
"Dasar p*lac*r!" ucap Devan
Beberapa anggota keluarga yang mendengar hal itu langsung mendatangi Devan.
"Devan... Devan...," cegah Andre
"Devan.. Jangan nak," ucap ayah Devan
"Dia ini iblis yah, dasar b*j*ngan!" bentak Devan
"Ada apa ini sebenarnya?" tanya ayah Devan
"Dialah penyebab istri dan anakku seperti ini yah!" marah Devan
"Apa? Benar itu Rel?" tanya ayah Devan
"Tidak om, aku difitnah!" ucap Aurel
"Dasar munafik kamu!" ucap Andre
"Dasar anak tidak tau diri!" murka Ayah Devan
Dokter bertanya dimana Devan, lalu pergi menghampiri Devan.
"Suami pasien?" tanya dokter
"Saya dok, ada apa? Bagaimana istri saya?" tanya Devan
"Ibu dan anaknya selamat, hanya saja..." ucap Dokter menggantung
"Bagaimana dok? Apa yang terjadi?" panik Devan
"Si ibu mengalami gegar otak ringan di kepalanya karena benturan keras, sedangkan si bayi..." ucap dokter menggantung
"Ada apa dok? Ada apa dengan anak saya?" tanya Devan panik
"Si bayi kini masih lemah, sejak tadi ia belum menangis.. Dan detak jantungnya begitu lemah. Kami takut jika bayi tidak bisa bertahan lama," ucap Dokter
"Apa! Andre kumpulkan dokter anak terbaik, rawat putraku sekarang!" bentak Devan
"Iya Van," gugup Andre
"Tio... Ikat dia, jangan beri dia makan ataupun minum sebelum istri dan anakku sadar atau benar-benar selamat!" ucap Devan
"Baik tuan," ucap Tio
Tio dan para bodyguard menyeret Aurel kasar ke sebuah ruangan dan menjaga ketat ruangan tersebut, sedangkan Devan menjenguk Prima yang baru selesai operasi.
///***///
Ruangan Prima
Prima sudah dipindahkan keruang VVIP khusus setelah operasi. Semua keluarga menjaga Prima bergantian. Ayah Devan mengambil alih penuh perusahaan karena Devan yang masih kacau, sementara itu keluarga Devan meminta dokter terbaik untuk merawat Reyhan.
"Sayang bangunlah.... Kasihani aku dan putra kita... Kumohon cepat bangun, aku tidak sanggup hidup tanpamu!" ucap Devan sambil memegangi tangan Prima
Hari silih berganti, Reyhan belum ada perubahan sementara Prima belum sadar sejak kemarin. Devan menjaga Prima seperti orang gila. Lupa tidur, makan, minum, mandi, atupun ganti baju.
"Hai sayang, kapan bangun? Sejak kemarin belum bangun! Nggak lapar atau haus ya? Ayo bangun, nanti kita main sama Reyhan..." ucap Devan
"......."
"Kenapa kamu nggak bangun? Kamu nggak sayang lagi ya sama aku?" tanya Devan
"......"
Devan meneteskan air mata saat mengajak Prima mengobrol walau sampai saat ini Prima belum sadar. Lalu mamanya datang menghampiri Devan.
"Nak... Kamu makan dulu, mandi dan ganti baju. Biar mama yang jaga istri kamu," ucap Mama Devan
"Nggak ma, ini semua terjadi karena kelalaian aku! Aku akan menunggu Prima sampai ia sadar!" ucap Devan
"Tapi apa kamu nggak kasihan sama Prima? Bayangin kalau dia sadar lalu melihat penampilan kamu yang kayak gembel baru gini," gurau Mama Devan
"Tapi ma..." tolak Devan
"Sudah sana.." ucap Mama Devan
Devan berdiri, ia hendak berjalan keluar dan langkahnya terhenti. Ia berbalik dan memegangi tangan Prima.
"Sayang... Kamu harus segera sadar, jika tidak aku akan membunuh Aurel dengan tanganku sendiri!" ancam Devan
Tak ada respon, Devan berbalik dengan hati kecewa. Setiap hari ia hanya berpikir kapan Prima sadar dan kapan ia bisa membunuh Aurel. Baru berjalan beberapa langkah, tangan Prima bergerak.
"Van... Van..." panggil Mama Devan
"Panggil dokter! Panggil dokter Van!" ucap Mama Devan
"Ada apa ma? Kenapa?" tanya Devan
"Prima... Tangannya bergerak," ucap Mama Devan
Devan langsung berlari keluar dan mencari Andre, ia juga mengajak dokter yang khusus Devan suruh datang hanya untuk merawat Prima. Setelah bertemu, mereka langsung menuju ruangan Prima.
"Bagaimana dok keadaan menantu saya?" tanya Mama Devan
"Gimana dok?" tanya Devan
Dokter mengecek keadaan Prima, ia menempelkan stetoskop untuk mengecek detak jantung Prima.
"Syukurlah, ia sudah melewati masa kritis! Kini ia hanya butuh istirahat yang banyak, tolong jangan diganggu ya. Kalau ada keluhan apapun segera panggil saya terutama saat ada keluhan tentang kepalanya!" ucap dokter
"Baik dok," ucap Devan semangat
Devan mengecup punggung tangan Prima, ia juga mencium kening Prima. Devan benar-benar sedih melihat wajah pucat Prima, Devan ingin semua cepat berlalu. Ia tak ingin anak dan istrinya celaka.
"Syukurlah sayang... Kamu sadar, tapi andai saja kamu tadi tidak segera bangun, aku akan benar-benar membunuh si j*lang itu!" murka Devan
"Sudahlah nak, serahkan saja dia ke polisi!" ucap Mama Devan
"Tidak ma, dia berani mengusik keluargaku. Penjara terlalu indah untuknya! Akan ku buat dia merasakan apa yang aku dan istriku rasakan!" geram Devan
Baru kali ini kulihat dia semarah ini. Prima cepatlah sadar, hanya kau yang bisa menghentikan kemarahan suamimu ini - Batin Mama Devan
"Sayang apa kau bisa melihatku?" tanya Devan
"Air..." ucap Prima lemah
Devan mengambil kan air putih untuk Prima, ia membantu Prima minum. Devan merasa senang, setidaknya satu beban dihatinya berkurang walau keadaan anaknya belum stabil.
"Kenapa kau sadar sekarang sayang? Kenapa tidak agak nanti saja, biarkan aku membunuh wanita itu!" ucap Devan
"Jangan... Aku belum mau jadi janda," ucap Prima lemah
"Sudahlah istirahat saja! Jangan bercanda!" ucap Devan
Dalam situasi seperti ini kau masih bisa bercanda, kenapa hatimu begitu kuat! - Batin Devan
Prima hanya tersenyum. Prima mengingat semuanya walaupun kepalanya masih sakit. Ia ingat setiap kejadian sebelum dia jatuh, juga bagaimana ia bisa jatuh.
"Mas... Dimana anak kita?" tanya Prima lemas
"Uhm itu..." gugup Devan
"Aku sudah melahirkan dia kan? Lihat perutku sudah mengecil, dimana Reyhan? Bagaimana, dia tampan kan?" tanya Prima
"Sudahlah kau istirahat saja dulu. Kalau sudah stabil, kita akan menemuinya ya!" ucap Devan sambil tersenyum
"Baiklah, tapi sekarang kamu mandi lalu dandan yang tampan! Jangan seperti gembel gitu, suamiku kan tampan," gurau Prima dalam keadaan lemas
"Baiklah aku akan menuruti semua kata-kata mu sayang!" ucap Devan
Kenapa ada wanita setegar menantuku? Mereka benar-benar cinta sejati! - Batin Mama Devan
Devan berbalik, ia keluar dan pergi keruangan dimana Aurel disekap. Devan berjalan sambil berpikir.
Bagaimana caranya aku memberi tahu keadaan Reyhan pada istriku? - Batin Devan
///***///
Ruangan Aurel Disekap
Bruakk...
Devan membuka pintu dengan kasar, para bodyguard terdengar terkejut beda dengan Tio yang tenang-tenang saja.
Devan menghampiri Aurel, ia menarik rahang Aurel keatas dan...
Buakkk....
Devan memukul keras pipi Aurel dari samping. Langsung darah segar mengalir dari sudut bibir Aurel.
"Bersabarlah, ini baru awal dari penderitaanmu! Kau harus tau bagaimana konsekuensi dari mengganggu ketenangan keluargaku!" ujar Devan dengan tatapan tajam
Aurel tak bisa bersuara, hanya menangis sejak tadi sambil menahan rasa sakit disekujur badannya.
"Karena ulahmu aku hampir kehilangan dua orang penting dihidupku! Aku harus benar-benar memikirkan apa hukuman yang pantas untuk wanita seperti mu!" tegas Devan