My Sexy Wife

My Sexy Wife
Cekatan



"Devan tenang..." ucap Ayah Devan


"Gila, ini orang apa gorila sih. Kuat banget!" ujar Joo


"Ya ampun Devan, gue bius juga lama-lama!" kesal Andre


"Van sadar, istri dan anakmu masih membutuhkan kamu nak!" ucap Ayah Devan


Perkataan ayah Devan seperti bius untuk Devan, perlahan ia tenang dan menangis kembali. Ia tidak rela jika orang yang membunuh anaknya masih hidup.


"Yah... Kenapa ini kejadian ke aku yah! Apa salahku yah!" ucap Devan disela tangisnya


"Sabar nak... Sekarang temui istrimu, jelaskan semuanya dan segera makam kan putramu, kasihan jasad nya," ucap Ayah Devan


Devan berdiri dengan lemas dan berjalan gontai bagai mayat hidup menuju kamar Prima. Prima masih belum berhenti menangis sejak tadi sambil memeluk anaknya.


"Sayang..." panggil Devan sendu


"Mas... Anakmu masih hidup, lihat tangannya bergerak mas hiks..." sela Prima dalam tangisnya


"Sayang... Kuatkan hatimu," ucap Devan sedih


"Nggak mas beneran aku lihat hiks.. Aku lihat Rey bergerak hiks.." tangis Prima


"Sabar sayang..." ucap Devan


Devan memeluk istri dan anaknya itu yang duduk lemas di atas ranjang rumah sakit.


"Mas.. Dia masih hidup, jantung masih berfungsi!" ucap Prima


"Devan... Biarkan, mungkin dia masih syok atas kematian putranya," ucap Mama Devan


"Nggak ma, beneran ma hiks..." ucap Prima


Devan dan keluarga hanya menunduk sedih melihat tingkah Prima. Sementara Prima berusaha meyakinkan keluarganya bahwa Reyhan masih hidup.


"Mas... Ma... Pa... Tolong percaya padaku hiks, segera bawa Reyhan agar dirawat! Hiks... Dia masih hidup!" ucap Prima


"Sayang sadarlah!" ucap Devan


Prima meniupkan nafas buatan untuk putranya, masih tak ada reaksi. Prima membalikkan tubuh putranya dan mengurut punggung putra kecilnya itu. Tetap tak ada reaksi, Prima menangis putranya tak ada reaksi.


"Nak bangun... Mommy dan daddy menunggumu!" ucap Prima


Tak ada reaksi, namun Prima merasa kalau tangan Rey bergerak.


"Mas berhasil, dia hidup lagi mas! Lihat tangannya bergerak," ucap Prima


"Sayang kumohon... Cukup, jangan buat dirimu sendiri tersiksa!" ucap Devan


Oeekk... Oeekk... Oeekk....


Puji Syukur pada Tuhan, baby Reyhan menangis keras dipeluka Prima. Seluruh anggota keluarga membelalakkan mata melihat Reyhan yang masih hidup, semua menangis bahagia. Air mata Prima terganti dengan air mata kebahagiaan.


"Mas aku sudah bilang kalau Rey masih hidup!" ucap Prima


"Dokter... Panggil Dokter!" panik Devan


Tak lama dokter datang untuk memeriksa keadaan Reyhan.


"Sungguh keajaiban, bayi ini bisa hidup kembali!" ucap Dokter


"Tidak, dia masih hidup sejak tadi! Hanya saja detak jantungnya terlalu lemah hingga tidak ada apapun yang bisa mendeteksinya, namun sejak tadi kupeluk agar jantungnya juga merasakan detak jantungku. Awalnya dia lemah, namun setelah kuberi nafas buatan dan pijatan dipunggung aliran darahnya semakin lancar, pasokan oksidasi juga bertambah. Maka dari itu dia bisa menangis lagi!" jelas Prima panjang lebar


"Luar biasa! Benar-benar dokter yang cekatan dan teliti!" ucap dokter


"Orang biasa tidak akan terlalu meresponnya, tapi untuk kita para dokter yang sudah terbiasa dengan kehidupan dan kematian akan menyadarinya!" ucap Prima


"Baiklah, biarkan kami membawa bayinya dulu untuk dirawat! Kami akan memberikan perawatan terbaik!" ucap dokter antusias


"Baiklah dok, sekarang kamu istirahat dan tunggu agar segera pulih ya! Biar Reyhan dirawat para Dokter," ucap Devan sambil mencium kening Prima


"Iya mas," ucap Prima


"Terima kasih telah membuat hidupku lengkap sayang," ucap Devan


"Terima kasih juga selalu memberiku semangat!" ucap Prima


"Jangan pernah tinggalkan aku lagi ya," ucap Devan


"Iya mas, kamu mandi dulu sana! Perasaan sejak tadi aku nyuruh mandi, tapi kok belum mandi sih! Bau tau," ucap Prima


"Belum pulih tapi galaknya kok udah pulih ya?" tanya Devan


Devan pergi keluar mencari Tio, tapi tidak ada. Ia tanya pada Joo dimana Tio.


"Joo... Tio dimana?" tanya Devan


"Lo gak inget? Yang tadi lo banting ke tembok siapa? Noh duduk kesakitan dari tadi!" ucap Joo


"Astaga gue lupa!" kaget Devan melihat Tio


Devan menghampiri Tio yang duduk di kursi tunggu bersama Rina. Badannya sakit semua dan banyak yang lebam.


"Tio.. Maaf tadi gak sengaja," ucap Devan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Maaf maaf... Ini badanku sakit semua!" kesal Tio


"Iya nanti ku obati," ucap Devan


"Nggak usah, dulu ada kelas pemulihan tenaga dalam di Bandung kamu nggak pernah ikut, kok mau ngobatin aku. Jangan buat aku mati muda!" kesal Tio


"Maaf, nanti aku cari jalan keluarnya deh," ucap Devan


"Jalan keluarnya itu lurus ke Timur mentok naik lift turun ke lantai 1, jalan ke barat 10 meter trus belok kanan. Ambil mobil pulang," ucap Tio sambil menahan sakit disekujur badannya


"Mau potong gaji?" tanya Devan


"Tidak tuan, maaf. Jangan potong gaji saya, buat bayar nikah!" ucap Tio mendadak formal


"Ya sudah, Rina kamu rawat calon suami kamu ini. Aku pergi dulu!" ucap Devan


"Iya tuan," ucap Rina


"Oh iya, itu si j*lang satu masukin rumah sakit. Jangan biarkan mati, dia nggak boleh mati sebelum aku ijinkan!" ucap Devan


"Baik tuan," jawab Tio


Devan kembali ke kamar Prima, seluruh orang keluar dan hanya tinggal Prima dan Devan di dalam. Devan mandi dan ganti baju lalu menemani Prima di ranjang sampai tertidur. Memang secara fisik Devan benar-benar lelah karena kurang tidur.


///***///


7 Hari Kemudian


Kondisi Prima mulai membaik, baby Reyhan juga mulai normal dan stabil. Harusnya sudah boleh pulang sejak kemarin-kemarin, tapi Devan tidak mengijinkannya. Devan benar-benar bahagia masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bersama 2 malaikat dalam hidupnya.


"Sayang... Gimana kondisi kamu?" tanya Devan


"Udah baikan mas," ucap Prima


"Syukurlah, aku bersyukur masih diijinkan hidup dan menua bersamamu!" ucap Devan sambil mengecup kening Prima


"Iya mas, aku juga bersyukur hidup kita semakin lengkap dengan adanya malaikat kecil," ucap Prima


Devan mencium bibir istrinya yang kembali merah itu, namun saat menciumnya, Tio malah datang.


"Oh maaf tuan saya tidak lihat," ucap Tio yang spontan berbalik


"Dasar!" kesal Devan


"Baiklah saya pergi dulu," ucap Tio


"Tio tunggu! Kamu kenapa? Kenapa badanmu lebam semua?" tanya Prima


"Ini semua perbuatan Tuan Muda!" ucap Tio sambil menatap sinis Devan


"Bener mas?" tanya Prima


"Hehe nggak sengaja," ucap Devan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Sini aku obati," ucap Prima


"Bisa?" tanya Tio


"Duduk saja disini, di depanku!" ucap Prima


Tio duduk bersila membelakangi Prima. Prima berusaha duduk sedikit tegak, ia mengambil nafas dalam untuk memusatkan pikirannya ke satu titik dan menutup matanya. Prima mengucapkan beberapa kalimat khusus, dan menotok titik-titik tertentu pada tubuh Tio.


Tenaganya sekuat ini? Badanku langsung rasanya pulih semua - Batin Tio


Setelah selesai, Prima mengakhirinya dengan menghembuskan nafasnya dan membuka mata.


"Bagaimana Tio?" tanya Prima