
"Apaan sih, aku kan udah bilang jangan sentuh!" ucap Devan
"Nggak mau, aku maunya gini." ucap Aurel
Devan hanya pasrah dan masuk dengan Aurel menggandeng lengannya sambil berharap semoga Prima masih di Rumah sakit. Baru beberapa langkah masuk.
"Wuaahh rumah kakak bagus banget," ucap Aurel
"Iya," jawab Devan singkat
Ceklek...
Belum melepaskan tangan Aurel, pintu sudah terbuka kembali. Devan dan Aurel berbalik dengan keadaan masih berpegang tangan.
"Prima!" kaget Devan
Prima baru pulang dari rumah sakit dengan seragam dokternya karena jarak antara rumah sakit dan rumahnya hanya 5 menit bersepeda.
"Ka kamu udah pulang?" kaget Devan
"Iya mas, ini siapa?" tanya Prima lembut yang tersenyum manis
Sebenarnya Prima seperti di sambar petir di siang bolong saat melihat tangan Aurel dan Devan berpegangan. Namun ia mencoba tetap tenang karena belum tau apa yang terjadi.
Mendengar pertanyaan Prima, Aurel langsung melepaskan tangan Devan lalu menghadap Prima dan mengenalkan diri.
"Hai aku Aurel, calon istrinya kak Devan. Kamu siapa? Dokter pribadinya ya? Apa kak Devan sakit?" tanya Aurel
"Aku Prima, kau bisa menganggapnya seperti itu." ucap Prima sambil tersenyum manis
Devan yang melihatnya hanya mengerutkan dahi, lalu Prima memberikan kode dengan mengedipkan sebelah matanya. Melihat Devan tak menyangkalnya, Aurel kembali berulah.
"Jadi Aurel kenapa aku baru melihatmu?" tanya Prima
"Yah selama ini aku di luar negeri, dan baru kembali untuk menikahi kak Devan." ucap Aurel pd
"Benarkah? Tapi kudengar Mas Devan sudah punya kekasih?" tanya Prima
"Benarkah? Memang kak Devan nakal ya, sudah punya calon istri malah punya pacar." ucap Aurel
Memang nakal, sudah punya istri tapi malah punya calon istri lagi - Batin Prima
Sialan, apa aku punya saingan lagi? - Batin Aurel
"Hm ya begitulah sifat Mas Devan," jawab Prima sambil tersenyum manis
"Tapi palingan masih cantikan aku dibandingkan kekasih kak Devan," ucap Aurel pd
"Tapi menurutku lebih cantik kekasihnya. Selain cantik, dia pandai memasak, bodynya seperti gitar spanyol, cerdas dan sangat ramah bahkan pada musuhnya sekalipun." ucap Prima sambil tersenyum manis
"Hah? Aku tak percaya, lihat saja saat kami bersama, tak ada dari dirinya yang melebihi diriku." ucap Aurel pd
"Baiklah Aurel, mungkin begitu. Sebentar ya, aku mau berbicara penting dengan Mas Devan mengenai keselamatannya. Rina antar Aurel ke kamarnya," ucap Prima
"Baik dek," jawab Rina
Aurel diantar masuk ke kamarnya oleh Rina, sedangkan Prima menarik lengan Devan untuk masuk ke dalam kamar. Sesampainya di kamar...
///***///
Di Kamar
Ceklek...
Pintu tertutup dan terkunci. Prima melepaskan tangan Devan. Devan langsung berjongkok sambil memegang siku Prima. Sedangkan Prima menyilangkan tangannya di dada.
"Maafkan aku istriku, ini tidak seperti yang kau lihat. Percayalah padaku!" pinta Devan
"Tidak seperti yang kulihat? Berarti seperti apa yang aku kira?" tanya Prima ketus
"Maaf sayang, sumpah demi apapun aku tidak menduakanmu. Aku tidak akan poligami," ucap Devan
"2 menit jelaskan, dimulai dari sekarang!" ucap Prima
Devan menjelaskan semuanya pada Prima karena takut jika ke salah pahamannya semakin memburuk.
"Jadi gitu," ucap Devan
"Oh, ya sudah." ucap Prima
"Kamu nggak marah?" tanya Devan
"Untuk apa? Aku tanya, kamu jawab. Aku suruh jelaskan, kamu jujur. Ya sudah, kini tinggal aku mempercayai kamu mas," jawab Prima santai
"Kenapa kamu santai sekali?" tanya Devan heran
"Hidup itu di bawa santai. Hidup itu mudah, tinggal kita aja yang buat mudah atau sulit. Lagipula semua pilihan ada di tangan kita, kenapa bingung?" tanya Prima
"Emang kamu the best wife in the world," ucap Devan sambil memeluk Prima
"Hehe emang," ucap Prima
"Nge fly," ucap Devan
"Biar," jawab Prima
"Terus kenapa kamu nggak akui tadi kalo kamu istriku? Biar semuanya kelar!" ucap Devan
"Aku cuma pengen main-main bentar, kamu bantu ya! Kalo nggak, nanti malam tidur luar!" ancam Prima
"Tapi Aurel nggak tau ya kalo kamu udah nikah?" tanya Prima
"Nggak, kan kita nggak undang keluarga Om Arga waktu kita nikah." ucap Devan
"Yaudah, kalo gini jadi lebih gampang. Jadi..." ucap Prima
Prima memberitahukan semua rencananya pada Devan, sementara Devan memahaminya lalu mencoba mengimprovisasi rencana Prima.
///***///
Makan Malam
Makan malam tiba, Aurel bergegas menuju dapur untuk membantu memasak namun terlambat. Prima dan mbak Rina sudah selesai memasak dan menyiapkan semuanya di atas meja.
"Mas makanannya sudah siap!" panggil Prima
"Iya!" jawab Devan
Devan turun lalu duduk di kursi ujung, sementara Aurel duduk di sisi kiri Devan. Prima duduk di sisi kanan.
"Hmmm... Enak banget, kamu kan yang masak?" tanya Devan
"Kok tau?" tanya Prima
"Abis masakan kamu ada ciri khasnya, jadi pasti tau lah aku." ucap Devan
"Bisa aja," ucap Prima
"Prima, kamu udah lama tinggal di sini?" tanya Aurel
"Sekitar 1 tahun lah," ucap Prima
Sip, aku jadi ada orang yang bisa bantu biar lebih dekat sama Kak Devan - Batin Aurel
"Kak aku pengen dong ambilin ayamnya," ucap Aurel manja
"Ambil sendiri," jawab Devan ketus
"Yah kak, tanganku nggak nyampe." ucap Aurel
Devan mengambil satu piring semua dan meletakkannya didepan Aurel.
"Makan sampai habis!" ucap Devan
"Jangan gitu, nggak baik tau mas. Jangan cuek gitu ah" ucap Prima manja
"Hak asasi, lagian aku nggak cuek cuma khusus kamu tauuu..." ucap Devan sambil mencubit pipi Prima
"Aduh mas sakit," ucap Prima sambil menangkupkan tangannya di pipi
"Abis kamu nge gemesin," ucap Devan sambil mengusap kepala Prima
Damn, ada hubungan apa mereka hingga bisa terlihat sedekat ini - Batin Aurel
"Sini aku suapin," ucap Devan
"Malu mas," ucap Prima
"Nggak papa, nggak ada orang lain kok. Ya kan Rel?" tanya Devan
"Eh iya kak," jawab Aurel
Devan menyuapi Prima bahkan berbagi piring dengan Prima. Sedangkan Aurel menahan amarahnya melihat kemesraan mereka. Setelah selesai makan, Devan memeluk pinggang Prima.
"Udah ayo ke atas," ucap Devan
Bruaakkk....
Aurel menggebrak meja makan karena marah.
"Rel kamu kenapa?" tanya Prima sok polos
"Kalian ini ada hubungan apa sih? Tau nggak siapa aku?" tanya Aurel marah
"Hmm... Apa kau ingat tentang kekasih Devan yang kuceritakan tadi siang?" tanya Prima
"Kenapa?" tanya Aurel kasar
"Dia cantik, baik, cerdas, seksi, ramah, pandai memasak dan seorang dokter pribadi Devan!" ucap Prima
"Apa? Apa itu kau?" kaget Aurel
"Yes thats right," jawab Prima
"Kalau sudah tau jangan ganggu kami!" ucap Devan tegas
Sialan, aku keduluan satu langkah. Santai, masih kekasih belum istri. Selama janur kuning belum melengkung, Aurel bebas menikung - Batin Aurel
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏
Visual Aurel:
Hayo cantikan mana sama Prima? 🤭