
"Panggil aja Kak, usia kita kan cuma beda 3 tahun," ujar Galang
"Iya pak... Eh, Kak," jawab Devina
Ini orang tau banyak banget tentang aku! - Batin Devina
///***///
Di Depan Rumah
"Udah sampe Dev," ujar Galang
"Nggak mampir Kak?" tanya Devina
"Nggak makasih, saya masih ada pekerjaan di kampus. Saya pergi dulu ya," ujar Galang
"Iya Kak, hati-hati! Makasih udah mau nganterin," ucap Devina
"Sama-sama, saya duluan..." ujar Galang
"Iya Kak,"
Devina masuk ke dalam rumahnya, di depan pintu sudah ada Adit yang sedang menunggunya.
"Kak Adit..." ucap Devina sambil sedikit berlari menuju Adit
"Hai honey... Tadi pulang sama siapa?" tanya Adit
"Di anter sama dosenku, dia pernah jadi pasien mommy," jelas Devina
"Oh gitu... Kok bareng dia? Bukannya kamu di anter sama supir kamu?" tanya Adit
"Iya... Tadi di jalan ban mobilnya bocor, aku nunggu lamaaaaaaa banget. Tapi tukang tambal bannya malah nggak dateng-dateng! Nah di jalan ketemu deh sama Pak Dosen, yaudah pulang bareng kita. Tapi kita beneran nggak ngapa-ngapain kok! Cuma sebatas pulang bareng," jelas Devina
"Iya-iya! Aku nggak mikir aneh-aneh kok. Lagian kalo mau selingkuh... Kamu mau selingkuh sama siapa? Pacar kamu aja udah seganteng ini, kalo selingkuhan kamu lebih jelek dari aku kan ya malu-maluin," gurau Adit
"Hahahaha... Bisa aja," tawa Devina
"Ya udah, jadi jalan?" tanya Adit
"Jadi..." jawab Devina
"Yuk," ajak Adit
"Bentar... Aku mau mandi sama ganti baju dulu, baju aku bau asap!" ujar Devina
"Ikut dong kalo mandi," gurau Adit
Takk....
Devina menjitak dahi Adit sambil tertawa kecil.
"Aww.... Sakit honey..." keluh Adit
"Makanya jangan aneh-aneh!" ujar Devina
Devina pun masuk untuk mandi dan ganti baju, sementara Adit menunggunya di ruang tamu.
///***///
Malam Hari
Sejak berdebat dengan papanya, Adit selalu menghindari bertemu dengan papanya. Malam hari Adit baru pulang.
"Dit..." sapa Galang
"Loh... Kak Galang? Kok udah pulang?" kaget Adit
"Iyalah.... Udah lama juga nggak pulang kan?" tanya Galang
"Gimana? Udah dapet kerjaan?" tanya Adit
"Udah dong... Aku keterima jadi dosen di Universitas kamu, gimana? Keren kan?" tanya Galang
"Wah.. Hebat Kak! Coba aja otakku secerdas otak kakak. Udah lulus S2 aku sekarang," ucap Adit berandai-andai
"Kurangin halu banyakin baca buku," jawab Galang
"Buku mulu... Panas ni otak lama-lama," gurau Adit
"Kakak ke sini mau beres-beres," ujar Galang
"Beres-beres? Buat apa kak? Emang mau kemana?" tanya Adit
"Tabungan aku udah cukup buat beli apartemen, dan aku kan udah dapet pekerjaan. Jadi mulai sekarang... Aku mau tinggal di apartemen," jelas Galang
"Lah kok gitu kak? Nanti yang temenin aku main PS siapa?" tanya Adit
"Belajar dulu baru main...." ucap Galang
"Lupakan! Tapi masa secepat ini kak? Kakak baru aja balik dari USA dan langsung pindah ke apartemen?" tanya Adit
"Aku nggak mau lama-lama repotin mama papa Dit. Mereka udah berjasa besar dalam hidupku, kalau tidak ada mereka... Mungkin aku sudah tinggal nama sekarang dan tidak bisa meraih apa yang aku punya sekarang," jawab Galang
"Tapi kak..."
"Udah... Aku udah ngomong sama mama papa. Awalnya mereka menolak, tapi akhirnya mereka paham. Setelah ini nggak ada yang berubah, cuma aku tinggal di apartemen doang. Kami tetep jadi adik terbaikku," jawab Galang sambil mengacak-acak rambut Adit
"Yah kak... Nggak asik lah! Nanti temen baku hantam aku siapa coba? Temen main PS? Temen mabar? Temen nonton film? Temen godain cewek cantik? Eh salah..." ujar Adit
"Kamu ini nggak berubah-berubah ya," ujar Galang
"Baru aja aku mau kenalin kakak ke calon istri aku," ujar Adit
"Wah... Wah... Wah... Hebat banget ya sekarang! Udah bisa ngeduluin kakak," ujar Galang
"Iyalah... Aku pemuda sangar kok hehe," gurau Adit
"Heleh..."
"Kakak udah ada calon?" tanya Adit
"Hmm... Kasih tau nggak yaa..." gurau Galang
"Sok misterius..." ujar Adit datar
"Hehe belum kok, udah daripada bac*t unfaedah... Mending bantuin kakak beres-beres," ajak Galang
"Bayarannya apaan nih?" tanya Adit
"Masih aja sok miskin," gurau Adit
Galang adalah anak angkat keluarga Adit. Papa Adit mengadopsi Galang saat Galang masih berusia 7 tahun, Galang sedang kelaparan dan meminta-minta makanan di pinggir jalan.
Merasa kasihan, Papa Adit membawanya ke rumah dan mengangkatnya sebagai anak. Galang adalah kakak yang baik, ia selalu baik dan memanjakan Adit. Tiap kali Adit bertengkar dengan papanya, Galang yang melindunginya. Itu alasan Adit sangat manja dan menyayangi kakak angkatnya.
///***///
Besoknya
Di Kampus Devina
Kelas Devina sudah selesai, Galang berjalan menyamai langkah Devina. Mereka berjalan beriringan menuju kantin.
"Mau ke kantin Dev?" tanya Galang
"Iya pak, bapak sendiri?" tanya Devina
"Saya juga mau ke sana, ayo barengan saja," ajak Galang
"Iya pak," jawab Devina
Semua mata tertuju pada Devina dan Galang. Ada yang menyebut mereka serasi, menghujat, iri dan juga kehilangan harapan.
///***///
Di Kantin
"Bu... Sotonya satu, es teh satu ya," pesan Devina
"Saya sama bu," pesan Galang
"Iya pak... Mbak..."
"Kamu suka soto?" tanya Galang
"Lumayan," jawab Devina
Mereka duduk di satu meja, sebenarnya Devina sedikit risih dengan kehadiran Galang. Tapi juga tidak sopan kalau Devina mengusir Galang.
"Saya nggak papa kan duduk sini?" tanya Galang
"Nggak papa kok pak," jawab Devina
"Ini Mbak... Pak, pesanannya,"
"Berapa?" tanya Galang
"30 ribu pak,"
"Ini bu, ambil aja kembaliannya," ujar Galang sambil memberikan 2 lembar uang Rp. 20.000
"Iya pak makasih,"
"Pak.. Nggak usah, saya bisa bayar sendiri," ujar Devina
"Udah nggak papa," jawab Galang
"Makasih pak," jawab Devina
"Sama-sama," jawab Galang
Ting....
My Boy๐
Di mana honey?
Me
Kantin kampus honey, kenapa?
My Boy๐
Kelasku udah selesai, mau aku samperin?
Me
Boleh-boleh! Aku lagi makan sore
My Boy๐
Emang ada makan sore?
Me
Ada lah, ini aku lagi makan sore๐
My Boy๐
Ada-ada aja! Tunggu bentar ya
Me
Ciaapp...!!!
Devina sedikit tenang karena Adit akan datang, ia merasa tidak nyaman karena duduk hanya berdua dengan Galang.
Devina mulai menyantap makanannya, sedangkan Galang memakan makanannya sambil sesekali mencuri pandang ke arah Devina.
"Kamu setelah ini mau lanjut S2 ke mana Dev?" tanya Galang basa-basi
"Belum kepikiran pak," jawab Devina
"Mau saya kasih rekomendasi?" tanya Galang
"Tidak perlu pak, saya juga perlu pertimbangan orang tua untuk menempuh S2," jawab Devina
"Baik... Kalau perlu bantuan, kamu bisa minta tolong pada saya," ujar Galang
"Iya pak," jawab Devina
Dari kejauhan Adit melihat Devina sedang makan bersama seorang pria, Adit terkejut melihatnya. Ingin ia datang dan menghajar pria itu karena berani duduk bersama pacarnya.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE ๐