
"Kalo aku jadi asisten kamu, nanti kamu nggak jadi kerja," cibir Sarah
"Hehe... Salahnya sih terlalu cantik," gurau Reyhan
Mereka berdua pun makan sampai puas di sana, tak lupa diselingi beberapa gurauan yang membuat mereka tertawa bersama. Tak jarang ada orang yang memotret mereka karena dikira sepasang artis dan ada juga yang kagum.
Tringg... Triinngg....
Ponsel Reyhan bergetar, tertera nama 'Daddy' di ponselnya. Tanpa menunggu, Reyhan langsung mengangkat telfonnya.
"Halo dad..."
"Cepat ke kantor! Daddy tunggu!"
"Oke dad, aku ke sana sekarang!"
Reyhan mematikan ponselnya dan langsung meminta tagihan pada pelayan. Setelah membayar ia langsung mengajak Sarah masuk ke dalam mobil.
"Kenapa buru-buru Rey?" tanya Sarah
"Daddy telfon, minta aku segera pergi ke perusahaan," ujar Reyhan
"Aku ikut ya," pinta Sarah
"Buat apa? Kamu aku anter pulang aja," ujar Reyhan
"Nggak papa, aku sekalian mau minta maaf ke daddy masalah Laras," ujar Sarah
"Ya udah," ajak Reyhan
Sarah merasa kikuk, pikirannya masih terganggu dengan kata-kata Laras.
Apa harusnya aku tanya sekarang? Jika lebih lama lagi aku bisa gila - Batin Sarah
"Rey..." panggil Sarah
"Apa sayang?" tanya Reyhan yang masih fokus menyetir
"Boleh tanya?" tanya Sarah
"Iya apa?" tanya Reyhan
"K kamu... Dulu pacarnya Laras ya?" tanya Sarah
"Apa? Hahahaha... Mana mungkin aku dulu pacarnya, ngaco deh," tawa Reyhan
"Aku serius," kesal Sarah
"Kamu denger dari mana sih hal-hal kayak gitu?" tanya Reyhan
"Nggak perlu tau, kamu jawab aja kenapa sih?" tekan Sarah dengan nada meninggi
"Kamu kenapa sih? Cemburu ya?" tanya Reyhan
"Nggak!" ketus Sarah
"Hei aku nggak pernah ada hubungan apa-apa sama dia," ujar Reyhan yang fokus menyetir
"Trus kenapa ada orang yang bilang kalo aku perebut pacar orang?" tanya Sarah
"Hah? Siapa yang ngomong?" kaget Reyhan
"Ad..." ucap Sarah terpotong
Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, ponsel Reyhan sudah berbunyi lebih dulu. Reyhan langsung menekan tombol di wireless earphone nya dan menjawab telfon sambil fokus menyetir.
"Halo!"
"Kamu bisa lebih cepat? Laras ada di ruangan daddy,"
"Apa? Secepat itu?"
"Kamu cepat ke sini! Daddy ingin memastikan apakah benar Laras yang ini,"
"Baik! 5 menit lagi aku sampai!"
Reyhan menginjak gas dan melajukan mobilnya lebih cepat agar lebih cepat sampai. Sementara Sarah masih bingung mana kebenarannya.
///***///
Di Perusahaan
Reyhan berlari menuju ruangan Devan, sementara Sarah hanya berjalan santai sambil sesekali melamun.
Brakk...
Reyhan membuka pintu ruangan Devan secara paksa.
"Akhirnya kamu tiba!" ujar Devan
"Bagaimana dad?" tanya Reyhan
"Hai Reyhan sayang..." sapa Laras dengan kaki dan tangan terikat
Saat Laras menyapa Reyhan, Sarah juga sedang membuka pintu ruangan Devan. Kata-kata Laras terdengar jelas di telinga Sarah.
"Oh... Maaf mengganggu," ucap Sarah sambil menutup kembali pintunya
"Sarah... Tunggu Sar!" panggil Reyhan
Reyhan ingin sekali mengejar Sarah, namun masih ada masalah lebih besar di depannya. Reyhan memilih mengirim pesan pada Sarah.
Reyhan
Aku mohon jangan salah paham! Nanti akan ku jelaskan semuanya!
"Nanti? Kenapa tidak sekarang?" gumam Sarah
Sarah berlari keluar, dan memberhentikan sebuah taksi. Ia langsung bergegas pulang, padahal otaknya berpikir kalau ini masalah sepele, tapi hatinya sakit. Lantas siapa yang harus Sarah dengarkan?
.
.
.
"Rey sudah! Jangan sakiti dia," cegah Devan
"Dia ini benar-benar sumber masalahku dad!" kesal Reyhan
"Sudahlah! Duduk yang tenang!" tegas Devan sambil menarik Reyhan
"Huh! Dasar perempuan br*ngsek!" kesal Reyhan
"Nona, apa alasanmu berusaha merusak perusahaan kami?" tanya Devan
"Haruskah aku jawab?" tanya Laras dengan nada mengejek
"Kau!" kesal Reyhan
"Sudah-sudah! Nona, jangan menguji kesabaran kami!" tegas Devan
"Dasar, anak dan ayah sama saja. Payah dan mudah di tipu!" ujar Laras
Plaakk...
Sebuah tamparan keras melayang ke pipi mulus Laras.
"Nona kau ini cantik, tapi sayangnya kau bejat!" tegas Devan sambil membersihkan tangannya dengan kain bersih
"Ha... Hahahaha..." tawa Laras sambil menahan sakit di pipinya
"Jangan buat saya bertindak lebih jauh lagi nona! Saya akan diam saat anda berusaha menghancurkan perusahaan saya, tapi saat anda mengusik keluarga saya... Saya tidak akan diam meski kau seorang wanita!" tegas Devan
"Ha.. Hahahaha..." tawa Laras
Laras awalnya tertawa, namun lama-kelamaan tawa itu menjadi sebuah tangisan. Devan dan Reyhan bingung dengan sikap Laras.
"Kenapa kau menangis? Baru sekarang menyesal?" tanya Reyhan
"Kalian bodoh!" ketus Laras
"Apa maksudmu?" tanya Devan
"Aku mengelabui kalian sudah lama, tapi kalian tidak sadar? Kalian pria-pria yang lemah!" ketus Laras
Reyhan benar-benar marah, ia melangkah dan ingin memukul Laras namun langkahnya di hentikan oleh Devan.
"Jangan Rey!" tegas Devan
"Wanita ini memiliki mulut yang berbisa!" kesal Reyhan
"Jika kau tau diamlah! Dia hanya memancing kita agar kita memukulnya, kau kira jika kasus ini sampai ke polisi siapa yang salah? Tetap kita yang disalahkan, walau dia pelakunya... Kita sebagai pria juga memukulnya!" tegas Devan
"Kata-kata daddy ku menyelamatkan nyawa mu j*lang!" kesal Reyhan
"Nona, katakan saja apa alasanmu mau menghancurkan perusahaan kami?" tanya Devan
"Heh... Rey, apa kau sudah puas dengan permainan mu?" tanya Laras
"Apa maksudmu!" kesal Reyhan
"Sudah puas meniduri Sarah? Jika sudah bosan bilang, aku mau menemani dan menjadi penghangat malammu!" ucap Laras
"Dasar wanita gila!" kesal Reyhan dengan sedikit berteriak
"Apa maksudnya Rey?" tanya Devan
"Oh, sepertinya keluarga mu belum tau ya?" tanya Laras
"Kau!" kesal Reyhan
"Apa maksudnya Rey!" bentak Devan
"Dad.. Ini tidak seperti yang daddy pikirkan!" ucap Reyhan
"Oh... Sepertinya kau sebagai ayah gagal ya mengawasi putramu," pancing Laras
"Apa maksudnya Rey!" bentak Devan
"Bagaimana kalau aku yang bicara?" pancing Laras
"Diam kau j*lang!" bentak Reyhan
"Bukankah gadismu itu yang j*lang? Ia merebutmu dariku, memanfaatkan uang dan kekuasaan mu. Ops lupa, dia kan sudah menjadi pemuas hasrat mu," pancing Laras
"Laras!" bentak Reyhan
"Apa itu benar?" tanya Devan
"Kenapa tidak tanya sendiri pada putramu Tuan Devan yang agung?" pancing Laras
"Kau!" kesal Reyhan
Devan mengambil ponselnya dan menghubungi asisten lamanya Tio.
"Segera siapkan mobil dan jalan keluar lewat belakang. Masuk ke ruangan ku bersama 4 bodyguard!"
"Baik pak!"
Tak butuh waktu lama, 4 orang bodyguard masuk bersama asisten Devan.
"Semua sudah siap pak!" ujar Tio
"Bawa gadis ini! Masukkan dia ke ruang kerjaku di rumah! Jangan katakan apapun pada keluargaku! Tetap awasi gadis ini, aku akan mengikuti kalian dari belakang!" tegas Devan
"Baik pak!" jawab Tio
"Rey, aku menunggumu di rumah!" tegas Devan tanpa memandang Reyhan
"Iya dad," jawab Reyhan
Tuhan... Masalah apa lagi ini - Batin Reyhan
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏