
Zalfa
Bahas yang lain, aku males!
Devan
Besok jam 9 datang ke kantor atau aku bilangin ke mama papa kamu kalo kamu marahan sama Joo!
Zalfa
Haih iya iya iya! Dasar kulkas bawel!
Devan
Aku tunggu
"Dia udah aku tanya tapi gak jawab. Ya udah gak usah ngerengek lagi kayak anak kecil, aku udah tanya tapi dia nggak mau jawab," ucap Devan
"Oh gitu," ucap Prima lesu
"Hei, hubungan mereka ya biarlah. Biar berkembang sendiri, gak usah ikut-ikutan." ucap Devan
"Haih iya-iya," jawab Prima
Sesampainya di rumah, Devan mendapat telfon dari ayahnya.
///***///
Di Kamar
Triingg... Triinngg....
Tertera nama 'Ayah' di ponsel Devan.
"Bentar ada telfon," ucap Devan
"Ya udah sana jawab," ucap Prima
Devan pergi ke ruang kerjanya untuk mengangkat telfon dari ayahnya takutnya penting.
"Lah kan aku suruh angkat telfon, bukannya angkat kaki!" kesal Prima
Devan : Halo yah ada apa?
Ayah : Besok kamu siang nggak ada meeting atau ketemu klien kan?
Devan : Nggak yah, ada apa?
Ayah : Tolong jemput Aurel di bandara ya besok
Devan : Lah kok Devan yah? Om Arga kan ada!
Ayah : Udahlah, Om Arga besok masih di luar kota, seminar. Dia minta tolong, Aurel mau balik ke Indo. Ayah kan ini masih di Singapura!
Devan : Kenapa nggak suruh naik taksi aja sih yah? Kalo nanti Prima salah paham gimana?
Ayah : Nggak bakal, Aurel nya nggak mau naik taksi makanya ayah minta tolong ke kamu
Devan : Biar Tio yang jemput
Ayah : Devan... Devan.. Sekali-kali nyenengin Om Arga kenapa sih? Lagian Aurel kan udah nggak di Indo lebih dari 10 tahun, ya lupa lah sama jalan di Indo
Devan : Haih ya udah iya, besok aku jemput!
Ayah : Yaudah kalo gitu besok jam 11, ayah tutup telfonnya
Huh semoga nggak ada apa-apa - Batin Devan
Devan kembali ke kamar karena sudah selesai telfon dan tak ada yang penting.
"Udah selesai mas telfonnya?" tanya Prima
"Udah sayang," ucap Devan
"Masalah pekerjaan ya?" tanya Prima
"Nggak, ayah minta tolong buat aku jemput anak temennya besok." ucap Devan
"Kok kamu yang jemput?" tanya Prima heran
"Iya dia dulu temen aku, dia udah pergi dari Indo sekitar sejak 10 tahun yang lalu. Ayahnya lagi di luar kota dan ibunya masih tetap di sana, makanya aku yang jemput." jelas Devan
"Oh ya udah," ucap Prima
Untung dia tidak tanya macam-macam, aku takut dia salah paham - Batin Devan
///***///
Besoknya
Zalfa
Sorry kak kayaknya aku nggak bisa datang sekarang. Nanti jam 2 siang ya, aku masih ada kelas modeling
Devan
Ya udah gak papa
Devan menunggu jam sampai pukul 11 lalu pergi ke bandara bersama Tio.
///***///
Di Bandara
Devan hanya duduk di kursi tunggu, sedangkan Devan menyuruh Tio menunggu Aurel dengan papan nama di tangannya. Tak lama terlihat gadis cantik dengan penampilan modern.
"Aurel?" tanya Tio
"Iya," ucap Aurel
Baru beberapa langkah pergi, Aurel sudah memeluk Tio erat.
"Eh apa-apaan ini?" kaget Tio
"Kak Devan makin ganteng aja sih sekarang, aku kangen banget tau sama kak Devan." ucap Aurel sambil memeluk Tio
"Nona lepaskan nona," ucap Tio sambil berusaha melepaskan pelukan Aurel
"Nggak mau, aku masih kangen sama kakak." ucap Aurel
"Tapi saya bukan Tuan Devan, saya Tio asistennya." ucap Tio
"Ha masa?" kaget Aurel
"Perkenalkan, saya Tio asisten pribadi Tuan Devan." ucap Tio
"Oh its okay, kamu juga ganteng kok jadi nggak rugi." ucap Aurel
Gadis aneh - Batin Tio
Devan yang melihatnya dari jauh sedikit tertawa melihat ekspresi wajah Tio yang kaget saat tiba-tiba dipeluk Aurel. Tio mendatangi Devan yang duduk sambil bermain ponselnya.
"Tuan sudah selesai, ini Nona Aurel." ucap Tio
"Wuaahh kak Devan, kak Devan ganteng banget. Aku kangen sama kakak," ucap Aurel sambil hendak memeluk Devan
Belum sempat memeluk Devan, Devan menahan dahi Aurel dengan telapak tangannya.
"Jangan sentuh apalagi peluk," ucap Devan dingin
"Kaakk.. Aku kangen tau," ucap Aurel manja
"Tio ayo antar dia pulang," ucap Devan
"Baik tuan," ucap Tio
"Tapi aku nggak tau alamat rumah ayah yang baru kak," ucap Aurel
"Telfon ayah kamu sekarang!" ucap Devan
"Nggak aktif, hpnya mati kayaknya." ucap Aurel
"Haih..." Devan mengehela nafas panjang
Devan berusaha menelfon ayahnya namun tidak diangkat, terpaksa ia ajak Aurel pulang dulu ke rumahnya.
Semoga istriku masih di Rumah Sakit agar tidak terjadi perselisihan - Batin Devan
"Tio ayo ke rumahku," ajak Devan
"Eh? Baik tuan," ucap Tio
Yes bisa ketemu Rina, tapi kenapa rasanya seperti suasana tenang sebelum badai datang ya - Batin Tio
Yes rencana aku berhasil - Batin Aurel
Aurel memang sejak kecil selalu menyukai Devan, namun Devan hanya menganggapnya sebagai adik tak lebih. Saat kecil Aurel nekat hendak membawa Devan ke KUA, dan mulai saat itulah Aurel dipindahkan ayahnya ke luar negeri.
Sebelum mereka masuk mobil, Aurel terlebih dulu masuk ke jok belakang sambil tetap membuka pintunya dan berharap Devan duduk di sampingnya. Namun Devan memilih duduk di samping Tio.
"Kakak nggak duduk di samping aku?" tanya Aurel
"Gak," jawab Devan
"Kakak kangen aku nggak?" tanya Aurel
"Gak," ucap Devan
"Kok kakak jadi tambah cuek sih ke aku," kesal Aurel
Haih gadis ini, semakin mencari perhatian pada tuan muda maka semakin tuan muda akan menjauh - Batin Tio
Sepanjang perjalanan Aurel banyak cerita tentang kehidupannya di luar negeri, sedangkan Devan semakin kesal mendengar ocehan Aurel.
"Kak.. Kakak tau nggak, di sana banyaaaakk banget cowok ganteng tapi tetep kak Devan yang paling ganteng." ucap Aurel
"....."
"Selama ini aku selalu kangen sama kak Devan tapi pasti di larang kalo mau pulang ke Indo." ucap Aurel
Devan yang semakin kesal menyalakan musik di mobil yang semakin keras dan semakin keras.
"Kak..." panggil Aurel
"...."
"Kak..." panggil Aurel
"...."
"Kak Devan!" panggil Aurel dengan sedikit keras
"Apa sih Rel? Dari tadi ngoceh mulu, nggak capek apa? Aku yang denger dari tadi itu sumpek tau nggak. Jangan berisik!!" bentak Devan
"Kak Devan kenapa bentak aku? Aku kan cuma pengen ngobrol sama kak Devan," ucap Aurel sambil meneteskan air mata
"Jangan cengeng! Jangan kayak bocah, kamu harusnya lebih dewasa dong jadi gadis!" kesal Devan
Sialan, aktingku gak berpengaruh ke kak Devan - Batin Aurel
Haih entah trik apa lagi yang akan di gunakan Aurel - Batin Devan
Lama perjalanan yang selalu hening hingga membuat Devan tak sadar kalau sudah sampai rumah. Tio langsung lari turun, menurunkan koper Aurel lalu masuk ke dalam rumah mencari Rina.
"Kak anterin aku sampe kamar ya," pinta Aurel manja sambil memeluk lengan Devan
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏