
Reyhan bergegas pergi menuju apartemen Laras. Ia sudah tidak mau bermain-main lagi dengan Laras.
///***///
Di Apartemen Laras
Ceklek...
Reyhan membuka pintunya, ia mendapati Laras sedang tidur di lantai. Banyak botol beer berserakan dimana-mana. Reyhan hanya memandangnya sinis sambil memasukkan tangannya ke saku celana.
"Kau yang membangunkannya atau aku yang membangunkannya?" tanya Reyhan
"Cukup... Cukup... Aku saja yang membangunkannya," ucap Adit
Adit berusaha membangunkan Laras dengan gagang sapu. Meski Adit dan Reyhan pernah minum, tapi mereka anti dengan seorang peminum dan bau minuman.
"Ras... Laras.. Ras..." panggil Adit
"Mati ya, nggak bangun-bangun!" kesal Reyhan
"Woy budeg! Banguunnnn!" teriak Adit di dekat telinga Laras
"Ahhh... Astaga... Siapa, ada apa, kenapa?" kaget Laras
Laras berusaha membuka matanya yang berat dan menahan pusing di kepalanya. Ia melihat ada Reyhan didepannya dengan ekspresi yang tak bersahabat.
"Re Reyhan... Ka kamu ngapain di sini?" gugup Laras
"Aku kasih semua, kamu malah asik minum?" tanya Reyhan
"Ng nggak gitu, semalem itu...." bingung Laras
"Keluar dari apartemen ini!" ucap Reyhan
"Apa?" kaget Laras
"Ke-lu-ar! Kurang jelas?" tanya Reyhan
"Maksud kamu apa? Kamu main buang aku aja waktu bosan. Kamu nggak bisa gini Rey, mana tanggung jawab kamu!" protes Laras
"Udah nggak usah banyak drama," sahut Adit
"Kamu bukan orang yang aku cari. Kamu tipu aku dan habiskan banyak uangku, aku cukup bersabar selama ini!" tegas Reyhan
"Apa? Nggak Rey, kamu pasti salah paham..." gugup Laras
"Drama terus sampek sukses," ledek Adit
"Rey kamu salah, aku beneran gadis malam itu!" ucap Laras
"Nggak usah banyak omong, aku kasih kamu waktu 2 hari dan segera tinggalkan apartemen ini! Jika tidak, aku tidak segan melibatkan polisi!" ancam Reyhan
"Rey kamu salah, ini nggak kayak gitu Rey!" bujuk Laras
"Ayo pergi Dit," ajak Reyhan
Laras memegang erat kaki Reyhan agar Reyhan tidak pergi, kelakuan Laras membuat Reyhan semakin jijik kepadanya. Reyhan merogoh punggung belakangnya, lalu mengarahkan pistol ke dahi Laras.
"Kamu yang melepaskanku, atau nyawamu yang melepaskanmu?" tanya Reyhan
Laras tampak sedikit ketakutan dan akhirnya melepaskan tangannya dari kaki Reyhan. Sementara Reyhan melangkah keluar.
"Rey... Rey... Rey...!!! Kamu akan menyesal nanti!" teriak Laras
Reyhan menghentikan langkahnya dan menghela nafas, sedangkan Adit berbalik dan memandang Laras.
"Belum nanti aja kita udah nyesel kok. Nyesel kenal kamu, bawa kamu ke sini, sampai di manfaatkan sama kamu. Tapi maaf, masa keg*blokan kami sudah habis, bye," ucap Adit dengan entengnya
Reyhan menatap sinis re arah Adit, sementara Adit bingung karena merasa tidak punya salah.
"Melorotnya nanti dulu, mau nginep di sini kah?" tanya Adit
"Ck," Reyhan berdecak
///***///
Di Mobil
"Gila, sejak kapan lo punya pistol?" tanya Adit
"Ini?" tanya Reyhan sambil mengarahkan pistolnya tadi ke arah Adit sambil menyetir
"Iya ya nggak usah di hadapin ke gue. Aku masih mau hidup panjang dan menikah boss," pinta Adit
"Nih," ucap Reyhan sambil melemparkan pistolnya ke arah Adit
"Woi woi woi... Jangan asal lempar, nanti meledak gimana?" panik Adit
"Nggak bakal, mau lo bakal, lindes pake mobil, atau isi peluru juga nggak bakal meledak," jawab Reyhan
"Kok bisa?" tanya Adit
"Coba lo pegang, bahannya apa?" tanya Reyhan
"Plastik? Kok bisa?" tanya Adit
"Ya bukannya gue takut sama pistol, tapi takut nyawa melayang. Ini nyawa man urusannya," ucap Adit
"Udah nggak usah lebay," ucap Reyhan
"Nongkrong dulu yuk," ajak Adit
"Gue ada kerjaan di kantor," ucap Reyhan
"Bentar doang," ucap Adit
"Ck, iya-iya!" ucap Reyhan terpaksa
///***///
Di Apartemen Laras
Ctaarrr...
Suara botol pecah terdengar di apartemen Laras. Laras yang marah karena di usir oleh Reyhan, mengamuk dan membanting semua botol minumannya semalam.
"Sialan! Kenapa aku sial sekali? Di khianati, lalu di usir!" kesal Laras
Aku tidak akan diam, aku akan balas dendam. Dio... Reyhan... Kalian lihat saja nanti! - Batin Laras
Laras
Di mana?
Dio
Apartemen
Laras
Aku datang dan tinggal di sana, atau kau yang membelikan aku rumah baru?
Dio
Iya-iya, jangan kesini. Akan ku belikan!
"Heh... Hanya rumah, apa sulitnya untukku?" tanya Laras
Laras mengemasi beberapa barangnya dan pergi ke apartemen yang baru di belikan oleh Dio.
///***///
Besoknya
Hari ini hari minggu, Reyhan mengajak bertemu dengan Wildan. Reyhan juga mengajak Adit pastinya, mereka bertemu di sebuah caffe.
"Dan..." panggil Adit
"Iya kak," jawab Wildan
Wildan duduk di kursi lalu mulai bertanya pada Reyhan.
"Jadi ada apa ini mau menemui ku?" tanya Wildan
"Aku ingin lebih mengenal kakakmu!" ucap Reyhan tanpa ba-bi-bu
"Hah?" kaget Wildan
"Hahahaha jangan dengarkan dia. Hanya mengobrol saja," ucap Adit
Anak ini apa tidak bisa ya sedikit basa-basi - Batin Adit kesal
"Oh baiklah," jawab Wildan
"Kakakmu katanya putus kuliah ya?" tanya Adit
"Iya kak," jawab Wildan
"Lalu sekarang bagaimana? Masih kuliah atau bekerja?" tanya Adit
"Dia bekerja sebagai ob di salah satu perusahaan besar," jawab Wildan
"Perusahaan apa?" tanya Reyhan
"Jangan dengarkan dia, kita lanjut. Apa kakakmu punya kekasih saat ini?" tanya Adit sambil mendorong Reyhan agar tidak menggangu percakapannya dengan Wildan
"Tidak, kenapa?" tanya Wildan
"Huh lama sekali! Apa yang kalian butuhkan? Apa kau mau rumah mewah? Mobil mewah? Atau uang?" tanya Reyhan secara langsung
Wildan dan Adit hanya memandang Reyhan tanpa berkedip, memang Reyhan memiliki watak yang tidak suka basa-basi, ya gini repotnya.
"Kakak ini rentenir ya?" tanya Wildan
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏
Baca karya lain saya: Penjara Cinta Tuan Muda