
Wildan masih bingung harus apa, badannya terpaku seolah tak bisa bergerak. Sedangkan Evelyn masih tak sadar kalau dirinya masih memeluk Wildan.
"Ehm... Su sudahlah jangan menangis, aku baik-baik saja," gugup Wildan
"Apa kau ada yang sakit? Haruskah kita mengeceknya?" tanya Evelyn
"Tidak perlu, aku baik-baik saja," jawab Wildan sambil mengelus kepala Evelyn
"Benarkah?" tanya Evelyn
"Sudah jangan menangis," jawab Wildan
Evelyn tersadar, ia langsung menjauh dan mereka saling menatap canggung.
"Uh itu... Aku tidak sengaja, jangan Ge-Er!" sela Evelyn canggung
"Iya tidak apa," jawab Wildan canggung
"Bagaimana keadaan Kak Sarah dan Devina?" tanya Evelyn
"Mereka baik-baik saja, mereka baru saja sadar. Namun jangan paksakan Devina, rasa trauma masih melekat pada mentalnya," jelas Wildan
"Hmm... K kau tidak masuk?" tanya Evelyn
"Aku... Aku mau cari angin sebentar," jawab Wildan
"Baiklah, aku masuk dulu," ujar Evelyn
"Iya," jawab Wildan
Wildan memperhatikan Evelyn sampai ia benar-benar masuk ke dalam, setelah Evelyn masuk ke dalam, Wildan pun berlari keluar menuju taman rumah sakit. Ia duduk di kursi sambil memegangi dadanya.
"Huh... Huh... Ya Tuhan! Kenapa dengan jantungku? Apa aku terkena penyakit serius sampai detak jantungku tidak beraturan? Aku belum siap mati muda!" gumam Wildan
Kenapa akhir-akhir ini aku merasa kalau Evelyn semakin cantik ya? - Batin Wildan
.
.
.
.
"Huh... Dia benar-benar paling bisa membuatku jantungan!" gumam Evelyn
"Dan..." panggil Reyhan
"Apa? Ini aku, bukan Wildan!" jawab Evelyn yang bertingkah seperti biasa
"Seperti agen rahasia saja masuk tanpa suara," ledek Reyhan
"Aku bersuara, hanya saja kalian yang terlalu budeg!" gumam Evelyn
"Ngomong apaan sih?" tanya Adit
"Gak jelas! Sono buruan balik ke Paris! Di cariin sama bos kamu!" sela Reyhan
"Kamu mau balik Paris lagi Lyn?" tanya Sarah
"Iya kak, aku kan masih ada kontrak sama perusahaan di sana. Dan sebenarnya tadi aku baru pulang dari sana," jawab Evelyn
"Hah? Kapan kamu berangkat?" tanya Adit
"Iya, kok kita nggak tau?" tanya Sarah
"Hehe... 4 hari yang lalu aku di telfon sama bos ku karena photoshoot di Paris. Akhirnya aku berangkat ke sana, namun aku mendengar berita kalau kalian berdua hilang. Jadi aku langsung kembali ke sini," jelas Evelyn
"Jadi kamu di sana cuma 2 hari dan langsung balik ke Indo lagi cuma gara-gara kita?" kaget Sarah
"Hehehehe.... Iya kak, untungnya aku sabar. Walaupun sayang sih kalo aku kurang tidur. Kulitku udah jadi agak kusam, kayaknya perlu beli skincare baru deh," nyinyir Evelyn
"Kumat!" ketus Reyhan
"Kak... Keadaan tante gimana?" tanya Evelyn
"Dia masih belum sadar," jawab Reyhan
"Sebenarnya tante kenapa sih?" tanya Evelyn
"Di tikam penculiknya," jawab Adit
Adit sudah peka saat melihat ekspresi Reyhan yang langsung berubah muram saat mendengar pertanyaan Evelyn yang berkaitan dengan Prima.
"Astaga! Apakah parah?" tanya Evelyn
"Dari pada banyak b*cot, mending lo liat sendiri sana!" sahut Adit
"Ish, aku kan cuma tanya!" kesal Evelyn
"Dia sudah membaik," jawab Reyhan
"Syukurlah, aku mau keluar sebentar!" ujar Evelyn
"Baru aja nyampe, udah keluar," cibir Adit
"Kan kamu nggak ngerasain gimana rasanya duduk di pesawat selama 16,5 jam cuma biar bisa ketemu kalian! Aku mau cari udara segar," ujar Evelyn
"Alah, serah kamu lah!" jawab Adit
"Bentaran ya..." ujar Evelyn
Evelyn pergi ke taman rumah sakit, ia duduk di salah satu kursi. Bersandar dan menghela nafas panjang. Ia memejamkan matanya sejenak dan berpikir.
Kapan aku bisa memberi tahukan dia tentang kepergian ku ke Paris! Setidaknya aku butuh 1 tahun setelah keberangkatan ku kali ini untuk bisa kembali ke sini lagi. Apakah setelah 1 tahun nanti, dia tetap menjadi Wildan yang sama? - Batin Evelyn
"Haaahh... Apa peduliku? Dia kan bukan siapa-siapa ku!" bantah Evelyn
"Hei... Sedang apa?" sapa Wildan yang tiba-tiba datang
"Astaga! Kau mengagetkan aku saja! Dari mana?" tanya Evelyn
"Aku sejak tadi di sini," jawab Wildan
"Ss se sejak tadi?" gugup Evelyn
"Iya, jangan tegang begitu! Maksudnya aku di taman ini sejak tadi," sambung Wildan
"Fiuhh... Ku kira," ucap Evelyn lega
"Sedang apa? Kenapa di sini? Bukankah kau tadi masuk ke dalam?" tanya Wildan
"Uhm... Itu, tadi aku.... Berencana membeli minuman, aku sedang haus. Aku ingin boba," elak Evelyn
"Oh begitu? Mau ku temani membeli boba nya? Aku tau tempatnya yang enak dekat sini," ujar Wildan
"Kalau kau tidak keberatan," jawab Evelyn
"Baiklah ayo, tempatnya dekat kok. Bisa jalan kaki," ujar Wildan
"Oke ayo," ajak Evelyn
Wildan pergi mengajak Evelyn pergi ke sebuah kedai minuman untuk memesan minuman, mereka pergi hanya berjalan kaki karena memang tempatnya dekat. Namun saat perjalanan pulang.
"Hati-hati..." ujar Wildan
"Iya," jawab Evelyn
Evelyn dan Wildan berjalan untuk kembali ke rumah sakit lewat pinggir jalan raya karena trotoar sedang ada perbaikan.
Ssreeett...
Wildan langsung menarik Evelyn dengan kuat sampai Evelyn jatuh ke pelukannya.
"Woi! Naik motor apa balapan liar sih!" teriak Wildan
Ckiitt...
Hampir saja Evelyn terserempet motor yang ugal-ugalan. Untungnya dengan sigap Wildan langsung menarik Evelyn. Sebuah motor mengerem mendadak, pengemudinya menengok ke belakang dan meminta maaf.
"Maaf mas.. Maaf..."
"Hati-hati dong!" kesal Wildan
"Maaf!"
"Huh! Kamu nggak papa?" tanya Wildan
Evelyn masih terpaku di pelukan Wildan, ia melihat wajah Wildan sambil bengong. Jantungnya berdebar kencang tak beraturan.
"Kamu nggak papa?" tanya Wildan sekali lagi
"Eh... Iya, nggak papa!" jawab Evelyn
"Ayo, aku bantu berdiri," ujar Wildan
"Eh iya," jawab Evelyn
Evelyn pun berusaha untuk berdiri, namun ia merasakan sakit di pergelangan kakinya. Ia kehilangan keseimbangan, namun lagi-lagi Wildan menangkapnya.
"Aww...." keluh Evelyn
"Eh kenapa? Ada yang sakit?" tanya Wildan
"Nggak tau, kakiku sakit," jawab Evelyn
"Ya sudah ayo duduk dulu, aku akan mengeceknya!" ajak Wildan
"Iya," jawab Evelyn
Wildan membawa Evelyn untuk duduk lebih dulu, lalu ia memeriksa kaki Evelyn. Wildan sedikit menekan pergelangan kaki Evelyn, Evelyn sedikit mendesis kesakitan.
"Sss..." desis Evelyn
"Kenapa? Sakit ya?" tanya Wildan
"Iya," jawab Evelyn
"Sepertinya keseleo deh," ujar Wildan
"Hah? Lalu bagaimana kita kembali ke rumah sakit? Aku tidak kuat berjalan," bingung Evelyn
Wildan memutar badannya, ia berjongkok di depan Evelyn.
"Kamu ngapain?" tanya Evelyn
"Naik sini, aku kuat kalo cuma gendong doang," ujar Wildan
Degg...
Hati Evelyn sedang maraton Jakarta-Surabaya saat ini rasanya. Wajahnya memerah, ia tak menyangka Wildan bisa se sweet ini.
Bagaimana ini? Haruskah aku naik? - Batin Evelyn
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏