My Sexy Wife

My Sexy Wife
Ekspektasi



"Nanya aja ini orang, kayak monyetnya dora." ucap Devan


"Kan nggak tau, jadi ya tanya." ucap Prima


"Udah nanti ngikut aja, no komen and no protes!" ucap Devan


"Terserah kamu mas asal kamu nggak bunuh atau jual aku." ucap Prima


"Aku nggak bisa hidup dong kalo kamu mati," ucap Devan


"Salah! Kamu nggak bisa hidup kalo nggak ada oksigen buat bernafas," ucap Prima


"Bisa nggak candaan kita nggak usah dikaitkan dengan hal-hal kedokteran. Mentang-mentang jadi dokter, semua dikaitkan kesehatan!" kesal Devan


"Terus gimana? Kan yang bener gitu," ucap Prima


"Haih terserah kamu lah," kesal Devan


///***///


Sore Hari


Setelah pulang dari rumah sakit, Prima masuk kedalam kamar. Ia melihat sebuah kotak kado di atas kasur lalu ia membukanya.


"Hm untukku kah?" gumam Prima


Dear My Wife


Pakai malam ini, pukul 7 aku jemput. Berdandan lah secantik mungkin sayang💖


Begitulah pesan yang ada didalam kotak. Prima senyam-senyum sendiri melihat pesan itu. Ia langsung mandi dan bersiap-siap.


///***///


Pukul 7 Malam


Prima sudah siap dengan sepatu high heels warna hitam, dress merah selutut berlengan ¾ dan sabuk hitam yang dihiasi kristal di pinggangnya, juga dengan tas kecil ditangan kirinya. Tak lupa rambutnya di tata rapi menggelombang kesamping kiri dengan sedikit aksesoris rambut warna merah dan make up natural.


Saat keluar, Devan sudah menunggu dengan jas hitamnya yang membuatnya semakin terlihat gagah di samping mobil sport putih harganya mencapai ratusan milyar miliknya.


"Mari sayang," ajak Devan formal


Prima berjalan dengan anggun mendatangi Prima. Devan sedikit melongo melihat penampilan Prima kali ini dengan dress pilihannya.


"Cantik sekali," ucap Devan melongo


"Hmm terima kasih," jawab Prima sambil tersenyum manis


"Ehm itu, matanya harus ditutup dulu ya." ucap Devan


"Kenapa ditutup-tutupi sih?" tanya Prima


"Ya nanti kalo tau ya nggak kejutan lah," ucap Devan


"Hm oke deh," jawab Prima


Prima menurut dan matanya ditutup dengan kain hitam oleh Devan. Ia duduk di mobil, lalu Devan pergi mengendarai mobil sportnya.


Apa dia merencanakan sesuatu yang romantis? Atau sesuatu yang akan membuatku terkejut? Atau seperti surprise di drama-drama? Lalu apa nanti reaksiku? Aku belum siap, arrgghhh kenapa banyak halu sih - Batin Prima


Hehe dia pasti menyukai apa yang akan kuberikan hari ini - Batin Devan


///***///


Setelah Sampai


Beberapa menit berkendara, mereka sampai. Prima turun dengan anggun dan berhati-hati. Devan membantu Prima turun dan melepaskan penutup mata Prima.


Aduh kenapa aku jadi deg-degan gini sih? - Batin Prima


"Ummm iya mas," jawab Prima


"1... 2.... 3....," ucap Devan


Devan melepaskan penutup mata Prima. Prima yang semula memiliki ekspektasi tinggi dan terkejut menjadi sedikit aneh melihatnya.


"Disini?" tanya Prima aneh


"Iya hehe, kenapa kaget ya? Atau deg-degan?" tanya Devan pede


"Ngapain kesini mas?" bingung Prima


"Kamu kan suka kesini, jadi kita ya kesini aja!" ucap Devan


Prima memasang ekspresi aneh melihat pemandangan didepannya.


"Kenapa, nggak suka ya?" tanya Devan khawatir


"Nggak gitu, kalo cuma mau makan nasi pecel nya Mang Dadang ngapain pake baju mahal kayak gini mas?" jengkel Prima


"Ya nggak papa, lagipula ini kan hari spesial kita." ucap Devan


"Haih terserah kamu lah mas," jawab Prima lesu


Prima yang semula berekspektasi tinggi, seketika dunia halunya runtuh dalam sekejap. Ia membayangkan mungkin akan diajak dinner di tempat romantis, makan es krim dengan pemandangan indah ataupun jalan-jalan ditempat yang belum pernah ia kunjungi. Realita tak sesuai ekspektasi, ia malah diajak pergi ke Warung Nasi Pecel Mang Dadang si warung langganan Prima saat kuliah.


Daripada merasa kesal yang tidak berarti ia makan seperti biasa tanpa banyak bicara, Devan masih merasa bingung dengan sikap istrinya yang tidak seperti biasanya itu.


"Kamu kenapa sayang, nggak suka ya?" tanya Devan lembut


"Nggak, aku suka kok cuma kaget aja nggak ngira." jawab Prima dengan senyum dipaksakan


"Hehe aku ini memang suami idaman, kamu benar-benar beruntung kan memiliki ku" ucap Devan


Prima hanya menanggapi Devan dengan senyumnya.


Mana ada orang yang sering membanggakan dirinya sendiri. Dasar narsistik - Batin Prima


Setelah selesai makan, mereka keluar dari warung dan kembali menuju mobil.


"Kita lanjut ya sayang," ucap Devan


"Iya," jawab Prima


Nggak boleh berpikir buruk dulu, masih ada selanjutnya. Pasti kali ini tepat - Batin Prima


Devan meminggirkan mobilnya dan menuju sebuah warung yang dikenali oleh Prima.


"Ini kann...." jawab Prima


"Iya, kesukaan kamu kan?" potong Devan


"Anu... Itu kan.." bingung Prima


"Ayo masuk," ucap Devan


Mereka masuk untuk menikmati indahnya malam. Kali ini Devan mengajak Prima ke Warung Es Oyen Kang Aji. Sejak pagi ia sudah menyuruh Tio kesana-kemari untuk mengurus semuanya agar bisa berjalan lancar.


Prima tak banyak berkomentar karena tak mau merusak hari ini, ia hanya meminumnya dengan senyum kecut diwajahnya.


Kenapa dia tidak mengucapkan apa-apa? Apa dia lupa tentang hari ini? - Batin Devan


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏