My Sexy Wife

My Sexy Wife
Deg-degan



"Kalo Sarah sih, mommy daddy restuin. Makanya buruan selesai in kuliahnya, nanti cepetan nikah!" ujar Prima


Sarah malu sendiri mendengar perkataan Prima barusan, di satu sisi ia ada perasaan aneh dan di sisi lain ia merasa jika akting ini lama-lama menjadi terlalu nyata.


.


.


.


Di Mobil Adit


"Dev..." panggil Adit


"Apa kak?" tanya Devina


"Kamu... Suka ya sama Faris?" tanya Adit


"Idih, enggak lah. Kenapa?" tanya Devina


"Nggak, cuma tanya aja kok," ujar Adit


"Oh," jawab Devina


"Kamu merasa Faris itu nyebelin nggak sih?" tanya Adit


"Iya sih lumayan, menurutku biasanya cowok yang ramah modelan Faris itu suka tebar senyum ke sana-sini. Gampangnya ngomong, suka tebar pesona. Ugh aku sih nggak betah banget kalo punya pacar kayak dia," komentar Devina


"Trus Faris itu tipe kamu bukan?" tanya Adit


"Kalo Kak Faris sih... Hm 50% iya dan 50% nggak, berarti Fifty-Fifty deh," jawab Devina


"Oh, emang tipe kamu itu cowok yang kayak gimana?" tanya Adit


"Aku sih nggak terlalu pemilih orangnya. Aku suka cowok yang setia, baik, perhatian, pekerja keras, ada sedikit bad boy nya, dan yang paling penting dia nggak mandang harta aku juga bisa menangin hati mommy sama daddy," jawab Devina


"Oh, kayak aku dong?" tanya Adit


"Hah? Idie, kepedean banget," jawab Devina


"Loh, emang kan? Setia? Iya, baik? Pasti, perhatian? Of course, pekerja keras? pastinya, dan aku juga rada bad boy kan? Aku nggak mandang harta keluarga kamu dan juga aku bisa aja menangin hati mommy daddy kamu," jawab Adit


"Ih, sok ke-PD an!" ketus Devina


"Loh kenyataan kan? Aku juga ada bonusnya, aku ganteng, keluarga juga kaya, dan juga aku udah kenal baik sama keluarga kamu!" ujar Adit


"Trus mau apa? Lamar aku?" tanya Devina


"Ya kalo aku mau bisa aja, atau besok pagi perlu aku lamar?" tanya Adit


"Eh jangan-jangan, aku kan masih sekolah! Masa pacarku mas-mas," ujar Devina


Ckiitt...


Adit mengerem mendadak mobilnya dan menepikannya di pinggir jalan. Ia melepas sabuk pengamannya lalu langsung mendekat kan badannya ke Devina hingga badan Devina terpepet jendela mobil. Hendak bergerak pun tidak bisa karena badan Devina di kunci oleh tangan kanan Adit yang menempel di jendela mobil.


"Usia kita cuma beda 2 tahun, kalo aku mas-mas berarti kamu mbak-mbak. Dev aku serius sama kamu, kalo selama ini kamu anggep aku gak serius nggak papa. Tapi kali ini aku serius, aku mau kamu jadi pacar ku!" pinta Adit


Devina terdiam membisu saat Adit berkata seperti itu, ia tak menyangka Adit yang konyol ini bisa seserius ini.


"Ehm... Kak jangan bercanda," ujar Devina


"Aku serius!" tegas Adit


"Uhm ituu...." gugup Devina


"Aku butuh jawaban kamu Dev," pinta Adit


"Akuu.... Aku butuh mikir!" gugup Devina


"Aku bakal tunggu jawaban kamu sampai kapanpun! Tapi ingat Dev, jangan kamu sia-siakan cintaku ini. Karena sekali kamu melepasku, ribuan gadis di luar sana menungguku!" ujar Adit sambil menunjukkan senyum smirk nya


"Uhm...." gugup Devina


Adit kembali duduk dengan benar dan fokus menyetir lagi sampai depan rumah Devina.


"Dev..." panggil Adit


"....."


"Dev!" panggil Adit


"...."


"Dev!" panggil Adit dengan sedikit keras


"Oh iya kak," kaget Devina


"Kita udah nyampe," ujar Adit


"Oh iya kak, makasih ya," ujar Devina


"Iya, sana masuk jangan kelamaan di luar malem-malem. Nanti masuk angin," ujar Adit


"I iya kak," gugup Devina


Devina turun dari mobil, namun baru beberapa langkah berjalan, Adit kembali memanggilnya.


"Dev..." panggil Adit


"Ya kak kenapa?" tambah Devina


Adit mendekatkan dirinya ke Devina lalu...


Cup...


Adit mencium kening Devina dengan lembut dan tulus.


"Jangan lupa aku menunggu jawabanmu, jadilah gadis baik selama aku tidak ada," ujar Adit


"I iya kak, a aku masuk dulu," gugup Devina


Devina langsung berbalik dan berlari sekencang mungkin untuk masuk ke dalam rumah.


"Loh Dev kok baru pulang? Tadi mampir ke mana?" tanya Prima


"Anu mom itu, tadi macet lampu merah," ujar Devina


"Oh ya udah, sana masuk kamar. Udah malem loh," ujar Prima


"Kita ayo segera masuk kamar juga, udah malem loh ini!" sahut Devan dengan tatapan genitnya


"Itu mohon sikap di jaga, masih ada anak di bawah umur loh ini," ucap Prima sambil menirukan nada bicara Devan


"A aku masuk kamar dulu," gugup Devina


Devina buru-buru masuk ke kamarnya, namun saat berjalan.


Duukk...


Kakinya terantuk sebuah meja kayu yang keras .


"Aduuhh... Ini siapa sih yang naroh meja di sini!" kesal Devina


"Dev, kamu loh yang salah," ujar Prima


"Ah bodo!" kesal Devina


"Tu anak kenapa?" tanya Reyhan yang secara mistis muncul mendadak


"Nggak tau, tamunya dateng kali," ujar Prima


Devina berjalan dengan tertatih-tatih memasuki kamarnya dan juga terkadang masih menabrak beberapa meja, kursi, pintu, tembok dll.


///***///


Di Kamar Devina


"Duh... Ini jantung kayak habis maraton aja deh, tenang Dev tenang. Cuma di tembak cowok aja biasa, di sekolah udah terbiasa dengan 10 tembakan per bulan. Ini kan cuma Kak Adit, tenang Dev tenang..." gumam Devina


Kenapa jadi deg-degan gini kalo inget kak Adit - Batin Devina


///***///


Di Rumah Sarah


Evelyn mengantar Wildan sampai depan rumah, pastinya bawa sopir lah ya.


"Makasih Lyn udah anter," ucap Wildan


"Iya sama-sama," jawab Evelyn


"Besok ada waktu?" tanya Wildan


"Ada Dan, kenapa?" tanya Evelyn


"Hmm nggak enak aja, kamu beliin aku baju bagus dan anter pulang. Besok aku traktir makan ya," ajak Wildan


"I iya," jawab Evelyn


"Nanti aku kabari lagi, daahh..."


"Daahh..."


Wildan pun akhirnya masuk rumah, sementara Evelyn kalang kabut sendiri.


Apa ini kencan? Nge-date? Atau pdkt? Oh My God, apa yang terjadi? - Batin Evelyn


"Pak..." panggil Evelyn


"Ya non,"


"Menuju mall yang masih buka," ujar Evelyn


"Malem-malem masa ke mall non? Mau ngapain?"


"Pak sopir nggak denger? Besok saya mau di ajak jalan, berarti kan harus tampil cantik maksimal. Masker saya di rumah habis," jelas Evelyn


"Terus non?"


"Pake nanya? Ayo ke mall beli!" kesal Evelyn


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏