My Sexy Wife

My Sexy Wife
Tanggung Jawab



"jangan Prim.. Nggak, jangan pliss..." teriak Devan


"diem, aku bilang diem" kesal Prima


Perawat menyuntik Devan untuk memasukan infus, padahal tidak sakit tapi Devan teriak-teriak seperti orang ketakutan. Karena kenyataannya Devan takut pada jarum suntik sejak dulu, bahkan terakhir kali Devan disuntik adalah saat suntik vaksin saat masih kecil.


"udah selesai" ucap Perawat


"noh udah" ucap Prima kesal sambil melepaskan Devan


"eh udah? Kapan nyuntiknya?" tanya Devan


"intinya udah, saya kembali dulu" ucap perawat


Perawat keluar meninggalkan Devan dan Prima didalam ruangan. Prima berdiri dan melipat tangannya didepan dada, ia melihat Devan dengan tatapan datar.


"jadi kamu takut jarum suntik?" tanya Prima datar


"ng nggak, kata siapa. Aku cuma gugup kok" hindar Devan


"haih, lebih mudah ngatasin pasien anak kecil tau nggak daripada tanganin kamu" kesal Prima


Prima berbalik badan dan hendak pergi, namun Devan menahan tangannya.


"mau kemana?" tanya Prima


"pulang dulu" ucap Prima


"jangan tinggalin aku" ucap Devan lemas


Prima berbalik dan memegang tangan Devan dengan hangat.


"aku mau ambil keperluan kamu, baju ganti kamu juga belum ada. Nanti aku cepet balik kok" ucap Prima sambil tersenyum


"...." Devan terdiam


"udah kamu tunggu aja disini, ini handphone kamu aku taruh samping kamu. Kalo ada apa-apa telfon aku ok" ucap Prima


Prima pergi untuk pulang dan mengambil keperluan Devan, ia pulang mengemasi beberapa barang. Namun saat mengemasi Devan menelfonnya.


Triingg... Triinggg...


Prima : 'Halo..'


Devan : 'Prim bisa ambilin sekalian dokumen dimeja kerja aku nggak?'


Prima : 'ini siapa?'


Devan : 'kamu nggak simpen nomer aku?'


Prima : 'siapasih?'


Devan : 'Devan...'


Prima : 'Devan siapa?'


Devan : 'suami kamu'


Prima : 'suami? Suami aku kan naman.... Oh Devan, ada apa?'


Devan : 'parah kamu nggak simpen nomer suami'


Prima : 'lupa'


Devan : 'parah'


Prima : 'udah ada apa?'


Devan : 'ambilin dokumen di meja kerja aku sekalian'


Prima : 'sakit masih aja kerja'


Devan : 'nggak gitu, nanti diambil sama asisten aku dirumah sakit'


Prima : 'yaudah'


Devan : 'jangan lupa simpen nomer aku'


Prima : 'gampang, nanti aja. Ok bye'


Parah ni cewek, udah punya suami tapi nggak simpen nomernya. Bahkan kadang dia lupa sama nama ku? Kok ada ya makhluk kayak dia hidup dibumi ini. Tapi otak kaya gitu kok bisa aja jadi mahasiswa kedokteran - Batin Devan


Prima bergegas menuju meja kerja Devan untuk mengambilkan dokumen yang diminta Devan, saat ia mengambil dokumennya ia melihat 2 frame foto dimeja kerja Devan. Prima mengambil salah satunya.


"cantik banget foto ini, tapi kenapa rasanya nggak asing ya?" bingung Prima


Prima melihat seorang gadis yang memegang gitar duduk dipinggir danau dibawah indahnya sinar rembulan, namun sayang foto itu diambil dari belakang jadi tak terlihat wajahnya. Prima mengambil frame yang satunya lagi.


Terlihat difoto itu Devan masih remaja dan sedikit tersenyum, sedangkan Katlyn mencium pipi Devan dari samping. Mereka tampak sangat serasi difoto itu.


"ah sudahlah, bukan urusanku. Lebih baik aku segera menyelesaikan ini" ucap Prima


///***///


Di Rumah Sakit


Di Ruangan Devan


"nih dokumennya" ucap Prima


"ok makasih" ucap Devan


Prima menaruh beberapa barang di laci dan loker. Ia teringat foto tadi, sebenarnya ia sedikit terganggu dengan foto tadi.


"Van.. Boleh tanya?" tanya Prima


"apa?" tanya Devan


"cewek cantik yang difoto nyium kamu itu siapa? Frame nya kok dimeja kerja kamu?" tanya Prima


Degg...


Devan terkejut mendengar pertanyaan Prima. Ia lupa kalau masih ada foto Katlyn di meja kerjanya.


"kamu liat apalagi dimeja kerja ku?" tanya Devan


"ada sih foto cewek yang satunya, cantik banget" ucap Prima


"yang foto ditengah malam?" tanya Devan


"iya. Tapi entah kenapa aku merasa sangat akrab dengan punggung gadis itu. Sangat familiar tapi aku tak bisa mengingatnya" ucap Prima


"kamu kenal?" tanya Devan antusias


"kayaknya, tapi nggak ingat siapa" ucap Prima


"kalo kamu ingat, cepet kasih tau aku. Atau kenalin aku sama dia" ucap Devan antusias


"kenapa?" tanya Prima


"dia orang yang penting buat aku" ucap Devan


"oowww, kamu suka juga main cewek" ledek Prima


"hais bukan gitu" ucap Devan kesal


"trus, dia pacar kamu?" tanya Prima


"bukan" jawab Devan


"mantan?" tanya Prima


"bukan" jawab Devan


"hmm... Idola kamu" tanya Prima


"bukan" jawab Devan


"terus.. Ah fans kamu?" tanya Prima


"jangan aneh-aneh deh" kesal Devan


"terus?" tanya Prima


"gini ya, dalam hidupku hanya ada 5 wanita terpenting didalam hidupku. Aku rela mempertaruhkan nyawa demi mereka" ucap Devan tegas


"uuuu, siapa aja coba?" tanya Prima


"1. Ibuku, 2. nenekku, 3. istriku, 4. putriku dan 5. cucu-cucu ku" ucap Devan


"uuuu, aku masuk daftar" ledek Prima


"kalo khusus kamu pengecualian, hidup mati penting aku dapet kabar. Udah itu aja cukup" gurau Devan


"hiks jahat" ucap Prima dengan suara meniru anak kecil


"haha, bercanda. Walau gimana pun aku tetep bakal perduli sama kamu. Bagaimanapun kamu tetap istriku dan akan menjadi tanggung jawab ku" ucap Devan tegas


Degg...


Prima terdiam seketika mendengar ucapan Devan. Ia benar-benar trenyuh saat mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Devan. Walau Prima itu banyak tingkah dan tomboy tapi hatinya rapuh, ditambah lagi ia memiliki luka batin. Ia butuh kasih sayang, dan entah mengapa Prima merasa mendapat perhatian dari Devan yang tidak pernah ia dapatkan dari keluarganya.


Apa begini rasanya diperhatikan? - Batin Prima