
Prima mulai sadar dan menyadari kalau ia tertidur dipelukan Devan. Setelah mengingat kejadian tadi, Prima mulai menangis.
"hikss... Hiks..." tangis Prima
Mendengar Prima menangis, Devan membuka mata.
"hei... Sudah sadar" ucap Devan
Devan langsung mengambilkan minum untuk Prima yang masih syok.
"mas.. Lawanku mas.. Aku nggak sengaja hiks.. Tangannya gimana? Hiks.." tangis Prima
"hei.. Nggak papa, nanti kita jenguk ya" ucap Devan lembut
"aku salahh... Aku bodoh, tangannya gimana hikss... Tangannya patah.. Hikss..." tangis Prima
Devan yang tak tega melihat keadaan istri kecilnya itu langsung memanggil Tio dan mengajak Prima langsung ke rumah sakit tempat lawannya dirawat.
///***///
Di Rumah Sakit
Setelah mencari kamarnya akhirnya ketemu. Tapi saat hendak masuk mereka mendengar pembicaraan dari dalam.
"kamu ini gimana sih? Ceroboh banget, lihat tangan kamu patah" ucap ayah Emy
"paa aku kan nggak sengaja, aku juga nggak tau kalau bakal gini jadinya" ucap Emy
"hilang sudah kesempatan kamu buat jadi WARA" ucap ayah Emy
"paa aku kan udah bilang, aku nggak mau jadi WARA. Aku pengen jadi bidan" ucap Emy
"kakak kamu semua jadi TNI, masa kamu cuma jadi bidan" ucap ayah Emy
Mendengar hal tersebut membuat Prima semakin merasa bersalah.
Ceklek...
Devan dan Prima masuk kedalam ruangan tersebut.
"selamat siang..." sapa Devan
"si siang, siapa ya?" tanya ayah Emy
"loh mbak yang tadi?" kaget lawan Prima
"iya, maaf ya aku nggak sengaja" ucap Prima
Prima menghampiri lawannya dengan kaki tertatih-tatih.
"nggak papa mbak, lagian ini salah aku juga kok. Salah posisi jatuhan, jadi gini deh" ucap lawan Prima
"oh iya, nama kamu siapa?" tanya Prima
"aku Emy mbak" jawab lawan Prima
"oh aku Prima" ucap Prima
"tunggu, mbak Prima ini yang dulu pernah ikut seleksi Asian Games kan?" tanya Emy
"Hehe iya, tapi gagal gara-gara kakiku keseleo" ucap Prima
"ya ampuunn, nggak nyangka bisa ketemu mbak Prima secara langsung. Oh iya maaf ya mbak, gara-gara aku kaki mbak jadi keseleo" ucap Emy
"haih nggak papa, ini salah aku juga kok" ucap Prima
"permisi, maafkan kesalahan istri saya ya dek Emy" ucap Devan
"loh mbak Prima udah nikah?" tanya Emy
"Hehe iya dek" jawab Prima
"wah ganteng banget ya suami kak Prima" ucap Emy
"bisa aja" malu Prima
"kamu kuliah semester berapa? Dimana?" tanya Devan
"mau semester 3 kak, Akbid Malang" jawab Emy
"gini, buat menebus rasa bersalah kami ini ada sedikit uang saku buat kamu" ucap Devan menyelipkan sebuah amplop pada Emy
"eh apaan ini kak, nggak usah" tolak Emy
"nggak papa, terima aja. Biar lebih enak" jawab Prima
"untuk biaya rumah sakit, kami yang akan tanggung. Dan seluruh biaya kuliah kamu, kami yang bakal bayar" ucap Devan
"nggak usah jangan repot-repot" ucap Emy
"iya nak, nggak usah. Nggak papa, ini terlalu berlebihan" ucap ayah Emy
"nggak papa pak, anggap aja ini hasil jerih payah anak bapak selama ini" ucap Devan
"Emy, tapi kamu harus jadi bidan yang hebat ya!" ucap Prima
"Hehe iya kak" jawab Emy
Setelah meminta maaf, Prima dan Devan pamit.
///***///
Di Villa Devan
"oh iya mas, kamu ngapain disini?" tanya Prima
"eh oh anu itu.. Anu.." gugup Devan
"kamu susul aku ya?" tanya Prima
"Hehe iya, habis kamu nggak bisa ditelfon juga nggak ada kabar" ucap Devan
"kemarin aku lupa bilang, kalau selama pertandingan semua hp disita. Di balikin kalo nanti udah selesai" ucap Prima
"loh marah?" tanya Prima
"tau" ucap Devan cuek
"cie marah ciee.." goda Prima
"....." Devan terdiam
"cie marah..." ucap Prima sambil menyentuh pipi Devan dengan telunjuknya
"apaan sih" ucap Devan sambil menepis tangan Prima
"kok ngegas" ucap Prima
"besok kita pulang ya" ucap Devan
"loh kok dadakan? Nggak ah, nggak mau" ucap Prima
"kaki kamu lihat, besok kita ke spesialis tulang. Kita rongtgen" ucap Devan
"lah ngapain? Ini cuma keseleo bukan patah tulang" ucap Prima
"kalo ada apa-apa gimana?" tanya Devan
"nggak bakal, udah deh nggak usah lebay" ucap Prima
"susah banget sih dibilangin!" kesal Devan
"hehehe... Kamu aja yang pulang, aku masih mau ambil medali sama ikut liburan anak-anak dulu" ucap Prima
"haih, baiklah. Tapi aku ikut liburan dan nemenin kamu sampai pulang" ucap Devan
"lah ngapain?" kaget Prima
"kalo kamu kenapa-napa gimana? Siapa yang tanggung jawab?" tanya Devan
"haih serah kamu deh, aku mau mandi" ucap Prima
"mau aku bantu?" tanya Devan menyeringai
"kakiku cuma keseleo, bukan patah. Masih bisa berdiri, jangan macem-macem kalo nggak mau aku banting!" tegas Prima
"nggak papa, banting aja semau kamu tapi dikasur sayang" bisik Devan
"sini aku patahin tangannya" ancam Prima
"galaknyaa..." ucap Devan
Prima bergegas mandi, Devan berkutat dengan laptopnya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang sudah ia tinggal selama ini. Devan juga meeting dengan para staff dikantor dengan VC.
///***///
Di Kamar Mandi
Ahhh... Aku bodoh, ini kan Villa Devan bukan penginapan. Bajuku kan semua disana, trus sekarang aku make apa? Nggak mungkin cuma handukan doang - Batin Prima
Devan masih sibuk dengan meetingnya, Prima keluar dari kamar mandi dengan kemeja putih Devan yang cukup kebesaran dibadan Prima.
Gila, ini badan apa gorila sampe gede banget bajunya - Batin Prima
Untung saja Prima selalu memakai short pants dimanapun, jadi ia memakai kemeja Devan dan celana pendek sepangkal paha. Karena berkeringat, Prima mandi keramas.
"kamu mandi nggak?" tanya Prima
"ntar aja" jawab Devan yang masih fokus dengan meetingnya
Prima duduk disamping Devan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Semua staff yang melihat Prima langsung melongo. Untung saja staff kali ini hanya staff wanita yang merupakan kumpulan asisten dan sekretaris tiap direktur, yang pria hanya Andri sekretaris Devan. Devan yang bingung langsung menengok.
"astaga.." kaget Devan
Devan langsung menutupi kaki Prima dengan selimut dan mengakhiri meetingnya.
Dua kali meeting ku tidak berjalan lancar gara-gara cewek ini - Batin Devan
"kamu kalo pake baju yang bener napa sih" kesal Devan
"kenapa?" tanya Prima polos
"kamu nggak lihat kalo aku lagi meeting, semua staffku memperhatikan kita tau nggak" ucap Devan
"hah? Kok kamu nggak bilang?" kaget Prima
"ya mana kutahu, kamu sendiri ceroboh banget sih" ucap Devan
"kok salah aku? Ya kamu dong meeting kok dikamar" ucap Prima
"ya ini gara-gara kamu, aku nyusul kamu kesini" ucap Devan
"kok aku? Kan aku nggak nyuruh" kesal Prima
"haih iya iya, cewek selalu minta menang" kesal Devan
"of course, pastilah" ucap Prima berbangga diri
"ka kamu ke kenapa pa pake ke kemeja aku?" gugup Devan dengan wajah memerah saat melihat paha mulus Prima
"oh iya aku lupa, beliin aku baju dong mas atau ambilin dimess. Bajuku kan semua disana, adanya ini ya aku pake" ucap Prima
Devan langsung menarik pundak Prima dan membaringkannya diatas kasur.
"mau goda aku?" bisik Devan
"ng nggak, a aku cuma a anu.." bingung Prima
Devan mendekatkan wajahnya pada wajah Prima, reflek Prima langsung menutup mata dan mentangkupkan kedua tangannya.
"maafin aku, aku nggak bakal salah lagi. Aku yang ceroboh, badanku sakit semua habis dibanting orang-orang jangan bikin tambah sakit. Aku mohon, kakiku juga masih sakit, berdiri saja susah" ucap Prim cepat
"gimana ya? Lepasin nggak?" tanya Devan
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏