me
Kenapa tanya gitu?
My Dear💖
Nggak papa sih, cuma rasanya beda cara bales chatnya
Me
Nggak kok, perasaan kamu aja kali
My Dear💖
Iya deh kayaknya
Me
Ya udah kamu tidur gih, udah malem
My Dear💖
Iya honey... Luv U💝 G night😘
Me
Night too honey😘 Sweet dream
Adit menghela nafas panjang, ia meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia masih tidak percaya, ada saatnya dia bisa galau hanya karena cinta.
Tak lama, Adit terlelap dalam tidurnya. Sedangkan ponselnya berbunyi, tak ada jawaban, sebuah pesan pun masuk.
Brother
Besok aku pulang :)
///***///
Pagi Hari
Devina segera bersiap untuk pergi kuliah, ia ada kelas pagi hari ini. Ia di antar sopirnya ke kampusnya.
///***///
Di Kampus
Devina masuk ke dalan kawasan kampus, seperti biasa ia selalu menjadi sorotan dan pusat perhatian. Bukan apa-apa, hanya saja cantik, baik, pintar dan berasal dari keluarga yang kaya. Itu membuat banyak orang iri sekaligus segan.
"Huh... Semangat Dev! Biarin aja orang-orang liatin kamu!" ucap Devina menyemangati diri sendiri
Mata Devina tertuju ke kerumunan di depan kelasnya, terdapat juga Rahma, teman sekelas Devina yang cukup akrab. Devina pun menghampirinya.
"Ma... Kenapa rame-rame?" tanya Devina
"Eh... Dev udah dateng, itu tuh... Pada heboh katanya ada dosen baru yang super ganteng," ujar Rahma
"Hah masa?" tanya Devina
"Iya tau, kan jiwa-jiwa jombloku langsung penasaran," ujar Rahma
"Hahahaha.... Kau ada-ada saja, ayo masuk," ajak Devina
Devina dan Rahma pun masuk lalu duduk bersebelahan. Kelas dimulai dengan masuknya rektor ke dalam kelas.
"Selamat pagi semuanya..."
"Pagi pak...."
"Perkenalkan ini namanya Pak Galang, dia adalah dosen baru kalian,"
Seketika kelas langsung riuh karena masuknya Galang sebagai dosen baru. Selain otaknya yang cerdas, wajah rupawan serta usia muda membuat para mahasiswi berharap lebih.
"Perkenalkan nama saya Galang... Saya harap saya dapat terus mengajar dengan baik," ujar Galang
"Baiklah... Kalau begitu saya pergi dulu, mari Pak Galang..."
"Iya pak silahkan," jawab Galang
Setelah mengantar Rektor keluar kelas, Galang kembali masuk untuk menyambut para anak didiknya yang baru.
"Baik... Saat ini kita mulai dulu dengan perkenalan ya... Perkenalkan nama saya Galang Pratama, kalian bisa memanggil saya Galang. Ada yang ditanyakan?" tanya Galang
"Usia bapak berapa?"
"Usia saya 22 tahun," jawab Galang
"Kok sudah bisa jadi dosen pak?"
"Saat SMP dan SMA saya menempuh jalur Akselerasi," jawab Galang
"Sudah ganteng, cerdas, mapan pula. Cocok pak buat jadi calon suami saya..."
"Huuu...."
"Sudah-sudah... Ada yang di tanyakan lagi?" tanya Galang
"Sudah punya pacar belum pak?"
"Pacar... Belum punya dan belum kepikiran sampai situ," jawab Galang sambil menatap Devina
"Ah... Yang duduk di deret sini kan bukan aku doang Ma..." jawab Devina
Dia cantik, pantas saja... - Batin Galang
Galang mulai mengajar, seluruh mahasiswi tak fokus dibuatnya. Muda, mapan, baik, cerdas, ramah dan belum punya pacar, siapa yang nggak mau ngincar coba?
.
.
.
.
.
Setelah Kelas Selesai
Banyak para mahasiswi yang berlomba-lomba meminta nomor telepon Galang, namun Galang selalu menolaknya dengan seribu alasan.
Di koridor, ia melihat Devina yang sedang duduk sambil membaca beberapa buku. Galang pun berniat menyapanya.
"Hai... Devina kan? Anak semester 2?" tanya Galang sambil duduk di samping Devina
"Iya pak, kenapa?" tanya Devina sambil sedikit menjauh dari tempat duduk Galang
"Saya melihat daftar nilai kamu, nilainya benar-benar baik. Sepertinya kamu mahasiswi yang cerdas," ujar Galang
"Tidak juga kok pak, bapak lebih cerdas dari pada saya," jawab Devina
"Kamu mau saya pinjami buku? Saya punya banyak buku untuk mahasiswa, barangkali itu bisa membantu belajar kamu," tawar Galang
"Nggak usah makasih pak, saya pergi dulu pak. Saya mau pulang, permisi..." ucap Devina sopan
"Menghindar kah?" gumam Galang
Huh... Nggak terlalu dekat kan? Aku harus jaga hati dan perasaan Kak Adit! - Batin Devina
Devina pulang dengan sopirnya, namun di tengah jalan, ban mobilnya bocor terkena paku. Terpaksa Devina harus menunggu, karena cuaca yang sedikit terik, Devina menunggu di luar.
Pas juga Galang baru pulang dari kampus, di jalan ia melihat Devina yang sedang kipas-kipas dengan tangannya. Galang pun menepi, lalu menemui Devina.
"Devina... Kamu ngapain di sini?" tanya Galang
"Pak Galang? Bapak kenapa di sini?" tanya Devina
"Saya mau pulang, mau ambil buku di rumah. Kamu sendiri kenapa di sini?" tanya Galang
"Ban mobil saya bocor pak," jawab Devina
"Oh... Di sini itu jauh dari tukang tambal ban. Udah panggil tukang tambal ban?" tanya Galang
"Udah pak, tapi dari tadi belum nyampe," jawab Devina
"Oh begitu... Mau saya antar pulang? Rumah kita se arah kok," jawab Galang
"Bapak tau dari mana kalau rumah kita searah?" tanya Devina
"Saya kenal sama orang tua kamu. Ibu kamu itu dokter bedah di rumah sakit Kota kan?" tanya Galang
"Kok tau?" tanya Galang
"Namanya Dokter Prima kan?" tanya Galang
"Kok tau pak?" tanya Devina
"Kaki saya pernah patah, yang tangani itu Dokter Prima. Saya juga sering konsultasi sama dia waktu ke Rumah Sakit," jelas Galang
"Oh..."
"Ayo saya antar, anggap saja ini rasa terima kasih karena ibu kamu sering bantu saya," ujar Galang
"Nggak usah pak, merepotkan," jawab Devina
"Nggak papa... Ayo," ajak Galang
"Ya sudah pak, sebentar saya bilang sopir saya dulu," ujar Devina
"Ok,"
Devina bilang terlebih dahulu pada sopirnya lalu pergi pulang bersama Galang. Devina sering di manja oleh Devan, dan itu membuat tingkat kewaspadaannya rendah. Tak ada pikiran sama sekali apakah Galang itu pria baik atau jahat.
///***///
Di Mobil
"Saya pernah loh main ke rumah kamu, tapi kamu tidak ada. Saya hanya bertemu dengan Reyhan, ayah dan ibu kamu," ujar Galang memulai pembicaraan
"Oh ya? Mungkin saya saat keluar," jawab Devina
"Kamu sudah punya pacar?" tanya Galang
Devina menengok ke arah Galang, tak percaya dosen yang baru saja ia kenal langsung bertanya hal pribadi seperti itu.
"Kenapa?" tanya Galang
"Nggak papa... Sudah punya pak," jawab Devina
"Kalau sedang berdua jangan panggil pak dong. Kita di luar, bukan di kampus. Saya jadi kelihatan tua kalau kamu panggil pak," ujar Galang
"Trus manggilnya apa?" tanya Devina
"Panggil aja Kak, usia kita kan cuma beda 3 tahun," ujar Galang
"Iya pak... Eh, Kak," jawab Devina
Ini orang tau banyak banget tentang aku! - Batin Devina
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏